LOGINChapter 4
Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan. Di tengah kesunyian malam yang mencekam, setelah badai besar di luar sedikit mereda menjadi gerimis tipis, ego dan harga diriku akhirnya runtuh total oleh rasa sakit fisik yang tak bisa kutahan. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku meraih mangkuk bubur abalon dingin yang diantarkan oleh Bibi Jung sore tadi. Makanan itu sudah sepenuhnya mendingin, permukaannya tampak mengeras karena pendingin ruangan, dan aromanya tidak lagi menggugah selera. Namun, demi bertahan hidup, aku menyuapkan makanan dingin itu ke dalam mulutku sembari meneteskan air mata hangat. Rasanya hambar, terasa sangat berat dan kesat saat melewati tenggorokanku yang kering. Sungguh sebuah ironi, aku menangis bukan hanya karena takdirku, tetapi karena meratapi betapa menyedihkannya diriku saat ini. Dalam beberapa menit, mangkuk mewah itu kosong bersih. Namun, rasa haus yang teramat sangat mendadak menyerangku akibat menelan makanan dingin yang kesat tersebut. Aku segera meraih botol kaca di atas nakas, tetapi air di dalamnya hanya tersisa beberapa tetes di bagian dasar—sama sekali tidak cukup untuk membasahi tenggorokanku yang terasa seret. Mengabaikan rasa takut yang sejak tadi berkecamuk di dada, dorongan rasa haus memaksa tubuh lemasku untuk memberanikan diri keluar kamar demi mencari air minum. Saat jemariku menurunkan knop pintu dengan sangat hati-hati, sebuah kejutan kecil menyambutku. Pintunya tidak dikunci. Dengan langkah kaki yang super pelan dan tangan yang terus berpegangan pada dinding koridor yang remang-remang, aku berjalan menyusuri lorong panjang mansion yang terasa sangat dingin dan asing. Rumah ini luar biasa luas, sepi, dan terasa mati, seolah-olah tidak ada kehidupan hangat di dalamnya. Langkah kakiku yang tanpa alas bermuara pada sebuah ruang makan megah di lantai bawah. Di ujung ruangan, lampu gantung kristal meredup, namun aku bisa melihat siluet sebuah dispenser air di dekat area dapur bersih. Baru saja aku hendak melangkah mendekati dispenser itu, sebuah suara berat yang sangat familiar memecah keheningan malam. "Looking for a midnight snack, little teacher?" Suara itu membuatku tersentak. Aku menoleh cepat dan menemukan Kim Muyeol sedang duduk tenang di salah satu kursi di ujung meja makan yang panjang. Di hadapannya terdapat sebuah laptop yang menyala, memantulkan cahaya biru pada wajah tampannya yang dingin. Pria itu kini mengenakan jubah tidur hitam berbahan sutra yang longgar. Aku mematung di tempat, meremas ujung gaun tidur katunku dengan erat, menahan napas. "I... I just wanted some water," bisikku ketakutan, bersiap untuk berbalik dan berlari kembali ke kamar atas. Muyeol tidak langsung menjawab. Dia hanya memberikan isyarat dagu yang dingin ke arah kursi kosong di seberang mejanya. "Sit." Nada suaranya datar, tidak menerima penolakan atau perdebatan sama sekali. Aku tidak punya pilihan lain. Dengan tubuh yang gemetar, aku berjalan mendekat dan duduk di kursi yang paling jauh darinya. Muyeol menuangkan air putih hangat dari teko kaca di dekatnya ke dalam sebuah gelas, “Come and take it.” titahnya. Aku terpaksa bangun dari kursi untuk berjalan lebih dekat ke arah segelas air itu, namun saat ingin mengambilnya, Muyeol memerintahkanku untuk duduk di kursi yang paling dekat, “Drink it and sit here.” titahnya. Aku hanya menurutinya. Setelah meminumnya dengan rakus hingga tandas, aku duduk. Muyeol menutup laptopnya dengan satu gerakan tenang, lalu memperhatikanku yang masih terengah-engah dengan tatapan tajamnya yang mengintimidasi. "So, you finally decided to eat the cold food in your room?" Aku tersentak pelan, menyadari fakta mengerikan bahwa dia memantau setiap pergerakanku, bahkan saat aku menyantap