مشاركة

Ilusi Kebebasan

مؤلف: Peonylrs
last update تاريخ النشر: 2026-05-31 23:50:29

Bab 4

Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan. Di tengah kesunyian malam yang mencekam, setelah badai besar di luar sedikit mereda menjadi gerimis tipis, ego dan harga diriku akhirnya runtuh total oleh rasa sakit fisik yang tak bisa kutahan.

Dengan tangan yang gemetar hebat, aku meraih mangkuk bubur abalon dingin yang diantarkan oleh Bibi Jung sore tadi. Makanan itu sudah sepenuhnya mendingin, permukaannya tampak mengeras karena pendingin ruangan, dan aromanya tidak lagi menggugah selera. Namun, demi bertahan hidup, aku menyuapkan makanan dingin itu ke dalam mulutku sembari meneteskan air mata hangat. Rasanya hambar, terasa sangat berat dan kesat saat melewati tenggorokanku yang kering. Sungguh sebuah ironi, aku menangis bukan hanya karena takdirku, tetapi karena meratapi betapa menyedihkannya diriku saat ini.

Dalam beberapa menit, mangkuk mewah itu kosong bersih. Namun, rasa haus yang teramat sangat mendadak menyerangku akibat menelan makanan dingin yang kesat tersebut. Aku segera meraih botol kaca di atas nakas, tetapi air di dalamnya hanya tersisa beberapa tetes di bagian dasar—sama sekali tidak cukup untuk membasahi tenggorokanku yang terasa seret. Mengabaikan rasa takut yang sejak tadi berkecamuk di dada, dorongan rasa haus memaksa tubuh lemasku untuk memberanikan diri keluar kamar demi mencari air minum.

Saat jemariku menurunkan knop pintu dengan sangat hati-hati, sebuah kejutan kecil menyambutku. Pintunya tidak dikunci.

Dengan langkah kaki yang super pelan dan tangan yang terus berpegangan pada dinding koridor yang remang-remang, aku berjalan menyusuri lorong panjang mansion yang terasa sangat dingin dan asing. Rumah ini luar biasa luas, sepi, dan terasa mati, seolah-olah tidak ada kehidupan hangat di dalamnya. Langkah kakiku yang tanpa alas bermuara pada sebuah ruang makan megah di lantai bawah. Di ujung ruangan, lampu gantung kristal meredup, namun aku bisa melihat siluet sebuah dispenser air di dekat area dapur bersih.

Baru saja aku hendak melangkah mendekati dispenser itu, sebuah suara berat yang sangat familiar memecah keheningan malam.

​"Mencari camilan tengah malam, Guru Kecil?"

Suara itu membuatku tersentak. Aku menoleh cepat dan menemukan Kim Muyeol sedang duduk tenang di salah satu kursi di ujung meja makan yang panjang. Di hadapannya terdapat sebuah laptop yang menyala, memantulkan cahaya biru pada wajah tampannya yang dingin. Pria itu kini mengenakan jubah tidur hitam berbahan sutra yang longgar. Aku mematung di tempat, meremas ujung gaun tidur katunku dengan erat, menahan napas. "Aku.. aku hanya ingin air,"

Muyeol tidak langsung menjawab. Dia hanya memberikan isyarat dagu yang dingin ke arah kursi kosong di seberang mejanya. "duduk"

Nada suaranya datar, tidak menerima penolakan atau perdebatan sama sekali. Aku tidak punya pilihan lain. Dengan tubuh yang gemetar, aku berjalan mendekat dan duduk di kursi yang paling jauh darinya. Muyeol menuangkan air putih hangat dari teko kaca di dekatnya ke dalam sebuah gelas, “Ke sini dan ambilah.” titahnya.

Aku terpaksa bangun dari kursi untuk berjalan lebih dekat ke arah segelas air itu, namun saat ingin mengambilnya, Muyeol memerintahkanku untuk duduk di kursi yang paling dekat, "minum ini dan duduklah di sini." titahnya.

