Home / Romansa / Nadya di Antara Dua Dunia / Sebelum Bahar Datang

Share

Sebelum Bahar Datang

Author: Rania Arkana
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-11 16:39:45

Jumat pagi, Nadya dipanggil ke ruang guru saat jam istirahat. Bu Sulastri duduk di balik meja dengan buku pembayaran terbuka. Kacamatanya turun hingga ujung hidung ketika mencari nama Nadya.

“Sisa buku, iuran, sama cicilan seragam penggantimu masih tiga puluh lima ribu,” katanya. “Sudah lewat dua minggu.”

Nadya melihat angka di samping namanya. Dari kewajiban sebesar Rp75.000, Lina baru membayar Rp40.000. Seragam penggantinya masih disimpan sekolah sampai cicilannya lunas.

“Bisa Senin, Bu?”

“Senin harus dibawa.” Bu Sulastri menyerahkan selembar surat. “Kau sudah kelas tiga. Jangan sampai urusan pembayaran mengganggu sekolahmu.”

Bel masuk berbunyi. Nadya menyelipkan surat itu ke dalam tas dan kembali ke kelas.

Uangnya tinggal Rp7.500 setelah membeli selot, gembok, dan paku.

Jumlah itu bahkan belum cukup untuk membayar setengah tunggakannya.

Ketika Nadya tiba di warung, Riko sedang memasukkan kayu ke tungku. Lina sibuk membungkus nasi untuk dua pekerja, sementara beberapa gelas kotor menumpuk dekat baskom.

Nadya berganti pakaian di ruang belakang, lalu duduk menghadapi buku warung. Saat mengambil pensil dari tas, surat sekolah ikut terangkat dan jatuh ke meja.

Riko menunjuknya.

“Itu apa?”

“Surat bayaran.”

“Berapa?”

“Tiga puluh lima ribu.”

Riko terdiam sejenak. “Punyaku juga masih dua puluh lima ribu. Buku sama cicilan seragam.”

Nadya mengangkat wajah. “Seragam barumu belum dikasih?”

Riko menggeleng.

Dari depan terdengar pekerja meminta rokok. Riko mengambil dua bungkus dari rak, mencatat utangnya, lalu kembali mendekati Nadya.

“Aku kerja Minggu saja,” katanya. “Kalau Bahar kasih uang, bisa buat bayar sekolah.”

“Bahar belum tentu kasih uangnya ke kau.”

“Tapi—”

“Dak usah.”

Nada Nadya lebih keras daripada yang dimaksudkan. Riko menunduk dan membawa gelas-gelas kotor ke belakang.

Nadya tidak memanggilnya kembali. Sedikit kelonggaran akan dianggap Riko sebagai izin untuk pergi ke tambang.

Menjelang sore, warung dipenuhi pekerja yang datang bergantian untuk makan dan mencatat utang. Di antara suara piring dan pesanan kopi, dua motor berhenti di depan.

Januar masuk lebih dahulu. Bahar menyusul dengan dua buku catatan lama, dua buku kosong, serta tumpukan nota.

“Taruh di meja,” kata Januar.

Bahar meletakkan semuanya di dekat Nadya, lalu berdiri dengan wajah tidak senang.

Januar membuka salah satu buku dan membandingkannya dengan nota. Sebagian halaman terkena minyak. Angka-angka ditulis dengan pensil, dicoret, lalu diganti menggunakan tinta berbeda.

Nadya meletakkan secangkir kopi di dekat tangannya. Ketika hendak kembali ke belakang, satu baris angka menarik perhatiannya.

“Yang itu salah.”

Bahar langsung menoleh. “Siapa tanya kau?”

Januar tetap melihat buku. “Yang mana?”

Nadya menunjuk satu baris.

“Empat puluh delapan tambah tiga puluh tujuh bukan sembilan puluh lima.”

Januar menghitung sekilas. “Delapan puluh lima.”

