Mag-log in"Akhirnya...." Alexa merentangkan kedua tangannya sambil memutar-mutar badannya. "Disneyland...," ucapnya dengan nada girang.
Kenzo tersenyum melihat tingkah Alexa yang menurutnya sangat menggemaskan di luar sifatnya yang diktator dan semena-mena. Gadis itu selalu bersikap ceria, menyukai apa saja dan tampak bahagia dengan hal-hal kecil yang kadang menurut Kenzo sama sekali tidak menarik. "Ah, tujuan pertama kita...." Alexa membuka lipatan kertas di tangannya, itu adalah denah Disneyland. "Kita memiliki akses VIP bukan?" "Jangan khawatir," jawab Kenzo. Mereka tidak perlu mengantre tiga puluh hingga tujuh puluh lima menit hanya untuk memasuki satu wahana. "Apa waktu kita cukup jika kita ke Disney Sea juga?" tanya Alexa sambil matanya tampak serius mengamati tulisan yang ada di kertas. Bibir gadis itu tampak bergerak-gerak. "Bukankah kau pernah ke Disneyland di Paris?" "Tentu saja." "Kalau begitu pilih wahana yang belum pernah kau masuki di sana, apa kau mengingatnya?" Alexa mengangguk, ia merogoh tasnya untuk mengambil sebuah stabilo lalu melingkari beberapa wahana yang menurutnya belum pernah ia kunjungi. "Nah, bagus. Ayo!" seru Kenzo sambil merangkul pundak Alexa. Alexa tidak menolak, ia mengikuti langkah kaki Kenzo. Tetapi, di depan toko aksesoris gadis itu berhenti lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah pria yang merangkul pundaknya. "Kita harus membeli bandu Micky dan Minnie mouse," ujarnya. Kenzo menuruti apa yang diinginkan Alexa, ketika hendak membayar menggunakan kartu Bank miliknya, Kenzo menahannya. "Benarkah kartu Bank ini tidak berlaku di sini? Apa seprimitif itu di Jepang?" Alexa menggerutu karena sejak ia bersama Kenzo, pria itu mengatakan jika kartu bank miliknya tidak berlaku dan Kenzo selalu berbicara bahasa Jepang bersama kasir yang melayani mereka sehingga Alexa merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. "Simpan saja, itu tidak berlaku di sini," ucap Kenzo di sertai seringai geli, bagaimana mungkin ia membiarkan Alexa mengeluarkan uang sementara statusnya di mata keluarga Johanson adalah kekasih Alexa. "Aku akan memanggil Daddy untuk membayar hutangku padamu," ujar Alexa sambil menarik ponselnya yang berada di dalam saku celana jeans-nya. Kenzo tersenyum, pria itu dengan lembut menarik ponsel di telapak tangan Alexa. "Jangan lakukan, nanti saat aku berada di London, kau bisa membayar dengan mentraktirku makan permen kapas."  Alexa mengerjapkan matanya, bibirnya sedikit terbuka membuat gairah Kenzo kembali tergugah. "Hanya itu?" tanya Alexa. Kenzo ingin sekali meraih dagu gadis itu lalu mengecap bibir yang berwarna merah, mengisapnya lalu menggigitnya dengan pelan. Sialan! "Iya, hanya itu," jawabnya sambil meletakkan telapak tangannya di atas kepala Alexa. "Ayo kita bersenang-senang." Jika diingat kembali oleh Kenzo, mungkin terakhir kali ia pergi ke Disneyland adalah saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas bersama teman-temannya. Bahkan mungkin terakhir kali ia pergi ke tempat itu bersama Keiko adalah saat ia berumur tujuh tahun, tidak terlalu jelas di ingatannya, tetapi ia melihat foto bersama kakak perempuannya di Disneyland di dalam album keluarga. Kakaknya tidak tertarik hal-hal yang berbau keramaian dan di padati orang karena kakaknya adalah pengidap sindrom buta arah. Jadi, tidak ada salahnya sekarang jika Kenzo menyebut mengunjungi Disneyland dengan sebutan bersenang-senang. Alexa menggigit bibirnya sambil menatap gerobak penjual pop corn di depannya. Mereka telah