Aku hanya menurutinya. Setelah meminumnya dengan rakus hingga tandas, aku duduk. Muyeol menutup laptopnya dengan satu gerakan tenang, lalu memperhatikanku yang masih terengah-engah dengan tatapan tajamnya yang mengintimidasi. "...Jadi, kamu akhirnya memutuskan untuk memakan makanan dingin di kamarmu?"

Aku tersentak pelan, menyadari fakta mengerikan bahwa dia memantau setiap pergerakanku, bahkan saat aku menyantap makanan sisa di dalam kamar yang tertutup. Aku menunduk dalam, menolak untuk menatap matanya.

"M-mengapa kamu tidak mengunci pintuku? Apakah kamu tidak takut aku akan melarikan diri?"

Muyeol terkekeh rendah, sebuah senyuman sinis yang begitu dingin terukir di wajah tampannya. "Melarikan diri ke mana, Sayang? Ke polisi yang sudah menutup kasusmu? Atau kembali ke sekolahmu tempat kamu secara resmi terdaftar sebagai kasus pengunduran diri karena trauma? Kamu tidak punya identitas lagi yang tersisa di negara ini. Saat kamu melangkah ke luar gerbang depanku tanpa anak buahku, faksi saingan yang mengebom pelabuhan akan menangkapmu, dan mereka tidak akan sesopan diriku."

Kalimat itu seketika membuat dadaku terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan ini mendadak hilang. Kenyataan pahit itu kembali menghantamku dengan telak, aku benar-benar tidak punya tempat untuk lari di dunia luar. Sangkar emas ini, suka atau tidak, adalah satu-satunya tempat yang menjagaku tetap bernapas di kota Busan yang asing ini.

Dengan gerakan yang santai namun sarat akan wibawa, dia menunjukkan sebuah kertas lalu dengan tiba-tiba menarik kursiku hingga aku tersentak. Ia meletakkan kertas tersebut tepat di hadapanku, di samping gelas kosongku.

​Aku menunduk, menatap kertas itu dengan bingung. Di sana tertulis beberapa paragraf teks dalam Bahasa Indonesia—sebuah laporan pengiriman logistik lama yang bahasanya cukup kaku.

"Terjemahkan ini untukku. Secara lisan," perintah Muyeol, suaranya terdengar mutlak saat dia beranjak dari kursinya lalu berjalan mengelilingi meja.

​Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aku tidak tahu apa-apa tentang taktik dunia bawah atau niat tersembunyinya. Aku hanya membaca baris demi baris teks tersebut dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris secara lisan dengan sangat teliti dan jujur apa adanya. Bagiku, jika aku melakukan tugas ini dengan benar, pria ini mungkin tidak akan menyakitiku.

​Begitu aku mengucapkan kata terakhir dari terjemahanku, Muyeol tiba-tiba berhenti tepat di belakangku, ia menundukkan tubuhnya yang tegap. Membungkuk sangat dekat di sisiku, hingga helai napas hangatnya menerpa langsung kulit leher dan daun telingaku, mengurungku dalam jarak yang begitu intim.

​"Good job," bisiknya rendah, sangat dekat, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kudukku meremang hebat.

​Sebelum aku sempat menetralkan detak jantungku yang menggila akibat posisinya yang merapat, tangan kanan Muyeol terulur ke depan, meraih lembar kertas teks Bahasa Indonesia yang baru saja kuterjemahkan.

​KRESEK

​Tepat di depan mataku, dengan satu remasan tangan yang kokoh, kertas itu langsung hancur, berkerut menjadi sebuah bola kecil yang tak berbentuk di dalam genggamannya, lalu dilempar begitu saja ke atas meja.

​Aku tersentak kecil, menatap bola kertas itu dengan mata membelalak bingung. "K-kenapa kamu menghancurkannya?" tanyaku, aku benar-benar tidak paham kenapa kerja keras yang kulakukan barusan seolah dibuang begitu saja.

