Share

Harga Sebuah Kunci

Author: Rania Arkana
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-11 16:38:51

Riko kembali ke warung menjelang magrib dengan napas tersengal. Ia menyandarkan sepeda pada dinding seng, lalu masuk sambil menyembunyikan kantong kertas di balik kaus.

Nadya menunggu pekerja yang sedang berutang rokok pergi sebelum menutup buku catatan.

“Dapat?”

Riko menyerahkan kantong dan uang kembalian.

“Dia tanya buat apa?” tanya Nadya.

“Pintu kamar.”

“Terus?”

“Dak ada.”

Lina keluar dari belakang membawa teko kopi. Tatapannya jatuh pada kantong di tangan Nadya.

“Kau jadi beli selot?”

“Iya.”

“Jangan dipasang dulu.”

“Kenapa?”

“Tunggu Ibu pulang.”

Dua pekerja datang memesan kopi. Lina berbalik menuju tungku sebelum Nadya sempat menjawab.

Nadya memasukkan kantong itu ke dalam tas.

“Ayo, Ko.”

Mereka pulang membawa rantang nasi dari warung. Sepeda motor Hendra belum terlihat di halaman ketika mereka tiba.

Riko mengambil palu dari bawah rak dapur, sementara Nadya membawa selot, gembok, dan beberapa paku ke kamar. Kursi pincang yang digunakan malam sebelumnya masih tersandar dekat dinding.

“Pasang di mana?” tanya Riko.

Nadya menempelkan selot pada bagian dalam pintu.

“Di sini.”

Riko menahan bagian satunya pada kusen.

“Begini?”

“Turun sedikit.”

Nadya memegang besi itu, lalu Riko memukul paku pertama. Bunyi palu menggema ke seluruh rumah.

Keduanya berhenti dan mendengarkan.

Tidak ada suara motor dari halaman.

“Lanjut,” kata Nadya.

Paku pertama tertancap miring. Paku kedua membuat papan terkelupas, sedangkan pukulan berikutnya hampir mengenai jari Nadya.

“Pelan.”

“Ce yang pegangnya goyang.”

“Pintunya yang goyang.”

“Rumahnya juga.”

Nadya hampir tersenyum.

Beberapa pukulan kemudian, selot itu terpasang. Letaknya sedikit miring, tetapi kedua bagian besi dapat bertemu. Nadya menutup pintu, menggeser selot, lalu memasang gembok.

Klik.

Riko menarik gagang dari luar. Besi itu bergoyang, tetapi pintu tetap tertutup.

“Bisa,” katanya.

“Belum tentu tahan kalau ditendang.”

“Setidaknya dia dak bisa masuk diam-diam.”

Nadya membuka kembali pintu dan menyimpan salah satu anak kunci di saku. Untuk pertama kalinya sejak Hendra melepas selot lama, ia dapat menentukan siapa yang boleh masuk ke kamarnya.

Lina pulang setelah azan isya.

“Sudah dipasang?” tanyanya begitu melihat serpihan kayu di lantai.

“Iya.”

Lina berdiri di depan kamar dan memeriksa selot yang miring.

“Nanti Hendra marah.”

Nadya menyapu serpihan kayu dengan kaki.

“Dia selalu marah.”

Suara motor berhenti di halaman.

Riko langsung membawa palu ke dapur. Lina menata makanan di meja, sedangkan Nadya memasukkan anak kunci lebih dalam ke saku.

Hendra masuk tanpa menyapa. Lumpur kering melekat di ujung celananya.

“Ada ikan?”

“Habis,” jawab Lina. “Tinggal telur.”

Hendra mengumpat, lalu duduk dan mulai makan.

Nadya tidak menunggu sampai ia selesai. Setelah membawa piringnya ke dapur, ia masuk ke kamar, menutup pintu, dan memasang gembok.

Klik.

Suara sendok dari ruang tengah berhenti.

Nadya duduk di tepi ranjang dan membuka buku matematika. Beberapa detik kemudian, gagang pintu ditarik dari luar.