“Cuma salah tulis,” kata Bahar.

Januar mendorong beberapa nota ke arah Nadya.

“Periksa.”

Nadya duduk di ujung meja. Ia menyusun nota berdasarkan tanggal, lalu membandingkan waktu pengiriman dan nomor kendaraan. Beberapa menit kemudian, dua lembar dipisahkannya dari tumpukan.

“Yang ini sama,” katanya.

Januar mengambil keduanya. “Sama bagaimana?”

“Tanggal, jam, sama nomor kendaraannya.”

“Mungkin dua kali angkut,” sela Bahar.

Nadya menunjuk waktu yang tertulis.

“Satu truk dak mungkin ada di tempat yang sama dua kali dalam jam yang sama.”

Januar memeriksa kedua nota lebih lama, lalu menyelipkan salah satunya di bawah buku.

“Yang ini jangan dihitung.”

Bahar mengatupkan rahang.

Januar menutup buku pertama.

“Besok kau sekolah?”

“Sampai tengah hari.”

“Setelah itu bisa salin isi dua buku lama ini ke buku kosong?”

Nadya tidak langsung menjawab.

“Dibayar?”

Bahar tertawa kecil. “Baru disuruh sedikit sudah minta uang.”

Nadya tidak memandangnya.

“Lima ribu satu buku,” kata Januar. “Kalau tulisan dan hitungannya benar.”

“Dua buku berarti sepuluh ribu?”

“Iya.”

“Bisa.”

“Kerjakan di sini. Bukunya jangan dibawa pulang.”

Januar meminta Lina menyimpan semua catatan itu sampai Nadya datang keesokan hari. Sebelum keluar, ia menoleh kepada Bahar.

“Nota yang sama jangan dimasukkan dua kali.”

Setelah kedua motor pergi, Riko kembali ke meja.

“Ce dapat sepuluh ribu.”

Nadya mengangguk.

Dengan uang yang dimilikinya, jumlahnya akan menjadi Rp17.500. Masih kurang untuk melunasi sekolahnya, belum termasuk tunggakan Riko.

Namun untuk pertama kalinya, ada uang yang datang karena hasil pekerjaannya sendiri.

---

Sabtu siang, buku-buku milik Januar sudah menunggu di meja belakang warung.

Nadya makan beberapa suap nasi, lalu mulai menyalin. Pekerjaan itu lebih rumit daripada yang terlihat. Jumlah solar kadang ditulis tanpa tanggal, nama sopir disingkat, dan nomor kendaraan hanya dicatat tiga angka terakhir.

Ia harus membuka halaman lama berkali-kali untuk memastikan satu pengiriman tidak tercatat sebagai pengiriman lain.

Ketika warung mulai sepi, isi buku kedua akhirnya selesai dipindahkan. Punggung Nadya pegal dan ujung jarinya menghitam oleh tinta.

Ahin yang masuk untuk mengambil air melihat halaman baru itu.

“Lebih enak dibaca daripada tulisan Bahar.”

“Belum tentu benar.”

“Kalau salah, Januar pasti cari kau.”

Januar datang tidak lama kemudian. Ia memeriksa beberapa halaman, mencocokkan jumlah akhir dengan nota, lalu mengeluarkan uang Rp10.000.

“Benar.”

Nadya menerima uang itu.

“Kalau ada buku lain, nanti kuberi tahu,” kata Januar.

“Bayarannya tetap lima ribu?”

“Kalau setebal ini.”

Nadya mengangguk dan menyimpan uang tersebut. Januar tidak menanyakan alasan ia begitu memperhitungkan setiap lembar.

Setelah lelaki itu pergi, Nadya menggabungkan upah itu dengan uang yang tersisa.

Rp17.500.

Lina masuk membawa beberapa piring kotor. Tatapannya langsung jatuh pada uang di tangan Nadya.

“Dapat dari mana?”

“Salin buku Januar.”

“Berapa?”

“Sepuluh ribu.”

