แชร์

Bab 6 Jawaban Rania

ผู้เขียน: OptimisNa_12
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-30 20:30:00

Bab 6 Jawaban Rania

"Dan yang kedua. Aku mau ngajak kamu kerja sama," ujar Aland menatap serius.

"Kerja sama?" Rania tak mengerti.

"Balas dendam."

Rania terkejut. Ia terperangah tak percaya.

"Tapi balas dendam bukan sesuatu perbuatan yang baik, Mas. Jadi maaf, aku nggak bisa terima kerjasama ini," tolak Rania cepat.

Aland terdiam sejenak. Ia memejamkan matanya sebentar lalu sedikit mendekatkan wajahnya dan menatap Rania serius. "Kalau begitu, jangan sebut ini balas dendam. Sebut saja apa yang akan aku lakukan adalah memberi pelajaran. Dan ingat!" Aland sengaja menggantungkan ucapannya.

Rania menatap serius Aland dengan raut wajah bertanya-tanya.

"Yang akan aku lakukan bukan cuma buat Zara. Tapi juga buat Devan." Aland kembali menarik tubuhnya. Memposisikan duduknya dengan tegap sembari menunggu jawaban dari Rania.

Sementara itu, Rania sendiri merasa bingung. Ia terdiam cukup lama sembari mengalihkan pandangannya.

"Haruskah aku menerimanya?" pikir Rania dalam hati.

Aland menghela napas kasar. Ia mulai tak sabar dengan Rania. Sampai akhirnya ....

"Aku nggak peduli kamu akan menerima atau enggak. Terserah kamu. Tapi yang jelas, aku bakal tetap melakukan apa yang seharusnya ingin aku lakukan," kata Aland tegas.

"Lupakan saja penawaranku dan lanjutkan makanmu," imbuh Aland. Ia lantas meraih sendok dan pisau makannya. Akan tetapi ....

"Aku akan terima, Mas."

Pergerakan tangan Aland seketika terhenti. Perlahan ia kembali menatap Rania yang duduk di seberang meja.

"Aku akan bantu Mas Aland memberi pelajaran buat Zara dan Devan," ulang Rania.

Aland menyeringai tipis. Dalam benaknya, ia merasa puas sekaligus bangga pada istrinya itu.

"Itu baru istriku," ucap Aland. Ia lalu melanjutkan makannya yang tertunda. Begitu juga dengan Rania.

***

Di tempat lain ...

Tampak seorang pria yang terlihat frustasi sembari menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pria itu menatap tajam benda pintar itu. Entah apa yang membuatnya merasa demikian. Sampai tiba-tiba, lamunannya tersadar karena ia mendengar suara seseorang.

"Devan!"

Ya, pria yang tampak gusar itu bernama Devan — mantan kekasih Rania—. Ia bebas dari penjara beberapa hari sebelum Rania menikah dengan Aland.

***

Flashback!

Saat itu, Devan tengah mencari keberadaan Rania, hanya saja ia tak menemukan petunjuk apapun setelah perpisahannya beberapa bulan sebelumnya. Hingga suatu hari, tanpa sengaja, Joy—teman semasa SMA sekaligus tetangga Devan— mengunggah foto pernikahan Rania dengan Aland.

Melihat itu Devan murka. Dengan cepat, memanfaatkan kartus as yang dimilikinya, ia menghubungi Joy untuk meminta nomor pribadi milik Aland. Sebab Devan tahu, Joy merupakan karyawan di perusahaan Adhitama Group.

Tak berdaya, Joy yang sebenarnya tak memiliki nomor pribadi Aland pun terpaksa mencarinya. Hingga akhirnya, dengan usaha yang ekstra, ia berhasil mendapatkan nomor milik atasannya itu dari teman sesama karyawan. Lalu setelah itu, Joy memberikannya pada Devan yang kemudian dimanfaatkan oleh pria jahat itu untuk mengirimkan foto masa lalunya dengan Rania saat di hotel.

***

Seseorang yang memanggil Devan itu lantas berjalan mendekat. Ia duduk di bangku sebelah Devan. Pria itu kemudian menanyakan tujuan temannya itu mengajaknya bertemu di tempat yang memang biasanya mereka kunjungi itu. Sebuah cafe yang menjadi tempat tongkrongan antara Devan dan si pria.

"Lihat ini." Devan menyodorkan ponselnya yang kemudian diambil oleh orang tersebut. Sebuah pesan dari seseorang yang membuat Devan tampak frustasi.

***

Kembali ke resort. Setelah makan malam usai, Aland dan Rania kembali ke kamar. Di momen itu, untuk kesekian kalinya, suasana canggung menyelimuti mereka berdua.

Meski begitu, baik Aland maupun Rania sama-sama berusaha bersikap biasa saja.

"Aku tidur dulu ya, Mas," ucap Rania.