makanan sisa di dalam kamar yang tertutup. Aku menunduk dalam, menolak untuk menatap matanya. "W-why aren't you locking my door?" tanyaku dengan suara yang sarat akan keputusasaan. "Aren't you afraid I will run away?" Muyeol terkekeh rendah, sebuah senyuman sinis yang begitu dingin terukir di wajah tampannya. "Run away where, Cariño?" tanyanya balik dengan nada meremehkan. "To the police who have already closed your file? Or back to your school where you are officially registered as a traumatized resignation case? You have no identity left in this country. The moment you step outside my front gate without my men, the rival factions who bombed the port will catch you, and they won't be as polite as I am." Kalimat itu seketika membuat dadaku terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan ini mendadak hilang. Kenyataan pahit itu kembali menghantamku dengan telak, aku benar-benar tidak punya tempat untuk lari di dunia luar. Sangkar emas ini, suka atau tidak, adalah satu-satunya tempat yang menjagaku tetap bernapas di kota Busan yang asing ini. Dengan gerakan yang santai namun sarat akan wibawa, dia menunjukkan sebuah kertas lalu dengan tiba-tiba menarik kursiku hingga aku tersentak. Ia meletakkan kertas tersebut tepat di hadapanku, di samping gelas kosongku. Aku menunduk, menatap kertas itu dengan bingung. Di sana tertulis beberapa paragraf teks dalam Bahasa Indonesia—sebuah laporan pengiriman logistik lama yang bahasanya cukup kaku. "Translate it for me. Verbally," perintah Muyeol, suaranya terdengar mutlak saat dia beranjak dari kursinya lalu berjalan mengelilingi meja. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aku tidak tahu apa-apa tentang taktik dunia bawah atau niat tersembunyinya. Aku hanya membaca baris demi baris teks tersebut dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris secara lisan dengan sangat teliti dan jujur apa adanya. Bagiku, jika aku melakukan tugas ini dengan benar, pria ini mungkin tidak akan menyakitiku. Begitu aku mengucapkan kata terakhir dari terjemahanku, Muyeol tiba-tiba berhenti tepat di belakangku, ia menundukkan tubuhnya yang tegap. Membungkuk sangat dekat di sisiku, hingga helai napas hangatnya menerpa langsung kulit leher dan daun telingaku, mengurungku dalam jarak yang begitu intim. "Good job," bisiknya rendah, sangat dekat, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kudukku meremang hebat. Sebelum aku sempat menetralkan detak jantungku yang menggila akibat posisinya yang merapat, tangan kanan Muyeol terulur ke depan, meraih lembar kertas teks Bahasa Indonesia yang baru saja kuterjemahkan. KRESEK Tepat di depan mataku, dengan satu remasan tangan yang kokoh, kertas itu langsung hancur, berkerut menjadi sebuah bola kecil yang tak berbentuk di dalam genggamannya, lalu dilempar begitu saja ke atas meja. Aku tersentak kecil, menatap bola kertas itu dengan mata membelalak bingung. "W-why did you crush it?" tanyaku, aku benar-benar tidak paham kenapa kerja keras yang kulakukan barusan seolah dibuang begitu saja. Muyeol tidak langsung menjawab. Alih-alih menjauh, perlahan, jemari tangannya yang besar dan hangat terulur ke arah wajahku. Jantungku serasa berhenti berdetak saat ujung jarinya menyentuh beberapa helai rambutku yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telingaku dengan gerakan yang sedikit lembut. Ibu jarinya yang kasar sempat mengusap kulit pipiku sekilas, membuatku membeku total. Pria itu terkekeh rendah, sebuah senyuman tipis yang misterius terukir di sudut bibirnya yang tegas. "You're interesting, Cariño. Interesting," ucapnya pelan, mengulang kata itu dengan penekanan yang sarat akan ketertarikan berbahaya. Di detik itu, aku baru menyadari satu hal yang mengerikan. Kertas itu... isinya sama sekali