로그인Bab 42 Permintaan Rania "Berarti bener dugaan kita. Pasti pria misterius itu yang bawa mobilnya Ayahnya Devan," balas Ryan serius.Zaky mengangguk kecil. Ia sependapat dengan apa yang dikatakan Ryan barusan. Ya, memang itu yang sebelumnya ia curigai sejak awal mobil sedan itu keluar dari rumah keluarga Devan.Seraya terus mengikuti ke mana mobil sedan itu pergi, Ryan mencoba menghubungi Arga untuk memberitahukan apa yang barusan menjadi kecurigaannya bersama Zaky.***Waktu terus berlalu. Hingga kini sinar matahari mulai terbit. Di depan rumah mewah milik Aland, tanpa di duga, Zara muncul. Wanita yang mengenakan topi sebagai upaya menutupi wajahnya itu berulang kali berteriak memanggil nama mantan kekasihnya itu.Padahal si satpam sudah memintanya untuk pergi. Penjaga rumah Aland itu mengatakan dengan tegas jika bosnya melarang Zara untuk datang ke rumah. Akan tetapi, Zara yang keras kepala dan menganggap ucapan si satpam itu tidaklah benar. Ia justru mengancam akan melakukan bunuh
Bab 41 Mobil Ayah Devan yang Mencurigakan Ryan pun menjelaskan apa yang dilihatnya. Mulai dari kedatangan orang misterius itu, gerbang yang terbuka hingga kaitannya dengan informasi dari Bi Inah yang sebelumnya sudah ia ceritakan."Aku yakin orang itu pasti yang dimaksud sama Bi Inah," ujar Ryan.Jadi sebelumnya, ketika Ryan bertemu dengan Bi Inah, asisten rumah tangga keluarga Devan itu justru memberikan informasi padanya. Bi Inah mengatakan jika rumah majikannya akan kedatangan seseorang pada dini hari. Hal itu Bi Inah tahu dari obrolannya dengan si satpam yang diminta untuk berjaga pada waktu tersebut."Kita siap-siap. Kalau orang itu keluar, kita ikutin," ujar Ryan serius."Ok!" Zaky menunjukkan ibu jarinya.Setelah beberapa saat menunggu, sebuah mobil keluar melewati pintu gerbang."Kok mobil, Bang, yang keluar?" Zaky kebingungan."Itu mobil ayahnya Devan."Zaky menoleh ke arah Ryan dengan ekspresi wajah yang masih tak mengerti."Ikuti aja dulu," perintah Ryan pada Zaky yang sed
Bab 40 Sebuah Petunjuk Ryan menjelaskan mengenai penyelidikannya. Ternyata, Bi Inah memang menyadari keberadaan mobil campervan milik mereka. Sempat merasa bingung dan heran karena belum pernah melihat mobil seperti itu. Mobil tapi tak seperti mobil, pikir bi Inah. Itulah mengapa perempuan paruh baya itu sempat terdiam sejenak menatap ke arah mobil campervan yang menjadi tempat tinggal sementara mereka itu."Terus? Bi Inah itu cerita nggak ke majikannya?" tanya Zaky."Aman," jawab Ryan.Zaky menghela napas. Meski sikap pria itu lebih sering terlihat selengekan, namun misi yang dijalankan tetaplah harus serius. Bukan hanya perkara karena dibayar, melainkan juga karena apa yang dilakukannya menyangkut nama orang yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri."Malah aku dapat info loh dari Bi Inah," ucap Ryan lagi."Info apaan?" sahut Zaky cepat. Ia tampak penasaran. Ryan pun menceritakan info yang dimaksud. Sampai setelah mendengarnya, senyum Zaky mengembang sempurna. Hatinya berbunga-
Bab 39 Aland Menemui ZaraAland mulai berjalan dengan Rania yang masih menggandeng tangannya. Di susul dengan Arga di belakang mereka.Benar, tak hanya Ryan dan Zaky yang beraksi, namun dengan dibersamai Arga juga Rania, langkah awal Aland untuk menjalankan misi balas dendamnya untuk orang-orang yang sudah mengusik hidup dan pernikahannya pun dimulai. ***Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mobil yang ditumpangi Aland akhirnya berhenti di depan satu rumah sederhana. Pria berwajah dingin itu lebih dulu keluar bersama dengan Arga. Sedangkan Rania diminta untuk menunggu sejenak di dalam mobil.Setelah mengetuk pintu, seorang wanita berambut panjang keluar. Ia adalah Zara."Aland!" Kedua mata Zara seketika melebar. Senyumannya mengembang sempurna.Zara senang dan tak menyangka kalau pria yang dulu hampir menikahinya itu kini ada di hadapannya. Apalagi, Zara hampir stress karena menunggu kabar dari Aland yang tak kunjung muncul setelah pertemuan terakhir mereka beberapa har