"Ya," balas singkat Aland.

Mendengar itu, Rania bergegas naik ke atas ranjang. Ia merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya sampai ke dada. Entahlah, di momen itu, jantung Rania terasa berdegup kencang hingga ia takut jika Aland bisa mendengarnya. Merasakan hal demikian, Rania memilih memiringkan posisinya menghadap nakas, membelakangi Aland. Lalu memejamkan matanya dan berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah.

Benar. Rania benar-benar dibuat salah tingkah karena setelah Aland yang menyatakan tidak akan menyentuhnya, justru masih ingin berada di satu ranjang yang sama. Apalagi, saat itu kedatangan mereka di resort itu dalam rangka sedang bulan madu. Yah, walaupun bulan madu itu dilakukan lantaran Aland yang tidak ingin rugi karena sudah terlanjur dibayar.

Di waktu yang bersamaan, Aland yang terbaring menatap langit-langit kamar, kembali teringat akan sosok Zara.

"Zara ... akan aku buktikan kalau aku nggak akan hancur karena kamu," batin Aland, tegas.

"Lihat saja nanti, akan aku buat kamu dan laki-laki itu membayar mahal atas perbuatan kalian." Aland menyipitkan matanya. Rasa ingin memberi pelajaran untuk mantan kekasihnya itu sungguh membakar hatinya.

Ditengah-tengah lamunan yang membara itu, waktu terus berlalu. Hingga tak terasa, Aland tertidur. Begitu juga dengan Rania. Akan tetapi, baru beberapa saat mata Rania terpejam, ia kembali terbangun karena notifikasi dari ponselnya.

Rania pun bangun dan mengecek pesan yang masuk. Menoleh sebentar ke arah Aland yang sudah terlelap, Rania membuka isi benda pipih tersebut.

"Yes, berhasil!" pekik Rania dalam hati.

Rania menutup pesan yang baru saja ia terima. Lalu mencengkeram erat ponselnya dan menatap lurus ke depan.

"Devan, lihat saja nanti, akan aku buktikan kalau aku benar-benar korban," batin Rania.

"Sekalipun aku sudah kamu sentuh, seenggaknya kalau aku beneran korban, aku nggak akan dipandang sebelah mata sama Mas Aland," ucap Rania dalam hati.

Jadi sebelumnya, di tengah kesibukannya yang tak begitu sibuk, Rania sempat mengirimkan pesan pada seseorang sebagai awal mula skenario yang ingin ia lakukan untuk membuktikan jika dirinya adalah korban dari Devan.

Rania lalu menoleh ke arah Aland yang masih terpejam. "Ya Allah, kalau memang Mas Aland bukan jodohku, biarkan aku bisa menikmati sisa waktuku menjadi nyonya Adhitama sebelum kami benar-benar berpisah," harap Rania dalam hati.

***

Pagi pun tiba. Rania terbangun dan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah lima. Hendak beranjak namun ia tak sengaja melihat ke tempat Aland.

"Kemana dia?" tanya Rania pada dirinya sendiri.

Rupanya, Rania tak melihat keberadaan Aland. Melihat ke arah kamar mandi, tampak tak terdengar suara apapun yang menandakan tidak adanya aktivitas di sana.

"Ya kali olahraga jam segini," pikir Rania.

Di tengah pikirannya yang terus bertanya-tanya itu, tiba-tiba suara pintu kamar dibuka. Aland masuk yang membuat Rania kebingungan.

"Sudah bangun?" tanya Aland.

"Iya, Mas," jawab Rania. "Mm, aku mau sholat subuh dulu." Rania beranjak dari tempatnya dan bergegas menuju kamar mandi yang memang berada di ruangan itu.

Melihat itu, Aland hanya tersenyum simpul. Ia lalu berjalan menuju balkon dan menikmati suasana pagi yang belum sepenuhnya menampakkan sinar matahari. Aland terdiam dan teringat akan Rania tadi malam sebelum ia meninggalkan untuk makan malam.

"Rania ... terima kasih sudah mengingatkanku pada Tuhanku," batin Aland.

Rupanya, ketiadaan Aland pagi itu karena ia pergi ke kamar Arga. Di sana ia melakukan salat subuh berjamaah dengan sekretarisnya itu. Sebab, Aland mengakui jika ilmu agama yang dimilikinya jauh dari apa yang dipunyai orang kepercayaannya itu.

Tiba-tiba Aland terkekeh kecil. Ia heran sekaligus merasa prihatinkan akan dirinya sendiri yang ternyata cukup lama melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Hingga akhirnya di titik ini, ia kembali membentangkan sajadah. Pemandangan Rania yang khusyuk dalam doanya semalam ternyata menjadi tamparan lembut yang menyadarkannya, bahwa ia telah terlalu jauh melangkah tanpa melibatkan Sang Pencipta.

