Share

DI LUAR GINZA

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-09-28 14:18:13

Selasa, 3 September 2002.

Kelas pagi selesai beberapa menit lewat pukul sepuluh. Nadya belum hafal semua nama teman seangkatannya ketika ia sudah memasukkan buku ke tas dan berdiri. Clara yang masih merapikan catatan langsung menoleh.

“Cepat amat. Mau kerja?”

“Ada urusan.”

“Kerja?”

Nadya mengangkat bahu. “Kayaknya.”

Clara tertawa. “Kerja kok kayaknya.”

Nadya sendiri belum tahu harus menyebut apa undangan Matsuda semalam. Ia bukan pegawai perusahaan itu, bukan penerjemah, bahkan belum pernah dat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BELUM SELESAI

    Kamis, 5September 2002Nadya tidak langsung menjawab.Pinggulnya masih menempel di tepi meja, rok panjangnya sudah tersingkap jauh di atas paha, sementara Januar berdiri tepat di antara kedua kakinya. Napas Nadya belum kembali teratur setelah permainan yang sejak restoran sengaja ia mulai sendiri.“Kalau mau berhenti,” bisiknya, “dari tadi sudah kusuruh pulang.”Senyum Januar muncul.Tangannya meraih pinggang Nadya dan menggeser tubuhnya lebih jauh ke atas meja. Nadya spontan mencengkeram bahunya ketika punggungnya menyentuh permukaan kayu yang dingin. Map dan beberapa lembar kertas bergeser di dekat kepalanya.Satu kakinya menekuk di atas meja, kaki lainnya menggantung di sisi tubuh Januar. Rok yang sejak awal malam terlihat begitu sopan kini menumpuk di atas paha.“Januar...”“Katanya jangan berhenti.”Nadya baru hendak membalas ketika lelaki itu menunduk lagi.

  • Nadya di Antara Dua Dunia   JANGAN TIDUR CEPAT

    Rabu, 4 September 2002Sedan hitam berhenti tidak jauh dari gerbang kos pukul setengah sepuluh lewat sedikit. Nadya yang sudah menunggu hampir sepuluh menit langsung mengenali Januar ketika lelaki itu turun dari balik kemudi, tetapi ia tetap memandang beberapa detik lebih lama.Januar berubah. Kemeja biru muda yang rapi, rambut lebih pendek, dan cara membawa dirinya membuat lelaki lapangan yang dulu lebih sering Nadya lihat berkeringat di Bangka seperti tertinggal beberapa langkah di belakang. Tatapan Januar pun segera menyapu blus krem dan rok lebar Nadya yang jatuh sopan di bawah betis.“Semalam sudah kubilang jangan pakai baju yang bikin susah konsentrasi.”Nadya melihat roknya sendiri sambil menahan senyum. “Ini malah sopan.”“Itu yang bikin curiga.”Januar membukakan pintu. Begitu duduk, Nadya baru menyadari sedan yang mereka naiki bukan kendaraan pinjaman partner Jakarta seperti bebe

  • Nadya di Antara Dua Dunia   DI LUAR GINZA

    Selasa, 3 September 2002.Kelas pagi selesai beberapa menit lewat pukul sepuluh. Nadya belum hafal semua nama teman seangkatannya ketika ia sudah memasukkan buku ke tas dan berdiri. Clara yang masih merapikan catatan langsung menoleh.“Cepat amat. Mau kerja?”“Ada urusan.”“Kerja?”Nadya mengangkat bahu. “Kayaknya.”Clara tertawa. “Kerja kok kayaknya.”Nadya sendiri belum tahu harus menyebut apa undangan Matsuda semalam. Ia bukan pegawai perusahaan itu, bukan penerjemah, bahkan belum pernah datang ke kantor Jepang untuk urusan resmi. Matsuda hanya meminta dirinya ikut dan membantu kalau pembicaraan dengan pihak Indonesia kembali tersendat.Dari kampus Nadya menuju Ginza lebih dulu. Tempat itu terasa berbeda ketika didatangi menjelang siang. Lampu utama menyala terang, kursi-kursi kosong, tidak ada asap rokok atau suara gelas. Tanpa kehidupan malamnya, Ginza tampak jauh lebih kecil.Mami sudah menunggu.“Kamu pakai itu?”Nadya melihat blus putih, rok hitam selutut, dan sepatu tertutup

