MasukKenzo bersedekap berdiri di samping tempat tidurnya, ia adalah pemilik kamar, ia adalah tuan rumah. Tetapi, ia seolah menjadi orang asing di dalam rumah yang telah ia tempati sejenak ia dilahirkan kemuka bumi ini. Ia menatap Alexa tanpa berbicara apa pun, gadis itu sedang memainkan ponselnya sambil duduk bersila di atas ranjang seolah kamar itu miliknya.
Seharian penuh ia telah mengikuti kemana saja Alexa menyeretnya, kebun binatang, kedai makanan dan terakhir adalah ke pusat perbelanjaan. Gadis itu beralasan hanya membawa dua lembar pakaian, ia membeli begitu banyak pakaian dan memperlakukan Kenzo seolah asistennya. Seumur hidupnya, bahkan Luna kekasihnya selama beberapa tahun tidak pernah memerintah Kenzo apa lagi menjadikannya tukang menjinjing paper bag berisi barang belanjaan Luna. Setibanya di rumah, ibunya juga menyiapkan begitu banyak makan malam dan semua adalah makanan kesukaan Alexa, konon begitu. Kenzo sendiri tidak tahu apa kesukaan gadis manja itu karena yang Kenzo lihat setiap makanan yang di beli selama mereka dua hari bersama, gadis itu selalu menikmatinya. Ia tidak pernah mengeluh masalah makanan. "Kembalilah ke kamarmu," ucap Kenzo dengan nada kesal. Tanpa mengalihkan fokusnya dari layar ponsel yang ada di tangannya Alexa menjawab, "Kau tahu kan, aku tidak bisa tidur jika aku sendirian." "Kalau begitu aku akan memanggil Mommy untuk menemanimu hingga kau tertidur," ujar Kenzo sambil memutar badannya. Alexa langsung membuang ponselnya dan menarik ujung pakaian yang dikenakan oleh Kenzo. "Jangan lakukan itu!" "Kenapa memangnya?" Pria itu mengerutkan keningnya. Alexa menggeleng, matanya menatap Kenzo dengan tatapan puppy eyes. Ia telah bersumpah kepada kedua orang tuanya untuk tidur dan menyisir rambutnya sendiri. Ia telah berjanji kepada orang tuanya tidak akan merepotkan orang lain, tetapi Kenzo adalah pengecualian. Pria itu tidak akan tahu dan tidak boleh tahu jika ia memperoleh izin dengan mudah karena Alexa menjanjikan kemandirian setelah dua Minggu berada di Tokyo. "Kau boleh tidur di sini," ujar Alexa sambil menepuk salah satu bantal. Bibir Kenzo menganga mendengar apa yang terlontar dari bibir Alexa. "Bisa aku bertanya?" Ia menaikkan sebelah alisnya. Alexa mengerjapkan matanya, bulu matanya yang tebal seindah kupu-kupu tampak bergerak-gerak. Bibirnya yang tampak kenyal itu sedikit terbuka membuat Kenzo nyaris tergoda. "Kau pikir ini kamar siapa?" tanya Kenzo dengan nada kesal, kesal karena bibir Alexa tampaknya menyenangkan jika ia cicipi. "Aku adalah tamu di sini, tamu adalah raja. Kau juga mengenalkan aku sebagai kekasihmu, wajar saja kita tidur satu kamar bukan?" "Oh, jadi kau pernah tidur satu kamar dengan kekasihmu?" "Aku melihat Grace dan Willy tinggal serumah... sebelum menikah, aku rasa mereka telah berpacaran... bisa saja mereka juga—tidur di kamar yang sama." Alexa tampak mengingat-ingat. Kenzo mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur. "Dengar, kau percaya kepadaku begitu saja? Kau ingin tidur satu ranjang denganku? Aku ini orang asing dan aku--pria dewasa." "Bukankah kau mengatakan kau tidak mungkin mencabuli anak lima belas tahun?" tanyanya dengan ekspresi wajah sangat polos. Sialan! Alexa benar-benar cerdik. Secepat kilat Kenzo naik ke atas tempat tidur dan memosisikan dirinya, merebahkan tubuhnya dengan nyaman tanpa memedulikan Alexa. Menepis bayangan bibir Alexa yang berwarna merah jambu dan tampak... manis. "Hei, kau serius?" Alexa kembali menarik ujung pakaian Kenzo. "Bukankah kau mengatakan tidak masalah?" jawab Kenzo, pria itu telah memejamkan matanya. Alexa masih memegangi ujung pakaian Kenzo, ia menatap Kenzo yang telah memejamkan matanya. Tidak memedulikannya. "Kau serius? Kenapa tidak tidur di sofa seperti tadi malam?" Kenzo tidak merespons, pria itu tetap memejamkan matanya meski ia di dalam benaknya ia menyeringai jail. "B-bisakan kau berjanji selama tidur kau menjaga jarak dariku?" "Jika kau tidak percaya padaku, lebih baik kau tidur di kamarmu," jawab Kenzo tanpa membuka matanya. "Aku tahu di balik wajah cantikmu itu, kau sedang menyusun kemesuman seperti saat kau merobek gaunku!" "Apa kau bilang?" Kenzo membuka matanya, ia memosisikan tubuhnya menjadi duduk dengan tegak. Pria cantik? Alexa menatap Kenzo dengan tatapan galak. "Kau sedang merencanakan untuk memesumiku!" Kenzo menyipitkan matanya. Memang aku memiliki sedikit niat untuk memesumimu. "Kalau aku pria cantik, kau adalah gadis tampan," ucapnya dengan nada mengejek. "Dasar pria cantik, cabul!" ucap Alexa sambil melompat turun dari atas tempat tidur kemudian berlari menuju ke arah pintu meninggalkan Kenzo yang terkekeh menyaksikan tingkahnya. Akhirnya bisa tidur dengan nyaman dan... imanku selamat. Sayangnya doa yang Kenzo panjatkan tidak dikabulkan oleh Tuhan karena pria itu terbangun di tengah malam dengan sebuah kaki berada di atas perutnya. Alexa, gadis kecil itu naik ke ranjangnya. Perlahan, Kenzo menjauhkan kaki Alexa, menyelimuti tubuh kecil yang terlihat rapuh itu menggunakan selimutnya lalu ia kembali memejamkan matanya. Paginya Kenzo bangun sebelum Alexa membuka matanya, bergegas ia mengenakan pakaian olahraga dan melakukan olah raga ringan. "Kau tidur dengan Alexa lagi?" "Aku sama sekali tidak menyentuhnya," jawab Kenzo. Ayahnya masih terlalu pagi menginterogasinya hanya karena seorang gadis manja yang menjadi tamu mereka. "Tapi, kalian satu ruangan dan satu ranjang," ucap Yamada Naoki, ayah Kenzo. Kenzo meletakkan dumbel di tangan kirinya, kemudian menyeka keringatnya menggunakan handuk yang melingkar di leher belakangnya. "Dia tidak terbiasa tidur sendiri," ujarnya. Naoki menaikkan sebelah alisnya. "Dan kau sedang menggantikan peran sebagai ayahnya?" tanyanya dengan nada mengejek yang teramat kental. Kenzo tidak merespons, ia kembali meraih sebuah dumbel menggunakan tangan kanannya kembali melatih ototnya. "Aku hanya khawatir kau menghamilinya," ujar Naoki, nadanya mengejek. "Aku tidak tertarik dengan anak di bawah umur," ucap Kenzo dengan nada datar, menyembunyikan bahwa tadi malam setelah Alexa berada di atas ranjangnya ia gelisah hampir tidak bisa kembali memejamkan matanya karena menghirup aroma samar-samar tubuh Alexa. "Kuharap begitu, karena jika iya maka kau dalam masalah besar," ucap Naoki. "Masalah?" "Bagaimana dengan kekasih sungguhanmu?" Kenzo menghela napasnya. "Semoga dia kembali dari China nanti setelah Alexa kembali ke London," jawab Kenzo. "Kuharap." Kenzo tahu, ayahnya tidak terlalu menyukai Luna. Pria itu mengatakan, seorang wanita yang terlalu sibuk mengejar karier dan memiliki ambisi besar terhadap pekerjaannya tidak cocok untuk dijadikan pendamping. Kenzo tidak memercayai apa yang diyakini ayahnya karena baginya, Luna adalah satu-satunya wanita yang cocok untuk di jadikan pendamping. Luna, di samping memiliki paras cantik, ia juga cerdas, sama seperti dirinya dan gadis itu memenuhi semua standar kecantikan seorang wanita yang pantas untuk menjadi kekasihnya.Epilogue"Luna mengirimkan beberapa hadiah untuk Ryu," ujar Alexa, matanya tertuju pada layar ponselnya yang berisi pesan dari Luna. Yamada Ryuu adalah nama putra pertama mereka yang baru saja satu Minggu yang laku dilahirkan oleh Alexa. Bayi mungil itu tampak gemuk dan sehat, Ryuu juga memiliki hobi menangis dan tidak penyabar saat menginginkan air susu ibunya saat merasa lapar. "Sampaikan salam kami untuknya," ujar Kenzo yang sedang menggendong Ryuu. "Bagaimana perkembangan terapinya?" "Ia mengatakan operasi pertama beberapa bulan yang lalu sangat membantu, Minggu ini ia mulai belajar melangkahkan kakinya." Kenzo menyentuh pipi putranya menggunakan ujung hidungnya. "Syukurlah." Pada akhirnya, baik Alexa maupun Luna, keduanya memilih saling berdamai dengan keadaan. Terutama Luna, wanita malang itu memilih menerima kenyataan jika ia harus melepaskan Kenzo, juga kesempurnaannya raganya. Namun, Tuhan tidak tinggal diam karena pada akhirnya, mungkin dengan cara itulah ia bert
Ending "Ayo, tunda pernikahan kita." Alexa menatap bayangan dirinya di cermin. Mereka berada di dalam kamar Kenzo, di kediaman Edward, kakek Kenzo. Mereka baru mengetahui kehamilan Alexa dua hari yang lalu, kandungan Alexa telah berusia enam Minggu. Kenzo menyipitkan kedua matanya, pernikahan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi dan Alexa mengatakan ingin menundanya. Tentu saja ia keberatan. "Sayangku, jangan bermain-main." Alexa berbalik menatap Kenzo dengan tatapan kesal. "Kau menghamiliku. Lihat, aku sangat gemuk sekarang," ucapnya terdengar sangat kesal sabil setengah merentangkan tangannya dan matanya menatap tubuhnya yang sedikit bertambah berat. "Aku tidak ingin foto pernikahanku terlihat tidak sempurna." Kenzo menjepitkan sejumput rambut ke belakang telinga Alexa. "Dengar, sayangku. Aku tidak masalah menikahimu kapan saja. Tapi, jika kita menikah menunggu calon buah hati kita lahir, orang tuamu tidak akan setuju." Juga orang tuaku tentunya, terutama ibuku yang su
41. My BenefitBersamaan dengan itu Kenzo menginjak rem mobil yang ia kemudikan, pria itu dengan tenang keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Alexa dan Gilbert. "Jiel," sapa Kenzo. "Lama tidak berjumpa." Gilbert tersenyum. "Selamat atas pertunangan kalian." "Terima kasih." Kenzo menarik pinggang Alexa, merapatkan tubuh mereka seolah ia sedang menegaskan jika Alexa hanya miliknya. Pria itu mengecup pelipis sebelah kanan Alexa. "Selamat pagi, Sayang." "Selamat pagi, Ken." Alexa tersenyum manis, ia harus mendongak untuk menatap wajah Kenzo karena perbedaan tinggi mereka yang jauh. "Jiel, sayang sekali, aku harus pergi bekerja," ucap Alexa dengan nada tidak nyaman karena ia harus meninggalkan Gilbert. "Kita akan mengobrol lagi nanti, oke?" Gilbert memasukkan tangannya ke saku jaketnya. "Jangan khawatir, aku akan berada di sini satu Minggu. Kita memiliki banyak waktu." "Good," ujar Alexa. Gilbert melirik sekilas ke arah Kenzo. "Bagaimana jika siang ini kita makan sian
40. Your Fault"Bermain denganku tidak perlu berpura-pura mengalah," ucap William. Seusai acara makan malam di kediaman keluarga Johanson, Alexander meminta William menggantikannya bermain catur bersama Kenzo. William dengan senang hati menggantikan ayahnya bermain catur karena ia juga ingin mengenal pria yang akan menjadi suami dari adiknya, Alexa. "Sama sekali tidak," sahut Kenzo kepada pria bermanik mata berwarna Hazel di depannya. Otak yang memiliki pembawaan sedikit kaku tetapi faktanya tidak selalu yang tampak dari luar, bagi Kenzo, William cukup ramah. Ia memang telah berpura-pura mengalah agar Alexander mendapatkan kemenangan dua kali dalam bermain catur meskipun tidak sepenuhnya Kenzo berpura-pura lemah karena bagaimanapun juga permainan catur Alexander tidaklah buruk. Tetapi, tetap saja calon mertuanya itu bukanlah lawan yang seimbang baginya. William tersenyum simpul. "Kau mengalah dua kali dari ayahku, kau hanya ingin mengetahui kemampuan permainan catur ayahku,