​Muyeol tidak langsung menjawab. Alih-alih menjauh, perlahan, jemari tangannya yang besar dan hangat terulur ke arah wajahku. Jantungku serasa berhenti berdetak saat ujung jarinya menyentuh beberapa helai rambutku yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telingaku dengan gerakan yang sedikit lembut. Ibu jarinya yang kasar sempat mengusap kulit pipiku sekilas, membuatku membeku total. ​Pria itu terkekeh rendah, sebuah senyuman tipis yang misterius terukir di sudut bibirnya yang tegas.

"Kamu menarik, Sayang. Menarik." ucapnya pelan, mengulang kata itu dengan penekanan yang sarat akan ketertarikan berbahaya

​Di detik itu, aku baru menyadari satu hal yang mengerikan. Kertas itu... isinya sama sekali tidak penting bagi bisnisnya. Muyeol mungkin sudah tahu arti dari teks itu sebelum dia memberikannya padaku. Dia hanya sedang mengujiku, melihat apakah tawanan barunya ini akan berbohong atau mengkhianatinya. Dan kepolosanku yang terlalu jujur barusan, secara tidak sengaja telah menyelamatkan nyawaku sendiri.

​Muyeol menarik kembali tangannya, menegakkan tubuh tegapnya yang dibalut jubah tidur sutra.

​"Besok, hidup barumu dimulai. Kamu adalah seorang guru, yang berarti kamu tahu bagaimana cara bekerja dengan dokumen dan buku. Di lantai dua, ada sebuah perpustakaan pribadi dan banyak berkas lama yang perlu disortir. Kamu akan bekerja di sana sebagai asisten administrasi pribadi di bawah pengawasan langsungku. Dengan begitu, kamu tidak akan punya waktu untuk memikirkan hal-hal bodoh seperti melarikan diri."

​Aku mendongak dengan mata yang masih berkaca-kaca, kehilangan kata-kata.

​Sebelum melangkah pergi menaiki tangga utama, dia melirik ke arah kakiku yang polos dan memerah karena dinginnya lantai marmer. "Besok, Jung akan membawakanmu pakaian dan sepatu yang layak. Jangan berjalan-jalan di rumahku dengan kaki telanjang lagi."

Aku tertegun di tempat dudukku, menatap gelas kosong dan remasan kertas di hadapanku. Rasa hangat dari air minum dan sisa sentuhannya di rambutku meninggalkan perasaan aneh yang campur aduk. Namun, saat baru saja aku hendak menghembuskan napas lega, langkah kaki Muyeol tiba-kira berhenti di anak tangga pertama. Dia menoleh sedikit, menatapku kembali dengan sorot mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

"dan Guru kecil, aku ingin kau tidur di kamarku malam ini."

​Aku bergidik ngeri seketika.

​Aku tidak mengerti perasaanku saat ini. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Di satu sisi aku tahu aku tetaplah seorang tawanan yang tidak bisa kabur dan kini harus menghadapi ancaman tidur di kamar sang iblis, namun di sisi lain, pria misterius itu baru saja memberiku sebuah alasan dan tujuan untuk tetap bertahan hidup besok pagi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (4)
goodnovel comment avatar
Baby girl
d-di kamar?!
goodnovel comment avatar
Fanny Sagita
ngapain heh?
goodnovel comment avatar
Tiara Larasati
tidur di kamar?!!! ng-ngapain?
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • My Husband was a Cartel Boss   KEPATUHAN

