Share

TERLALU JAUH

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-09-24 09:14:59

Kamis, 14 Maret 2002.

Dinner berlangsung di restoran sebuah hotel di Nusa Dua sebagai bagian dari koordinasi regional yang dihadiri orang-orang dari Jakarta dan Surabaya. Di meja itu ada dua orang Jepang, Sato dan Takahashi, serta tiga orang Indonesia dari customer dan partner bisnis, termasuk Arman Pranoto.

Yamamoto memperkenalkan Nadya hanya dengan namanya.

“This is Nadya.”

Mereka bersalaman lalu duduk. Arman, lelaki sekitar empat puluhan yang berada

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   SEBELUM PAGI

    Jumat, 6 September 2002Gerakan Januar di sampingnya membuat Nadya terbangun.Kamar masih remang, tetapi cahaya tipis sudah mulai menyelinap dari sela gorden. Untuk beberapa detik ia hanya berbaring sambil mengingat kenapa kasurnya berada di lantai dan kenapa tubuhnya terasa begitu lelah. Lalu ia melihat Januar sedang duduk di tepi kasur, meraih celana panjang yang semalam tergeletak dekat kaki mereka.“Jam berapa?” suara Nadya masih berat.“Hampir lima.”Nadya mengerang kecil dan menarik selimut sampai dada. “Cepat amat.”“Kalau tadi ada yang mau berhenti, mungkin sekarang aku sudah tidur di rumah.”“Siapa yang datang ke sini?”Januar menoleh sambil tersenyum. “Siapa yang enggak mau berhenti?”Nadya mengambil bantal dan hendak melemparkannya, tetapi buru-buru menahan tangan sendiri. Ia masih ingat dinding tipis di sebelah. Januar tertawa tanpa suara

  • Nadya di Antara Dua Dunia   JANGAN BERSUARA

    Jumat, 6 September 2002Nadya membaca pesan Januar sekali lagi sebelum mengenakan daster tipis di atas lingerie merah marun.Aku sudah di belakang kosmu. Masih berani buka pintu?Setelah menunggunya hampir dua jam, lelaki itu masih sempat menantang.Nadya mengambil kunci yang sejak sore diletakkan di meja, membuka pintu kamar perlahan, lalu berjalan menuju tangga belakang. Seluruh kos sudah jauh lebih sunyi. Televisi lantai bawah mati, kamar-kamar lain tertutup, dan setiap pijakan kakinya terasa terlalu jelas di lorong yang gelap.Di depan pintu samping ia berhenti beberapa detik untuk mendengarkan. Setelah yakin tidak ada orang, Nadya memutar kunci perlahan.Januar berdiri di luar.Kemejanya masih rapi meskipun kedua lengan sudah digulung sampai siku. Tatapan lelaki itu langsung turun ke daster tipis Nadya sebelum kembali ke wajahnya.“Lama.”“Kalau ngomong keras, lebih lama lagi. Bisa sampai

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TUNGGU AKU

    Kamis, 5 September 2002Nadya hanya tidur beberapa jam.Alarm kecil di meja berbunyi pagi-pagi dan membuat tangannya meraba-raba dalam keadaan setengah sadar sebelum akhirnya berhasil mematikannya. Ia masih berbaring beberapa detik, menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengingat kenapa tubuhnya terasa begitu berat.Lalu ia bergeser di balik selimut dan kesadarannya langsung terjaga.Celana dalamnya masih dibawa Januar.Ingatan tentang semalam datang hampir bersamaan dengan kesadaran itu. Restoran, perjalanan menuju Cakung, meja kantor di gudang, wajah Januar ketika penjaga memanggil dari balik pintu, lalu perjalanan pulang yang masih menyisakan janji untuk malam ini. Nadya menarik selimut sampai menutupi sebagian wajah sambil mengumpat pelan.“Sialan.”Bukannya menghilang, ingatan itu justru membuat tubuhnya kembali mengingat lebih cepat daripada pikirannya. Kehangatan yang semalam belum benar-benar

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BELUM SELESAI

    Kamis, 5September 2002Nadya tidak langsung menjawab.Pinggulnya masih menempel di tepi meja, rok panjangnya sudah tersingkap jauh di atas paha, sementara Januar berdiri tepat di antara kedua kakinya. Napas Nadya belum kembali teratur setelah permainan yang sejak restoran sengaja ia mulai sendiri.“Kalau mau berhenti,” bisiknya, “dari tadi sudah kusuruh pulang.”Senyum Januar muncul.Tangannya meraih pinggang Nadya dan menggeser tubuhnya lebih jauh ke atas meja. Nadya spontan mencengkeram bahunya ketika punggungnya menyentuh permukaan kayu yang dingin. Map dan beberapa lembar kertas bergeser di dekat kepalanya.Satu kakinya menekuk di atas meja, kaki lainnya menggantung di sisi tubuh Januar. Rok yang sejak awal malam terlihat begitu sopan kini menumpuk di atas paha.“Januar...”“Katanya jangan berhenti.”Nadya baru hendak membalas ketika lelaki itu menunduk lagi.

  • Nadya di Antara Dua Dunia   JANGAN TIDUR CEPAT

    Rabu, 4 September 2002Sedan hitam berhenti tidak jauh dari gerbang kos pukul setengah sepuluh lewat sedikit. Nadya yang sudah menunggu hampir sepuluh menit langsung mengenali Januar ketika lelaki itu turun dari balik kemudi, tetapi ia tetap memandang beberapa detik lebih lama.Januar berubah. Kemeja biru muda yang rapi, rambut lebih pendek, dan cara membawa dirinya membuat lelaki lapangan yang dulu lebih sering Nadya lihat berkeringat di Bangka seperti tertinggal beberapa langkah di belakang. Tatapan Januar pun segera menyapu blus krem dan rok lebar Nadya yang jatuh sopan di bawah betis.“Semalam sudah kubilang jangan pakai baju yang bikin susah konsentrasi.”Nadya melihat roknya sendiri sambil menahan senyum. “Ini malah sopan.”“Itu yang bikin curiga.”Januar membukakan pintu. Begitu duduk, Nadya baru menyadari sedan yang mereka naiki bukan kendaraan pinjaman partner Jakarta seperti bebe

  • Nadya di Antara Dua Dunia   DI LUAR GINZA

    Selasa, 3 September 2002.Kelas pagi selesai beberapa menit lewat pukul sepuluh. Nadya belum hafal semua nama teman seangkatannya ketika ia sudah memasukkan buku ke tas dan berdiri. Clara yang masih merapikan catatan langsung menoleh.“Cepat amat. Mau kerja?”“Ada urusan.”“Kerja?”Nadya mengangkat bahu. “Kayaknya.”Clara tertawa. “Kerja kok kayaknya.”Nadya sendiri belum tahu harus menyebut apa undangan Matsuda semalam. Ia bukan pegawai perusahaan itu, bukan penerjemah, bahkan belum pernah datang ke kantor Jepang untuk urusan resmi. Matsuda hanya meminta dirinya ikut dan membantu kalau pembicaraan dengan pihak Indonesia kembali tersendat.Dari kampus Nadya menuju Ginza lebih dulu. Tempat itu terasa berbeda ketika didatangi menjelang siang. Lampu utama menyala terang, kursi-kursi kosong, tidak ada asap rokok atau suara gelas. Tanpa kehidupan malamnya, Ginza tampak jauh lebih kecil.Mami sudah menunggu.“Kamu pakai itu?”Nadya melihat blus putih, rok hitam selutut, dan sepatu tertutup

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status