“Ibu pinjam lima ribu buat beli minyak tanah. Besok diganti kalau orang bayar utang.”

Nadya segera melipat uang itu.

“Dak bisa.”

“Cuma pinjam.”

“Senin aku harus bayar sekolah.”

Lina meletakkan piring dekat baskom.

“Ibu selama ini yang bayar sekolahmu.”

“Aku tahu.”

“Terus sekarang kau pelit sama Ibu?”

“Punyaku belum lunas. Punya Riko juga.”

Seorang pekerja memanggil dari depan. Lina mengambil kembali piringnya dan pergi tanpa menjawab.

Nadya membungkus uang itu bersama surat sekolah, lalu menyimpannya di dasar tas. Ia tidak ingin uang tersebut berpindah tangan sebelum sempat dibayarkan.

---

Malamnya, Hendra pulang dalam keadaan setengah mabuk. Ia makan dengan kepala tertunduk, tetapi beberapa kali melirik Riko.

“Besok bangun jam empat,” katanya.

Riko tidak menjawab.

“Kau dengar?”

“Iya.”

“Bahar datang jam lima. Jangan bikin dia menunggu.”

Nadya meletakkan sendok.

“Riko dak ikut.”

Hendra tertawa pendek. “Besok kita lihat.”

“Dia masih sekolah.”

“Minggu dak sekolah.”

Hendra menghabiskan makan, lalu masuk kamar dan membanting pintu.

Lina membereskan meja seolah percakapan itu tidak pernah terjadi. Nadya membantunya tanpa berbicara. Ibunya tidak akan melarang Hendra, dan menunggu keputusan Lina hanya akan membuat waktu habis.

Setelah rumah sunyi dan dengkuran terdengar dari kamar Hendra, Nadya masuk ke kamar Riko.

“Siapkan pakaian,” bisiknya.

Riko yang duduk di ranjang langsung menoleh. “Buat apa?”

“Besok sebelum subuh, kau pergi ke rumah Mak Su.”

“Ce ikut?”

“Aku bukakan pintu belakang. Kau langsung naik sepeda.”

“Hendra pasti cari.”

“Biar.”

“Kalau Mak Su dak mau terima?”

“Bilang Ibu yang suruh.”

Riko menatapnya. “Ce bohong.”

“Daripada kau dibawa Bahar.”

Rumah Mak Su berada di kampung sebelah. Mereka pernah tinggal di sana selama tiga tahun setelah Atek meninggal, sebelum Lina menikah dengan Hendra.

Riko akhirnya memasukkan dua kaus, celana pendek, seragam sekolah, dan beberapa buku ke dalam tas. Nadya menyuruhnya menyimpan tas itu di bawah ranjang.

Malam semakin larut.

Nadya kembali ke kamar dan memasang gembok, tetapi tidak benar-benar tidur. Ia mendengarkan suara lorong, kendaraan yang melintas, serta ayam yang sesekali berkokok terlalu awal.

Menjelang setengah lima, pintu depan dibuka.

Lina berangkat ke warung membawa keranjang dengan sepedanya.

Nadya menunggu sampai suara rantainya menghilang, lalu membuka kamar. Riko sudah berdiri di lorong dengan tas di punggung.

Mereka menuju dapur dan mengangkat sepeda Riko agar rantai serta standarnya tidak berbunyi. Nadya membawanya sampai ke pintu belakang.

Tangannya baru menyentuh gagang ketika sebuah motor berhenti di halaman depan.

Keduanya membeku.

Tiga ketukan menghantam pintu.

“Hendra!” suara Bahar memecah kesunyian sebelum subuh.