    Chapter 29Jantungku berdegup begitu kencang hingga. Aku menatap Muyeol yang kini duduk bersandar pada kepala ranjang besar kami. Pria itu sengaja melonggarkan beberapa kancing kemeja hitamnya, menampilkan dada kekarnya yang terdapat bulu samar, hal itu selalu berhasil membuatku merasa terintimidasi. "Muyeol.. apa maksudmu?" tanyaku terbata-bata, mencoba menanyakan hal itu untuk mengulur waktu. Muyeol tidak menjawab pertanyaanku dengan kata-kata. Dia hanya menyeringai tipis, jenis seringai yang selalu membuatku merasa gugup namun di saat yang sama memicu rasa aneh di perutku.Sebelum aku sempat bersuara lagi, sebelah tangan besarnya yang hangat dan kasar bergerak maju. Dia memegang rambut belakangku dengan genggaman yang mantap, memaksaku untuk berlutut di antara kedua pahanya yang kokoh."Jangan buat aku mengulang ucapanku, Sayang. Gunakan mulutmu untuk membuatku melupakan pria itu," bisik Muyeol rendah dengan suara parau yang teramat dominan, tepat di depan wajahku.Napasnya yang

  • My Husband was a Cartel Boss   Hukuman Malam

    Chapter 28 Atmosfer di dalam butik mewah itu seketika drop. Cengkeraman tangan Muyeol di pergelangan tanganku terasa begitu erat dan mengunci, sementara aku dapat merasakan detak jantung Muyeol yang mulai berpacu. Muyeol lalu menarikku ke belakang punggungnya. "Aku sedang bertanya," desis Muyeol lagi, suaranya sangat rendah namun getarannya begitu mengintimidasi. "Siapa kau?" Daniel tampak mematung, wajahnya mendadak pucat pasi saat menyadari dua pengawal bertubuh besar di belakang Muyeol sudah menggeser posisi jas mereka, memperlihatkan samar-samar senjata yang terselip di balik pinggang. Sebagai sales manager yang mungkin hanya menaungi salah satu toko di sana, Daniel jelas terlihat sama sekali tidak tahu siapa pemilik asli mall megah ini, yang dia tahu, pria tinggi kekar yang memandangnya seperti ingin membunuh itu adalah Kim Muyeol. "S-saya minta maaf, Pak. Saya tidak bermaksud.." Daniel terbata-bata, langkah kakinya refleks mundur satu langkah dengan tangan yang teran

  • My Husband was a Cartel Boss   Pertemuan Tak Terduga

    Chapter 27 Kehidupan di dalam mansion megah itu berubah total sejak kelahiran putra pertamaku. Kim Morgan kini baru menginjak usia dua bulan, dan kehadirannya sukses mengubah rutinitas harian seisi rumah. Kamar tidur utama kami sekarang selalu dipenuhi oleh aroma krim bayi premium dan suara tangisannya yang keras. "Muyeol.. dia menangis lagi," bisikku lirih sambil menyentuh pelan lengan suamiku saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Muyeol tak menggubrisku, aku mencoba bangun. Namun, sebelum sempat aku menurunkan kaki dari ranjang, Muyeol mendengus kasar, dia bangun dari kasur, menyalakan lampu nakas, memperlihatkan wajahnya yang datar dan tampak dingin karena kurang tidur. "Diam di sini," kata Muyeol pendek dengan bahasa Inggrisnya yang sexy sambil melangkah mendekati boks bayi di sudut kamar. Pria bertubuh besar itu membungkuk untuk mengangkat Morgan dari sana. Cara Muyeol memegang Morgan benar-benar kaku karena dia mencengkeram ketiak bayi mungil itu dengan kedua

  • My Husband was a Cartel Boss   Pewaris sang Iblis

    Chapter 26Panggilan telepon misterius itu sempat membuat rahang Muyeol mengeras. Aku sendiri dapat merasakan paranoia akibat peristiwa makan malam berdarah itu. Muyeol langsung menyambar ponselnya dengan wajah sekeras batu, siap meremukkan rahang siapa pun di seberang sana yang berani mengusik ketenangannya.Muyeol diam, menunggu suara di ujung telephone itu memulai percakapan. Aku hanya bisa menahan napas ketakutan di balik selimut. Namun, perlahan rahang tegas Muyeol mengendur saat mendengar suara di balik telepon itu. “Tuan, apakah Anda tertarik untuk meningkatkan paket data internet Anda dengan SK Telecom—"Ekspresi wajahnya berubah dari iblis yang haus darah menjadi pria yang sangat kesal sekaligus terlihat bodoh.Suara robotik khas operator perempuan Korea dari pengeras suara ponselnya memecah keheningan kamar.Muyeol langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa sepatah kata pun. Dia melempar ponselnya kembali ke atas nakas dengan dengusan kasar, lalu kembali berbaring di