“Nadya.”

“Apa?”

“Apa yang kau pasang?”

“Selot.”

“Buka.”

“Aku lagi belajar.”

Telapak tangan menghantam pintu. Debu halus jatuh dari kusen.

“Buka.”

“Ngomong dari luar.”

Tendangan mengenai bagian bawah pintu. Selot bergetar dan paku-pakunya berderit, tetapi tetap menahan.

“Ce?” panggil Riko dari kamar sebelah.

“Dak apa-apa, Ko.”

Hendra menarik gagang sekali lagi.

“Siapa suruh kau pasang kunci?”

“Aku sendiri.”

“Besok bongkar.”

“Tidak.”

Lina keluar dari kamar. “Sudahlah. Nanti orang dengar.”

Hendra menempelkan telapak tangan pada papan, seolah sedang mengukur kekuatannya. Setelah beberapa saat, ia melepaskan gagang dan berjalan menuju ruang tengah.

Radio dinyalakan keras.

Nadya menyentuh selot yang masih bergetar. Pemasangannya memang miring dan papannya tidak terlalu tebal.

Namun malam itu, Hendra gagal masuk.

---

Sebelum subuh berakhir, Lina sudah berangkat ke warung. Nadya bangun tidak lama kemudian dan menyiapkan nasi goreng dari sisa nasi semalam.

Riko keluar dengan rambut berantakan.

“Pipimu masih sakit?” tanya Nadya.

“Dak.”

“Bohong.”

Nadya memberikan bagian telur lebih banyak kepadanya.

“Mandi. Nanti terlambat.”

Hendra keluar ketika makanan hampir selesai dibagi. Nadya meletakkan piring di hadapannya, lalu masuk ke kamar untuk berganti seragam.

Saat memasukkan buku terakhir ke tas, bau rokok tercium dari pintu. Hendra berdiri di ambang sambil menyentuh selot.

“Miring.”

Ia menekan papan di sekitarnya.

“Sekali tendang juga pecah.”

Nadya menyampirkan tas.

“Kalau mau masuk, ketuk.”

Hendra tersenyum tipis. Pandangannya beralih pada tas sekolah Nadya.

“Uang yang kuberi kemarin itu yang terakhir.”

Nadya berhenti.

“Mulai sekarang, jangan minta uang sekolah lagi.”

“Aku dak akan minta.”

“Bagus.”

Hendra kembali ke meja dan menunjuk Riko dengan rokok.

“Minggu dia ikut Bahar.”

Tubuh Riko menegang.

“Buat apa?” tanya Nadya.

“Bantu di lokasi. Angkat selang, cuci alat.”

“Riko dak ikut.”

“Kau yang kasih dia makan?”

Nadya tidak menjawab.

“Bahar jemput jam lima pagi.” Hendra mengetukkan abu rokok ke tepi piring. “Kita lihat kau bisa bayar sekolah sendiri atau dak.”

Ia menghabiskan kopi, lalu pergi.

Riko memandangi nasinya.

“Ce, aku kerja saja.”

“Tidak.”

“Cuma hari Minggu.”

“Dak.”

“Tapi uang sekolah Ce—”

“Makan.”

Riko menunduk dan tidak berbicara lagi.

---

Menjelang sore, warung mulai ramai. Riko membantu Lina membawa kayu ke tungku, sementara Nadya duduk di depan buku catatan setelah mengganti seragam.

Tak lama kemudian, motor Bahar berhenti dekat parit.

Ia turun membawa sepasang sepatu bot karet. Lumpur mengering hingga betis celananya.

Lina melihat barang itu. “Buat apa?”

Bahar meletakkannya di lantai, tepat di depan Riko.

“Buat Minggu.”

Riko tidak bergerak.

“Dia dak akan ikut,” kata Nadya.

“Hendra sudah bilang.”

“Riko masih sekolah.”

“Minggu dak sekolah.”

Bahar menendang salah satu sepatu hingga menyentuh kaki Riko.

