MasukMeski air menghapus sisa lumpur sawah dari kulitnya, bayangan tangan besar Hanggara yang menariknya berdiri seolah masih terasa membekas di pikirannya. Suara bariton pria itu saat menyebutkan namanya terus bergema, menciptakan getaran aneh yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya. Selama di Jakarta, interaksi antarmanusia seringkali terasa transaksional dan cepat, namun di pematang sawah tadi, meski singkat, ada sebuah intensitas yang membuat napas Nala sempat tertahan.
Ia menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran itu. Sebuah decakan kesal lolos dari bibirnya. "Apa sih? Fokus, Nala! Papa udah nungguin!" gumamnya pada diri sendiri. Namun, yang namanya perempuan tetaplah perempuan. Janji sepuluh menit hanyalah sebuah mitos belaka, apalagi bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan ritual perawatan diri di kota. Nala tidak hanya sekadar mandi, ia mencuci rambutnya yang terkena sedikit percikan lumpur, menyabun diri dua kali untuk memastikan bau tanah benar-benar hilang, dan tentu saja, ia menghabiskan waktu beberapa menit di depan cermin kamar mandi hanya untuk memastikan tidak ada sisa kotoran yang tertinggal di tubuhnya. Ketika ia akhirnya keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit kepala, Nala tersentak melihat jam digital di meja kecil. Sudah lebih dari dua puluh menit. "Duh, mampus!" keluhnya pelan. Ia segera berlari ke arah lemari kayunya. Nala memutuskan untuk tampil sederhana namun tetap modis. Ia mengenakan celana kulot berwarna cokelat susu dan sebuah blus berbahan katun warna putih bersih dengan bordir bunga kecil di bagian kerah. Rambutnya yang masih setengah basah ia sisir dengan rapi dan dibiarkan terurai. Sedikit bedak tipis dan lip balm warna merah muda alami ia pulaskan agar wajahnya tidak terlihat pucat. Ia ingin terlihat segar saat bertemu orang-orang di warung nanti. Nala menyambar tas selempang kecilnya lalu setengah berlari menghampiri Pak Bakti yang sudah duduk di kursi teras, sesekali melirik jam tangannya dengan raut wajah yang menunjukkan kesabaran seorang ayah yang sedang diuji. "Maaf, Pa! Nungguin lama ya?" tanya Nala sambil nyengir. Bu Raras muncul dari dalam rumah membawa sebuah tas plastik berisi bekal makan siang untuk anak dan suaminya. "Sepuluh menit katamu, Nala? Ini udah hampir setengah jam. Papamu itu sampai habis kopi segelas nungguin kamu." "Hehehe, maaf, Ma. Janji deh besok-besok lebih cepat," Nala mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Nala berangkat dulu ya, Ma. Doain hari ini laris manis!" "Iya, hati-hati. Bantuin Papa yang bener, jangan genit sama pembeli." goda Bu Raras sambil tertawa. "Nggak lah, ya kali aku genit sama pembeli." ujar Nala seraya menghampiri Pak Bakti yang sudah berdiri dan mengenakan helmnya. Pak Bakti hanya menggeleng-geleng pelan, namun matanya memancarkan binar senang karena putri bungsunya benar-benar mau menemaninya bekerja. "Udah siap?" "Siap, dong!" Nala langsung naik ke boncengan motor matic ayahnya. Begitu mesin menderu pelan, motor itu bergerak meninggalkan halaman rumah mereka yang asri. Sepanjang perjalanan menuju warung, Nala memeluk pinggang ayahnya erat. Angin pagi yang masih sejuk menerpa wajahnya, membawa aroma khas pedesaan, perpaduan antara asap pembakaran kayu dari dapur-dapur warga, aroma pupuk sawah, dan wangi bunga kenanga yang tumbuh liar di pinggir jalan. Warung Pak Bakti terletak di lokasi strategis, di persimpangan jalan desa yang menuju ke pasar kecamatan. Warung itu bukan sekadar warung kelontong kecil, bangunannya cukup luas dengan rak-rak berbahan besi yang tersusun rapi berisi segala macam kebutuhan pokok, mulai dari beras, minyak goreng, sabun, hingga alat tulis dan aneka makanan ringan. Begitu mesin motor mati, Pak Bakti segera membuka rolling door hijau yang sedikit berkarat di bagian bawahnya. Nala membantu mendorong pintu besi itu hingga terbuka lebar, menyingkap jajaran barang yang tertata rapi. Warung ini menerapkan sistem semi-swalayan; pembeli bebas masuk dan mengambil keranjang plastik, lalu memilih sendiri barang di rak sebelum membawanya ke meja kasir. Sayangnya, karena