LOGINJumat pagi, Nadya dipanggil ke ruang guru saat jam istirahat. Bu Sulastri duduk di balik meja dengan buku pembayaran terbuka. Kacamatanya turun hingga ujung hidung ketika mencari nama Nadya.
“Sisa buku, iuran, sama cicilan seragam penggantimu masih tiga puluh lima ribu,” katanya. “Sudah lewat dua minggu.”
Nadya melihat angka di samping namanya. Dari kewajiban sebesar Rp75.000, Lina baru membayar Rp40.000. Seragam penggantinya masih disimpan sekolah sampai cicilannya lunas.
“Bisa Senin, Bu?”
“Senin harus dibawa.” Bu Sulastri menyerahkan selembar surat. “Kau sudah kelas tiga. Jangan sampai urusan pembayaran mengganggu sekolahmu.”
Bel masuk berbunyi. Nadya menyelipkan surat itu ke dalam tas dan kembali ke kelas.
Uangnya tinggal Rp7.500 setelah membeli selot, gembok, dan paku.
Jumlah itu bahkan belum cukup untuk membayar setengah tunggakannya.
Ketika Nadya tiba di warung, Riko sedang memasukkan kayu ke tungku. Lina sibuk membungkus nasi untuk dua pekerja, sementara beberapa gelas kotor menumpuk dekat baskom.
Nadya berganti pakaian di ruang belakang, lalu duduk menghadapi buku warung. Saat mengambil pensil dari tas, surat sekolah ikut terangkat dan jatuh ke meja.
Riko menunjuknya.
“Itu apa?”
“Surat bayaran.”
“Berapa?”
“Tiga puluh lima ribu.”
Riko terdiam sejenak. “Punyaku juga masih dua puluh lima ribu. Buku sama cicilan seragam.”
Nadya mengangkat wajah. “Seragam barumu belum dikasih?”
Riko menggeleng.
Dari depan terdengar pekerja meminta rokok. Riko mengambil dua bungkus dari rak, mencatat utangnya, lalu kembali mendekati Nadya.
“Aku kerja Minggu saja,” katanya. “Kalau Bahar kasih uang, bisa buat bayar sekolah.”
“Bahar belum tentu kasih uangnya ke kau.”
“Tapi—”
“Dak usah.”
Nada Nadya lebih keras daripada yang dimaksudkan. Riko menunduk dan membawa gelas-gelas kotor ke belakang.
Nadya tidak memanggilnya kembali. Sedikit kelonggaran akan dianggap Riko sebagai izin untuk pergi ke tambang.
Menjelang sore, warung dipenuhi pekerja yang datang bergantian untuk makan dan mencatat utang. Di antara suara piring dan pesanan kopi, dua motor berhenti di depan.
Januar masuk lebih dahulu. Bahar menyusul dengan dua buku catatan lama, dua buku kosong, serta tumpukan nota.
“Taruh di meja,” kata Januar.
Bahar meletakkan semuanya di dekat Nadya, lalu berdiri dengan wajah tidak senang.
Januar membuka salah satu buku dan membandingkannya dengan nota. Sebagian halaman terkena minyak. Angka-angka ditulis dengan pensil, dicoret, lalu diganti menggunakan tinta berbeda.
Nadya meletakkan secangkir kopi di dekat tangannya. Ketika hendak kembali ke belakang, satu baris angka menarik perhatiannya.
“Yang itu salah.”
Bahar langsung menoleh. “Siapa tanya kau?”
Januar tetap melihat buku. “Yang mana?”
Nadya menunjuk satu baris.
“Empat puluh delapan tambah tiga puluh tujuh bukan sembilan puluh lima.”
Januar menghitung sekilas. “Delapan puluh lima.”
“Cuma salah tulis,” kata Bahar.
Januar mendorong beberapa nota ke arah Nadya.
“Periksa.”
Nadya duduk di ujung meja. Ia menyusun nota berdasarkan tanggal, lalu membandingkan waktu pengiriman dan nomor kendaraan. Beberapa menit kemudian, dua lembar dipisahkannya dari tumpukan.
“Yang ini sama,” katanya.
Januar mengambil keduanya. “Sama bagaimana?”
“Tanggal, jam, sama nomor kendaraannya.”
“Mungkin dua kali angkut,” sela Bahar.
Nadya menunjuk waktu yang tertulis.
“Satu truk dak mungkin ada di tempat yang sama dua kali dalam jam yang sama.”
Januar memeriksa kedua nota lebih lama, lalu menyelipkan salah satunya di bawah buku.
“Yang ini jangan dihitung.”
Bahar mengatupkan rahang.
Januar menutup buku pertama.
“Besok kau sekolah?”
“Sampai tengah hari.”
“Setelah itu bisa salin isi dua buku lama ini ke buku kosong?”
Nadya tidak langsung menjawab.
“Dibayar?”
Bahar tertawa kecil. “Baru disuruh sedikit sudah minta uang.”
Nadya tidak memandangnya.
“Lima ribu satu buku,” kata Januar. “Kalau tulisan dan hitungannya benar.”
“Dua buku berarti sepuluh ribu?”
“Iya.”
“Bisa.”
“Kerjakan di sini. Bukunya jangan dibawa pulang.”
Januar meminta Lina menyimpan semua catatan itu sampai Nadya datang keesokan hari. Sebelum keluar, ia menoleh kepada Bahar.
“Nota yang sama jangan dimasukkan dua kali.”
Setelah kedua motor pergi, Riko kembali ke meja.
“Ce dapat sepuluh ribu.”
Nadya mengangguk.
Dengan uang yang dimilikinya, jumlahnya akan menjadi Rp17.500. Masih kurang untuk melunasi sekolahnya, belum termasuk tunggakan Riko.
Namun untuk pertama kalinya, ada uang yang datang karena hasil pekerjaannya sendiri.
---
Sabtu siang, buku-buku milik Januar sudah menunggu di meja belakang warung.
Nadya makan beberapa suap nasi, lalu mulai menyalin. Pekerjaan itu lebih rumit daripada yang terlihat. Jumlah solar kadang ditulis tanpa tanggal, nama sopir disingkat, dan nomor kendaraan hanya dicatat tiga angka terakhir.
Ia harus membuka halaman lama berkali-kali untuk memastikan satu pengiriman tidak tercatat sebagai pengiriman lain.
Ketika warung mulai sepi, isi buku kedua akhirnya selesai dipindahkan. Punggung Nadya pegal dan ujung jarinya menghitam oleh tinta.
Ahin yang masuk untuk mengambil air melihat halaman baru itu.
“Lebih enak dibaca daripada tulisan Bahar.”
“Belum tentu benar.”
“Kalau salah, Januar pasti cari kau.”
Januar datang tidak lama kemudian. Ia memeriksa beberapa halaman, mencocokkan jumlah akhir dengan nota, lalu mengeluarkan uang Rp10.000.
“Benar.”
Nadya menerima uang itu.
“Kalau ada buku lain, nanti kuberi tahu,” kata Januar.
“Bayarannya tetap lima ribu?”
“Kalau setebal ini.”
Nadya mengangguk dan menyimpan uang tersebut. Januar tidak menanyakan alasan ia begitu memperhitungkan setiap lembar.
Setelah lelaki itu pergi, Nadya menggabungkan upah itu dengan uang yang tersisa.
Rp17.500.
Lina masuk membawa beberapa piring kotor. Tatapannya langsung jatuh pada uang di tangan Nadya.
“Dapat dari mana?”
“Salin buku Januar.”
“Berapa?”
“Sepuluh ribu.”
“Ibu pinjam lima ribu buat beli minyak tanah. Besok diganti kalau orang bayar utang.”
Nadya segera melipat uang itu.
“Dak bisa.”
“Cuma pinjam.”
“Senin aku harus bayar sekolah.”
Lina meletakkan piring dekat baskom.
“Ibu selama ini yang bayar sekolahmu.”
“Aku tahu.”
“Terus sekarang kau pelit sama Ibu?”
“Punyaku belum lunas. Punya Riko juga.”
Seorang pekerja memanggil dari depan. Lina mengambil kembali piringnya dan pergi tanpa menjawab.
Nadya membungkus uang itu bersama surat sekolah, lalu menyimpannya di dasar tas. Ia tidak ingin uang tersebut berpindah tangan sebelum sempat dibayarkan.
---
Malamnya, Hendra pulang dalam keadaan setengah mabuk. Ia makan dengan kepala tertunduk, tetapi beberapa kali melirik Riko.
“Besok bangun jam empat,” katanya.
Riko tidak menjawab.
“Kau dengar?”
“Iya.”
“Bahar datang jam lima. Jangan bikin dia menunggu.”
Nadya meletakkan sendok.
“Riko dak ikut.”
Hendra tertawa pendek. “Besok kita lihat.”
“Dia masih sekolah.”
“Minggu dak sekolah.”
Hendra menghabiskan makan, lalu masuk kamar dan membanting pintu.
