Beranda / Mafia / My Husband was a Cartel Boss / Batasan di Ambang Malam

Share

Batasan di Ambang Malam

Penulis: Peonylrs
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 11:10:57

Bab 5

​Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruangan, sebuah ranjang besar berlapis sprei sutra gelap tampak seperti altar penghakiman bagiku.

​Aku berdiri mematung di dekat pintu, meremas gaun tidur katunku hingga kuku-kuku jariku memutih. Kepalaku menunduk, tidak berani menatap sosok pria yang kini berjalan santai menuju sofa panjang di sudut ruangan.

​"Aku tidak akan mengulang perintahku dua kali, Sayang. Naik ke kasur." ucapnya dengan bahasa Inggris nya yang selalu terdengar sexy.

​Aku melangkah masuk dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Alih-alih langsung naik ke atas kasur, langkahku mendadak terhenti di tengah ruangan. Aku berdiri dengan ragu-ragu, meremas ujung gaun tidur katunku erat-erat sambil menatap lantai marmer yang dingin. Pikiranku berkecamuk hebat, dipenuhi ketakutan tentang apa yang akan dilakukan pria asing ini jika aku mendekati ranjangnya.

Melihatku yang membeku, Muyeol perlahan meletakkan ponselnya. Dia bangkit dari kursinya, lalu melangkah mendekat ke arahku. Langkah kakinya yang mantap membuatku refleks mundur selangkah demi selangkah dengan panik, hingga akhirnya punggungku membentur dinding kamar yang dingin. Aku terkurung, tidak punya jalan lari lagi.

Muyeol menumpu salah satu tangannya di dinding, tepat di samping kepalaku, mengunci pergerakanku sepenuhnya. Dia menundukkan tubuh tegapnya yang harum aroma maskulin pekat, menatap langsung ke dalam sepasang mataku yang mulai berkaca-kaca.

"Kamu takut, hm?" tanyanya dengan nada suara yang sangat rendah, disusul sebuah seringai tipis yang dingin di sudut bibirnya yang tegas.

Aku tidak bisa menjawab. Air mata hangat yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh membasahi pipiku. Tubuhku gemetar di bawah tatapannya.

Perlahan, jemari tangannya yang besar dan hangat terulur menyentuh wajahku. Dia mengangkat daguku sedikit dengan tekanan yang lembut, memaksaku untuk terus menatapnya. Muyeol kemudian memiringkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke daun telingaku hingga helai napas hangatnya membangkitkan bulu kudukku.

"Jangan khawatir... mungkin aku bisa bersikap lembut," bisik Muyeol dengan suara baritonnya yang berat, mengirimkan sengatan listrik yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak

Rasa takut yang luar biasa mencengkeram dadaku hingga aku refleks menahan napas. Namun, tepat saat aku mengira duniaku akan hancur malam ini, Muyeol tiba-tiba terkekeh rendah. Dia menarik kembali tubuhnya, mundur dua langkah menjauhiku sambil menyunggingkan senyuman sinis yang misterius.

"Tenanglah. Bukan malam ini. Lagipula, akulah hukum di sini, jadi aku tidak menerima kata 'tidak' sebagai jawaban, kecuali kamu menginginkan hukuman, hm?"

Mengingat nasib anak-anak muridku yang berada di bawah ancamannya, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku pelan sambil terus menggigit bibir demi menahan isak tangis yang mendesak di tenggorokan. Aku hanya bisa pasrah.

"Good girl," ujar Muyeol pendek, is tampak puas.

Dia berbaring duluan di atas ranjang sutra tebal itu, lalu tangan kanannya terulur menepuk-nepuk sisi kasur kosong di sebelah tubuhnya. "Ke sini dan tidur."

Dengan langkah gemetar, aku akhirnya berjalan mendekati ranjang dan merangkak naik. Sebelum merebahkan diri, aku meraih dua buah bantal besar yang tersisa. Aku menyusunnya dengan tergesa-gesa di tengah kasur, membuat benteng pembatas di antara kami. Muyeol yang menyadari tindakanku langsung melirik dari balik remang lampu tidur. Sudut bibirnya kembali terangkat. "Kamu pikir bantal bisa menghentikanku jika aku ingin menyentuhmu, Guru kecil?"

Pertanyaannya membuatku menahan napas, lalu tiba-tiba, dia mengambil kedua bantal pembatas itu dan melemparnya ke lantai, “juga, kita tidak butuh ini"

Setelahnya, dia hanya memejamkan matanya dengan tenang, kami tidur berdua di satu ranjang yang sama, tanpa melakukan apa-apa lagi di sisa malam.

Sebelum mataku benar-benar terpejam dalam senyapnya kamar, bayangan wajah polos murid-murid kecilku mendadak melintas di benakku. Dada ini terasa begitu sesak didera rasa rindu dan bersalah yang teramat dalam.

