Masuk“Nyonya,” panggil Randy pelan sambil mengusap lembut helai rambut Fe, yang berbaring di pahanya. Fe yang tengah memperhatikan langit biru dari kaca mobil, mengalihkan pandangannya. “Ya?”“Kenapa Nyonya masih bertahan dengan Tuan? Padahal, selalu disakiti seperti ini.” “Selama saham suamiku masih menguasai perusahaan keluargaku, selama itu pula aku nggak bisa pisah darinya.” Fe tersenyum getir. “Aku seperti jadi tawanan James, kan?”“Tapi, Nyonya bisa memberitahu keluarga Nyonya.”“Menurutmu mereka akan memilih membebaskanku atau perusahaan?”Ditatap oleh mata indah itu membuat Randy menoleh ke arah lain. Selain itu, dia tidak bisa memberikan jawabannya. Fe tersenyum lagi. Dia paham kalau Randy pun tahu jawabannya. Keluarganya tidak akan pernah mementingkan kebahagiannya. “Tapi, kakak kedua Nyonya…”“Morgan? Kalau dia tahu aku terus disakiti seperti ini oleh James, saat ini aku pasti sudah jadi seorang janda. Morgan pasti sudah menghabisi nyawanya.”Fe merasakan pemuda itu menarik
Fe berdiri di tepi jendela kamarnya. Dia menoleh ke belakang, ke arah pintu kamar mandi. Terdengar bunyi air pancuran dari dalam sana, menandakan suaminya masih berada di kamar mandi. Ibu satu anak itu memanfaatkan waktunya untuk melihat ke arah luar jendela, yang berhadapan dengan jalanan beraspal menuju ke arah gerbang depan. Begitu menyadari bahwa yang dicarinya tidak terlihat, dia pun celingak-celinguk ke berbagai sudut yang bisa dicapai matanya. “Apa ini sudah kesiangan? Kenapa nggak kelihatan juga?” gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya. Saat terdengar suara air mati dari dalam kamar mandi, Fe bergegas bergerak menuju pakaian suaminya yang sudah disiapkan oleh Santi tadi. Dia berpura-pura meletakkan pakaian suaminya ke atas tempat tidur. Saat dia berbalik dan tersenyum, rasa perih langsung menjalar dj wajahnya. Sudut bibirnya masih terasa sakit, begitu juga kepalanya yang dihantuk kemarin.Tapi, seperti yang biasa dia lakukan, Fe tetap tersenyum. Seolah semua itu tidak pe
Pantulan tubuh James terlihat di cermin panjang. Manik matanya turun ke bawah, ke arah Felicia yang tengah membantunya mengenakan dasi. Wajahnya terlihat puas saat berhasil membuat dasi yang melingkar di leher James. Lalu, dia mengambil jas yang tergantung di rak gantung berjalan di sisinya. James menurut dan mengenakan jas dibantu istrinya itu. Kemudian Fe mundur beberapa langkah, memandangi suaminya itu dari atas ke bawah. “Perfect.” Dia menepuk tangannya satu kali sambil tersenyum senang. James melihat pantulannya di cermin, yang kini tidak dihalangi oleh Fe. “Hari ini kamu ada rapat dengan Walikota, kan?”James mengangguk. “Mau kubantu dengan mendekati Ibu Walikota juga? Kebetulan tas buatan tangan dari Eropa hari ini sampai. Kalau mau, bisa aku berikan aja ke Ibu Walikota, supaya urusanmu bisa lancar,” ucap Fe sambil menepuk kedua bahu suaminya. James meraih kedua tangan Fe, kemudian melingkarkannya di dadanya. Mau tak mau, Fe memeluk suaminya dari belakang. “Meskipun ak
