Share

Bab 3. Perjodohan

Author: buchaa
last update publish date: 2026-05-08 15:38:06

“Aku tidak mau menikah dengannya, Ma!”

Teriakan Felicia memenuhi ruangan keluarga tanpa sekat itu.

Mama dan Papa yang duduk di sofa hijau emerald setengah lingkaran terkejut mendengar penolakan anak ketiga mereka.

Kakak sulung Felicia, yang sejak tadi hanya mengamati dari lantai dua, akhirnya turun tangan. Langkahnya terdengar mantap ketika ia mendekat.

“Jadi, kamu mau melihat keluarga kita hancur?”

Felicia menatap kakaknya yang kini berdiri di hadapannya. Lelaki itu lebih tinggi darinya, mengenakan kaus turtleneck, dan satu tangannya terselip santai di saku.

“Apa maksudnya?”

“Andrew, sudahlah. Dia tidak perlu tahu keadaan perusahaan,” Papa memperingatkan. Beban sebesar itu mana sanggup ditanggung anak bungsunya. Perempuan lagi.

“Itulah kesalahan kita, Pa. Karena dia sama sekali tidak tahu kondisi perusahaan,” balas Andrew sambil duduk di ujung sofa.

Felicia masih menunggu jawaban yang sejak tadi menggantung.

“Duduk dulu.” Mama menarik lembut tangan Felicia agar kembali duduk dan menenangkan diri.

Felicia menuruti, meski pandangannya tak lepas dari Andrew.

“Karena perusahaan kita jalan di tempat, muncul pembahasan untuk melakukan ekspansi ke luar negeri. Dan itu membutuhkan modal yang tidak sedikit.”

“Jadi?”

“Kami sudah meminta James berinvestasi. Tapi ada syarat yang dia ajukan.”

“Dengan menikahiku?” tebak Felicia dengan kening mengernyit dalam seiring tatapannya yang menajam.

Andrew mengangguk. “Ya. Bisa dibilang begitu.”

Wanita berambut panjang sebahu di sisinya, menepuk punggung tangan Felicia dengan lembut.

“Semua orang juga tahu James menyukaimu sejak remaja. Bahkan Mama tidak yakin kamu bisa menikah dengan pria lain. James pasti akan menggagalkannya. Kamu tahu kalau dia punya kekuasaan untuk melakukan itu.”

“Kamu punya orang yang kamu sukai?” tanya Papa hati-hati.

Felicia menggeleng pelan.

Andrew menepuk tangannya sekali sebelum berdiri.

“Kalau begitu, masalah selesai. Kita adakan pertemuan keluarga secepatnya. Setuju, Ma, Pa?”

Kedua orang tua mereka mengangguk.

Sementara itu, Felicia masih diselimuti keraguan—benarkah menikahi James adalah keputusan yang tepat?

🌱🌱

Pemandangan gedung-gedung pencakar langit tampak jelas menjadi latar ruang naratama restoran hotel bintang lima ini. Dua keluarga duduk saling berhadapan. Hanya saja untuk keluarha James, minus sang Papi yang sudah meninggal sejak tiga tahun lalu.

“Jadi, pertunangannya bulan depan?” tanya Hendri sambil menatap calon besan di hadapannya.

“Tidak perlu ada pertunangan.”

Semua mata langsung tertuju pada Veronica. Termasuk Andrew, yang meletakkan gelas minumannya, lalu bertukar pandang dengan Salsa, yang duduk di hadapannya. Wanita yang hanya satu tahun lebih muda darinya itu juga tampak bingung.

Veronica menyadari tatapan baik keluarga maupun calon keluarganya itu. Dia justru tersenyum lebar.

“Langsung ke pernikahan saja. Takutnya pamali kalau kelamaan. Anak-anak muda ini bisa berubah pikiran.”

“Kalau aku tidak,” ujar James mantap. “Aku sudah yakin menikah dengan Fe.”

Felicia menatap pria berkacamata tipis di hadapannya. Dagunya sedikit terangkat meninggalkan kesan angkuh, tapi tak terbantahkan kalau dia memang tampan.