“Pakai celana lama. Lumpur di lokasi susah hilang.”

Sepatu itu terlalu besar. Bahkan tanpa dicoba, Nadya tahu kaki Riko akan tenggelam di dalamnya.

Bahar menyalakan rokok, lalu kembali ke motor. Asap knalpot bercampur dengan bau solar sebelum ia menghilang di tikungan.

Riko tetap memandangi sepatu bot tersebut.

“Ce,” katanya pelan. “Kalau aku dak ikut, dia pasti marah lagi.”

Nadya membawa kedua sepatu itu ke luar warung dan meletakkannya dekat dinding, jauh dari kaki Riko.

“Biar.”

Namun Nadya sendiri mendengar keraguan dalam suaranya.

Di luar warung, sepatu bot kebesaran itu masih menunggu Riko.

Tiga hari lagi, Bahar akan datang menjemputnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Nadya di Antara Dua Dunia   JANGAN LEMBUT

    Sabtu, 16 Maret 2002.Yamamoto berhenti tepat di belakang Nadya. Beberapa detik tidak ada yang bergerak. Hanya suara pendingin udara, napas mereka yang semakin berat, dan debur laut samar dari balik pintu balkon.Nadya masih mencengkeram sandaran sofa. Ia bisa merasakan keraguan lelaki itu, sisa dari dua malam sebelumnya. Ketika menoleh dari balik bahu, Yamamoto masih menunggu.“Sekarang.”Barulah tangannya turun ke pinggang Nadya.Sentuhan pertama masih terlalu tertahan. Nadya langsung mengembuskan napas tidak sabar.“Jangan lembut.”Kalimat itu seperti memutus sesuatu. Yamamoto menariknya lebih dekat dan Nadya mendesis pelan, lalu tersenyum. Sejak pantai ia memang menginginkan ini. Bukan Yamamoto yang terus menjaga jarak, melainkan lelaki yang sudah hampir dua jam dipaksanya menahan diri.Sofa bergeser sedikit.Tawa pendek Nadya segera berubah menjadi desahan. Napas Yamamoto terdengar semakin be

  • Nadya di Antara Dua Dunia   LIHAT AKU

    Sabtu, 16 Maret 2002.Pagi itu Nadya sudah mengenakan bikini biru di balik kaus putih dan celana pendek krem ketika Yamamoto keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengatakan ingin ke pantai. Yamamoto mengikutinya tanpa banyak bertanya, mungkin masih mengingat ucapan semalam bahwa hari itu Nadya yang menentukan.Di bawah payung pantai, Yamamoto melepas kaus. Tangan Nadya yang sedang membuka tas langsung berhenti. Selama ini ia lebih sering melihat lelaki itu dalam kemeja atau jas. Di bawah matahari, tubuhnya ternyata masih sangat terawat. Bahunya lebar, dada dan lengannya padat, sementara perutnya cukup rata. Garis otot di punggung ikut bergerak ketika ia membungkuk mengambil handuk.“Umur kamu sebenarnya berapa?”“Thirty-nine.”Nadya memandang sekali lagi, kali ini terang-terangan. Yamamoto menangkap tatapannya dan tersenyum sebelum berjalan menuju air. Nadya ikut menahan senyum. Ia teringat lelaki itu pernah menyebut jogging da

  • Nadya di Antara Dua Dunia   JARAK

    Jumat, 15 Maret 2002.Nadya terbangun ketika cahaya dari sela tirai sudah memenuhi kamar. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Sofa pun sudah rapi, bantal dan selimut tipis terlipat, sementara jas serta sepatu kerja Yamamoto tidak terlihat.Hampir pukul delapan ketika ia menemukan secarik kertas di meja samping tempat tidur.I’m sorry about last night.You said stop. I should stop.No excuse.I come back this afternoon.Yamamoto.Nadya membacanya dua kali. Kertas itu sempat hendak diremas sebelum akhirnya hanya dilipat sekali dan diletakkan kembali.Setelah mandi, ia mengenakan celana pendek krem, atasan putih ringan, dan sandal datar. Saat keluar kamar, Nadya sempat menoleh ke meja tempat surat tadi berada.Ia tidak membawanya.Di lobby, bahasa Jepang terdengar hampir di mana-mana. Rombongan wisatawan menunggu bus dengan kamera dan tas belanja. Beberapa perempuan muda sibuk berfoto, sementara pasangan yang lebih tua membaca brosur. Seorang pemandu Bali berbicara dengan campuran ba