  • Nadya di Antara Dua Dunia   MAHASISWI

    Senin, 2 September 2002.Tulisan di papan belum banyak ketika Nadya sadar satu hal: ia akhirnya benar-benar duduk di ruang kuliah Atma Jaya.Bukan datang untuk bertanya biaya. Bukan membawa map legalisir. Bukan menghitung apakah uangnya cukup sampai semester berikutnya.Ia mahasiswa.Dosen di depan sedang menjelaskan persamaan dasar akuntansi ketika perempuan berkacamata yang duduk di sebelahnya berbisik, “Aku sudah mulai pusing.”Nadya melirik catatannya. “Baru dua puluh menit.”“Itu masalahnya.”Nadya hampir tertawa.Perempuan itu mengulurkan tangan di bawah meja. “Clara.”“Nadya.”“Kalau nanti aku enggak ngerti jurnal, aku nyontek catatanmu.”“Bayar.”Clara menatapnya sebentar, lalu tertawa tertahan.Percakapan mereka berhenti ketika dosen menoleh. Nadya kembali mencatat, tetapi senyumnya masih tertinggal.Di ruangan itu tidak ada yang mengenalnya sebagai Dira. Bagi Clara, dosen, dan mahasiswa lain, ia hanya Nadya, mahasiswa baru Akuntansi yang duduk di baris tengah dan cukup cepat

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TIGA KALI

    Senin, 18 Maret 2002.Yuli datang ke kos Nadya menjelang sore untuk mengambil oleh-oleh dari Bali. Begitu pintu dibuka, bukannya melihat kantong-kantong yang sudah berjejer di lantai, matanya justru berhenti pada wajah sepupunya.“Kau kurang tidur, ya?”Nadya menyodorkan sebungkus kacang. “Makan saja.”Yuli menangkapnya sambil tertawa. “Berarti benar.”Selain kacang, Nadya membawa kopi, beberapa makanan ringan, kaus Bali, dan gantungan kecil. Tidak ada yang mahal, tetapi Yuli tetap memeriksa semuanya seperti Nadya baru kembali dari luar negeri.“Empat hari saja bawa begini. Kalau nanti benar-benar ke Jepang, jangan pura-pura lupa punya sepupu.”“Aku belajar bahasa Jepang bukan buat jadi kurir oleh-oleh.”Yuli terkekeh. “Sekarang ngomongnya sudah kayak orang sibuk.”Mereka duduk bersila di lantai sambil membuka makanan. Cerita Bali mengalir tanpa urut

  • Nadya di Antara Dua Dunia   SATU PAGI LAGI

    Minggu, 17 Maret 2002.Nadya terbangun sekitar pukul tujuh ketika cahaya pagi baru menyusup dari sela tirai. Matanya masih berat dan tubuhnya menyisakan pegal dari kemarin, tetapi begitu pandangannya jatuh pada pintu balkon, kantuk itu perlahan menghilang. Rencana liar yang semalam hanya hidup di kepalanya kembali begitu jelas hingga bagian bawah perutnya berdenyut pelan.Yamamoto masih tertidur pulas di sebelahnya. Nadya menatap wajah lelaki itu sebentar, kemudian turun dari tempat tidur tanpa membangunkannya dan masuk ke kamar mandi.Air hangat membersihkan sisa keringat dan rasa lengket pada tubuhnya. Di depan cermin Nadya teringat obrolan perempuan-perempuan Ginza tentang cara mereka merawat tubuh. Salah satunya pernah bercerita bahwa merapikan rambut sampai sangat pendek membuat sentuhan terasa berbeda. Waktu itu Nadya hanya tertawa.Pagi ini rasa penasarannya menang.Dengan gunting kecil dari perlengkapan pribadinya, Nadya merapikannya perlah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status