🌱

“Kenapa kamu terlihat ragu dengan pernikahan kita?” tanya James saat mereka berjalan di kebun bunga di samping hotel.

Pertemuan resmi sudah berakhir. Orang tua mereka masih asyik mengobrol di atas. Dan, mereka berdua baru saja menjauh dari Salsa dan Andrew yang duduk di bangku taman dekat dinding hotel.

“Kamu tidak menyukaiku?”

Felicia langsung mengibaskan kedua tangannya. “Ah, bukan begitu. Mana mungkin ada yang tidak menyukaimu.”

Tiba-tiba tubuh Felicia tertarik ke belakang. Punggungnya menabrak batang pohon. James sudah berdiri sangat dekat, jemarinya mencengkeram pinggangnya.

“Kalau begitu, menikahlah denganku.”

Belum sempat Felicia menjawab, bibir James sudah lebih dulu menutup bibirnya. Ciumannya mendesak, membuat Felicia nyaris kehilangan napas.

Ia memukul pelan dada James. Baru setelah itu pria tersebut menjauh, meski jarak di antara mereka masih terlalu dekat, seolah James belum rela mengakhirinya.

“James, tapi....”

“Saat menikah denganku, kamu tidak perlu memikirkan apa pun. Tugasmu hanya bernapas. Aku jamin itu, Sayang.”

Tanpa memberi kesempatan lagi, James kembali mengecupnya, kali ini lebih lambat, lebih dalam.

🌱

“Eww, geli banget,” komentar Salsa dari bangku taman. Meski jarak mereka cukup jauh, apa yang terjadi di sana terlihat jelas.

Andrew sempat melirik ke arah mereka, lalu tersenyum santai sambil menyeruput es americano-nya.

“Wajar. James akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan sejak dulu. Dia pasti sudah tidak tahan.”

Andrew menatap Salsa yang menghembuskan asap rokok. “Kamu tidak apa-apa didahului menikah?”

“It’s okay. Aku sudah berencana untuk tidak akan menikah. Sampai kapan pun.”

“Kamu wanita. Sudah sepantasnya menikah. Umurmu juga sudah kepala tiga.”

“Hello, kamu sendiri belum menikah, Andrew! Jangan cuma menambah jumlah pacar. Lagipula menikah, punya anak, mengurus suami, ugh, melelahkan. Lebih baik aku mencintai diriku sendiri.”

Andrew tertawa. Sahabat yang dikenalnya sejak kecil itu tak pernah membosankan.

“Aku akan menikah saat menemukan wanita yang pantas menjadi ibu penerusku. Seperti James, yang sudah menemukan ratunya sejak dulu.”

Pandangan Andrew kembali tertuju pada James dan Felicia yang berjalan mengitari taman sambil bergandengan tangan.

Salsa menatap Andrew dengan jijik sebelum kembali mengisap rokoknya.

“Cih,” umpatnya samar. Kata-kata manis penuh komitmen itu tidak pantas keluar dari mulut macam Andrew, yang perempuannya bertebaran di mana-mana.

🌱🌱 Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Pengabdi Uji
gapapa kepala 3 jg namanya nikah gausah buru2
goodnovel comment avatar
Manissss
Kan, James sebucin itu lho padahal...
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
dijodohkan kah?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 110. Tas Limited Edition

    Pak Walikota memiringkan kepala sedikit sambil menyesap air ludahnya. “Sepertinya akan sulit karena seperti yang kamu tahu, perhatian sedang terpusat ke Luxury City.”Fe tersenyum, lalu menoleh tanpa melihat ke belakang. Bojes yang sudah ada di sana, memberikan shopping bag yang dikenali Randy sebagai tempat kemarin yang mereka datangi. Dia menerimanya dari Bojes. ‘Lebih berat dari kemarin,’ ucap benak Randy heran. Lalu meletakkannya di samping Fe, tapi agak maju sedikit, lebih dekat ke Bu Walikota. “Ini tas limited edition. Hanya ada dua di dunia ini. Warna burgundy-nya sangat mewah. Cocok kalau dipakai Ibu ke acara resmi.”Bu Walikota bertukar pandang dengan suaminya sambil tersenyum tersipu. “Kenapa repot-repot banget?” ujarnya sambil menarik shopping bag ke arahnya, lalu membuka bungkus tas. Bola matanya berbinar saat menyentuh tas itu dengan hati-hati. Tasnya cukup besar, tapi warna dan modelnya benar-benar terlihat elegan. Dia sedikit terkejut melihat masih ada lagi isi sho