tidak penting bagi bisnisnya. Muyeol mungkin sudah tahu arti dari teks itu sebelum dia memberikannya padaku. Dia hanya sedang mengujiku, melihat apakah tawanan barunya ini akan berbohong atau mengkhianatinya. Dan kepolosanku yang terlalu jujur barusan, secara tidak sengaja telah menyelamatkan nyawaku sendiri. Muyeol menarik kembali tangannya, menegakkan tubuh tegapnya yang dibalut jubah tidur sutra. "Tomorrow, your new life begins," ujar Muyeol tenang, kembali ke mode dinginnya yang biasa. "You are a teacher, which means you know how to work with documents and books. On the second floor, there is a private library and a lot of old files that need sorting. You will work there as my personal administrative assistant, under my direct supervision. That way, you won't have time to think about stupid things like running away." Aku mendongak dengan mata yang masih berkaca-kaca, kehilangan kata-kata. Sebelum melangkah pergi menaiki tangga utama, dia melirik ke arah kakiku yang polos dan memerah karena dinginnya lantai marmer. "Tomorrow, Jung will bring you proper clothes and shoes. Don't walk around my house with bare feet again." Aku tertegun di tempat dudukku, menatap gelas kosong dan remasan kertas di hadapanku. Rasa hangat dari air minum dan sisa sentuhannya di rambutku meninggalkan perasaan aneh yang campur aduk. Namun, saat baru saja aku hendak menghembuskan napas lega, langkah kaki Muyeol tiba-kira berhenti di anak tangga pertama. Dia menoleh sedikit, menatapku kembali dengan sorot mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "And little teacher, I want you to sleep in my bed tonight." Aku bergidik ngeri seketika. Aku tidak mengerti perasaanku saat ini. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Di satu sisi aku tahu aku tetaplah seorang tawanan yang tidak bisa kabur dan kini harus menghadapi ancaman tidur di kamar sang iblis, namun di sisi lain, pria misterius itu baru saja memberiku sebuah alasan dan tujuan untuk tetap bertahan hidup besok pagi.Chapter 6 Pagi pertama sebagai asisten administrasi pribadi Kim Muyeol dimulai dengan debaran jantung yang tidak keruan, rasanya seperti berjalan pelan menuju tiang gantungan. Setelah Bibi Jung mengantarkan sepasang pakaian rajut berwarna krem yang sopan serta flat shoes yang pas di kakiku, aku langsung digiring oleh salah satu pengawal berjas hitam menuju perpustakaan pribadi di lantai dua. Sepanjang koridor yang sunyi, kepalaku terus berputar memikirkan bagaimana aku harus bersikap di depan pria yang semalam baru saja mempermainkan mentalku di atas ranjang yang sama. Begitu pintu ganda kayu dibuka, mataku langsung disambut oleh kemegahan ruangan yang teramat luas. Rak-rak buku tua menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh ribuan jilid berkas rahasia yang tersusun rapi. Aroma kertas, kayu premium, dan wangi maskulin khas Muyeol yang dominan bercampur dalam ruangan itu. Di tengah ruangan, Muyeol sudah duduk di balik meja kerja marmernya yang megah. Dia mengenakan ke
Chapter 5Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruangan, sebuah ranjang besar berlapis sprei sutra gelap tampak seperti altar penghakiman bagiku.Aku berdiri mematung di dekat pintu, meremas gaun tidur katunku hingga kuku-kuku jariku memutih. Kepalaku menunduk, tidak berani menatap sosok pria yang kini berjalan santai menuju sofa panjang di sudut ruangan."I won't repeat my order twice, Cariño. Get on the bed," ucap Muyeol tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya. Suaranya datar, namun getaran baritonnya membangkitkan bulu kudukku.Aku melangkah masuk dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Alih-alih langsung naik ke atas kasur, langkahku mendadak terhenti di tengah ruangan. Aku berdiri dengan ragu-ragu, meremas ujung gaun tidur
