Share

Bab 10

Author: widiabd
last update Last Updated: 2025-12-25 11:25:57

Nala menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, ia membuka pintu kamar. Di ruang tamu, Pak Bakti sudah duduk di sofa panjang dengan wajah yang sangat datar, ditemani sang ibu di sisi kiri sementara Banyu berdiri bersandar pada pilar pintu dengan tangan bersedekap, menatap adiknya tajam. Bajunya yang tadi basah kini sudah berganti dengan sweater tebal berwarna abu.

"Duduk, Nala," perintah Pak Bakti. Suaranya tidak tinggi, namun getaran kekecewaan di dalamnya jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Banyu tadi di jalan.

Nala duduk di sofa tunggal, meremas jemarinya yang masih terasa dingin. "Pa... Ma... maafin Nala," cicitnya lirih, nyaris tenggelam dalam keheningan ruangan.

"Perjalanan dari sini ke kota itu satu jam lebih, Nala." Pak Bakti memulai bicaranya, nadanya getir. "Bisa-bisanya kamu pergi ke sana, sendirian?" Pak Bakti mengembuskan napas panjang, "Dan kamu juga bohong, izinnya ke mana perginya ke mana. Papa kecewa, Nala."

"Maaf, Pa. Aku cuma pengin nonton film yang udah lama aku tunggu, Pa... Aku pikir bakal pulang sebelum ashar, tapi aku malah kebablasan," cicit Nala pelan, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan.

"Nonton?!" potong Banyu dengan nada tinggi. "Cuma demi film dua jam, kamu bikin Mama nangis seharian? Kalau Mas Hanggara nggak lewat sana, kamu bisa dirampok atau kecelakaan di tengah hutan itu. Ponsel mati, motor mogok, siapa yang mau nolong kamu di sana?"

Nala kembali terisak. Rasa bersalahnya kini benar-benar mencapai puncaknya. Ia merasa sangat egois telah menukar ketenangan hati orang tuanya dengan kesenangan sesaat di bioskop.

"Besok, jangan harap kamu bisa pegang kunci motor lagi," putus Pak Bakti tegas. "Papa nggak mau dengar alasan apa pun. Selama kamu di sini, kamu nggak boleh pergi ke mana-mana sendirian tanpa seizin kami."

"Tapi, Pa..."

"Sudah, masuk kamar. Renungin kesalahanmu," Pak Bakti memotong kalimat Nala, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu tanpa menoleh lagi, ibunya hanya menatap Nala dengan tatapan kasihan, ada perasaan sedih karena tidak bisa membela anak bungsunya. Kemudian ia mengikuti langkah sang suami.

Banyu mendengus kasar melihat adiknya yang masih terisak. "Masuk kamar, tidur. Jangan nangis lagi,"

Banyu kemudian berlalu menuju dapur, meninggalkan Nala sendirian dalam kesunyian yang menyiksa. Nala kembali ke kamarnya dengan hati yang berat.

Ia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar yang tampak remang. Kata-kata Banyu terus terngiang, mengingatkannya betapa ceroboh tindakannya hari ini. Nala melirik tas belanjaannya yang tergeletak di pojok ruangan, baju baru dan kosmetik yang tadi ia beli dengan antusias, kini tak lebih dari sekadar tumpukan benda yang memuakkan untuk dipandang. Ternyata benar, kebahagiaan yang dibeli dengan kebohongan tidak pernah berakhir manis.

Ponselnya yang baru saja menyala menampilkan belasan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan-pesan bernada panik dari seluruh anggota keluarganya, termasuk Dimas dan Tari yang berada di kota. Ia menaruh ponsel itu di samping bantal dan menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya, mencoba meredam isak tangis yang kembali pecah.

Di tengah kesedihannya, pikiran Nala tiba-tiba melayang pada sosok Hanggara. Pria itu melihatnya dalam keadaan yang paling menyedihkan. Basah kuyup, menangis sesenggukan, dan dimarahi habis-habisan oleh kakaknya. Nala merasa harga dirinya jatuh ke titik terendah. Namun di sisi lain, ia tidak bisa memungkiri rasa aman yang ia rasakan saat berada di dalam mobil SUV pria itu.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan. Ibunya masuk membawa segelas susu hangat dan sepotong roti. Bu Raras tidak berkata apa-apa, beliau hanya meletakkannya di nakas lalu duduk di tepi ranjang, mengusap punggung Nala yang masih terbungkus selimut.

