MasukRiko kembali ke warung menjelang magrib dengan napas tersengal. Ia menyandarkan sepeda pada dinding seng, lalu masuk sambil menyembunyikan kantong kertas di balik kaus.
Nadya menunggu pekerja yang sedang berutang rokok pergi sebelum menutup buku catatan.
“Dapat?”
Riko menyerahkan kantong dan uang kembalian.
“Dia tanya buat apa?” tanya Nadya.
“Pintu kamar.”
“Terus?”
“Dak ada.”
Lina keluar dari belakang membawa teko kopi. Tatapannya jatuh pada kantong di tangan Nadya.
“Kau jadi beli selot?”
“Iya.”
“Jangan dipasang dulu.”
“Kenapa?”
“Tunggu Ibu pulang.”
Dua pekerja datang memesan kopi. Lina berbalik menuju tungku sebelum Nadya sempat menjawab.
Nadya memasukkan kantong itu ke dalam tas.
“Ayo, Ko.”
Mereka pulang membawa rantang nasi dari warung. Sepeda motor Hendra belum terlihat di halaman ketika mereka tiba.
Riko mengambil palu dari bawah rak dapur, sementara Nadya membawa selot, gembok, dan beberapa paku ke kamar. Kursi pincang yang digunakan malam sebelumnya masih tersandar dekat dinding.
“Pasang di mana?” tanya Riko.
Nadya menempelkan selot pada bagian dalam pintu.
“Di sini.”
Riko menahan bagian satunya pada kusen.
“Begini?”
“Turun sedikit.”
Nadya memegang besi itu, lalu Riko memukul paku pertama. Bunyi palu menggema ke seluruh rumah.
Keduanya berhenti dan mendengarkan.
Tidak ada suara motor dari halaman.
“Lanjut,” kata Nadya.
Paku pertama tertancap miring. Paku kedua membuat papan terkelupas, sedangkan pukulan berikutnya hampir mengenai jari Nadya.
“Pelan.”
“Ce yang pegangnya goyang.”
“Pintunya yang goyang.”
“Rumahnya juga.”
Nadya hampir tersenyum.
Beberapa pukulan kemudian, selot itu terpasang. Letaknya sedikit miring, tetapi kedua bagian besi dapat bertemu. Nadya menutup pintu, menggeser selot, lalu memasang gembok.
Klik.
Riko menarik gagang dari luar. Besi itu bergoyang, tetapi pintu tetap tertutup.
“Bisa,” katanya.
“Belum tentu tahan kalau ditendang.”
“Setidaknya dia dak bisa masuk diam-diam.”
Nadya membuka kembali pintu dan menyimpan salah satu anak kunci di saku. Untuk pertama kalinya sejak Hendra melepas selot lama, ia dapat menentukan siapa yang boleh masuk ke kamarnya.
Lina pulang setelah azan isya.
“Sudah dipasang?” tanyanya begitu melihat serpihan kayu di lantai.
“Iya.”
Lina berdiri di depan kamar dan memeriksa selot yang miring.
“Nanti Hendra marah.”
Nadya menyapu serpihan kayu dengan kaki.
“Dia selalu marah.”
Suara motor berhenti di halaman.
Riko langsung membawa palu ke dapur. Lina menata makanan di meja, sedangkan Nadya memasukkan anak kunci lebih dalam ke saku.
Hendra masuk tanpa menyapa. Lumpur kering melekat di ujung celananya.
“Ada ikan?”
“Habis,” jawab Lina. “Tinggal telur.”
Hendra mengumpat, lalu duduk dan mulai makan.
Nadya tidak menunggu sampai ia selesai. Setelah membawa piringnya ke dapur, ia masuk ke kamar, menutup pintu, dan memasang gembok.
Klik.
Suara sendok dari ruang tengah berhenti.
Nadya duduk di tepi ranjang dan membuka buku matematika. Beberapa detik kemudian, gagang pintu ditarik dari luar.
“Nadya.”
“Apa?”
“Apa yang kau pasang?”
“Selot.”
“Buka.”
“Aku lagi belajar.”
Telapak tangan menghantam pintu. Debu halus jatuh dari kusen.
“Buka.”
“Ngomong dari luar.”
Tendangan mengenai bagian bawah pintu. Selot bergetar dan paku-pakunya berderit, tetapi tetap menahan.
“Ce?” panggil Riko dari kamar sebelah.
“Dak apa-apa, Ko.”
Hendra menarik gagang sekali lagi.
“Siapa suruh kau pasang kunci?”
“Aku sendiri.”
“Besok bongkar.”
“Tidak.”
Lina keluar dari kamar. “Sudahlah. Nanti orang dengar.”
Hendra menempelkan telapak tangan pada papan, seolah sedang mengukur kekuatannya. Setelah beberapa saat, ia melepaskan gagang dan berjalan menuju ruang tengah.
Radio dinyalakan keras.
Nadya menyentuh selot yang masih bergetar. Pemasangannya memang miring dan papannya tidak terlalu tebal.
Namun malam itu, Hendra gagal masuk.
