LOGINSteven dan Liora berjalan perlahan menuju bagian supermarket di dalam mall. Supermarket itu cukup besar dan ramai. Rak-rak tinggi dipenuhi berbagai macam bahan makanan, buah-buahan segar, hingga makanan siap saji yang menggoda.
Begitu masuk, Steven langsung mengambil troli belanja. “Apa yang ingin kau beli?” tanyanya.Liora berjalan pelan di sampingnya, sesekali memegang perutnya yang mulai terasa sedikit tidak nyaman. “Aku tadi ingin membeli beberapa makanan,” katanya.Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan.“Steven, tolong… buka matamu…”Ia mengguncang bahu Steven pelan, lalu semakin panik ketika tidak ada respons.“Steven!” suaranya pecah. Dadanya terasa sesak. Pikirannya kosong. Yang ada hanya ketakutan.“Jangan seperti ini… jangan…”Air mata terus mengalir tanpa henti. Tangannya menggenggam tangan Steven erat, seolah takut pria itu akan menghilang jika ia melepaskannya.“Lihat aku… aku di sini.”Namun Steven tetap tidak bergerak. Tidak membuka mata. Tidak memberikan reaksi apa pun. Di belakangnya, John akhirnya tersadar dari keterkejutannya.“Dia tiba-tiba pingsan…” katanya dengan suara tegang. “Sudah dua hari dia hampir tidak tidur… dan terus bekerja.”Namun Liora seperti tidak mendengar. Dunianya saat itu hanya berpusat pada satu orang.“Steven… tolong…”Suaranya kini hanya berupa bisikan penuh tangis.“Jangan tinggalkan aku…” Ia menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan Steven yang masih ia genggam.Tubuhnya bergetar menahan tangis. Na
Rumah terasa terlalu sunyi malam itu. Liora duduk di ruang tengah dengan lampu yang hanya menyala sebagian. Di depannya, meja masih dipenuhi beberapa barang bayi yang belum sempat ia rapikan. Namun perhatiannya sama sekali tidak tertuju ke sana.Pandangannya kosong. Pikirannya penuh. Sudah lima hari sejak Steven tidak pulang. Lima hari tanpa kabar yang jelas. Liora menggenggam ponselnya erat, menatap layar yang gelap seolah berharap nama itu muncul kapan saja.Tiba-tiba suara dering telepon memecah keheningan.Liora tersentak.Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Tangannya refleks mengangkat ponsel itu dengan harapan yang hampir meluap.“Steven…”Namun saat layar menyala, harapan itu langsung meredup. Nama yang muncul bukan Steven.“Chelsea…”Liora menghela napas pelan sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.“Halo…”“Liora?” suara Chelsea terdengar dari seberang, penuh perhatian. “Bagaimana keadaanmu?”Pertanyaan itu membuat Liora terdiam beberapa detik. Bagaimana keadaannya? Ia
Beberapa menit kemudian ruang rapat utama dipenuhi oleh para eksekutif. Wajah-wajah mereka menunjukkan kekhawatiran yang sama.Steven berdiri di ujung meja. “Kita tidak punya banyak waktu.”Semua mata tertuju padanya.“Seseorang dari dalam perusahaan ini telah membocorkan data penting.”Bisikan kecil mulai terdengar.Steven mengangkat tangan, menghentikan semuanya.“Aku tidak peduli siapa pelakunya.”Nada suaranya berubah lebih dingin.“Tapi aku akan menemukannya.”Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu.“Dan ketika aku menemukannya… dia tidak akan pernah bisa bekerja di industri ini lagi.”Ruangan kembali hening.John kemudian maju selangkah. “Kita harus fokus pada dua hal sekarang,” katanya. “Menahan kerugian dan mengembalikan kepercayaan investor.”Steven mengangguk.“Benar.” Ia menunjuk layar besar di depan.“Saya ingin laporan lengkap setiap dua jam. Tidak ada penundaan.”Semua orang mengangguk cepat. Rapat itu berlangsung tegang dan cepat. Setelah semua keluar, hanya ters
Mereka kembali mengecat sambil bercanda. Sesekali Steven pura-pura mengotori hidung Liora dengan sedikit cat, membuat Liora mengeluh sambil tertawa. Beberapa jam kemudian hampir seluruh dinding kamar sudah berubah menjadi putih bersih.Cahaya matahari yang masuk melalui jendela membuat ruangan itu terasa hangat dan cerah. Liora berdiri di tengah kamar sambil melihat sekeliling.“Sulit dipercaya.”Steven menaruh roller catnya. “Apa?”“Ini akan menjadi kamar bayi kita.”Steven berjalan mendekat lalu berdiri di belakangnya. Ia memeluk Liora dari belakang dengan lembut. “Kamar pertama untuk anggota baru keluarga kita.”Liora bersandar sedikit padanya. “Menurutmu bayi kita akan suka?”Steven melihat dinding yang dipenuhi awan dan bintang kecil itu. Ia tersenyum.“Kalau tidak suka, kita bisa menyalahkan ibunya.”Liora langsung menyikut lengannya. “Hei.”Steven tertawa pelan lalu mencium puncak kepala Liora. “Tapi menurutku… bayi kita pasti akan menyukainya.”Setelah beberapa jam mengecat, k
Ia menunjuk ke arah lorong menuju kamar-kamar di dalam rumah. “Kita bisa menjadikannya kamar bayi.”Steven memikirkan hal itu sejenak.Liora menatapnya penuh harap. “Jadi… apa besok kita bisa mulai mengecat kamar itu?”Steven tertawa kecil. “Kau benar-benar tidak sabar.”Liora hanya tersenyum.Steven akhirnya mengangguk. “Baiklah.”Ia mendekat lalu menarik Liora berdiri. “Besok kita cat kamar itu.”Liora terlihat sangat senang. “Benarkah?”Steven memeluknya lembut. “Tentu.”Ia menurunkan dagunya di atas kepala Liora. “Untuk bayi kita.”“Aku tidak sabar, apa sebaiknya kita warnai biru dan pink? Kita belum tau jenis kelaminnya.”Steven menatap Liora dengan tatapan lembut, “Apa sebaiknya cari warna yang netral? Kayak putih atau coklat muda?”Liora berpikir sejenak, “Itu ide yang bagus.”***Pagi itu rumah terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Matahari baru saja naik ketika Steven sudah berdiri di depan kamar kedua yang selama ini hampir tidak pernah digunakan.Pintu kamar itu perlaha
Lampu-lampu kota London masih terang, tetapi lalu lintas tidak seramai tadi sore. Beberapa mobil melintas perlahan di jalan utama, sementara toko-toko di sepanjang jalan mulai menutup pintu mereka.Steven menyandarkan punggungnya pada kursi sambil memegang kemudi.Ia menghela napas kecil. “Hari ini cukup panjang.”Tidak ada jawaban. Steven melirik ke samping. Awalnya ia ingin melanjutkan pembicaraan tentang bagaimana mereka harus mengatur semua barang yang mereka beli hari ini.Namun ketika ia menoleh ke kursi penumpang, kata-kata itu langsung berhenti di tenggorokannya.Liora sudah tertidur.Kepalanya bersandar lembut pada sandaran kursi, dengan rambut yang sedikit jatuh menutupi pipinya. Tangannya terlipat santai di atas perutnya.Napasnya terdengar pelan dan teratur. Steven memperlambat mobilnya sedikit tanpa sadar. Ia menatap Liora beberapa detik.Tadi di mall Liora masih tertawa, berjalan, bahkan bercanda dengannya. Tapi sekarang kelelahan jelas terlihat di wajahnya.Steven terse