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 109. Ada Yang Berbeda

    Selena memanjangkan lehernya. Tengah hari hampir tiba. Sebagian besar siswa sudah dijemput oleh orang tua atau orang yang ditugaskan menjemput. Namun… Selena menoleh ke perosotan. Sosok Wilona masih asyik bermain di sana. Untunglah tempat itu teduh karena batang dan daun pepohonan yang menaungi sampai ke sana. Kalau tidak, sudah pasti panas sekali. Wanita yang belum juga dikaruniai anak itu meskipun sudah menikah hampir empat tahun lamanya, kembali memperhatikan ke arah luar pagar. Sosok yang dicarinya belum juga tiba. “Na, aku duluan ke dalam,” Pamit Elsa, sesama rekan mengajarnya. Siswanya sudah dijemput semua, jadi sudah bisa masuk kembali ke gedung sekolah. Selena pun mengangguk. Tidak lama kemudian, mobil yang dikenali olehnya berhenti di depan pagar. Selena pun meluruskan punggungnya, tampak bersemangat. ‘Akhirnya, Randy datang juga,’ pikirnya. Randy terlihat membukakan pintu penumpang. Selena masih memperhatikan. Sejurus kemudian, ujung alisnya saling terpaut. Ketika

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 108. Ruangan Naratama

    “Nyonya,” panggil Randy pelan sambil mengusap lembut helai rambut Fe, yang berbaring di pahanya. Fe yang tengah memperhatikan langit biru dari kaca mobil, mengalihkan pandangannya. “Ya?”“Kenapa Nyonya masih bertahan dengan Tuan? Padahal, selalu disakiti seperti ini.” “Selama saham suamiku masih menguasai perusahaan keluargaku, selama itu pula aku nggak bisa pisah darinya.” Fe tersenyum getir. “Aku seperti jadi tawanan James, kan?”“Tapi, Nyonya bisa memberitahu keluarga Nyonya.”“Menurutmu mereka akan memilih membebaskanku atau perusahaan?”Ditatap oleh mata indah itu membuat Randy menoleh ke arah lain. Selain itu, dia tidak bisa memberikan jawabannya. Fe tersenyum lagi. Dia paham kalau Randy pun tahu jawabannya. Keluarganya tidak akan pernah mementingkan kebahagiannya. “Tapi, kakak kedua Nyonya…”“Morgan? Kalau dia tahu aku terus disakiti seperti ini oleh James, saat ini aku pasti sudah jadi seorang janda. Morgan pasti sudah menghabisi nyawanya.”Fe merasakan pemuda itu menarik

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 107. Nyonya, Jadilah Milikku

    Fe berdiri di tepi jendela kamarnya. Dia menoleh ke belakang, ke arah pintu kamar mandi. Terdengar bunyi air pancuran dari dalam sana, menandakan suaminya masih berada di kamar mandi. Ibu satu anak itu memanfaatkan waktunya untuk melihat ke arah luar jendela, yang berhadapan dengan jalanan beraspal menuju ke arah gerbang depan. Begitu menyadari bahwa yang dicarinya tidak terlihat, dia pun celingak-celinguk ke berbagai sudut yang bisa dicapai matanya. “Apa ini sudah kesiangan? Kenapa nggak kelihatan juga?” gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya. Saat terdengar suara air mati dari dalam kamar mandi, Fe bergegas bergerak menuju pakaian suaminya yang sudah disiapkan oleh Santi tadi. Dia berpura-pura meletakkan pakaian suaminya ke atas tempat tidur. Saat dia berbalik dan tersenyum, rasa perih langsung menjalar dj wajahnya. Sudut bibirnya masih terasa sakit, begitu juga kepalanya yang dihantuk kemarin.Tapi, seperti yang biasa dia lakukan, Fe tetap tersenyum. Seolah semua itu tidak pe