---
Sebelum subuh berakhir, Lina sudah berangkat ke warung. Nadya bangun tidak lama kemudian dan menyiapkan nasi goreng dari sisa nasi semalam.
Riko keluar dengan rambut berantakan.
“Pipimu masih sakit?” tanya Nadya.
“Dak.”
“Bohong.”
Nadya memberikan bagian telur lebih banyak kepadanya.
“Mandi. Nanti terlambat.”
Hendra keluar ketika makanan hampir selesai dibagi. Nadya meletakkan piring di hadapannya, lalu masuk ke kamar untuk berganti seragam.
Saat memasukkan buku terakhir ke tas, bau rokok tercium dari pintu. Hendra berdiri di ambang sambil menyentuh selot.
“Miring.”
Ia menekan papan di sekitarnya.
“Sekali tendang juga pecah.”
Nadya menyampirkan tas.
“Kalau mau masuk, ketuk.”
Hendra tersenyum tipis. Pandangannya beralih pada tas sekolah Nadya.
“Uang yang kuberi kemarin itu yang terakhir.”
Nadya berhenti.
“Mulai sekarang, jangan minta uang sekolah lagi.”
“Aku dak akan minta.”
“Bagus.”
Hendra kembali ke meja dan menunjuk Riko dengan rokok.
“Minggu dia ikut Bahar.”
Tubuh Riko menegang.
“Buat apa?” tanya Nadya.
“Bantu di lokasi. Angkat selang, cuci alat.”
“Riko dak ikut.”
“Kau yang kasih dia makan?”
Nadya tidak menjawab.
“Bahar jemput jam lima pagi.” Hendra mengetukkan abu rokok ke tepi piring. “Kita lihat kau bisa bayar sekolah sendiri atau dak.”
Ia menghabiskan kopi, lalu pergi.
Riko memandangi nasinya.
“Ce, aku kerja saja.”
“Tidak.”
“Cuma hari Minggu.”
“Dak.”
“Tapi uang sekolah Ce—”
“Makan.”
Riko menunduk dan tidak berbicara lagi.
---
Menjelang sore, warung mulai ramai. Riko membantu Lina membawa kayu ke tungku, sementara Nadya duduk di depan buku catatan setelah mengganti seragam.
Tak lama kemudian, motor Bahar berhenti dekat parit.
Ia turun membawa sepasang sepatu bot karet. Lumpur mengering hingga betis celananya.
Lina melihat barang itu. “Buat apa?”
Bahar meletakkannya di lantai, tepat di depan Riko.
“Buat Minggu.”
Riko tidak bergerak.
“Dia dak akan ikut,” kata Nadya.
“Hendra sudah bilang.”
“Riko masih sekolah.”
“Minggu dak sekolah.”
Bahar menendang salah satu sepatu hingga menyentuh kaki Riko.
“Pakai celana lama. Lumpur di lokasi susah hilang.”
Sepatu itu terlalu besar. Bahkan tanpa dicoba, Nadya tahu kaki Riko akan tenggelam di dalamnya.
Bahar menyalakan rokok, lalu kembali ke motor. Asap knalpot bercampur dengan bau solar sebelum ia menghilang di tikungan.
Riko tetap memandangi sepatu bot tersebut.
“Ce,” katanya pelan. “Kalau aku dak ikut, dia pasti marah lagi.”
Nadya membawa kedua sepatu itu ke luar warung dan meletakkannya dekat dinding, jauh dari kaki Riko.
“Biar.”
Namun Nadya sendiri mendengar keraguan dalam suaranya.
Di luar warung, sepatu bot kebesaran itu masih menunggu Riko.
Tiga hari lagi, Bahar akan datang menjemputnya.