Lina membereskan meja seolah percakapan itu tidak pernah terjadi. Nadya membantunya tanpa berbicara. Ibunya tidak akan melarang Hendra, dan menunggu keputusan Lina hanya akan membuat waktu habis.
Setelah rumah sunyi dan dengkuran terdengar dari kamar Hendra, Nadya masuk ke kamar Riko.
“Siapkan pakaian,” bisiknya.
Riko yang duduk di ranjang langsung menoleh. “Buat apa?”
“Besok sebelum subuh, kau pergi ke rumah Mak Su.”
“Ce ikut?”
“Aku bukakan pintu belakang. Kau langsung naik sepeda.”
“Hendra pasti cari.”
“Biar.”
“Kalau Mak Su dak mau terima?”
“Bilang Ibu yang suruh.”
Riko menatapnya. “Ce bohong.”
“Daripada kau dibawa Bahar.”
Rumah Mak Su berada di kampung sebelah. Mereka pernah tinggal di sana selama tiga tahun setelah Atek meninggal, sebelum Lina menikah dengan Hendra.
Riko akhirnya memasukkan dua kaus, celana pendek, seragam sekolah, dan beberapa buku ke dalam tas. Nadya menyuruhnya menyimpan tas itu di bawah ranjang.
Malam semakin larut.
Nadya kembali ke kamar dan memasang gembok, tetapi tidak benar-benar tidur. Ia mendengarkan suara lorong, kendaraan yang melintas, serta ayam yang sesekali berkokok terlalu awal.
Menjelang setengah lima, pintu depan dibuka.
Lina berangkat ke warung membawa keranjang dengan sepedanya.
Nadya menunggu sampai suara rantainya menghilang, lalu membuka kamar. Riko sudah berdiri di lorong dengan tas di punggung.
Mereka menuju dapur dan mengangkat sepeda Riko agar rantai serta standarnya tidak berbunyi. Nadya membawanya sampai ke pintu belakang.
Tangannya baru menyentuh gagang ketika sebuah motor berhenti di halaman depan.
Keduanya membeku.
Tiga ketukan menghantam pintu.
“Hendra!” suara Bahar memecah kesunyian sebelum subuh.
“Bangunkan anak itu.”
Sabtu, 16 Maret 2002.Yamamoto berhenti tepat di belakang Nadya. Beberapa detik tidak ada yang bergerak. Hanya suara pendingin udara, napas mereka yang semakin berat, dan debur laut samar dari balik pintu balkon.Nadya masih mencengkeram sandaran sofa. Ia bisa merasakan keraguan lelaki itu, sisa dari dua malam sebelumnya. Ketika menoleh dari balik bahu, Yamamoto masih menunggu.“Sekarang.”Barulah tangannya turun ke pinggang Nadya.Sentuhan pertama masih terlalu tertahan. Nadya langsung mengembuskan napas tidak sabar.“Jangan lembut.”Kalimat itu seperti memutus sesuatu. Yamamoto menariknya lebih dekat dan Nadya mendesis pelan, lalu tersenyum. Sejak pantai ia memang menginginkan ini. Bukan Yamamoto yang terus menjaga jarak, melainkan lelaki yang sudah hampir dua jam dipaksanya menahan diri.Sofa bergeser sedikit.Tawa pendek Nadya segera berubah menjadi desahan. Napas Yamamoto terdengar semakin be
Sabtu, 16 Maret 2002.Pagi itu Nadya sudah mengenakan bikini biru di balik kaus putih dan celana pendek krem ketika Yamamoto keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengatakan ingin ke pantai. Yamamoto mengikutinya tanpa banyak bertanya, mungkin masih mengingat ucapan semalam bahwa hari itu Nadya yang menentukan.Di bawah payung pantai, Yamamoto melepas kaus. Tangan Nadya yang sedang membuka tas langsung berhenti. Selama ini ia lebih sering melihat lelaki itu dalam kemeja atau jas. Di bawah matahari, tubuhnya ternyata masih sangat terawat. Bahunya lebar, dada dan lengannya padat, sementara perutnya cukup rata. Garis otot di punggung ikut bergerak ketika ia membungkuk mengambil handuk.“Umur kamu sebenarnya berapa?”“Thirty-nine.”Nadya memandang sekali lagi, kali ini terang-terangan. Yamamoto menangkap tatapannya dan tersenyum sebelum berjalan menuju air. Nadya ikut menahan senyum. Ia teringat lelaki itu pernah menyebut jogging da
