Share

My Wife is My Enemy
My Wife is My Enemy
Penulis: Willy Andha

Prolog

“Sena, Bapak akan menjodohkanmu dengan putri sahabat lamaku. Kamu siap, kan?”

Masih melekat dalam memoriku, kata-kata yang bapakku ucapkan sebelum semua kegilaan yang terjadi. Kala itu seharusnya aku tengah menyantap makan malam bersama bapak. Menu malam itu adalah nasi goreng dengan ayam suwir beserta segelas teh hangat. Uap panas mengepul dari hidangan yang baru saja turun dari wajan penggorengan. Potongan daun bawang yang harum membuat makan malam ini terasa istimewa walau sederhana.

Namun entah mengapa di tengah makan malam kami, mendadak bapak mengucapkan hal yang membuatku tertegun. Itu bukanlah sesuatu yang biasa dikatakan dari seorang ayah pada puteranya ketika makan malam. Masih banyak pilihan lain seperti menanyakan kabar di sekolah atau tentang pelajaran, bisa juga ia membahas pertandingan sepak bola minggu lalu, atau mungkin tentang sesuatu yang terjadi belakangan ini. Namun bapakku yang satu ini malah mengutarakan keinginannya ingin menjodohkan putranya dengan anak dari rekannya.

Luar biasa, memang.

Kalimat itu membawaku ke dalam keadaan yang menurutku begitu ‘gila.’ Saat ini aku tengah duduk di sofa pendek yang hanya muat untuk dua orang dewasa jika duduk secara berdampingan. Di layar televisi adalah acara film barat yang biasa kutonton pada malam seperti ini. Sekilas ini adalah aktivitas sehari-hariku. Namun yang membuat tak biasa adalah keberadaan seorang gadis yang duduk di sebelahku.

Ia mengerling ke arahku, mungkin karena merasa sedang dipandangi dengan tatapan yang intens. Gadis itu memiliki mata cokelat yang indah, berkerlip seakan memiliki cahaya sendiri. Bulu matanya panjang dan lentik, dibingkai dengan hidung mancung dan wajah orientalnya membuat parasnya begitu memukau. Jantungku selalu berdegup kencang setiap kali mataku bertemu. Tapi aku tak ingin berpaling dari keindahannya sedetik pun.

“Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya gadis itu dengan sedikit memiringkan kepala.

“Tidak, tidak ada,” jawabku dengan tenang sembari menahan malu.

“Kamu aneh.”

Gadis itu lalu menyandarkan kepalanya pada dadaku, yang membuatku tidak bisa menahan keinginan untuk mendekapnya. Kubelai-belai rambutnya yang lembut terurai hingga punggung. Mau dilihat dari sisi mana pun, ia bagai perwujudan bidadari yang turun ke hidupku.

Percaya atau tidak, gadis yang ada dalam dekapanku ini adalah istri yang kunikahi secara resmi.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status