Share

Bab 4

Penulis: widiabd
last update Tanggal publikasi: 2025-12-14 13:22:36

Meski air menghapus sisa lumpur sawah dari kulitnya, bayangan tangan besar Hanggara yang menariknya berdiri seolah masih terasa membekas di pikirannya. Suara bariton pria itu saat menyebutkan namanya terus bergema, menciptakan getaran aneh yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya. Selama di Jakarta, interaksi antarmanusia seringkali terasa transaksional dan cepat, namun di pematang sawah tadi, meski singkat, ada sebuah intensitas yang membuat napas Nala sempat tertahan.

Ia menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran itu. Sebuah decakan kesal lolos dari bibirnya. "Apa sih? Fokus, Nala! Papa udah nungguin!" gumamnya pada diri sendiri.

Namun, yang namanya perempuan tetaplah perempuan. Janji sepuluh menit hanyalah sebuah mitos belaka, apalagi bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan ritual perawatan diri di kota. Nala tidak hanya sekadar mandi, ia mencuci rambutnya yang terkena sedikit percikan lumpur, menyabun diri dua kali untuk memastikan bau tanah benar-benar hilang, dan tentu saja, ia menghabiskan waktu beberapa menit di depan cermin kamar mandi hanya untuk memastikan tidak ada sisa kotoran yang tertinggal di tubuhnya.

Ketika ia akhirnya keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit kepala, Nala tersentak melihat jam digital di meja kecil. Sudah lebih dari dua puluh menit.

"Duh, mampus!" keluhnya pelan.

Ia segera berlari ke arah lemari kayunya. Nala memutuskan untuk tampil sederhana namun tetap modis. Ia mengenakan celana kulot berwarna cokelat susu dan sebuah blus berbahan katun warna putih bersih dengan bordir bunga kecil di bagian kerah. Rambutnya yang masih setengah basah ia sisir dengan rapi dan dibiarkan terurai. Sedikit bedak tipis dan lip balm warna merah muda alami ia pulaskan agar wajahnya tidak terlihat pucat. Ia ingin terlihat segar saat bertemu orang-orang di warung nanti.

Nala menyambar tas selempang kecilnya lalu setengah berlari menghampiri Pak Bakti yang sudah duduk di kursi teras, sesekali melirik jam tangannya dengan raut wajah yang menunjukkan kesabaran seorang ayah yang sedang diuji.

"Maaf, Pa! Nungguin lama ya?" tanya Nala sambil nyengir.

Bu Raras muncul dari dalam rumah membawa sebuah tas plastik berisi bekal makan siang untuk anak dan suaminya. "Sepuluh menit katamu, Nala? Ini udah hampir setengah jam. Papamu itu sampai habis kopi segelas nungguin kamu."

"Hehehe, maaf, Ma. Janji deh besok-besok lebih cepat," Nala mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Nala berangkat dulu ya, Ma. Doain hari ini laris manis!"

"Iya, hati-hati. Bantuin Papa yang bener, jangan genit sama pembeli." goda Bu Raras sambil tertawa.

"Nggak lah, ya kali aku genit sama pembeli." ujar Nala seraya menghampiri Pak Bakti yang sudah berdiri dan mengenakan helmnya. Pak Bakti hanya menggeleng-geleng pelan, namun matanya memancarkan binar senang karena putri bungsunya benar-benar mau menemaninya bekerja. "Udah siap?"

"Siap, dong!"

Nala langsung naik ke boncengan motor matic ayahnya. Begitu mesin menderu pelan, motor itu bergerak meninggalkan halaman rumah mereka yang asri. Sepanjang perjalanan menuju warung, Nala memeluk pinggang ayahnya erat. Angin pagi yang masih sejuk menerpa wajahnya, membawa aroma khas pedesaan, perpaduan antara asap pembakaran kayu dari dapur-dapur warga, aroma pupuk sawah, dan wangi bunga kenanga yang tumbuh liar di pinggir jalan.

Warung Pak Bakti terletak di lokasi strategis, di persimpangan jalan desa yang menuju ke pasar kecamatan. Warung itu bukan sekadar warung kelontong kecil, bangunannya cukup luas dengan rak-rak berbahan besi yang tersusun rapi berisi segala macam kebutuhan pokok, mulai dari beras, minyak goreng, sabun, hingga alat tulis dan aneka makanan ringan.