Jumat, 15 Maret 2002.Nadya terbangun ketika cahaya dari sela tirai sudah memenuhi kamar. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Sofa pun sudah rapi, bantal dan selimut tipis terlipat, sementara jas serta sepatu kerja Yamamoto tidak terlihat.Hampir pukul delapan ketika ia menemukan secarik kertas di meja samping tempat tidur.I’m sorry about last night.You said stop. I should stop.No excuse.I come back this afternoon.Yamamoto.Nadya membacanya dua kali. Kertas itu sempat hendak diremas sebelum akhirnya hanya dilipat sekali dan diletakkan kembali.Setelah mandi, ia mengenakan celana pendek krem, atasan putih ringan, dan sandal datar. Saat keluar kamar, Nadya sempat menoleh ke meja tempat surat tadi berada.Ia tidak membawanya.Di lobby, bahasa Jepang terdengar hampir di mana-mana. Rombongan wisatawan menunggu bus dengan kamera dan tas belanja. Beberapa perempuan muda sibuk berfoto, sementara pasangan yang lebih tua membaca brosur. Seorang pemandu Bali berbicara dengan campuran ba
Kamis, 14 Maret 2002.Dinner berlangsung di restoran sebuah hotel di Nusa Dua sebagai bagian dari koordinasi regional yang dihadiri orang-orang dari Jakarta dan Surabaya. Di meja itu ada dua orang Jepang, Sato dan Takahashi, serta tiga orang Indonesia dari customer dan partner bisnis, termasuk Arman Pranoto.Yamamoto memperkenalkan Nadya hanya dengan namanya.“This is Nadya.”Mereka bersalaman lalu duduk. Arman, lelaki sekitar empat puluhan yang berada hampir berhadapan dengan Nadya, paling mudah membuka percakapan. Berbeda dengan Gunawan yang pernah ditemuinya di Jakarta, lelaki itu banyak tersenyum dan cepat berpindah dari urusan pekerjaan ke obrolan ringan.Nadya lebih banyak mendengarkan pembicaraan tentang hasil meeting siang, agenda keesokan hari, kebutuhan customer, dan jadwal pengiriman. Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang bercampur. Sebulan tambahan di Evergreen membuatnya tidak lagi sepenuhnya kehilangan arah. Ia masih terti
Sebulan setelah membeli bikini biru bersama Yuli, Bali tidak lagi hanya berupa catatan di buku kecil Nadya.Legalisir ijazah tiba dari Bangka beberapa hari kemudian. Lima salinan yang sudah mendapat pengesahan sekolah langsung masuk ke map Atma Jaya bersama formulir, fotokopi identitas, pasfoto, dan catatan persyaratan yang masih harus diselesaikan. Nadya sempat kembali ke kampus untuk memastikan semuanya. Evergreen tetap berjalan dua kali seminggu, dan jadwal untuk minggu keberangkatannya sudah dipastikan agar perjalanan ke Bali tidak meninggalkan urusan yang belum jelas.Dalam sebulan itu Nadya mulai lebih mudah menangkap percakapan sederhana dalam bahasa Jepang. Ia belum sanggup mengikuti orang yang bicara cepat, tetapi tidak lagi harus menerjemahkan setiap kata di kepalanya.Menjelang akhir Februari, Yamamoto memberikan itinerary. Penerbangan Kamis pagi, 14 Maret, kembali Minggu sore. Hotel di Nusa Dua. Kamis ada meeting di Denpasar dan dinner malam hari, se
Selasa, 12 Februari 2002.“Kak, siang ini temenin aku cari baju.”Yuli yang sedang bersiap berangkat kerja awalnya hanya bertanya Nadya mau mencari baju apa. Baru ketika Nadya menyebut Bali, suara sepupunya berubah.“Bali? Sama Jepangmu itu?”“Yamamoto bukan Jepangku.”“Iya. Jepang punya orang lain.”Nadya mendengus, lalu menjelaskan bahwa perjalanan mereka berlangsung empat hari pada pertengahan Maret. Kamis dan Jumat masih ada urusan perusahaan, sedangkan Sabtu dan Minggu kosong. Ketika Yuli akhirnya bertanya berapa bayarannya dan mendengar angka empat juta di luar tiket, hotel, makan, serta transportasi, perempuan itu hanya bersiul kecil.“Lumayan. Berarti belanjanya pakai otak. Jangan dibayar empat juta, tiga jutanya habis sebelum berangkat.”“Itu juga yang kupikirin.”“Nah. Berarti kita masih benar-benar sepupuan.”Mereka sepa