"Diminum dulu, biar badannya hangat," bisik Bu Raras lembut. "Maafin Papa sama Mas Banyu ya. Mereka cuma takut sekali kehilangan kamu. Tadi waktu kamu belum pulang, Papa sama Mas Banyu sampai keliling desa sampai desa sebelah buat cari kamu. Mama juga nggak bisa tenang nungguin kabar dari mereka. Mama sama Papa baru bisa sedikit lega pas Mas Banyu bilang kamu lagi sama Mas Hanggara."

Nala menyembul dari balik selimut dengan mata sembab. "Nala minta maaf, Ma. Nala salah banget."

"Iya, jadikan pelajaran. Besok pagi, minta maaf lagi sama Papa dan Mas Banyu. Nanti, jaket sama selimut Mas Hanggara biar Mama cuci yang bersih. Besok sore kalau sudah kering, kamu harus antar ke rumahnya sekaligus berterima kasih secara resmi. Biar Mas Banyu yang antar kamu ke sana."

Nala hanya bisa mengangguk pasrah. Membayangkan harus bertemu Hanggara lagi besok membuat jantungnya berdegup tak karuan karena malu, namun ia tahu itu adalah hal minimal yang harus ia lakukan untuk membalas budi pria yang telah melindunginya malam ini.

---

Namun, siapa sangka rencana itu tidak berjalan mulus. Keesokan paginya, Nala benar-benar tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya terasa berat, tulang-tulangnya linu, dan kepalanya berdenyut hebat. Saat Bu Raras masuk untuk membangunkannya, beliau terkejut melihat wajah putri bungsunya yang memerah, dan suhu tubuhnya yang meningkat.

"Lho, Nala? Badanmu panas sekali, Nduk," seru Bu Raras panik sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Nala. "Ya Allah, ini demam tinggi!"

Nala hanya mampu merespons dengan gumaman lirih. Guyuran hujan deras semalam, ditambah kondisi fisiknya yang kelelahan dan tekanan batin karena rasa takut, rupanya telah meruntuhkan daya tahan tubuhnya. Jangankan untuk pergi mengantarkan jaket ke rumah Hanggara, untuk sekadar duduk pun dunianya terasa berputar.

Mas Banyu yang mendengar teriakan ibunya segera masuk ke kamar. Amarah yang semalam meluap-luap seketika sirna begitu melihat Nala terbaring lemah dengan napas yang panas. Ia mendengus pelan, namun tetap bergerak membantu ibunya mengambilkan kompresan. Tak lama, dia kembali dengan baskom berisi air hangat dan lap kecil.

"Tuhkan, dibilangin juga apa. Gaya-gayaan mau ke kota, akhirnya tepar juga," gerutu Banyu, meski nadanya kini lebih terdengar seperti rasa khawatir daripada kebencian.

"Udah, Mas. Jangan diungkit lagi, mending sekarang Mas Banyu ke apotek aja, beliin obat penurun demam. Mama lupa nyetok,"

Banyu terdiam sejenak, melihat adiknya yang kini hanya bisa memejamkan mata dengan napas yang pendek-pendek. Ia menghela napas, rasa bersalah karena telah membentak Nala habis-habisan semalam mulai menyelinap.

"Iya, iya. Mas ke apotek sekarang," jawab Banyu pelan sambil beranjak keluar.

Setelah kepergian Banyu, kini giliran Pak Bakti yang masuk. Sepertinya ia baru diberitahu Banyu kalau Nala sedang sakit, terlihat dari cara berjalannya yang sedikit tergesa-gesa.

"Kenapa? Kata Mas Banyu Nala sakit?" Tanya sang ayah seraya duduk di sisi tempat tidur, tepat disamping Nala. Tangannya terulur untuk menyentuh leher Nala, dan ia berdesis saat merasakan panas yang luar biasa. "Panas banget, Ma. Apa nggak kita bawa ke puskesmas aja?" Tanya Pak Bakti.

"Di kompres dulu aja, Pa. Banyu juga lagi beli obat, kalau nanti siang nggak ada perubahan baru kita bawa ke puskesmas."

Pak Bakti menghela napas panjang, tangannya dengan setia mengelus puncak kepala Nala. "Maafin Papa udah marahin kamu semalam, Papa cuma terlalu khawatir." ucapnya.

Nala hanya mampu membalas dengan anggukan lemah dan remasan pelan pada tangan sang ayah. Matanya berkaca-kaca, merasakan kasih sayang yang begitu besar di balik ketegasan ayahnya semalam.