Chapter 4 Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan. Di tengah kesunyian malam yang mencekam, setelah badai besar di luar sedikit mereda menjadi gerimis tipis, ego dan harga diriku akhirnya runtuh total oleh rasa sakit fisik yang tak bisa kutahan. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku meraih mangkuk bubur abalon dingin yang diantarkan oleh Bibi Jung sore tadi. Makanan itu sudah sepenuhnya mendingin, permukaannya tampak mengeras karena pendingin ruangan, dan aromanya tidak lagi menggugah selera. Namun, demi bertahan hidup, aku menyuapkan makanan dingin itu ke dalam mulutku sembari meneteskan air mata hangat. Rasanya hambar, terasa sangat berat dan kesat saat melewati tenggorokanku yang kering. Sungguh sebuah ironi, aku menangis bukan hanya
Chapter 3Dua hari telah berlalu sejak malam mengerikan di pelabuhan itu, dan aku masih terkurung di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu kamar ini selalu dikunci dari luar, kecuali saat pelayan tua bernama Bibi Jung masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriksa perban di keningku. Aku menolak untuk menyentuh makanan mewah yang disajikan, membuat tubuhku semakin lemas dan tak bertenaga. Pikiranku terus berputar pada murid-muridku dan bagaimana hancurnya keluargaku di Indonesia jika mereka mengira aku sedang sekarat di rumah sakit Korea. Malam ini, badai besar melanda Busan. Suara gemuruh petir dan hantaman hujan deras pada dinding kaca kamarku membuat suasana semakin mencekam. Aku meringkuk di lantai di sudut kamar, memeluk lututku erat-erat sambil menangis tertahan. Rasa takut dan rindu rumah bercampur aduk, meremukkan seluruh pertahananku. Ceklek. Suara pintu yang terbuka di tengah malam buta membuatku tersentak. Aku mendongak dengan pandangan
Chapter 2 Saat mataku kembali terbuka, rasa dingin dari lantai beton bunker semalam telah lenyap. Aku terbangun di atas ranjang king-sized yang luar biasa empuk, berselimut kain sutra mahal di dalam sebuah kamar tidur mewah yang sangat luas. Dinding kamar itu didominasi warna putih dan abu-abu arang, memancarkan kesan minimalis yang maskulin sekaligus mengintimidasi. Melalui dinding kaca raksasa antipeluru di sisi kamar, aku bisa melihat hamparan laut lepas Busan dari ketinggian perbukitan eksklusif. Aku menyadari luka di keningku telah diobati dengan rapi menggunakan perban baru. Kemeja putihku yang kotor dan robek semalam pun telah diganti dengan sepotong gaun tidur katun yang longgar. Ketakutan mendadak menjalar ke seluruh tubuhku. Siapa yang mengganti pakaianku? Bagaimana dengan tubuhku.. "Are you awake, Miss?" Aku tersentak dan menoleh cepat. Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan berdiri di dekat pintu kamar mandi, memegang baskom kecil. "Young Master ordered me to
Chapter 1“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine." ucapnya dengan nada datar yang dingin. Aku membeku ketakutan, napasku seolah tercekat di tenggorokan. Menghadapi pilihan mematikan dari sang bos kartel dan menyadari diriku terperangkap di bunker bawah tanah yang mustahil kutembus, seluruh pertahanan mental yang kupunya runtuh sepenuhnya. Rasa pusing kembali menghantam kepalaku, pandanganku berputar kabur, hingga akhirnya kesadaranku habis total. Aku kembali jatuh pingsan di kursi tersebut, sepenuhnya berserah pada takdir di tangan pria asing yang mengerikan itu. Namaku Traya Gayatri. Di usiaku yang baru menginjak 24 tahun, aku berhasil membangun kehidupan impian yang damai di Busan, Korea Selatan. Berbekal ijazah dari salah satu universitas ternama di sini melalui jalur beasiswa, passion mengajar membawaku menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah internasional bergengsi di kota pelabuhan ini. Aku sangat men