belum ada komputer, semua transaksi masih dihitung secara manual. Pak Bakti segera menghidupkan kipas angin langit-langit dan menyalakan lampu. "Nah, Nala. Kamu yang duduk di sini ya," ujar Pak Bakti sambil menunjuk kursi kayu tinggi di balik meja kasir. "Tugasmu tinggal hitung barang yang mereka bawa, daftar harganya ada di meja, catat kalau ada yang bon, dan jangan sampai salah kembalian." "Oke, Pa!" jawab Nala mantap. Ia segera meletakkan tasnya dan mengambil posisi. Tak butuh waktu lama, pelanggan pertama pun datang. Seorang wanita paruh baya dengan daster motif bunga-bunga masuk dan langsung menuju rak minyak goreng. Begitu melangkah ke kasir dengan dua botol minyak di tangan, matanya langsung membelalak melihat sosok di balik meja. "Lho, ini Kanala kan Pak Bakti?" Wanita itu menatap Nala dari atas ke bawah, "Pangling sekali, makin ayu." Sambungnya. Nala sedikit tersenyum kikuk. "Ibu bisa aja," jawabnya sopan. "Kapan pulangnya, Nala? Kok betah sekali di kota sampai jarang pulang." "Baru kemarin, Bu." "Oalah, pantesan masih kinclong begini kulitnya," sahut ibu itu sambil terkekeh, meletakkan botol minyaknya di meja. "Jangan cepat-cepat balik ke Jakarta ya. Di sini udaranya enak, siapa tahu malah ketemu jodoh cah bagus asli desa sini." Nala hanya membalas dengan tawa sopan sembari jemarinya lincah menghitung total belanjaan. Namun, dalam hati, ia mendadak teringat kembali pada sosok laki-laki di sawah tadi. Jodoh? Pikiran itu langsung ia tepis jauh-jauh. --- Pagi itu berlalu dengan cepat. Warung Pak Bakti ternyata jauh lebih ramai dari yang Nala bayangkan. Satu per satu pelanggan berdatangan, mulai dari bapak-bapak yang mencari rokok hingga anak-anak kecil yang menyerbu rak es krim. Setiap kali ada pelanggan yang mengenalnya, pertanyaan yang sama selalu terlontar: "Kapan pulang?" atau "Sudah punya calon belum?". Dan Nala hanya menanggapi seperlunya. Menjelang pukul sebelas, suasana sedikit lengang. Nala meregangkan pundaknya, mulai merasakan pegal-pegal. "Capek?" tanya Pak Bakti sambil menyeruput kopi. "Capek dikit, Pa," jawab Nala jujur. Belum sempat Pak Bakti menimpali, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan warung. "Nah, itu, beras datang. Sebentar, Papa samperin dulu." Pak Bakti bergegas keluar warung. Nala ikut melirik ke arah depan. Tidak ada orang lain di sana, hanya satu sosok yang turun dari balik kemudi. Hanggara. Pria itu turun dengan gerakan yang efisien. Kaus oblong abu-abu yang ia kenakan melekat pas di tubuh tegapnya. Ia langsung bergerak ke belakang mobil, membuka pintu bak dengan dentuman logam yang mantap. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada tumpukan karung beras, seolah ia sedang mengejar waktu. Nala mendadak merasa kursinya menjadi sangat tidak nyaman. Ia berpura-pura sibuk merapikan tumpukan nota di atas meja, menunduk sedalam mungkin agar rambutnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak ingin Hanggara menyadari keberadaannya, apalagi mengingat betapa kacau penampilannya saat mereka bertemu di sawah tadi pagi. "Tumben sendiri, Mas? Biasanya sama karyawannya," sapa Pak Bakti akrab, menghampiri mobil bak tersebut. "Nggih, Pak Bakti. Anak-anak lagi sibuk," suara bariton itu terdengar lebih jelas sekarang, berat dan tenang. Dengan cekatan, Hanggara mulai memindahkan karung-karung beras seberat sepuluh kilogram itu ke pundaknya. Nala memperhatikan dari balik meja kasir dengan napas yang tertahan. Setiap kali pria itu bergerak, otot-otot lengannya menegang hebat di bawah sinar matahari yang sedang terik-teriknya. Ia mengangkut karung demi karung menuju gudang di samping warung. Pak Bakti sibuk membantu mengarahkan letak karung di gudang, sementara Nala tetap terpaku di balik meja kasir. Ada rasa lega karena pria itu tidak melihatnya, namun di sudut hatinya yang paling kecil, muncul secuil perasaan aneh yang sulit ia definisikan, seperti sebuah ekspektasi yang tidak terpenuhi. Setelah karung terakhir masuk ke gudang, Hanggara tidak lantas masuk ke dalam warung untuk sekadar bertegur sapa atau meminta minum. Ia hanya berdiri di samping mobilnya, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu memberikan selembar nota dan menerima beberapa lembar uang dari Pak Bakti yang menghampirinya. "Terima kasih, Pak Bakti. Saya pamit dulu, masih ada kiriman ke tempat lain," ucap Hanggara singkat. Ia kembali naik ke balik kemudi, menghidupkan mesin, dan segera memutar kemudi untuk meninggalkan area warung. Mobil bak itu bergerak menjauh, meninggalkan kepulan debu tipis di jalanan. Nala baru berani mengangkat kepalanya setelah suara mesin mobil itu benar-benar hilang dari pendengaran. Ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Tak lama, Pak Bakti masuk lagi ke warung sambil menggenggam nota yang diberikan Hanggara. "Hanggara yang itu, kan, yang nolongin kamu tadi pagi?" "Iya, dia jualan beras, Pa?" "Bukan cuma jualan, dia itu juragan. Dia punya toko beras besar di pasar kecamatan, sawahnya banyak, bahkan sampai ke desa kita, dan dia juga punya ternak ayam petelur yang menyuplai telur ke hampir seluruh toko di kecamatan ini." jelas Pak Bakti sambil meletakkan nota di atas meja kasir. Nala tertegun sejenak. Ia kembali melirik ke arah jalanan tempat mobil bak itu menghilang. Bayangan pria yang tadi memanggul karung sendirian dengan kucuran keringat seolah tidak sinkron dengan label "juragan" yang baru saja disebutkan ayahnya. Di Jakarta, seorang pemilik bisnis sebesar itu mungkin sudah duduk manis di ruangan ber-AC sambil memantau laporan lewat tablet, bukannya malah mengantar stok beras dan mandi keringat di bawah terik matahari. "Tadinya Papa mau ngenalin kamu sama Mas Hanggara, tapi katanya dia masih ada kiriman ke tempat lain. Padahal kalau kalian kenalan, siapa tahu bisa cocok, terus Papa bisa punya menantu kayak dia," goda Pak Bakti sambil mengerling jenaka. "Papa! Apa sih?" Nala langsung menunduk, kembali pura-pura sibuk merapikan tumpukan nota yang sebenarnya sudah rapi. Wajahnya mendadak terasa panas, bahkan bedak tipisnya tak mampu menutupi rona merah yang menjalar hingga ke telinga. "Lho, Papa serius. Mas Hanggara itu bibit unggul. Udah ganteng, mapan, pinter kerja, sarjana pula. Daripada nyari orang kota yang kebanyakan gaya, mending sama juragan beras yang kerja nyata," lanjut Pak Bakti sembari terkekeh melihat kegugupan putrinya. "Nala pulang ke sini bukan mau cari jodoh, Papa!" protes Nala dengan nada ketus yang dibuat-buat, meski di dalam hati, bayangan tangan kokoh Hanggara tadi pagi kembali melintas. Pak Bakti hanya mengedikkan bahu ringan. "Ya siapa tahu, kan? Nanti kalau dia ke sini lagi, siapin senyum paling manis ya, Dek. Biar Mas Hanggara kepincut," ujarnya sambil tertawa kecil. "Papa!" *** Tbc.Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me
Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m
Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco
Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me
Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a
Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui
Setelah sekitar satu jam bergulat dengan bumbu dapur, aroma harum sayur lodeh, tempe goreng dan sambal goreng mulai memenuhi ruangan. Nala baru saja selesai menata piring-piring di atas meja makan kayu yang besar ketika terdengar suara pintu depan terbuka diikuti salam yang diucapkan bersamaan. "N
Begitu melewati pintu jati yang kokoh, Nala disambut oleh suasana rumah yang sangat tenang. Di ruang tamu yang luas itu, seorang pria paruh baya yang masih tampak bugar duduk di sofa tunggal. Pria itu memakai koko putih dan sedang meletakkan korannya begitu menyadari kehadiran tamu."Nah, Pak, ini
"Ya sudah, Pak Bakti, saya pamit dulu ya. Mau masak buat makan siang, nanti keburu bapaknya anak-anak pulang dari sawah," pamit Bu Lastri sambil menenteng tas belanjanya. Ia sempat melirik Nala sekali lagi dengan kerlingan usil. Sementara Nala masih sibuk dengan kegiatannya.Sepeninggal Bu Lastri,
Namun, begitu bangunan warung kelontong milik ayahnya mulai terlihat, langkah Nala mendadak melambat. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat melihat sebuah mobil pikap terparkir gagah tepat di depan warung. Di bak belakang mobil itu, tumpukan karung beras berjajar rapi. Nala mematung sejen