Begitu mesin motor mati, Pak Bakti segera membuka rolling door hijau yang sedikit berkarat di bagian bawahnya. Nala membantu mendorong pintu besi itu hingga terbuka lebar, menyingkap jajaran barang yang tertata rapi. Warung ini menerapkan sistem semi-swalayan; pembeli bebas masuk dan mengambil keranjang plastik, lalu memilih sendiri barang di rak sebelum membawanya ke meja kasir. Sayangnya, karena belum ada komputer, semua transaksi masih dihitung secara manual.

Pak Bakti segera menghidupkan kipas angin langit-langit dan menyalakan lampu. "Nah, Nala. Kamu yang duduk di sini ya," ujar Pak Bakti sambil menunjuk kursi kayu tinggi di balik meja kasir. "Tugasmu tinggal hitung barang yang mereka bawa, daftar harganya ada di meja, catat kalau ada yang bon, dan jangan sampai salah kembalian."

"Oke, Pa!" jawab Nala mantap. Ia segera meletakkan tasnya dan mengambil posisi.

Tak butuh waktu lama, pelanggan pertama pun datang. Seorang wanita paruh baya dengan daster motif bunga-bunga masuk dan langsung menuju rak minyak goreng. Begitu melangkah ke kasir dengan dua botol minyak di tangan, matanya langsung membelalak melihat sosok di balik meja.

"Lho, ini Kanala kan Pak Bakti?" Wanita itu menatap Nala dari atas ke bawah, "Pangling sekali, makin ayu." Sambungnya.

Nala sedikit tersenyum kikuk. "Ibu bisa aja," jawabnya sopan.

"Kapan pulangnya, Nala? Kok betah sekali di kota sampai jarang pulang."

"Baru kemarin, Bu."

"Oalah, pantesan masih kinclong begini kulitnya," sahut ibu itu sambil terkekeh, meletakkan botol minyaknya di meja. "Jangan cepat-cepat balik ke Jakarta ya. Di sini udaranya enak, siapa tahu malah ketemu jodoh cah bagus asli desa sini."

Nala hanya membalas dengan tawa sopan sembari jemarinya lincah menghitung total belanjaan. Namun, dalam hati, ia mendadak teringat kembali pada sosok laki-laki di sawah tadi. Jodoh? Pikiran itu langsung ia tepis jauh-jauh.

---

Pagi itu berlalu dengan cepat. Warung Pak Bakti ternyata jauh lebih ramai dari yang Nala bayangkan. Satu per satu pelanggan berdatangan, mulai dari bapak-bapak yang mencari rokok hingga anak-anak kecil yang menyerbu rak es krim. Setiap kali ada pelanggan yang mengenalnya, pertanyaan yang sama selalu terlontar: "Kapan pulang?" atau "Sudah punya calon belum?". Dan Nala hanya menanggapi seperlunya.

Menjelang pukul sebelas, suasana sedikit lengang. Nala meregangkan pundaknya, mulai merasakan pegal-pegal.

"Capek?" tanya Pak Bakti sambil menyeruput kopi.

"Capek dikit, Pa," jawab Nala jujur.

Belum sempat Pak Bakti menimpali, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan warung. "Nah, itu, beras datang. Sebentar, Papa samperin dulu." Pak Bakti bergegas keluar warung. Nala ikut melirik ke arah depan. Tidak ada orang lain di sana, hanya satu sosok yang turun dari balik kemudi.

Hanggara.

Pria itu turun dengan gerakan yang efisien. Kaus oblong abu-abu yang ia kenakan melekat pas di tubuh tegapnya. Ia langsung bergerak ke belakang mobil, membuka pintu bak dengan dentuman logam yang mantap. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada tumpukan karung beras, seolah ia sedang mengejar waktu.

Nala mendadak merasa kursinya menjadi sangat tidak nyaman. Ia berpura-pura sibuk merapikan tumpukan nota di atas meja, menunduk sedalam mungkin agar rambutnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak ingin Hanggara menyadari keberadaannya, apalagi mengingat betapa kacau penampilannya saat mereka bertemu di sawah tadi pagi.

"Tumben sendiri, Mas? Biasanya sama karyawannya," sapa Pak Bakti akrab, menghampiri mobil bak tersebut.