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TERLALU JAUH

    Kamis, 14 Maret 2002.Dinner berlangsung di restoran sebuah hotel di Nusa Dua sebagai bagian dari koordinasi regional yang dihadiri orang-orang dari Jakarta dan Surabaya. Di meja itu ada dua orang Jepang, Sato dan Takahashi, serta tiga orang Indonesia dari customer dan partner bisnis, termasuk Arman Pranoto.Yamamoto memperkenalkan Nadya hanya dengan namanya.“This is Nadya.”Mereka bersalaman lalu duduk. Arman, lelaki sekitar empat puluhan yang berada hampir berhadapan dengan Nadya, paling mudah membuka percakapan. Berbeda dengan Gunawan yang pernah ditemuinya di Jakarta, lelaki itu banyak tersenyum dan cepat berpindah dari urusan pekerjaan ke obrolan ringan.Nadya lebih banyak mendengarkan pembicaraan tentang hasil meeting siang, agenda keesokan hari, kebutuhan customer, dan jadwal pengiriman. Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang bercampur. Sebulan tambahan di Evergreen membuatnya tidak lagi sepenuhnya kehilangan arah. Ia masih terti

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BERANGKAT

    Sebulan setelah membeli bikini biru bersama Yuli, Bali tidak lagi hanya berupa catatan di buku kecil Nadya.Legalisir ijazah tiba dari Bangka beberapa hari kemudian. Lima salinan yang sudah mendapat pengesahan sekolah langsung masuk ke map Atma Jaya bersama formulir, fotokopi identitas, pasfoto, dan catatan persyaratan yang masih harus diselesaikan. Nadya sempat kembali ke kampus untuk memastikan semuanya. Evergreen tetap berjalan dua kali seminggu, dan jadwal untuk minggu keberangkatannya sudah dipastikan agar perjalanan ke Bali tidak meninggalkan urusan yang belum jelas.Dalam sebulan itu Nadya mulai lebih mudah menangkap percakapan sederhana dalam bahasa Jepang. Ia belum sanggup mengikuti orang yang bicara cepat, tetapi tidak lagi harus menerjemahkan setiap kata di kepalanya.Menjelang akhir Februari, Yamamoto memberikan itinerary. Penerbangan Kamis pagi, 14 Maret, kembali Minggu sore. Hotel di Nusa Dua. Kamis ada meeting di Denpasar dan dinner malam hari, se

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BUKAN SOAL BIKINI

    Selasa, 12 Februari 2002.“Kak, siang ini temenin aku cari baju.”Yuli yang sedang bersiap berangkat kerja awalnya hanya bertanya Nadya mau mencari baju apa. Baru ketika Nadya menyebut Bali, suara sepupunya berubah.“Bali? Sama Jepangmu itu?”“Yamamoto bukan Jepangku.”“Iya. Jepang punya orang lain.”Nadya mendengus, lalu menjelaskan bahwa perjalanan mereka berlangsung empat hari pada pertengahan Maret. Kamis dan Jumat masih ada urusan perusahaan, sedangkan Sabtu dan Minggu kosong. Ketika Yuli akhirnya bertanya berapa bayarannya dan mendengar angka empat juta di luar tiket, hotel, makan, serta transportasi, perempuan itu hanya bersiul kecil.“Lumayan. Berarti belanjanya pakai otak. Jangan dibayar empat juta, tiga jutanya habis sebelum berangkat.”“Itu juga yang kupikirin.”“Nah. Berarti kita masih benar-benar sepupuan.”Mereka sepa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status