Share

Bab 10

Author: widiabd
last update publish date: 2025-12-25 11:25:57

Keesokan harinya, jarum jam seakan bergerak lebih lambat bagi Nala. Sejak pukul tujuh pagi, ia sudah berada di warung, membantu Pak Bakti menata dagangan dengan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Ia mengenakan kemeja berbahan soft suede berwarna biru denim yang dipadukan dengan celana jeans, tampilan yang ia pilih setelah bongkar muat isi lemari selama hampir satu jam sebelum berangkat ke warung.

Tepat pukul sebelas, sebuah mobil berwarna hitam metalik yang mengkilap berhenti di depan warung. Bukan pikap yang biasa digunakan Hanggara untuk mengangkut barang, melainkan mobil SUV yang terlihat sangat gagah dan terawat.

Nala tertegun sejenak. Sosok Hanggara keluar dari pintu kemudi, mengenakan kaos polo berwarna navy yang pas di badannya, membuat bahunya terlihat lebih tegap. Kesan kaku yang biasanya melekat saat ia mengendarai pikap, kini berganti dengan aura yang lebih santai namun tetap berwibawa.

"Assalamualaikum," ucap Hanggara dengan suara rendahnya yang khas.

Pak Bakti, yang sedang duduk di balik meja kasir bersama Nala, mendongak dan tersenyum lebar. "Waalaikumsalam. Mas Gara kok ganteng tenan hari ini? Mau ke mana?"

Hanggara tersenyum tipis, "Saya ada urusan dengan Nala, Pak. Boleh saya ajak Nala makan siang sebentar?" tanyanya seraya melirik Nala yang duduk di samping Pak Bakti.

Pak Bakti menatap putrinya dan Hanggara bergantian dengan dahi berkerut heran. Seingatnya, interaksi mereka selama ini sangat terbatas. Sejak kapan Nala punya janji temu dengan Hanggara, sampai-sampai pria itu datang menjemput dengan mobil pribadi?

"Makan siang?" ulang Pak Bakti memastikan. Ia menoleh ke arah Nala, lalu kembali menatap Hanggara dengan mata menyipit penuh selidik. "Dalam rangka apa, Mas Gara ngajak anak saya makan siang?"

Nala menelan ludah, tangannya meremas ujung kemejanya di bawah meja kasir. Ia tidak menyangka Hanggara akan langsung mengutarakan niatnya di depan ayahnya tanpa basa-basi sedikit pun.

Hanggara, yang menyadari tatapan penuh selidik Pak Bakti, tetap berdiri tegak dengan sikap tenang yang berwibawa. "Nala punya utang sama saya, Pak," jawabnya santai namun tetap sopan.

"Utang?" Pak Bakti semakin bingung, alisnya hampir bertaut. "Nala, kamu utang apa sama Mas Gara?"

"Bukan, Pa! Bukan gitu," sela Nala cepat dengan wajah yang sudah merah padam sampai ke telinga. "Itu... kemarin pas di pasar, Mas Gara bayarin jajanan aku karena dompetku ketinggalan. Terus aku janji mau traktir balik sebagai gantinya. Iya, kan, Mas?" Nala melempar tatapan memohon pada Hanggara agar pria itu membantu memperjelas situasi.

Hanggara mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tampak jenaka. "Iya, Pak. Dan kebetulan perut saya lagi kangen soto di dekat alun-alun, jadi saya tagih janjinya sekarang. Takutnya kalau kelamaan, Nalanya lupa."

Pak Bakti terdiam sejenak, memandangi Hanggara dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu beralih menatap putrinya. Seulas senyum penuh arti perlahan muncul di wajah tua itu. Sebagai orang tua yang sudah makan asam garam, ia tahu alasan traktir balik itu hanyalah pintu masuk.

"Oalah... jadi begitu," Pak Bakti tertawa renyah sambil menepuk meja. "Ya udah, bawa aja sana. Nala dari tadi di sini juga cuma bengong terus, mending diajak makan biar otaknya segar lagi. Tapi Mas Gara harus tahu, anak saya ini porsinya banyak kalau makan, jangan kaget nanti."

"Papa! Ih, apa sih!" rengek Nala malu.

Hanggara hanya tersenyum tipis, tidak merasa terganggu dengan godaan Pak Bakti. "Saya izin bawa Nala sebentar ya, Pak. Cuma makan siang di dekat alun-alun."

"Iya, iya. Hati-hati bawa mobilnya, Mas Gara. Ingat, Mas Gara lagi bawa anak kesayangan saya, jangan sampai lecet," sahut Pak Bakti sambil melambaikan tangan, memberikan restu yang jauh lebih mudah dari yang Nala bayangkan.