“Bangunkan anak itu.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Nadya di Antara Dua Dunia   Hari-Hari yang Tidak Bergerak

    Cahaya pagi masuk melalui celah dinding rumah Mak Su, tetapi Nadya masih duduk di tempat yang sama.Gunting terletak di atas pahanya. Riko tertidur sambil bersandar pada tiang ruang tengah, seolah sejak malam tadi ia sengaja menempatkan tubuhnya di antara Nadya dan pintu.Mak Su tidak menyuruh mereka masuk kamar. Ia membiarkan pintunya sendiri terbuka, lalu bergerak pelan agar setiap suara dapat didengar Nadya lebih dahulu.Ketika hendak menutup jendela, ia berhenti beberapa langkah dari tempat Nadya duduk.“Aku mau tutup jendela.”Nadya mengangguk.Tangannya tetap menggenggam gunting sampai kait jendela terpasang.Mak Su kemudian meletakkan baskom berisi air hangat, kain bersih, dan pakaian lama milik Yuli di dekat dapur.“Pak Karim sudah melarang Hendra datang ke sini,” katanya. “Ada orang yang menjaga jalan kebun sampai tadi subuh.”“Aku bersihkan sendiri.”“Baik.”Mak Su mengajak Riko ke halaman belakang dan menutup tirai dapur. Ia tidak mendekat, tidak bertanya, dan tidak mencoba

  • Nadya di Antara Dua Dunia   Urusan yang Keluar dari Rumah

    Rumah Hendra tidak lagi terlihat ketika Nadya mencapai pagar kebun.Di persimpangan kecil, ia berhenti sesaat untuk memilih jalan. Jalan besar lebih terang, tetapi Hendra dapat mengejarnya dengan motor. Nadya memilih jalur kebun lada menuju rumah Mak Su.Satu tangannya menggenggam gunting, sedangkan tangan lainnya menahan pakaiannya yang robek.Ranting mengenai wajah dan lengannya.Jalan besar lebih terang, tetapi Hendra dapat mengejarnya dengan motor. Nadya memilih jalur kebun lada menuju rumah Mak Su.Ranting mengenai wajah dan lengannya. Setiap daun yang menyentuh kulit membuat tubuhnya tersentak seolah ada tangan yang kembali meraihnya.Suara motor terdengar dari jalan besar.Nadya merunduk di antara tanaman dan menutup mulut. Cahaya kendaraan melintas tanpa berbelok ke kebun. Ia tetap berdiam sampai suara mesinnya benar-benar menjauh.Jalur menuju sumur tua sulit dikenali dalam gelap. Nadya tersandung akar dan jatuh pada lututnya. Gunting terlepas, menghilang di antara daun kerin

  • Nadya di Antara Dua Dunia   Malam Tanpa Pintu

    Gagang pintu turun.Selot beradu dengan besi pengait, disusul bunyi kaki kursi yang menggesek lantai. Nadya tidak bergerak dari sisi ranjang. Gunting sudah berada dalam genggamannya, tetapi telapak tangannya begitu basah hingga gagangnya terasa licin.Di luar, Hendra tidak mengetuk.Ia juga tidak memanggil nama Nadya atau mengulang alasan bahwa dirinya hanya ingin bicara. Tidak ada lagi usaha untuk terdengar seperti seorang ayah yang hendak menasihati anaknya.Hanya ada napas berat dari balik pintu.Nadya melihat sekeliling kamar. Ranjang menempel pada dinding. Jendela kecil di atas meja terlalu sempit untuk dilewati. Satu-satunya jalan keluar berada di belakang tubuh Hendra.Kamar yang selama ini menjadi tempatnya belajar, menyimpan pakaian, dan bersembunyi kini terasa tidak lebih besar daripada sebuah kotak.Riko berada di rumah Mak Su.Lina berada di warung.Tidak ada langkah kaki lain di rumah itu.Untuk pertama kalinya, Nadya mengerti bahwa malam ini ia tidak dapat menunggu seseo