Hingga tiba-tiba, ponsel Aland berdering. Panggilan dari Arga masuk.

Bersambung ...

🌱🌱🌱

Terima kasih sudah membaca, mampir ke ceritaku yang lain ya 🥰 Semoga suka dan happy reading 🤗

Tetap Utamakan Baca Al-Qur'an 💜

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 42 Permintaan Rania

    Bab 42 Permintaan Rania "Berarti bener dugaan kita. Pasti pria misterius itu yang bawa mobilnya Ayahnya Devan," balas Ryan serius.Zaky mengangguk kecil. Ia sependapat dengan apa yang dikatakan Ryan barusan. Ya, memang itu yang sebelumnya ia curigai sejak awal mobil sedan itu keluar dari rumah keluarga Devan.Seraya terus mengikuti ke mana mobil sedan itu pergi, Ryan mencoba menghubungi Arga untuk memberitahukan apa yang barusan menjadi kecurigaannya bersama Zaky.***Waktu terus berlalu. Hingga kini sinar matahari mulai terbit. Di depan rumah mewah milik Aland, tanpa di duga, Zara muncul. Wanita yang mengenakan topi sebagai upaya menutupi wajahnya itu berulang kali berteriak memanggil nama mantan kekasihnya itu.Padahal si satpam sudah memintanya untuk pergi. Penjaga rumah Aland itu mengatakan dengan tegas jika bosnya melarang Zara untuk datang ke rumah. Akan tetapi, Zara yang keras kepala dan menganggap ucapan si satpam itu tidaklah benar. Ia justru mengancam akan melakukan bunuh

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 41 Mobil Ayah Devan yang Mencurigakan

    Bab 41 Mobil Ayah Devan yang Mencurigakan Ryan pun menjelaskan apa yang dilihatnya. Mulai dari kedatangan orang misterius itu, gerbang yang terbuka hingga kaitannya dengan informasi dari Bi Inah yang sebelumnya sudah ia ceritakan."Aku yakin orang itu pasti yang dimaksud sama Bi Inah," ujar Ryan.Jadi sebelumnya, ketika Ryan bertemu dengan Bi Inah, asisten rumah tangga keluarga Devan itu justru memberikan informasi padanya. Bi Inah mengatakan jika rumah majikannya akan kedatangan seseorang pada dini hari. Hal itu Bi Inah tahu dari obrolannya dengan si satpam yang diminta untuk berjaga pada waktu tersebut."Kita siap-siap. Kalau orang itu keluar, kita ikutin," ujar Ryan serius."Ok!" Zaky menunjukkan ibu jarinya.Setelah beberapa saat menunggu, sebuah mobil keluar melewati pintu gerbang."Kok mobil, Bang, yang keluar?" Zaky kebingungan."Itu mobil ayahnya Devan."Zaky menoleh ke arah Ryan dengan ekspresi wajah yang masih tak mengerti."Ikuti aja dulu," perintah Ryan pada Zaky yang sed

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 40 Sebuah Petunjuk

    Bab 40 Sebuah Petunjuk Ryan menjelaskan mengenai penyelidikannya. Ternyata, Bi Inah memang menyadari keberadaan mobil campervan milik mereka. Sempat merasa bingung dan heran karena belum pernah melihat mobil seperti itu. Mobil tapi tak seperti mobil, pikir bi Inah. Itulah mengapa perempuan paruh baya itu sempat terdiam sejenak menatap ke arah mobil campervan yang menjadi tempat tinggal sementara mereka itu."Terus? Bi Inah itu cerita nggak ke majikannya?" tanya Zaky."Aman," jawab Ryan.Zaky menghela napas. Meski sikap pria itu lebih sering terlihat selengekan, namun misi yang dijalankan tetaplah harus serius. Bukan hanya perkara karena dibayar, melainkan juga karena apa yang dilakukannya menyangkut nama orang yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri."Malah aku dapat info loh dari Bi Inah," ucap Ryan lagi."Info apaan?" sahut Zaky cepat. Ia tampak penasaran. Ryan pun menceritakan info yang dimaksud. Sampai setelah mendengarnya, senyum Zaky mengembang sempurna. Hatinya berbunga-

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 39 Aland Menemui Zara

    Bab 39 Aland Menemui ZaraAland mulai berjalan dengan Rania yang masih menggandeng tangannya. Di susul dengan Arga di belakang mereka.Benar, tak hanya Ryan dan Zaky yang beraksi, namun dengan dibersamai Arga juga Rania, langkah awal Aland untuk menjalankan misi balas dendamnya untuk orang-orang yang sudah mengusik hidup dan pernikahannya pun dimulai. ***Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mobil yang ditumpangi Aland akhirnya berhenti di depan satu rumah sederhana. Pria berwajah dingin itu lebih dulu keluar bersama dengan Arga. Sedangkan Rania diminta untuk menunggu sejenak di dalam mobil.Setelah mengetuk pintu, seorang wanita berambut panjang keluar. Ia adalah Zara."Aland!" Kedua mata Zara seketika melebar. Senyumannya mengembang sempurna.Zara senang dan tak menyangka kalau pria yang dulu hampir menikahinya itu kini ada di hadapannya. Apalagi, Zara hampir stress karena menunggu kabar dari Aland yang tak kunjung muncul setelah pertemuan terakhir mereka beberapa har