Bab 38 Aland Memulai MisiSingkat cerita, setelah menyelesaikan kewajibannya, Ryan kembali duduk di hadapan laptop kerjanya. Ia hendak mengecek kamera dasbor yang sebelumnya sudah ia sambungkan ke perangkat tersebut. Dan dari rekaman kamera yang tertuju ke arah depan luar mobil, terlihatlah seorang wanita paruh baya yang Ryan kenal. Wanita itu adalah Bi Inah. Ia adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja cukup lama di keluarga Devan. Terlihat, wanita paruh baya itu sedang membuang sampah pada pukul setengah empat pagi. Namun, setelah itu ia tak langsung pergi. Ia berdiri di tempat seraya menatap ke arah mobil campervan selama beberapa saat. Lalu kembali masuk ke dalam rumah dengan sikap yang biasa. Meski begitu, Ryan tak lantas tenang. "Zak! Zaky!" seru Ryan, memanggil nama rekan kerjanya itu."Kenapa? Ada apa?" sahut Zaky yang berada di dapur. Pria itu tengah membuat secangkir kopi hitam sebagai upaya mengusir kantuk yang masih melekat di mata. "Lihat, deh!" Ryan menggerakkan
Bab 37 Misi DimulaiAland berjalan mendekati istrinya. Mengusap lembut kedua sisi rambut Rania dengan senyum yang tak kalah manis. Senyuman yang membuat hati wanita itu meleleh dan jantung yang mendadak berdebar."Ada hal yang mau aku katakan," ucap Aland, menatap dalam netra Rania."Apa itu, Mas?" tanya Rania penasaran.Aland menatap lekat kedua bola mata istrinya. Ia kembali mengulas senyum untuk Rania. Senyuman tulus yang kini bisa Rania dapatkan setiap saat. "Waktu bermain sudah hampir dekat," ujar Aland serius."Bermain?" Rania mengernyit. Pikirannya mendadak negatif dan ia mulai tersipu malu. Mengingat bagaimana hubungan mereka akhir-akhir ini. Lebih hangat, intim dan terasa bukan lagi sepasang suami istri di atas kertas.Aland mengangguk kecil. "Iya," jawabnya setengah lirih."Tunggu. Maksud Mas Aland bermain apa, sih?" tanya wanita itu dengan ragu. Ia takut salah menafsirkan apa yang dikatakan pria dengan baju tidur berwarna hitam di hadapannya itu.Pertanyaan Rania barusan ju
Bab 7 Keberadaan Devan Tiba-tiba Aland terkekeh kecil. Ia heran sekaligus merasa prihatinkan akan dirinya sendiri yang ternyata cukup lama melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Hingga akhirnya di titik ini, ia kembali membentangkan sajadah. Pemandangan Rania yang khusyuk dalam doanya sem
Bab 6 Jawaban Rania "Dan yang kedua. Aku mau ngajak kamu kerja sama," ujar Aland menatap serius."Kerja sama?" Rania tak mengerti."Balas dendam."Rania terkejut. Ia terperangah tak percaya. "Tapi balas dendam bukan sesuatu perbuatan yang baik, Mas. Jadi maaf, aku nggak bisa terima kerjasama ini,
Bab 5 Ajakan Balas Dendam Aland terdiam sejenak. Ia sedikit tak menyangka dengan jawaban Rania. "Bagus!" Aland pun hendak kembali ke vila, namun sebelum langkahnya berlanjut, tiba-tiba terdengar suara mobil. Aland menoleh dan ia melihat kedatangan Zara.Akan tetapi, kali itu Zara tak datang sendir
Bab 4 Keberadaan Zara Aland masih tak habis pikir. Hari yang seharusnya meresmikan hubungannya dengan Zara, justru menjadikan dirinya sebagai suami dari wanita lain. Alih-alih menyelamatkan muka keluarganya karena kepergian calon pengantinnya, kehadiran wanita itu justru menambah kerumitan dalam