Nala segera menyambar tasnya, berjalan cepat melewati ayahnya tanpa berani menoleh lagi. Saat Hanggara membukakan pintu mobil untuknya, Nala bisa merasakan tatapan menggoda dan tawa kecil ayahnya yang kini sudah berdiri di depan warung.

Pintu SUV itu tertutup dengan bunyi bum yang mantap, seketika meredam riuhnya suara jalanan. Di dalam mobil, hawa sejuk dari AC langsung menyambut kulit Nala yang sejak tadi terasa panas karena malu.

Hanggara memutari mobil dan duduk di kursi kemudi. Keadaan mendadak menjadi sangat sunyi, hanya ada suara mesin yang menderu halus. Nala meremas tali tasnya kuat-laki, bingung harus memulai pembicaraan dari mana.

"Pasang seatbelt-nya, Nala," ujar Hanggara memecah keheningan.

"Eh, iya, Mas." Nala menarik seatbelt dengan gerakan kikuk, bahkan sempat kesulitan memasukkannya ke pengait sampai Hanggara harus sedikit mencondongkan tubuh untuk membantu. Jarak yang tiba-tiba mengikis itu membuat Nala menahan napas, namun Hanggara segera kembali ke posisinya dan mulai menjalankan mobil.

"Jangan dengerin Papa, Mas. Papa cuma bercanda," gumam Nala sambil menatap ke luar jendela, berusaha menyembunyikan pipinya yang masih merona. "Porsi makan saya nggak sebanyak yang dibilang Papa, kok."

Hanggara terkekeh pelan sembari memutar kemudi dengan satu tangan. "Nggak apa-apa. Saya lebih suka orang yang makannya lahap, kok." Ia melirik Nala sekilas melalui spion tengah sebelum kembali fokus pada jalanan. "Kamu sering ke alun-alun?"

"Jarang, Mas. Paling kalau lagi kepengin jajan aja," jawab Nala. "Mas Hanggara sendiri kenapa tiba-tiba kangen soto di sana?"

Hanggara terdiam sejenak, wajahnya yang kaku melunak saat mengenang sesuatu. "Saya udah langganan makan soto di sana sejak kecil. Waktu sekolah dulu, tiap kali saya merasa capek atau habis ujian, saya selalu lari ke warung soto itu. Rasanya nggak berubah sejak saya kecil. Pas kuliah di Yogyakarta pun, rasa itu yang paling sering bikin kangen rumah. Terus kemarin tiba-tiba saya kepengin makan soto di sana."

Nala menoleh, sedikit terkejut mendengar penuturan itu. Ia tidak menyangka sosok kaku seperti Hanggara bisa memiliki sisi nostalgia yang begitu manis. "Oh, jadi soto itu semacam comfort food buat Mas, ya?"

"Bisa dibilang begitu," sahut Hanggara singkat. Mobil SUV hitam itu melaju stabil, membelah jalanan yang ramai dengan puluhan kendaraan. "Dulu saya sering ke sana sendiri. Baru kali ini kepikiran mau ajak orang lain."

Kalimat itu meluncur begitu saja, namun dampaknya luar biasa bagi Nala. Baru kali ini? Dada Nala berdesir hebat. Ia kembali membuang muka ke arah jendela, pura-pura asyik melihat barisan pepohonan yang berlarian di luar, padahal ia hanya berusaha mengatur detak jantungnya yang mulai berantakan.

---

Mobil SUV hitam milik Hanggara melambat, kemudian berbelok masuk ke sebuah pelataran parkir yang cukup luas di samping sebuah bangunan tua bergaya kolonial. Bangunannya tampak kokoh dengan tembok putih tebal dan jendela-jendela kayu besar yang dicat hijau tua. Di atas pintu masuk, sebuah papan kayu jati bertuliskan "Soto Pak Kumis - Sejak 1975" tergantung dengan gagah.

Nala terpaku sejenak memandangi arsitektur bangunan yang terawat itu. Berbeda dengan warung soto pada umumnya yang berada di tenda pinggir jalan, tempat ini memancarkan kesan hangat dan klasik. Pohon mangga besar di sudut halaman memberikan keteduhan, membuat udara di sekitar bangunan terasa lebih sejuk.

Meskipun warung soto ini sudah melegenda dan menjadi favorit banyak orang, tapi Nala baru pertama kali menginjakkan kakinya di sini.

"Ayo," ajak Hanggara setelah mematikan mesin.