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 38 Aland Memulai Misi

    Bab 38 Aland Memulai MisiSingkat cerita, setelah menyelesaikan kewajibannya, Ryan kembali duduk di hadapan laptop kerjanya. Ia hendak mengecek kamera dasbor yang sebelumnya sudah ia sambungkan ke perangkat tersebut. Dan dari rekaman kamera yang tertuju ke arah depan luar mobil, terlihatlah seorang wanita paruh baya yang Ryan kenal. Wanita itu adalah Bi Inah. Ia adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja cukup lama di keluarga Devan. Terlihat, wanita paruh baya itu sedang membuang sampah pada pukul setengah empat pagi. Namun, setelah itu ia tak langsung pergi. Ia berdiri di tempat seraya menatap ke arah mobil campervan selama beberapa saat. Lalu kembali masuk ke dalam rumah dengan sikap yang biasa. Meski begitu, Ryan tak lantas tenang. "Zak! Zaky!" seru Ryan, memanggil nama rekan kerjanya itu."Kenapa? Ada apa?" sahut Zaky yang berada di dapur. Pria itu tengah membuat secangkir kopi hitam sebagai upaya mengusir kantuk yang masih melekat di mata. "Lihat, deh!" Ryan menggerakkan

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 37 Misi Dimulai

    Bab 37 Misi DimulaiAland berjalan mendekati istrinya. Mengusap lembut kedua sisi rambut Rania dengan senyum yang tak kalah manis. Senyuman yang membuat hati wanita itu meleleh dan jantung yang mendadak berdebar."Ada hal yang mau aku katakan," ucap Aland, menatap dalam netra Rania."Apa itu, Mas?" tanya Rania penasaran.Aland menatap lekat kedua bola mata istrinya. Ia kembali mengulas senyum untuk Rania. Senyuman tulus yang kini bisa Rania dapatkan setiap saat. "Waktu bermain sudah hampir dekat," ujar Aland serius."Bermain?" Rania mengernyit. Pikirannya mendadak negatif dan ia mulai tersipu malu. Mengingat bagaimana hubungan mereka akhir-akhir ini. Lebih hangat, intim dan terasa bukan lagi sepasang suami istri di atas kertas.Aland mengangguk kecil. "Iya," jawabnya setengah lirih."Tunggu. Maksud Mas Aland bermain apa, sih?" tanya wanita itu dengan ragu. Ia takut salah menafsirkan apa yang dikatakan pria dengan baju tidur berwarna hitam di hadapannya itu.Pertanyaan Rania barusan ju

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 5 Ajakan Balas Dendam

    Bab 5 Ajakan Balas Dendam Aland terdiam sejenak. Ia sedikit tak menyangka dengan jawaban Rania. "Bagus!" Aland pun hendak kembali ke vila, namun sebelum langkahnya berlanjut, tiba-tiba terdengar suara mobil. Aland menoleh dan ia melihat kedatangan Zara.Akan tetapi, kali itu Zara tak datang sendir

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 4 Keberadaan Zara

    Bab 4 Keberadaan Zara Aland masih tak habis pikir. Hari yang seharusnya meresmikan hubungannya dengan Zara, justru menjadikan dirinya sebagai suami dari wanita lain. Alih-alih menyelamatkan muka keluarganya karena kepergian calon pengantinnya, kehadiran wanita itu justru menambah kerumitan dalam

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 3 Pengakuan Rania dan Kecurigaan Aland

    Bab 3 Pengakuan Rania dan Kecurigaan Aland "Aku dijebak, Mas. Walaupun aku juga gak tau, aku udah disentuh atau enggak. Karena saat aku terbangun, aku masih pakai pakaian lengkap. Hanya saja ... pakaian dan rambutku memang sedikit berantakan," ujar Rania lemah. Ia tertunduk tak berani menatap Alan

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 2 Masa Lalu Rania

    Bab 2 Masa Lalu Rania "Saya akan jelaskan mengapa saya menawarkan adik saya untuk menggantikan posisi pengantin wanita dari Aland," ujar Rayyan. Dengan serius, Pak Darma dan Bu Desi memperhatikan pria berusia 30 tahunan itu. "Saya nggak mau munafik. Saya butuh perlindungan untuk adik saya," kata

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status