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 106. Ciuman Tiba-Tiba

    Pantulan tubuh James terlihat di cermin panjang. Manik matanya turun ke bawah, ke arah Felicia yang tengah membantunya mengenakan dasi. Wajahnya terlihat puas saat berhasil membuat dasi yang melingkar di leher James. Lalu, dia mengambil jas yang tergantung di rak gantung berjalan di sisinya. James menurut dan mengenakan jas dibantu istrinya itu. Kemudian Fe mundur beberapa langkah, memandangi suaminya itu dari atas ke bawah. “Perfect.” Dia menepuk tangannya satu kali sambil tersenyum senang. James melihat pantulannya di cermin, yang kini tidak dihalangi oleh Fe. “Hari ini kamu ada rapat dengan Walikota, kan?”James mengangguk. “Mau kubantu dengan mendekati Ibu Walikota juga? Kebetulan tas buatan tangan dari Eropa hari ini sampai. Kalau mau, bisa aku berikan aja ke Ibu Walikota, supaya urusanmu bisa lancar,” ucap Fe sambil menepuk kedua bahu suaminya. James meraih kedua tangan Fe, kemudian melingkarkannya di dadanya. Mau tak mau, Fe memeluk suaminya dari belakang. “Meskipun ak

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 105. Jangan Terlalu Ikut Campur

    Suara ketukan di pintu kerjanya tidak membuat James mengalihkan pandangannya dari layar komputer.“Masuk,” hanya ucapan sedikit itu yang keluar dari bibir tipisnya.Cahaya di luar yang lebih terang daripada ruangan ini, menyisip saat pintu terbuka.Sosok Randy terlihat melangkah memasuki ruangan dan mendekat ke arah meja kerja.“Mau apa?” tanya James seraya mengangkat pandangannya sekilas untuk melihat wajah Randy.Pemuda itu meletakkan sebuah amplop putih ke atas meja kerja. “Ini surat keterangan dari klinik kalau Saya sudah bisa mulai bekerja.”James masih menatapi layar komputernya. “Kalau begitu, kamu besok sudah boleh menemani Fe pergi.” Dia menjauhkan tubuhnya dari komputer. Randy bisa melihat senyuman di wajah bosnya itu.“Dia pasti senang mendengar kabar kalau sudah boleh keluar rumah lagi.” Tiba-tiba senyuman James menghilang. Dia melepas kacamatanya, lalu menumpukan tangannya di atas meja. Kemudian, menatap Randy. “Aku sudah dengar kabarnya, siang tadi, ibuku datang ke sin

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 5. Dunia Runtuh Seketika

    James berdiri di atas panggung marmer yang menyilaukan itu. Dia mengenakan setelan kemeja serba putih. Tampan seperti biasanya. Hanya saja bibirnya lebih sering tersenyum hari ini. Dia menunggu dengan tidak sabar ke arah pintu masuk yang masih tertutup. Matanya sempat melirik ke kursi bagian depan

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 4. Gaun Pengantin

    “Serius kalau kalian tidak butuh bantuan kami untuk mempersiapkan pesta pernikahan ini?” tanya Desy sambil menelisik reaksi James dan Felicia, yang duduk berdampingan. Felicia menoleh ke sisinya, tempat sang calon suami berada. Jemari James menyentuh punggung tangan Felicia. “Iya, Ma. Saya sudah

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 2. Bekas Kecupan di Leher

    Keriput di wajah wanita bergaun putih yang menjuntai hingga mata kaki itu bergerak ketika ia melirik ke arah leher Felicia. Berhenti untuk beberapa detik. Kemudian bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyerupai ejekan.Felicia tak menyadari tatapan itu. Ia sibuk memp

  • My Lady, Jadikan Aku Milikmu   Bab 1. Suami Posesif

    Derap sepatu kulit Italia menghentak lantai marmer, menggema panjang di lorong rumah itu. Setiap langkahnya sarat amarah, menuju pintu kaca berbingkai kayu tebal di ujung sana yang tak lain adalah satu-satunya tujuan James sore ini.Gesekan setelan jas yang membalut tubuhnya dengan sempurna menanda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status