berada di area Disney Sea. Jangan gigit bibirmu, biarkan aku yang melakukannya. Ingin sekali Kenzo menyuarakan isi kepalanya, tetapi itu jelas mustahil. "Kau ingin?" Alexa menatap Kenzo dengan tatapan memelas seolah ia adalah anak kecil yang menginginkan sebuah lolipop. Astaga! Kenzo merasakan jiwanya frustrasi. Ia ingin memekan tubuh Alexa ke tembok, menggigit bibirnya lalu membuat gadis manja itu mengerang di bawahnya. Sialan! Apa yang terjadi? Ia melangkah mendekati penjual pop corn untuk membeli satu bucket pop corn, bukcket pop corn itu memiliki tali dan terdapat miniatur Teddy bear, Kenzo memilih itu karena menurutnya jelas semua anak kecil menyukai Teddy bear. Benar saja, ketika ia memberikan benda itu kepada Alexa, pendar di matanya tampak berkilat-kilat seolah air laut terkena pantulan cahaya. Darah Kenzo seolah berdesir, sesuatu menggelitik di pikirannya juga jantungnya. Bersamaan.  "Terima kasih," ucap Alexa seraya menyeringai senang. "Sepertinya hutangku semakin banyak." "Kau bisa membayarnya," ucap Kenzo. Biarkan aku mencumbu bibirmu. "Sepertinya aku harus membelikan pabrik permen kapas untukmu nanti," ucap Alexa dengan nada sungguh-sungguh membuat Kenzo tertawa lepas. Pabrik permen kapas. Mungkin Kenzo akan memikirkan bisnis itu, sepertinya tidak buruk. "Aku akan menunggu pabrik permen kapas dengan label Alexa Johanson berdiri di seluruh dunia." "Kenapa tidak Yamada Kenzo saja?" tanya Alexa. "Alexa Johanson saja," ucap Kenzo sembari dengan lembut menarik hidung Alexa. Alexa tidak melawan, ia justru menyeringai kemudian menyeret pergelangan tangan Kenzo untuk mendatangi setiap wahana yang telah ia lingkari di Disney Sea. Keduanya bersenang-senang hingga senja mulai merayapi kota Tokyo, selanjutnya adalah Alexa membeli semua aksesoris yang ia inginkan di toko Disneyland dan kembali membuat Kenzo terlihat seperti asistennya dengan kedua tangannya yang terisi kantong belanja hasil perburuan Alexa, tetapi kali ini Kenzo sama sekali tidak menggerutu. Dengan senang hati ia melakukan apa pun titah Alexa seolah gadis itu adalah tuannya. Pria itu bahkan baru menyadari jika di kepala mereka berdua masih mengenakan bandu Minnie dan Mickey mouse hingga mereka berada di dalam mobil. *** "Ken, apa kau mendengarkan aku?" tanya Luna dari speaker ponsel Kenzo. "Ya, aku mendengar," jawab Kenzo sambil matanya menatap Alexa yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya sambil memainkan ponselnya dengan posisi miring, Kenzo tahu jika Alexa sedang memainkan sebuah game dan game itu adalah ciptaannya. Gadis itu mengenakan piyama yang terbuat dari bahan sutera halus, dadanya tampak tegak menantang, meski masih terbungkus kain. Kenzo berani bertaruh jika gadis itu tidak mengenakan bra. Diam-diam Kenzo menelan air liurnya berkali-kali. "Ken, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Alexa lagi. Sedang menjelajahi keindahan alam. "Tidak ada," jawab Kenzo dengan nada yang ia buat setenang mungkin, menyingkirkan semua yang berserakan di otaknya dan semua itu adalah tubuh Alexa. "Kau tidak berkonsentrasi, Ken. Aku meminta kau mengirimkan formula aplikasi terbaruku, kau belum mengirimkannya sejak kemarin," ucap Luna dengan nada kesal. Kenzo membeku, ia melupakan semuanya. Pekerjaannya dan juga Luna. "Aku akan menyelesaikannya, besok sebelum jam delapan pagi, kujamin aplikasi itu bisa kau gunakan."Epilogue"Luna mengirimkan beberapa hadiah untuk Ryu," ujar Alexa, matanya tertuju pada layar ponselnya yang berisi pesan dari Luna. Yamada Ryuu adalah nama putra pertama mereka yang baru saja satu Minggu yang laku dilahirkan oleh Alexa. Bayi mungil itu tampak gemuk dan sehat, Ryuu juga memiliki hobi menangis dan tidak penyabar saat menginginkan air susu ibunya saat merasa lapar. "Sampaikan salam kami untuknya," ujar Kenzo yang sedang menggendong Ryuu. "Bagaimana perkembangan terapinya?" "Ia mengatakan operasi pertama beberapa bulan yang lalu sangat membantu, Minggu ini ia mulai belajar melangkahkan kakinya." Kenzo menyentuh pipi putranya menggunakan ujung hidungnya. "Syukurlah." Pada akhirnya, baik Alexa maupun Luna, keduanya memilih saling berdamai dengan keadaan. Terutama Luna, wanita malang itu memilih menerima kenyataan jika ia harus melepaskan Kenzo, juga kesempurnaannya raganya. Namun, Tuhan tidak tinggal diam karena pada akhirnya, mungkin dengan cara itulah ia bert
Ending "Ayo, tunda pernikahan kita." Alexa menatap bayangan dirinya di cermin. Mereka berada di dalam kamar Kenzo, di kediaman Edward, kakek Kenzo. Mereka baru mengetahui kehamilan Alexa dua hari yang lalu, kandungan Alexa telah berusia enam Minggu. Kenzo menyipitkan kedua matanya, pernikahan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi dan Alexa mengatakan ingin menundanya. Tentu saja ia keberatan. "Sayangku, jangan bermain-main." Alexa berbalik menatap Kenzo dengan tatapan kesal. "Kau menghamiliku. Lihat, aku sangat gemuk sekarang," ucapnya terdengar sangat kesal sabil setengah merentangkan tangannya dan matanya menatap tubuhnya yang sedikit bertambah berat. "Aku tidak ingin foto pernikahanku terlihat tidak sempurna." Kenzo menjepitkan sejumput rambut ke belakang telinga Alexa. "Dengar, sayangku. Aku tidak masalah menikahimu kapan saja. Tapi, jika kita menikah menunggu calon buah hati kita lahir, orang tuamu tidak akan setuju." Juga orang tuaku tentunya, terutama ibuku yang su
41. My BenefitBersamaan dengan itu Kenzo menginjak rem mobil yang ia kemudikan, pria itu dengan tenang keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Alexa dan Gilbert. "Jiel," sapa Kenzo. "Lama tidak berjumpa." Gilbert tersenyum. "Selamat atas pertunangan kalian." "Terima kasih." Kenzo menarik pinggang Alexa, merapatkan tubuh mereka seolah ia sedang menegaskan jika Alexa hanya miliknya. Pria itu mengecup pelipis sebelah kanan Alexa. "Selamat pagi, Sayang." "Selamat pagi, Ken." Alexa tersenyum manis, ia harus mendongak untuk menatap wajah Kenzo karena perbedaan tinggi mereka yang jauh. "Jiel, sayang sekali, aku harus pergi bekerja," ucap Alexa dengan nada tidak nyaman karena ia harus meninggalkan Gilbert. "Kita akan mengobrol lagi nanti, oke?" Gilbert memasukkan tangannya ke saku jaketnya. "Jangan khawatir, aku akan berada di sini satu Minggu. Kita memiliki banyak waktu." "Good," ujar Alexa. Gilbert melirik sekilas ke arah Kenzo. "Bagaimana jika siang ini kita makan sian
40. Your Fault"Bermain denganku tidak perlu berpura-pura mengalah," ucap William. Seusai acara makan malam di kediaman keluarga Johanson, Alexander meminta William menggantikannya bermain catur bersama Kenzo. William dengan senang hati menggantikan ayahnya bermain catur karena ia juga ingin mengenal pria yang akan menjadi suami dari adiknya, Alexa. "Sama sekali tidak," sahut Kenzo kepada pria bermanik mata berwarna Hazel di depannya. Otak yang memiliki pembawaan sedikit kaku tetapi faktanya tidak selalu yang tampak dari luar, bagi Kenzo, William cukup ramah. Ia memang telah berpura-pura mengalah agar Alexander mendapatkan kemenangan dua kali dalam bermain catur meskipun tidak sepenuhnya Kenzo berpura-pura lemah karena bagaimanapun juga permainan catur Alexander tidaklah buruk. Tetapi, tetap saja calon mertuanya itu bukanlah lawan yang seimbang baginya. William tersenyum simpul. "Kau mengalah dua kali dari ayahku, kau hanya ingin mengetahui kemampuan permainan catur ayahku,
Alexander dan Kenzo duduk berseberangan, fokus kedua orang itu sepenuhnya tertuju pada papan catur yang ada di atas meja di antara mereka. “Kenapa tidak menyerah saja?” tanya Alexander, nada bicaranya sarat dengan ejekan. Bibir Kenzo mengulas senyum tipis, sudah hari ketiga dan ia belum mengalahkan Alexander. “Jika aku menyerah, putrimu akan patah hati.” Alexander tersenyum miring. “Gilbert akan dengan cepat mengobati patah hati putriku.” Kenzo memindahkan ke arah depan salah satu bidak caturnya. “Aku tidak yakin jika Gilbert mampu mengambil hati Alexa.” Alexander juga tahu itu, ia sadar sepenuhnya jika Gilbert tidak mampu mengambil hati Alexa selama bertahun-tahun. “Kau memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi, ya?” “Bukankah itu bagus?” Alexander memindahkan salah satu bidak caturnya ke arah samping. “Kau sangat percaya diri dalam segala hal, sayangnya aku masih belum bisa percaya dengan kemampuanmu menjaga putriku kelak.” “Aku tidak menjanjikan apa pun kepadamu, juga ke
Satu tangan Kenzo meraih telapak tangan Alexa, ia menautkan jari jemari mereka, dan saling menggenggam sepanjang jalan sementara satu tangannya memegang kemudi mobil. Sesekali Kenzo mendaratkan kecupan-kecupan kecil di jemari gadis yang sangat ia cintai. “Sayangku,” ucap Kenzo saat mobil telah berhenti dengan sempurna di basemen parkir hotel yang dikelola oleh Alexa. Ia melepaskan seat belt-nya juga seat belt yang dikenakan oleh Alexa, matanya lalu menatap Alexa dengan tatapan serius. “Aku tidak akan melarang menjadi apa pun yang kau inginkan nanti setelah kita menikah. Tetapi, apa pun jalan yang kau ambil, kau harus bertanggung jawab,” Alexa mengangguk, ia mengerti apa yang Kenzo maksudkan. Benar apa yang Kenzo ucapkan, ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia kerjakan. Apa lagi menyangkut masalah pekerjaan, jika ia mengundurkan diri secara mendadak, bukan hanya membuat jadwal William berantakan karena bertambahnya pekerjaan baru tetapi seluruh jajaran stafnya juga akan ke
Ya. Rencananya memang seperti ini dan berjalan mulus. Saat di meja makan pagi itu, Alexa mengutarakan niatnya untuk mengunjungi beberapa tempat di Tokyo yang menyajikan momiji. Hanya sebagai alasan, karena daun maple yang bertebaran di tanah sudah sering ia lihat di negaranya saat musim gugur. Sepe
Alexa bangkit dari duduknya, tidak dipungkiri jika ia ingin membuka pintu lalu melompat ke dalam pelukan Kenzo melepaskan kerinduannya. Tetapi, akal sehatnya bekerja. Gadis itu, melangkah menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya, mengingat sesuatu yang seharusnya menjadi i
Balas dendam.Hanya dua kata. Tetapi, makna dan pelaksanaannya tidaklah sesederhana dua kata itu. Balas dendam adalah perbuatan tercela. Tetapi, Alexa tidak mungkin melakukan hal itu tanpa sebab. Tiga tahun yang lalu sebelum Kenzo kembali ke Tokyo, pria itu mengatakan akan kembali menemuinya secep
"Di mana Alexa?" Kenzo bertanya kepada Luna karena ia tidak mendapati Alexa. Ia baru saja kembali dari toilet. "Aku kira dia menyusulmu ke toilet," jawab Luna tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu yang sedang ia baca. Karena matahari telah mulai tenggelam dan mendekati waktu makan malam,