"Nggih, Pak Bakti. Anak-anak lagi sibuk," suara bariton itu terdengar lebih jelas sekarang, berat dan tenang.

Dengan cekatan, Hanggara mulai memindahkan karung-karung beras seberat sepuluh kilogram itu ke pundaknya. Nala memperhatikan dari balik meja kasir dengan napas yang tertahan. Setiap kali pria itu bergerak, otot-otot lengannya menegang hebat di bawah sinar matahari yang sedang terik-teriknya. Ia mengangkut karung demi karung menuju gudang di samping warung.

Pak Bakti sibuk membantu mengarahkan letak karung di gudang, sementara Nala tetap terpaku di balik meja kasir. Ada rasa lega karena pria itu tidak melihatnya, namun di sudut hatinya yang paling kecil, muncul secuil perasaan aneh yang sulit ia definisikan, seperti sebuah ekspektasi yang tidak terpenuhi.

Setelah karung terakhir masuk ke gudang, Hanggara tidak lantas masuk ke dalam warung untuk sekadar bertegur sapa atau meminta minum. Ia hanya berdiri di samping mobilnya, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu memberikan selembar nota dan menerima beberapa lembar uang dari Pak Bakti yang menghampirinya.

"Terima kasih, Pak Bakti. Saya pamit dulu, masih ada kiriman ke tempat lain," ucap Hanggara singkat.

Ia kembali naik ke balik kemudi, menghidupkan mesin, dan segera memutar kemudi untuk meninggalkan area warung. Mobil bak itu bergerak menjauh, meninggalkan kepulan debu tipis di jalanan.

Nala baru berani mengangkat kepalanya setelah suara mesin mobil itu benar-benar hilang dari pendengaran. Ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Tak lama, Pak Bakti masuk lagi ke warung sambil menggenggam nota yang diberikan Hanggara. "Hanggara yang itu, kan, yang nolongin kamu tadi pagi?"

"Iya, dia jualan beras, Pa?"

"Bukan cuma jualan, dia itu juragan. Dia punya toko beras besar di pasar kecamatan, sawahnya banyak, bahkan sampai ke desa kita, dan dia juga punya ternak ayam petelur yang menyuplai telur ke hampir seluruh toko di kecamatan ini." jelas Pak Bakti sambil meletakkan nota di atas meja kasir.

Nala tertegun sejenak. Ia kembali melirik ke arah jalanan tempat mobil bak itu menghilang. Bayangan pria yang tadi memanggul karung sendirian dengan kucuran keringat seolah tidak sinkron dengan label "juragan" yang baru saja disebutkan ayahnya. Di Jakarta, seorang pemilik bisnis sebesar itu mungkin sudah duduk manis di ruangan ber-AC sambil memantau laporan lewat tablet, bukannya malah mengantar stok beras dan mandi keringat di bawah terik matahari.

"Tadinya Papa mau ngenalin kamu sama Mas Hanggara, tapi katanya dia masih ada kiriman ke tempat lain. Padahal kalau kalian kenalan, siapa tahu bisa cocok, terus Papa bisa punya menantu kayak dia," goda Pak Bakti sambil mengerling jenaka.

"Papa! Apa sih?" Nala langsung menunduk, kembali pura-pura sibuk merapikan tumpukan nota yang sebenarnya sudah rapi. Wajahnya mendadak terasa panas, bahkan bedak tipisnya tak mampu menutupi rona merah yang menjalar hingga ke telinga.

"Lho, Papa serius. Mas Hanggara itu bibit unggul. Udah ganteng, mapan, pinter kerja, sarjana pula. Daripada nyari orang kota yang kebanyakan gaya, mending sama juragan beras yang kerja nyata," lanjut Pak Bakti sembari terkekeh melihat kegugupan putrinya.

"Nala pulang ke sini bukan mau cari jodoh, Papa!" protes Nala dengan nada ketus yang dibuat-buat, meski di dalam hati, bayangan tangan kokoh Hanggara tadi pagi kembali melintas.

Pak Bakti hanya mengedikkan bahu ringan. "Ya siapa tahu, kan? Nanti kalau dia ke sini lagi, siapin senyum paling manis ya, Dek. Biar Mas Hanggara kepincut," ujarnya sambil tertawa kecil.

"Papa!"

***

Tbc.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status