Saat melangkah masuk, denting lonceng kecil di atas pintu menyambut kedatangan mereka. Suasana di dalam sangat nyaman. Langit-langit yang tinggi dengan kipas angin gantung yang berputar pelan, serta meja-meja kayu jati panjang yang tampak mengkilap. Aroma kaldu yang kaya akan rempah langsung menyerbu indra penciuman Nala, membuatnya tiba-tiba merasa lapar.

"Mas Hanggara!" Seorang pria paruh baya mengenakan celemek berwarna hijau tua menyapa dari balik meja kasir. "Walah, udah lama sekali ndak mampir. Itu kursi favoritnya kebetulan kosong, Mas."

Hanggara mengangguk sopan dan membimbing Nala menuju sebuah meja di sudut ruangan, tepat di samping jendela besar yang menghadap ke arah alun-alun. Dari sini, mereka bisa melihat hiruk pikuk orang di kejauhan.

"Seperti biasa, Mas?" tanya pria tadi sambil menghampiri meja mereka.

"Nggih, Pak. Punya saya seperti biasa, minumnya teh hangat aja." jawab Hanggara. Ia terdiam sejenak, lalu melirik Nala sebelum melanjutkan, "Kamu gimana, Nala?"

"Saya soto ayam aja, Pak. Tapi jangan pakai daun bawang sama seledri, minumnya air mineral."

Pria paruh baya itu mencatat pesanan dengan cekatan, lalu memberikan kerlingan jenaka ke arah Hanggara, menggoda sang pelanggan yang biasanya datang sendri, sebelum berlalu menuju dapur. Suasana di meja itu kembali hening, namun bukan keheningan yang menyesakkan.

"Ternyata kamu nggak suka daun bawang dan seledri," cetus Hanggara, memecah kesunyian sembari menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

Nala menoleh, tertawa kecil. "Bukan nggak suka, Mas. Cuma kalau makan soto, saya lebih suka rasa kaldunya bersih, nggak terganggu aroma daun-daunan. Mas sendiri, yang seperti biasa itu yang kayak gimana?"

Hanggara menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tampak sangat rileks. "Double daging, ekstra jeruk nipis, dan yang paling penting, sate kerang sama sate parunya masing-masing dua."

Nala manggut-manggut, matanya melirik sekilas pada deretan piring berisi aneka sundukan di balik etalase, dekat dengan meja kasir.

Tak lama kemudian, dua mangkuk soto ayam yang mengepul panas mendarat di meja mereka. Asap tipis membumbung dari permukaan kuah soto yang kuning keemasan, membawa aroma kunyit dan bawang putih goreng yang menggugah selera. Di hadapan Hanggara, sotonya tampak penuh dengan tambahan potongan sate paru dan sate kerang yang sudah ia lepaskan dari tusuknya, sementara mangkuk Nala terlihat lebih bening dan minimalis tanpa taburan hijau daun.

"Cobain kuahnya dulu sebelum kamu tambah sambal," saran Hanggara, begitu melihat Nala sudah memegang sendok kecil berisi sambal merah. "Soto Pak Kumis pakai kaldu ayam kampung, rasanya udah kuat meski tanpa tambahan apa-apa."

Nala menurut. Ia menyeruput sesendok kuah beningnya. Matanya seketika membulat. "Wah... Mas bener. Segar banget!"

***

Tbc.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 25

    Setelah sekitar satu jam bergulat dengan bumbu dapur, aroma harum sayur lodeh, tempe goreng dan sambal goreng mulai memenuhi ruangan. Nala baru saja selesai menata piring-piring di atas meja makan kayu yang besar ketika terdengar suara pintu depan terbuka diikuti salam yang diucapkan bersamaan. "N

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 24

    Begitu melewati pintu jati yang kokoh, Nala disambut oleh suasana rumah yang sangat tenang. Di ruang tamu yang luas itu, seorang pria paruh baya yang masih tampak bugar duduk di sofa tunggal. Pria itu memakai koko putih dan sedang meletakkan korannya begitu menyadari kehadiran tamu."Nah, Pak, ini

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 22

    "Ya sudah, Pak Bakti, saya pamit dulu ya. Mau masak buat makan siang, nanti keburu bapaknya anak-anak pulang dari sawah," pamit Bu Lastri sambil menenteng tas belanjanya. Ia sempat melirik Nala sekali lagi dengan kerlingan usil. Sementara Nala masih sibuk dengan kegiatannya.Sepeninggal Bu Lastri,

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 21

    Namun, begitu bangunan warung kelontong milik ayahnya mulai terlihat, langkah Nala mendadak melambat. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat melihat sebuah mobil pikap terparkir gagah tepat di depan warung. Di bak belakang mobil itu, tumpukan karung beras berjajar rapi. Nala mematung sejen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status