Apakah luka mereka sudah membaik? Apakah mereka ketakutan setelah ledakan malam itu? Seandainya saja field trip itu tidak diadakan di pelabuhan mungkin tidak akan terjadi semua ini.

​Setitik air mata kembali merembes, membasahi bantal tempatku bersandar. Aku tahu aku hanyalah seorang wanita yang tidak punya kekuatan untuk melawan, namun demi keselamatan murid-murid kecilku, aku memantapkan tekad di dalam hati yang rapuh ini. Aku akan bertahan hidup dan mengikuti semua permainan Muyeol di perpustakaan besok pagi, demi melindungi sisa duniaku yang telah hancur.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Tiara Larasati
Ga jadi ngapa-ngapain? ...
goodnovel comment avatar
dwinda
penonton kecewa...((karena gajadi))
goodnovel comment avatar
storybyfii
ceritanya bagus kak, alurnya jelas, pemilihan katanya juga bagus dan mudah dimengerti. saran dari aku ini kan semua dialognya pake bahasa inggris ya, dikasih terjemahan kak biar pembaca ngerti dialognya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • My Husband was a Cartel Boss   KEPATUHAN

    Chapter 29Jantungku berdegup begitu kencang hingga. Aku menatap Muyeol yang kini duduk bersandar pada kepala ranjang besar kami. Pria itu sengaja melonggarkan beberapa kancing kemeja hitamnya, menampilkan dada kekarnya yang terdapat bulu samar, hal itu selalu berhasil membuatku merasa terintimidasi. "Muyeol.. apa maksudmu?" tanyaku terbata-bata, mencoba menanyakan hal itu untuk mengulur waktu. Muyeol tidak menjawab pertanyaanku dengan kata-kata. Dia hanya menyeringai tipis, jenis seringai yang selalu membuatku merasa gugup namun di saat yang sama memicu rasa aneh di perutku.Sebelum aku sempat bersuara lagi, sebelah tangan besarnya yang hangat dan kasar bergerak maju. Dia memegang rambut belakangku dengan genggaman yang mantap, memaksaku untuk berlutut di antara kedua pahanya yang kokoh."Jangan buat aku mengulang ucapanku, Sayang. Gunakan mulutmu untuk membuatku melupakan pria itu," bisik Muyeol rendah dengan suara parau yang teramat dominan, tepat di depan wajahku.Napasnya yang

  • My Husband was a Cartel Boss   Hukuman Malam

    Chapter 28 Atmosfer di dalam butik mewah itu seketika drop. Cengkeraman tangan Muyeol di pergelangan tanganku terasa begitu erat dan mengunci, sementara aku dapat merasakan detak jantung Muyeol yang mulai berpacu. Muyeol lalu menarikku ke belakang punggungnya. "Aku sedang bertanya," desis Muyeol lagi, suaranya sangat rendah namun getarannya begitu mengintimidasi. "Siapa kau?" Daniel tampak mematung, wajahnya mendadak pucat pasi saat menyadari dua pengawal bertubuh besar di belakang Muyeol sudah menggeser posisi jas mereka, memperlihatkan samar-samar senjata yang terselip di balik pinggang. Sebagai sales manager yang mungkin hanya menaungi salah satu toko di sana, Daniel jelas terlihat sama sekali tidak tahu siapa pemilik asli mall megah ini, yang dia tahu, pria tinggi kekar yang memandangnya seperti ingin membunuh itu adalah Kim Muyeol. "S-saya minta maaf, Pak. Saya tidak bermaksud.." Daniel terbata-bata, langkah kakinya refleks mundur satu langkah dengan tangan yang teran

  • My Husband was a Cartel Boss   Pertemuan Tak Terduga

    Chapter 27 Kehidupan di dalam mansion megah itu berubah total sejak kelahiran putra pertamaku. Kim Morgan kini baru menginjak usia dua bulan, dan kehadirannya sukses mengubah rutinitas harian seisi rumah. Kamar tidur utama kami sekarang selalu dipenuhi oleh aroma krim bayi premium dan suara tangisannya yang keras. "Muyeol.. dia menangis lagi," bisikku lirih sambil menyentuh pelan lengan suamiku saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Muyeol tak menggubrisku, aku mencoba bangun. Namun, sebelum sempat aku menurunkan kaki dari ranjang, Muyeol mendengus kasar, dia bangun dari kasur, menyalakan lampu nakas, memperlihatkan wajahnya yang datar dan tampak dingin karena kurang tidur. "Diam di sini," kata Muyeol pendek dengan bahasa Inggrisnya yang sexy sambil melangkah mendekati boks bayi di sudut kamar. Pria bertubuh besar itu membungkuk untuk mengangkat Morgan dari sana. Cara Muyeol memegang Morgan benar-benar kaku karena dia mencengkeram ketiak bayi mungil itu dengan kedua

