로그인Setelah mandi dan berganti dengan pakaian sederhana—kaus putih lengan pendek dan celana jeans—Nala kembali ke ruang tengah. Rambutnya diikat asal, masih sedikit lembap. Papa Bakti sudah menunggu di teras dengan tas kain besar berisi daftar belanja dan uang pecahan.
"Siap?" tanya Papa. "Siap, Pa," jawab Nala ceria. Mereka pergi ke warung menggunakan motor, meskipun jaraknya hanya lima menit dari rumah. Warung itu berdiri di pinggir jalan utama desa, bangunan yang lebih mirip dengan minimarket dengan rolling door hijau yang sudah mulai pudar warnanya. Begitu Papa membuka pintu, aroma khas warung—campuran kopi, gula, sabun, dan plastik—langsung menyambut. "Pertama-tama, kita bersih-bersih dulu," kata Papa sambil menyingsingkan lengan kemejanya. Nala mengangguk dan langsung sigap. Ia menyapu lantai, mengelap etalase kaca, lalu menata ulang beberapa barang yang terlihat berantakan. Tangannya sempat kikuk saat menyusun mi instan dan snack, tapi lama-lama ia menikmati kegiatan itu. Ada kepuasan kecil melihat rak yang tadinya semrawut kini tersusun rapi. Belum lama mereka membuka warung, satu per satu pembeli mulai berdatangan. Ibu-ibu membeli bumbu dapur, anak-anak kecil membeli permen dan es lilin, sampai bapak-bapak yang singgah untuk membeli rokok dan kopi saset. "Loh, ini Kanala kan, Pak Bakti?" tanya ibu-ibu berdaster pink yang baru saja masuk ke dalam warung. Wanita itu menatap Nala dari atas ke bawah, "Pangling sekali, makin ayu." Sambungnya. Nala sedikit tersenyum kikuk. "Ibu bisa aja," jawabnya sopan. "Kapan pulangnya, Nala? Kok betah sekali di kota sampai jarang pulang." "Baru pulang dua hari ini, Bu." "Iya, iya… tapi baguslah, sesekali pulang. Orang tua di rumah jadi ada temannya," ujar si ibu sambil mengambil beberapa bungkus bumbu dapur. "Ini gula setengah kilo sama kecap satu, ya." "Sebentar, Bu," sahut Nala cepat. Ia mengambil pesanan, menimbang gula dengan hati-hati, lalu menyerahkannya ke Papa untuk dihitung. "Lincah juga sekarang," komentar ibu itu lagi. "Dulu disuruh beli ke warung aja suka salah." Nala tertawa kecil. "Sekarang juga masih sering salah, Bu." Setelah membayar, ibu berdaster pink itu pamit sambil kembali melirik Nala. "Nanti main ke rumah, ya. Biar nggak lupa sama orang kampung." "Iya, Bu," jawab Nala. Seiring berjalannya waktu, warung makin ramai. Nala mulai terbiasa berdiri di balik etalase, menghafal letak barang, dan menghitung kembalian meski sesekali masih harus memastikan ulang ke Papa. Setiap ada pembeli yang mengenalinya, selalu ada komentar yang sama—tentang wajahnya yang berubah, tentang Jakarta, tentang betah atau tidaknya ia tinggal di kota. Menjelang pukul sepuluh, suasana sedikit lengang. Nala meregangkan pundaknya, merasa pegal namun puas. "Capek?" tanya Papa sambil menyeruput kopi. "Dikit, tapi seru, Pa," jawab Nala jujur. Belum sempat Papa menimpali, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan warung. Nala refleks menoleh, dan kembali melihat sosok yang pagi tadi sempat membuatnya canggung. "Nah, itu, beras datang. Sebentar, Papa samperin dulu." Papa Bakti bergegas keluar warung. Nala ikut melirik ke arah depan. Tidak ada orang lain di sana—hanya satu sosok yang turun dari balik kemudi. Hanggara. Ia melompat turun dengan cekatan, lalu membuka bak belakang mobil. Satu per satu karung beras ia turunkan sendiri. Gerakannya cepat dan terlatih, seolah sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan berat tanpa bantuan siapa pun. Papa Bakti menghampirinya. "Lho, Mas Hanggara? Kok sendirian? Biasanya yang ke sini karyawannya." Hanggara mengangkat satu karung lagi ke pundaknya. "Iya, Pak. Karyawannya lagi sibuk semua. Daripada nunggu, saya antar sendiri aja," jawabnya singkat. "Oh, begitu," Papa mengangguk, lalu ikut membantu memegangi pintu warung agar karung-karung itu bisa langsung dibawa masuk. "Nggak repot, Mas?" "Enggak, Pak. Sudah biasa," balas Hanggara datar. Dari balik etalase, Nala memperhatikan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia pura-pura merapikan rak minyak goreng, padahal susunannya sudah rapi sejak tadi. Sesekali matanya melirik ke arah Hanggara yang mengangkat karung beras terakhir, kemejanya sedikit basah oleh keringat. Setelah semuanya beres, Papa Bakti menepuk-nepuk tangannya. "Nala, ambilin air minum buat Mas Hanggara." Nala sedikit tersentak, tapi segera mengangguk. "Iya, Pa." Ia mengambil sebotol air mineral dari kulkas kecil, lalu melangkah keluar. Hanggara berdiri di dekat mobilnya, mengelap keringat dengan punggung tangan. "Ini, Mas," kata Nala sambil mengulurkan botol. Hanggara menerimanya. "Makasih." "Sama-sama," jawab Nala. Hening sesaat, hanya diisi suara kendaraan yang lewat. Nala sempat ragu untuk pergi begitu saja. "Ayo, Mas, di dalam saja. Sekalian mau ngelunasin bon yang kemarin," ajak Papa Bakti, yang sudah kembali ke meja kasir. Hanggara mengangguk, lalu berjalan masuk ke warung, diikuti Nala. Ia membuka botol air mineral dan menyesapnya, matanya yang tajam sempat menyapu isi warung sekilas sebelum berhenti di Papa Bakti. "Totalnya Rp 2.500.000, Pak," kata Hanggara, suaranya kembali datar. Ia menyebutkan angka tagihan beras tanpa perlu melihat catatan, menunjukkan daya ingat yang kuat. Papa Bakti mengambil amplop berisi uang dari laci kasir, lalu menghitungnya dengan teliti di depan Hanggara. "Pas ya, Mas. Dua setengah juta." Hanggara menerima amplop itu dan memasukkannya ke saku celana. Proses transaksi mereka sangat singkat dan profesional. "Semua berasnya sudah yang kualitas super, Pak. Minggu depan saya kirim lagi yang gilingan baru," kata Hanggara. "Siap, Mas. Matur nuwun. Terima kasih sudah repot-repot mengantar sendiri," jawab Papa Bakti ramah. Saat Hanggara berbalik hendak keluar, pandangannya sempat bertemu dengan Nala yang masih berdiri di dekat meja kasir. Nala segera menunduk, pura-pura menghitung tumpukan uang receh di kotak. Hanggara berhenti sejenak di ambang pintu, namun ia tidak mengatakan apa-apa pada Nala. Ia hanya mengangguk tipis ke arah Papa Bakti. "Saya permisi dulu, Pak Bakti," pamitnya, lalu melangkah menuju mobil bak terbuka. Papa Bakti kembali ke dalam warung. "Mas Hanggara itu memang begitu, Nak. Bicaranya irit, tapi kerjanya cepat dan amanah," komentar Papa sambil tersenyum ke Nala. "Kadang Papa merasa nggak enak, dia juragan besar kok malah ikut-ikutan angkat karung berat." Nala hanya menggumam, "Iya, Pa." Ia merasa sedikit lega Hanggara sudah pergi, namun di saat yang sama, rasa penasaran itu muncul lagi. Laki-laki itu benar-benar berbeda dari semua pria yang pernah ia temui di Jakarta. Dingin, berwibawa, dan sangat fokus pada pekerjaan. Ingin rasanya ia bertanya pada sang ayah tentang laki-laki itu, namun ia urungkan niatnya karena ia merasa... malu? "Nah, sekarang giliran kamu yang jadi kasir," kata Papa Bakti, menarik Nala dari lamunannya. "Papa mau angkat karung beras ini ke belakang, susun di gudang." Papa Bakti menyingkirkan kursi kasir. Nala duduk di sana, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. "Ini notanya. Kalau ada yang beli banyak, kamu catat harganya di sini, lalu hitung totalnya. Di laci ada daftar harganya. Uang kembalian, taruh di kotak ini. Ingat, harus teliti. Jangan sampai salah hitung," pesan Papa Bakti. "Iya, Papa," Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar bertanggung jawab penuh melayani pembeli. Ia mengambil pulpen dan buku bon kecil di depannya, siap memulai 'kelas kilat kasir' yang dijanjikan Papa. Beberapa saat kemudian, seorang anak kecil dengan seragam pramuka masuk ke warung. "Tante, beli permen yang dua ribuan itu, sama es mambo satu," ujar anak itu. Nala menarik napas, tersenyum, dan beraksi. *** Tbc.Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu
Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb
Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb
Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila
Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak
Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap







