LOGINNayara tidak melanjutkan kalimatnya. Ia langsung merasa tak sopan menanyakan hal pribadi pada ayah mertuanya.Benny tersenyum simpul. “Ini salah satu yang papa suka darimu, Nay. Kamu selalu terus-terang.”“Maaf, kalau Nay nggak sopan. Nggak usah dijawab kalau Papa keberatan.”Pak Benny menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh menembus dinding putih ruangan itu, seolah mengenang masa lalu yang penuh duri.“Nggak papa. Itu sudah berlalu cukup lama.” Benny menjeda sejenak ceritanya."Andrew, Jenny, dan Grace... tidak pernah bisa menerima pernikahanku dengan ibunya Allan," tutur Pak Benny lirih, suaranya sarat akan beban penyesalan. "Bagi mereka, kehadiran istriku adalah bentuk pengkhianatan terhadap kenangan ibu kandung mereka.”“Kala itu istri pertamaku sedang sakit parah. Emosinya sangat tidak stabil. Marah-marah dan selalu berprasangka buruk. Aku sungguh kewalahan merawatnya–serba salah. Apalagi, aku tetap harus bekerja.”“Kuakui, pada masa itu aku akhirnya dekat dengan Ala
“Semalam papa demam tinggi karena ISK.” Allan menjelaskan secara singkat tentang keadaan Benny saat ini.Infeksi saluran kencing?Sebuah ingatan melintas di benak Nayara. Selama beberapa kali bertemu atau berinteraksi, Pak Benny memang hampir tidak pernah terlihat memegang segelas air putih. Saat berkunjung ke toko, tangan Benny selalu memegang gelas berisi kopi atau teh.Dan di usianya yang tidak lagi muda, sebuah infeksi yang dianggap sepele ternyata bisa memicu efek domino yang berbahaya. Begitu hasil tes laboratorium keluar, penurunan fungsi tubuh secara menyeluruh atau penurunan organ akibat komplikasi usia membuat kondisi Pak Benny memburuk dengan cepat. “Demamnya belum turun?” tanya Nayara lagi.“Sudah.” Allan mengangguk. “Tapi, kami diminta standby.”Nayara merasa kasihan pada Allan. Lelaki itu belum sempat tidur. Penampilannya yang biasa rapi kini agak berantakan.“Kamu mau istirahat dulu? Biar aku yang gantiin kamu jaga.”Allan melirik area duduk. Di sana kakak-kakak tiriny
Meskipun dadanya berdebar kencang dan intuisinya membisikkan bahaya, Nayara menolak untuk terlihat gentar. Ia menarik napas pelan, menegakkan bahunya, lalu mempertahankan senyum ramah yang tetap tenang.Ia mengangguk halus, menatap lurus mata wanita di hadapannya."Oh, Anda kenalan Allan, ya?" sapa Nayara dengan suara lembut namun stabil. "Salam kenal, saya Nayara."Wanita itu tidak menyambut uluran keramahan Nayara. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyum miring yang mencemooh. Dengan sikap tubuh congkak, ia membetulkan posisi tas branded di lengan sebelum menatap Nayara dari balik bulu mata palsunya yang lentik."Amanda," cetusnya singkat, menyebutkan namanya dengan nada angkuh. "Aku Amanda—sahabat dekat Jenny, kakak tiri Allan."Nama itu seketika memutar memori Nayara. Ia ingat, Amanda disebut-sebut Jenny sebagai wanita yang ingin ia jodohkan dengan Allan. "Senang bertemu anda, Kak Amanda," balas Nayara santai, tetap mempertahankan ketenangannya.Amanda terke
Allan mengembuskan napas panjang. Satu tangannya memijat dahi sambil mengangguk pelan. Setelah menutup telepn, ia langsung bangkit dari ranjang.Nayara, yang terbangun karena suara dering dan pergerakan mendadak di sampingnya, ikut membuka mata. Ia terduduk setengah badan, merapatkan selimutnya, lalu menatap bingung ke arah Allan yang sudah berdiri tegak di sisi tempat tidur."Allan?" panggil Nayara dengan suara serak khas orang setengah terbangun, keningnya mengernyit cemas. "Ada apa? Jam segini... siapa yang menelepon?"Allan tidak langsung menjawab. Sambil berjalan cepat menuju walk-in closet, ia melepas kaus tidurnya dan langsung meraih kaos lengan panjang dan celana longgar. Gerakannya begitu cepat, efisien, dan terlatih menghadapi situasi mendadak."Kamu tidur saja," ucap Allan singkat. "Papa memintaku datang. Mungkin aku akan menginap.”Nayara hanya bisa menatap pintu kamar yang tertutup. Meski begitu, ia merasa lega karena ia bisa ten
Nayara menyambut tawaran itu dengan senyuman cerah dan anggukan tegas. Bekerja untuk proyek yang sangat memang bidangnya pasti sangat menyenangkan.Namun, hanya beberapa saat kemudian, senyum di wajah cantiknya perlahan memudar. Sebuah keraguan tiba-tiba menyusup ke dalam pikirannya."Tapi... Allan," panggil Nayara ragu seraya merengut. "Bagaimana dengan toko barang antikku? Kalau aku harus fokus dan standby di museum setiap hari, siapa yang akan menjaga toko? Aku kan nggak punya pegawai.”Mata cokelatnya Allan melihat kebimbangan pada diri Nayara. Ia jadi sadar, bagi Nayara, toko peninggalan ayahnya itu adalah harta paling berharga yang tak ingin ia telantarkan begitu saja.Lelaki itu, berpikir sejenak sebelum akhirnya mendapat solusi."Soal itu kamu tidak perlu khawatir," sahut Allan datar tanpa beban. "Toko itu bisa ditutup sementara waktu dengan alasan renovasi."Nayara mengedipkan matanya, sedikit terkejut. "Renovasi?""Ya," lanjut Allan, memajukan tubuhnya sedikit. "Toko itu mem
"Ya," jawab Allan, sedikit heran melihat reaksi istrinya yang terlihat antusias. "Kenapa? Kamu tahu tempat itu?""Tentu saja tahu!" Nayara bergeser duduk lebih dekat, binar di matanya begitu terang. "Waktu aku SD, orang tuaku sering sekali mengajakku ke sana setiap akhir pekan.”Tanpa sadar, Nayara mulai bercerita dengan penuh semangat. Tangannya bergerak antusias mendeskripsikan sudut-sudut bangunan tersebut.Nayara bahkan menyebutkan secara detail benda-benda bersejarah yang pernah ia saksikan semasa kecil—mulai dari patung perunggu abad pertengahan di sayap barat, koleksi lukisan maestro klasik, hingga artefak giok kuno yang dipajang di ruang pameran utama."Dan di dekat aula utama itu, ada jam matahari rahasia dari batu marmer putih yang jarang diperhatikan orang, tapi aku selalu melihatnya setiap kali berkunjung," lanjut Nayara dengan mata bersinar.Allan tertegun. Ia mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir Nayara tanpa menyela sedikit pun. Nayara ternyata menyimpan