  • My Husband was a Cartel Boss   Pewaris sang Iblis

    Chapter 26Panggilan telepon misterius itu sempat membuat rahang Muyeol mengeras. Aku sendiri dapat merasakan paranoia akibat peristiwa makan malam berdarah itu. Muyeol langsung menyambar ponselnya dengan wajah sekeras batu, siap meremukkan rahang siapa pun di seberang sana yang berani mengusik ketenangannya.Muyeol diam, menunggu suara di ujung telephone itu memulai percakapan. Aku hanya bisa menahan napas ketakutan di balik selimut. Namun, perlahan rahang tegas Muyeol mengendur saat mendengar suara di balik telepon itu. “Tuan, apakah Anda tertarik untuk meningkatkan paket data internet Anda dengan SK Telecom—"Ekspresi wajahnya berubah dari iblis yang haus darah menjadi pria yang sangat kesal sekaligus terlihat bodoh.Suara robotik khas operator perempuan Korea dari pengeras suara ponselnya memecah keheningan kamar.Muyeol langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa sepatah kata pun. Dia melempar ponselnya kembali ke atas nakas dengan dengusan kasar, lalu kembali berbaring di

  • My Husband was a Cartel Boss   "Mhh.. Muyeol.. Jangan keluar di dalam"

    Chapter 25Lima bulan telah berlalu sejak malam berdarah di pelabuhan Busan. Selama itu pula, Muyeol benar-benar mengurungku di dalam mansion mewah ini di bawah penjagaan super ketat.Sikapnya yang dominan dan tidak bisa dibaca itu masih sama. Kandunganku kini telah menginjak usia enam bulan, membuat perutku membuncit dengan sangat jelas di balik gaun tidur satin yang kukenakan.Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Muyeol yang baru saja selesai membersihkan diri. Hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, dia berjalan mendekat ke arah ranjang tempatku duduk sembari membaca sebuah buku."kau masih membaca buku tidak berguna itu?" tanya Muyeol dalam bahasa inggrisnya, suara baritonnya memecah keheningan kamar malam itu.Aku mendongak, lalu menutup buku di pangkuanku dengan pelan. "tapi.. ini buku tentang perkembangan bayi. .."Muyeol tidak membalas lagi. Dia naik ke atas ranjang, memosisikan tubuh besarnya di atasku tanpa memberikan jarak. Aku tidak lagi gemetar ketakutan seper

  • My Husband was a Cartel Boss   Makan Malam Berdarah

    Chapter 24Efek suntikan vitamin dari dokter faksi setidaknya memberiku sedikit tenaga untuk berdiri tegak di depan cermin, meski rona pucat di wajahku harus ditutupi oleh riasan yang lebih tebal dari biasanya. Kalung berlian itu melingkar dengan indah di leherku, berkilau mewah namun terasa seperti rantai yang mengikat kebebasanku.Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Muyeol yang sudah tampil sangat gagah dengan setelan jas berwarna hitam formal. Dia melangkah mendekat, berdiri di belakang punggungku, lalu menatap pantulan diri kami berdua lewat cermin besar tanpa ekspresi romantis.."Sempurna," puji Muyeol pendek dalam bahasa Inggris dengan suara baritonnya yang berat. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang dengan cengkeraman yang teramat posesif, mengunci pergerakanku. Aku hanya bisa menurut. Iring-iringan sedan hitam mewah milik faksi Kim membelah jalanan malam Busan lalu berhenti tepat di depan pelataran harbor clubhouse, sebuah bangunan arsitektur modern berga

  • My Husband was a Cartel Boss   Ilusi Kebebasan

    Chapter 4 Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan

  • My Husband was a Cartel Boss   Sentuhan di Balik Badai

    Chapter 3 Dua hari telah berlalu sejak malam mengerikan di pelabuhan itu, dan aku masih terkurung di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu kamar ini selalu dikunci dari luar, kecuali saat pelayan tua bernama Bibi Jung masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriks

  • My Husband was a Cartel Boss   Sangkar Emas sang Iblis

    Chapter 2 Saat mataku kembali terbuka, rasa dingin dari lantai beton bunker semalam telah lenyap. Aku terbangun di atas ranjang king-sized yang luar biasa empuk, berselimut kain sutra mahal di dalam sebuah kamar tidur mewah yang sangat luas. Dinding kamar itu didominasi warna putih dan abu-abu ara

  • My Husband was a Cartel Boss   Awal Takdir

    Chapter 1 ​“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine,” ucapnya dengan nada datar yang dingin. ​(("Kamu sudah melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat. Sekarang, kamu punya dua pilihan. Keluar sebagai mayat atau menjadi milikku."))

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status