  • Nadya di Antara Dua Dunia   Rumah Tanpa Riko

    Senin pagi, Nadya berjalan kaki ke sekolah.Sepedanya masih dirantai pada tiang warung. Hendra tidak menjualnya seperti yang diancamkan. Ia sengaja membiarkan sepeda itu terlihat, tetapi tidak dapat digunakan sebelum Nadya membawa Riko pulang.Uang Rp17.500 disimpan di dalam kotak pensil. Sejak malam sebelumnya, Nadya telah membaginya menjadi tiga bagian: Rp10.000 untuk sekolahnya, Rp5.000 untuk Riko, dan Rp2.500 yang tidak boleh disentuh kecuali ia harus pergi.Ketika tiba, halaman sekolah sudah dipenuhi murid. Nadya langsung menuju ruang tata usaha.Bu Sulastri berdiri di samping meja petugas.“Hari ini saya bayar sepuluh ribu dulu, Bu.”Petugas menghitung uang itu, lalu mencatatnya pada buku pembayaran.“Sisanya dua puluh lima ribu,” kata Bu Sulastri. “Seragam penggantimu masih disimpan sampai lunas.”Nadya menerima tanda pembayaran.“Jumat saya bayar lagi.”“Berapa?”“Berapa pun yang saya dapat.”Bu Sulastri memandangnya dari balik kacamata.“Jangan berjanji kalau belum tahu caran

  • Nadya di Antara Dua Dunia   Harga Satu Hari

    Ketukan di pintu depan terdengar lagi sebelum Riko sempat menaiki sepedanya.“Pergi,” bisik Nadya.“Ce ikut.”“Kalau keluar berdua, mereka lihat.”Dari kamar Hendra terdengar ranjang berderit.“Lewat kebun lada,” kata Nadya. “Jangan ambil jalan besar. Setelah sumur tua, belok kiri.”Riko masih menatapnya.“Kalau Hendra pukul Ce?”“Cepat, Ko.”Nadya mengangkat roda depan sepeda melewati ambang agar tidak membentur papan. Begitu kedua rodanya menyentuh tanah, Riko naik dan mengayuh tanpa menyalakan lampu.Bayangannya segera hilang di antara rumpun pisang.Nadya menutup pintu belakang.Langkah Hendra terdengar dari lorong.“Kalian mau ke mana?”Ia berdiri di pintu dapur dengan rambut berantakan. Pandangannya jatuh pada sepeda Nadya yang masih berada dekat tungku.“Riko mana?”“Dak tahu.”Hendra berjalan cepat menuju kamar Riko. Beberapa detik kemudian ia kembali dengan wajah mengeras.“Mana dia?”Ketukan kembali menghantam pintu depan.“Buka!” teriak Bahar.Hendra menyambar lengan Nadya

  • Nadya di Antara Dua Dunia   Sebelum Bahar Datang

    Jumat pagi, Nadya dipanggil ke ruang guru saat jam istirahat. Bu Sulastri duduk di balik meja dengan buku pembayaran terbuka. Kacamatanya turun hingga ujung hidung ketika mencari nama Nadya.“Sisa buku, iuran, sama cicilan seragam penggantimu masih tiga puluh lima ribu,” katanya. “Sudah lewat dua minggu.”Nadya melihat angka di samping namanya. Dari kewajiban sebesar Rp75.000, Lina baru membayar Rp40.000. Seragam penggantinya masih disimpan sekolah sampai cicilannya lunas.“Bisa Senin, Bu?”“Senin harus dibawa.” Bu Sulastri menyerahkan selembar surat. “Kau sudah kelas tiga. Jangan sampai urusan pembayaran mengganggu sekolahmu.”Bel masuk berbunyi. Nadya menyelipkan surat itu ke dalam tas dan kembali ke kelas.Uangnya tinggal Rp7.500 setelah membeli selot, gembok, dan paku.Jumlah itu bahkan belum cukup untuk membayar setengah tunggakannya.Ketika Nadya tiba di warung, Riko sedang memasukkan kayu ke tungku. Lina sibuk membungkus nasi untuk dua pekerja, sementara beberapa gelas kotor me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status