Suara ketukan di pintu kerjanya tidak membuat James mengalihkan pandangannya dari layar komputer.“Masuk,” hanya ucapan sedikit itu yang keluar dari bibir tipisnya.Cahaya di luar yang lebih terang daripada ruangan ini, menyisip saat pintu terbuka.Sosok Randy terlihat melangkah memasuki ruangan dan mendekat ke arah meja kerja.“Mau apa?” tanya James seraya mengangkat pandangannya sekilas untuk melihat wajah Randy.Pemuda itu meletakkan sebuah amplop putih ke atas meja kerja. “Ini surat keterangan dari klinik kalau Saya sudah bisa mulai bekerja.”James masih menatapi layar komputernya. “Kalau begitu, kamu besok sudah boleh menemani Fe pergi.” Dia menjauhkan tubuhnya dari komputer. Randy bisa melihat senyuman di wajah bosnya itu.“Dia pasti senang mendengar kabar kalau sudah boleh keluar rumah lagi.” Tiba-tiba senyuman James menghilang. Dia melepas kacamatanya, lalu menumpukan tangannya di atas meja. Kemudian, menatap Randy. “Aku sudah dengar kabarnya, siang tadi, ibuku datang ke sin
“Kurang ajar kamu, ya!” Dengan sisa kekuatannya, Veronica bergerak cepat mendekat ke arah Fe. Tangan kanannya terangkat ke atas hendak mendarat keras di pipi menantunya. Namun, Fe bergeming. Berkedip saja tidak. Dia hanya menatap tajam ke arah Veronica, seakan siap menerima gamparan itu. Sepertinya dia sudah bisa menebak kalau mertuanya akan menyerangnya seperti itu. Bojes hanya menahan bahu Veronica karena tidak menyangka akan gerakan tiba-tiba itu. Sementara, Salsa menunggu dengan mata melebar. Tapi tangan Veronica terhenti di udara. Dia memutar pandangannya dan menemukan pergelangan tangannya digenggam erat oleh seseorang. Pandangannya pun beralih ke arah sang pelaku. Matanya pun kian berbinar murka. Salsa terkejut sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Lalu, menatap sang pelaku. ‘Wow!’“Ran!” sergah Fe, yang merasa sikap itu tidak seharusnya dilakukan oleh sang pengawal.Randy menoleh ke nyonyanya itu. Dia malah mendapatkan kerutan kening dan gelengan dari Fe.‘Kamu suda
Randy melambaikan tangannya saat melihat Selena menggandeng gadis kecil berambut ikal seperti ibunya itu yang tak lain adalah Wilona.Selena menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak dilihatnya sosok yang biasa bersama adiknya itu. “Kamu sendirian? Wilona nggak dijemput sama mamanya?”Randy menggeleng. “Mamanya belum boleh keluar rumah sebelum aku sehat. James cuma mempercayakan istrinya padaku,” jawabnya sambil tersenyum, seakan itu adalah suatu hal yang patut dibanggakan.Selena menatap gadis kecil yang digandeng oleh Randy itu, kemudian menundukkan tubuhnya sedikit. “Kamu mau main dulu di sana, Sayang?” tanyanya sambil menunjuk ke arah perosotan yang ada di sebelah kiri.Wilona pun mengangguk. Gadis kecil itu langsung be
“Bu, biar Saya yang nyetir.” Rambe, begitu rekan-rekan kerjanya yang sesama sekuriti, pengawal, atau pelayan di rumah ini memanggilnya. Badannya cukup besar, wajahnya tampak keras, tapi sorot matanya cukup lembut. Makanya, dia tidak cocok beradu debat dengan Felicia seperti ini, sudah kelihatan has
“Agh!” Begitu membuka mata, Fe langsung mengerang pelan. Tubuhnya terasa sakit dari ujung kepala hingga kaki.Matanya menyipit saat cahaya matahari yang sudah meninggi menerobos masuk, membuat kamar itu terang benderang dan menyilaukan.‘Jam berapa ini? Kenapa sudah terang sekali?’Fe berusaha beri
James berdiri di atas panggung marmer yang menyilaukan itu. Dia mengenakan setelan kemeja serba putih. Tampan seperti biasanya. Hanya saja bibirnya lebih sering tersenyum hari ini. Dia menunggu dengan tidak sabar ke arah pintu masuk yang masih tertutup. Matanya sempat melirik ke kursi bagian depan
“Serius kalau kalian tidak butuh bantuan kami untuk mempersiapkan pesta pernikahan ini?” tanya Desy sambil menelisik reaksi James dan Felicia, yang duduk berdampingan. Felicia menoleh ke sisinya, tempat sang calon suami berada. Jemari James menyentuh punggung tangan Felicia. “Iya, Ma. Saya sudah