Alexander dan Kenzo duduk berseberangan, fokus kedua orang itu sepenuhnya tertuju pada papan catur yang ada di atas meja di antara mereka. “Kenapa tidak menyerah saja?” tanya Alexander, nada bicaranya sarat dengan ejekan. Bibir Kenzo mengulas senyum tipis, sudah hari ketiga dan ia belum mengalahkan Alexander. “Jika aku menyerah, putrimu akan patah hati.” Alexander tersenyum miring. “Gilbert akan dengan cepat mengobati patah hati putriku.” Kenzo memindahkan ke arah depan salah satu bidak caturnya. “Aku tidak yakin jika Gilbert mampu mengambil hati Alexa.” Alexander juga tahu itu, ia sadar sepenuhnya jika Gilbert tidak mampu mengambil hati Alexa selama bertahun-tahun. “Kau memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi, ya?” “Bukankah itu bagus?” Alexander memindahkan salah satu bidak caturnya ke arah samping. “Kau sangat percaya diri dalam segala hal, sayangnya aku masih belum bisa percaya dengan kemampuanmu menjaga putriku kelak.” “Aku tidak menjanjikan apa pun kepadamu, juga ke
Satu tangan Kenzo meraih telapak tangan Alexa, ia menautkan jari jemari mereka, dan saling menggenggam sepanjang jalan sementara satu tangannya memegang kemudi mobil. Sesekali Kenzo mendaratkan kecupan-kecupan kecil di jemari gadis yang sangat ia cintai. “Sayangku,” ucap Kenzo saat mobil telah berhenti dengan sempurna di basemen parkir hotel yang dikelola oleh Alexa. Ia melepaskan seat belt-nya juga seat belt yang dikenakan oleh Alexa, matanya lalu menatap Alexa dengan tatapan serius. “Aku tidak akan melarang menjadi apa pun yang kau inginkan nanti setelah kita menikah. Tetapi, apa pun jalan yang kau ambil, kau harus bertanggung jawab,” Alexa mengangguk, ia mengerti apa yang Kenzo maksudkan. Benar apa yang Kenzo ucapkan, ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia kerjakan. Apa lagi menyangkut masalah pekerjaan, jika ia mengundurkan diri secara mendadak, bukan hanya membuat jadwal William berantakan karena bertambahnya pekerjaan baru tetapi seluruh jajaran stafnya juga akan ke
"Akhirnya...." Alexa merentangkan kedua tangannya sambil memutar-mutar badannya. "Disneyland...," ucapnya dengan nada girang. Kenzo tersenyum melihat tingkah Alexa yang menurutnya sangat menggemaskan di luar sifatnya yang diktator dan semena-mena. Gadis itu selalu bersikap ceria, menyukai apa saja
6. Alexa's Boobs Kebun binatang. Oke. Hanya dua kata, tetapi benar-benar mampu menggema di otak Kenzo pagi itu hingga pria itu hanya bisa berharap jika dunia berhenti berputar. Dari sekian banyak orang yang mengunjungi Jepang, mereka ingin melihat indahnya bunga sakura. Karena ini adalah musim p
5. Call Me Kenzo "Kenapa kita tidak menggunakan kelas ekonomi?" Itu adalah pertanyaan ketiga yang terlontar dari bibir Alexa.Demi Tuhan, Kenzo merasa ingin menyumbat telinganya agar terbebas dari suara berisik Alexa. Pria tampan itu menarik napasnya perlahan lalu mengembuskannya. "Gadis kecil, a
3. A Little girl Alexa mengamati sekeliling, ia memastikan ayahnya sedang tidak memedulikannya, kemudian ia juga memastikan keberadaan Gabriel. Sepupunya itu tampak sedang berbincang dengan anggota keluarga yang lain. Sedangkan bodyguard-nya tentu saja tidak ada karena saat itu masih di dalam acar