  • My Husband was a Cartel Boss   "Mhh.. Muyeol.. Jangan keluar di dalam"

    Chapter 25Lima bulan telah berlalu sejak malam berdarah di pelabuhan Busan. Selama itu pula, Muyeol benar-benar mengurungku di dalam mansion mewah ini di bawah penjagaan super ketat.Sikapnya yang dominan dan tidak bisa dibaca itu masih sama. Kandunganku kini telah menginjak usia enam bulan, membuat perutku membuncit dengan sangat jelas di balik gaun tidur satin yang kukenakan.Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Muyeol yang baru saja selesai membersihkan diri. Hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, dia berjalan mendekat ke arah ranjang tempatku duduk sembari membaca sebuah buku."kau masih membaca buku tidak berguna itu?" tanya Muyeol dalam bahasa inggrisnya, suara baritonnya memecah keheningan kamar malam itu.Aku mendongak, lalu menutup buku di pangkuanku dengan pelan. "tapi.. ini buku tentang perkembangan bayi. .."Muyeol tidak membalas lagi. Dia naik ke atas ranjang, memosisikan tubuh besarnya di atasku tanpa memberikan jarak. Aku tidak lagi gemetar ketakutan seper

  • My Husband was a Cartel Boss   Makan Malam Berdarah

    Chapter 24Efek suntikan vitamin dari dokter faksi setidaknya memberiku sedikit tenaga untuk berdiri tegak di depan cermin, meski rona pucat di wajahku harus ditutupi oleh riasan yang lebih tebal dari biasanya. Kalung berlian itu melingkar dengan indah di leherku, berkilau mewah namun terasa seperti rantai yang mengikat kebebasanku.Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Muyeol yang sudah tampil sangat gagah dengan setelan jas berwarna hitam formal. Dia melangkah mendekat, berdiri di belakang punggungku, lalu menatap pantulan diri kami berdua lewat cermin besar tanpa ekspresi romantis.."Sempurna," puji Muyeol pendek dalam bahasa Inggris dengan suara baritonnya yang berat. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang dengan cengkeraman yang teramat posesif, mengunci pergerakanku. Aku hanya bisa menurut. Iring-iringan sedan hitam mewah milik faksi Kim membelah jalanan malam Busan lalu berhenti tepat di depan pelataran harbor clubhouse, sebuah bangunan arsitektur modern berga

  • My Husband was a Cartel Boss   Awal Takdir

    Chapter 1 ​“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine,” ucapnya dengan nada datar yang dingin. ​(("Kamu sudah melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat. Sekarang, kamu punya dua pilihan. Keluar sebagai mayat atau menjadi milikku."))

  • My Husband was a Cartel Boss   Batasan di Ambang Malam

    Chapter 5 ​Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruanga

  • My Husband was a Cartel Boss   Sentuhan di Balik Badai

    Chapter 3 Dua hari telah berlalu sejak malam mengerikan di pelabuhan itu, dan aku masih terkurung di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu kamar ini selalu dikunci dari luar, kecuali saat pelayan tua bernama Bibi Jung masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriks

  • My Husband was a Cartel Boss   Sangkar Emas sang Iblis

    Chapter 2 Saat mataku kembali terbuka, rasa dingin dari lantai beton bunker semalam telah lenyap. Aku terbangun di atas ranjang king-sized yang luar biasa empuk, berselimut kain sutra mahal di dalam sebuah kamar tidur mewah yang sangat luas. Dinding kamar itu didominasi warna putih dan abu-abu ara

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status