"Sudah, jangan nangis lagi. Papa udah nggak marah," kata Pak Bakti lembut. Beliau menoleh ke arah istrinya. "Ma, sebaiknya Nala dibuatkan bubur dulu supaya bisa minum obat kalau Banyu sudah datang."

"Iya, Pa. Ini Mama mau ke dapur sebentar buat bikin bubur halus. Papa jagain Nala dulu ya, nanti kompresannya diganti kalau udah dingin," jawab Bu Raras seraya mengusap dahi Nala sekali lagi sebelum beranjak keluar kamar.

Kamar kembali hening, hanya menyisakan suara embusan angin pagi yang masuk melalui celah jendela. Pak Bakti masih setia duduk di samping Nala, sesekali membenarkan letak kompresan yang mulai miring. Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, lalu terdengar bunyi grasak-grusuk dari luar.

"Mana anak nakal itu? Masih tidur?" suara seseorang terdengar dari ruang tengah, nada bicaranya menunjukkan perpaduan antara jengkel dan cemas. Namun, langkah kakinya langsung melambat saat Bu Raras memberitahu dengan suara pelan bahwa Nala sedang terkapar demam di dalam kamar.

Pintu kamar terbuka, dan muncullah sosok laki-laki dewasa yang tak lain adalah Dimas, lalu disusul oleh sang istri di belakangnya. Tanpa banyak bicara, Dimas menghampiri Pak Bakti untuk mencium tangannya, lalu duduk di sisi kiri tempat tidur, kemudian mengecek suhu tubuh sang adik. Tari di belakangnya hanya mengikuti.

"Beneran habis dari kota kemarin dia, Pa?" tanya Dimas pada sang ayah.

"Iya, terus motornya mogok pas mau pulang. Untung ketemu Mas Hanggara,"

"Rasain, itu akibat bohongin orang tua. Kena batunya, kan."

"Hush, Mas. Jangan diomelin, adeknya lagi sakit juga," potong Tari sembari menepuk pelan bahu suaminya. Ia kemudian membungkuk, menyentuh pipi Nala yang terasa sangat panas. "Sabar ya, Dek. Nanti kalau obatnya datang langsung diminum supaya panasnya turun."

Dimas menghela napas panjang, kemarahannya perlahan luruh melihat kondisi sang adik yang biasanya sangat lincah kini tak berdaya. "Dimas tadi malam mau langsung ke sini, Pa. Tapi Banyu bilang kondisinya sudah aman. Nggak tahunya pagi ini malah tumbang begini," ucap Dimas dengan nada yang jauh lebih melunak.

Tak lama kemudian, Banyu masuk ke kamar dengan tangan menggenggam kantong plastik kecil berisi obat-obatan dari apotek. Bersamaan dengan itu, Bu Raras muncul membawa nampan berisi semangkuk bubur halus yang masih mengepulkan uap panas.

Kini, kamar Nala yang tidak terlalu luas itu terasa sangat penuh oleh seluruh anggota keluarganya. Pak Bakti masih setia duduk di sisi ranjang, Dimas dan Tari berdiri di ujung kaki tempat tidur, sementara Banyu berdiri di dekat pintu setelah menyerahkan obat kepada ibunya.

"Ayo, Nduk. Makan dulu sedikit ya, biar perutnya nggak kosong sebelum minum obat," bujuk Bu Raras lembut sembari perlahan membantu Nala untuk sedikit bersandar pada bantal yang ditumpuk.

Nala membuka matanya yang sayu, menatap satu per satu wajah anggota keluarganya yang memenuhi ruangan. Meskipun kepalanya terasa sangat berat dan badannya menggigil hebat, ada rasa haru yang menyelusup di dadanya. Semalam ia merasa seperti seorang pesakitan yang sangat berdosa, namun pagi ini, semua orang yang ia bohongi justru berkumpul di sekelilingnya dengan raut khawatir.

Banyu, yang semalam paling keras membentaknya, kini hanya terdiam menatap adiknya dengan pandangan prihatin. "Makan yang banyak, Dek. Biar cepat sembuh. Nanti kalau udah sembuh, mau ke kota pun Mas anterin," ucap Banyu pelan.

"Makasih, Mas... Maafin Nala ya semuanya," bisik Nala parau sebelum akhirnya menerima suapan bubur pertama dari ibunya.

***

Tbc.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status