Kamis, 14 November 2002Pukul setengah tujuh pagi Nadya sudah duduk di kursi belakang sedan operasional PT Bumi Lintas Persada. Blus putih, rok gelap di bawah lutut, dan sepatu tertutup membuat penampilannya jauh berbeda dari pakaian kampus maupun Ginza. Di pangkuannya terletak salinan bahan presentasi yang diberikan Arman dua hari sebelumnya. Beberapa halaman sudah dipenuhi tanda kecil dan catatan dengan tulisan tangannya sendiri.Arman duduk di depan bersama Januar. Sepanjang perjalanan menuju Cikarang, lelaki itu hanya mengulang pembagian peran mereka. Ia akan memimpin presentasi, Januar menangani pertanyaan operasional, sedangkan Nadya mengikuti jalannya pertemuan dan membantu bila memang diperlukan.“Jangan merasa harus jawab semua,” pesan Arman. “Kalau purchasing tanya sesuatu yang bukan bagian kamu, kasih ke Pak Januar atau saya.”Nadya mengangguk. “Kalau bahasa Jepang?”Januar melirik dari balik kemudi. &
Selasa, 12 November 2002Kelas terakhir Nadya baru selesai ketika ponsel biru tua di dalam tasnya bergetar. Pesan Januar singkat, memintanya datang ke gudang setelah kuliah karena ada kabar dari Cikarang. Nadya hanya membalas bahwa dirinya akan datang, lalu memasukkan buku ke tas dan berjalan menuju jalan raya.Selama dua bulan terakhir, urusan PT Bumi Lintas Persadatidak banyak masuk ke jadwal hariannya. Kuliah tetap mengambil sebagian besar siang, sementara beberapa malam masih dihabiskannya di Ginza. Company profile perusahaan Januar sudah selesai dibuat, lalu email perkenalan dikirim ke Purchasing PT Yamashiro Automotive Components Indonesiamelalui alamat yang sebelumnya diberikan Yamamoto. Beberapa kelengkapan sempat diminta setelahnya, mulai dari legalitas perusahaan, informasi gudang, sampai data armada. Namun sejak dokumen terakhir dikirim sekitar dua minggu lalu, tidak ada kabar lagi.Nadya juga tidak terus
Senin, 9 September 2002“Nad, Riko berkelahi dengan Hendra.”Nadya masih berdiri di depan meja. Kunci kamar belum sempat dikeluarkan dari lubang pintu ketika kalimat Mak Su membuat tangannya menegang.“Riko bagaimana?”“Dak apa-apa. Bibirnya pecah sedikit, tangan lecet.”“Hendra?”Mak Su diam sebentar. Di belakang suaranya terdengar kendaraan lewat dan percakapan orang-orang di wartel.“Lebih parah sedikit dari Riko, tapi dak sampai apa-apa.”Nadya menarik kursi dan duduk. “Kenapa mereka berkelahi?”Sepulang sekolah, Riko mampir ke rumah Lina. Belakangan ia memang masih sesekali datang menemui ibunya meskipun lebih banyak tinggal bersama Mak Su. Ketika sampai, Lina dan Hendra sedang bertengkar.“Soal apa?”“Dak tahu jelas. Kata Riko, Hendra sudah marah-marah sebelum dia datang.”Riko awalnya tidak ikut cam
Senin, 9 September 2002Selepas kuliah, Nadya tidak langsung kembali ke kos. Di dalam tasnya, buku kecil yang biasa dipakai mencatat pengeluaran kini berisi beberapa nama tamu Jepang dari Ginza. Sejak Jumat, satu nama paling sering kembali ke pikirannya: Yamamoto.Di dekat halte, Nadya berhenti di sebuah wartel. Ia mengeluarkan kartu nama Yamamoto dari dompet dan membaca nomor ponsel pribadi yang tertulis di belakangnya. Untuk percakapan yang mungkin panjang, wartel tetap lebih murah daripada memakai ponselnya sendiri. Nadya masuk ke salah satu bilik, meletakkan tas di pangkuan, lalu menekan nomor tersebut.Sambungan terangkat setelah beberapa kali nada panggil. Suara Yamamoto terdengar bercampur bunyi mesin dan percakapan dari kejauhan. Ia masih berada di pabrik dan mempunyai beberapa menit sebelum kembali ke bagian produksi.“Aku mau tanya soal kerjaan,” kata Nadya setelah memastikan lelaki itu bisa bicara.Yamamoto sempat terdengar h
Jumat, 6 September 2002“Nadya... sama siapa?”Nadya masih menahan pintu samping yang tinggal terbuka beberapa senti. Januar sudah berada di luar, tetapi bayangan tubuhnya mungkin masih terlihat kalau ibu kos maju sedikit lagi.“Teman saya dari Bangka, Bu.”Ibu kos memandang ke arah pintu. Pagi bahkan belum benar-benar terang. “Teman kok jam segini?”“Dia ada urusan kerja pagi. Tadi mampir sebentar.”“Kok keluarnya lewat belakang?”Dari luar terdengar mesin sedan dinyalakan. Nadya berusaha tidak ikut menoleh.“Biar enggak ganggu penghuni depan.”Ibu kos mengerutkan kening. “Nadya, laki-laki enggak boleh naik ke kamar. Saya enggak mau tahu teman, saudara, atau siapa. Sekali lagi saya lihat, kamu cari kos lain.”“Iya, Bu. Maaf.”Perempuan itu masih memandanginya beberapa detik sebelum berjalan kembali ke bagian dep
Jumat, 6 September 2002Gerakan Januar di sampingnya membuat Nadya terbangun.Kamar masih remang, tetapi cahaya tipis sudah mulai menyelinap dari sela gorden. Untuk beberapa detik ia hanya berbaring sambil mengingat kenapa kasurnya berada di lantai dan kenapa tubuhnya terasa begitu lelah. Lalu ia melihat Januar sedang duduk di tepi kasur, meraih celana panjang yang semalam tergeletak dekat kaki mereka.“Jam berapa?” suara Nadya masih berat.“Hampir lima.”Nadya mengerang kecil dan menarik selimut sampai dada. “Cepat amat.”“Kalau tadi ada yang mau berhenti, mungkin sekarang aku sudah tidur di rumah.”“Siapa yang datang ke sini?”Januar menoleh sambil tersenyum. “Siapa yang enggak mau berhenti?”Nadya mengambil bantal dan hendak melemparkannya, tetapi buru-buru menahan tangan sendiri. Ia masih ingat dinding tipis di sebelah. Januar tertawa tanpa suara







