Share

Bab 5

Penulis: widiabd
last update Tanggal publikasi: 2025-12-20 14:14:55

Waktu bergulir hingga tak terasa sore telah menyapa. Semburat oranye mulai menghiasi langit. Pukul setengah enam sore, suasana jalanan mulai sepi. Pak Bakti pun mulai merapikan kursi dan memberikan instruksi pada Nala untuk segera pulang. "Ayo beres-beres aja, Nduk, kita tutup," ujar Pak Bakti sambil mulai menarik sebagian rolling door berkarat itu.

Nala baru saja hendak meraih tas selempangnya ketika sebuah deru mesin motor yang cukup berat terdengar berhenti tepat di depan warung. Sebuah motor matic berukuran besar terparkir gagah di sana. Sosok penunggangnya turun, melepas helm, dan melangkah mendekat dengan langkah yang mantap.

Dia adalah Hanggara.

Kali ini, penampilannya sedikit berbeda. Ia tidak lagi mengenakan kaus oblong abu-abu yang basah oleh keringat. Laki-laki itu memakai celana kargo berwarna abu-abu dengan kaus berkerah berwarna hitam yang membuat bahu tegapnya terlihat semakin bidang. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin sore justru menambah kesan maskulin yang sangat alami.

Nala mendadak mematung di balik meja kasir. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

"Mas Gara? Ada perlu apa, Mas?" sapa Pak Bakti, mengurungkan niat untuk menutup pintu sepenuhnya.

Hanggara memberi salam sopan. Matanya sempat melirik sekilas ke arah meja kasir, tepatnya ke arah Nala, sebelum kembali menatap Pak Bakti. "Mau beli kopi buat stok anak-anak, Pak."

"Oalah, boleh-boleh. Mau yang gimana, Mas?"

"Yang hitam mix tiga renceng, kopi susunya dua renceng."

"Oke, tunggu sebentar Mas. Nala, ambilin dulu di rak belakang," perintah Pak Bakti.

Dengan gerakan kaku, Nala berbalik dan keluar dari meja kasir untuk mengambil kopi yang dimaksud. Tak lama kemudian ia kembali dan menaruh pesanan Hanggara di atas meja. Sementara itu, Pak Bakti mulai melancarkan obrolan ringannya dengan Hanggara.

"Mas Gara ini dari mana kok jam segini masih di sinii?" tanya Pak Bakti penuh minat.

"Dari sawah, Pak," jawab Hanggara singkat. Ia merogoh saku celana kargonya, mengeluarkan dompet kulit yang tampak sudah usang namun terlihat penuh. "Tadi habis ngecek saluran irigasi sebentar, terus pulangnya sekalian mampir ke sini."

Suara bariton itu kembali menyentuh pendengaran Nala. Nala mencoba fokus menghitung total harga, namun ia sadar betul bahwa sepasang mata tajam milik sang juragan beras itu kini sedang menatapnya, menunggu total belanjaan yang harus ia bayar.

"Totalnya jadi... tujuh puluh lima ribu, Mas," suara Nala terdengar sedikit mencicit.

Hanggara menyerahkan selembar uang seratus ribu tanpa melepaskan pandangannya dari Nala. Ada sedikit kilat tipis di matanya, entah itu sebuah pengenalan atau sekadar rasa penasaran pada sosok di balik meja kasir Pak Bakti.

"Ini Nala, Mas. Anak bungsu saya, katanya tadi pagi sempat ketemu ya?"

Hanggara terdiam sejenak, membiarkan keheningan tipis menyelinap di antara mereka. Ia menerima uang kembalian yang diulurkan Nala, jemarinya sempat tak sengaja bersentuhan dengan ujung jari gadis itu yang terasa dingin, kontras dengan kulitnya yang hangat.

"Iya, Pak. Tadi pagi sempat ketemu di sawah," jawab Hanggara pelan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya tepat ke manik mata Nala. "Saya baru lihat kamu. Baru pulang dari kota?"

Nala mengerjapkan mata, sedikit terkejut karena tak menyangka Hanggara akan bertanya padanya. "I-iya, Mas. Baru kemarin sampai rumah."

Hanggara mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hampir tak terlihat, sebuah pemandangan langka bagi siapa pun yang mengenal sosok kaku sang juragan beras tersebut. Ia lalu menyambar plastik berisi kopi pesanannya dengan satu tangan. "Kalau begitu saya duluan, ya, Pak Bakti, Mbak Nala. Terima kasih dan maaf saya ganggu waktu tutupnya,"

"Sama-sama, Mas Gara, ngak apa-apa. Hati-hati di jalan, nggih, Mas." sahut Pak Bakti dengan nada ramah yang khas.

Nala hanya mampu mengangguk pelan. Ia memperhatikan punggung lebar Hanggara yang perlahan menjauh dan kembali menunggangi motor besarnya. Tak lama kemudian, deru mesin motor itu kembali menderu, memecah kesunyian sore sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.

Suasana kembali sunyi, menyisakan aroma parfum maskulin yang samar-samar masih tercium di area meja kasir.

"Ganteng ya, Nduk? Mana sopan lagi," celetuk Pak Bakti sembari menarik rolling door hingga menyisakan celah sempit untuk keluar. Bunyi gesekan besi yang nyaring itu seketika menyentak Nala kembali ke realitas.

"Hah? Apa, Pa?" Nala berpura-pura sibuk dengan tas selempangnya untuk menutupi semburat merah yang mendadak muncul di pipinya.

"Nggak usah pura-pura nggak dengar," goda Pak Bakti sambil terkekeh. Beliau melangkah menuju saklar di dekat pintu, mematikan serta kipas angin yang berputar di langit-langit warung, hingga menyisakan cahaya temaram dari sisa senja di luar. "Ayo pulang, keburu Maghrib."

Nala hanya mengangguk kecil, mengikuti langkah ayahnya keluar warung. Perjalanan pulang yang singkat itu hanya ditemani oleh suara mesin motor tua Pak Bakti dan semilir angin yang mulai mendingin. Nala sengaja membuang muka ke arah hamparan sawah yang mulai menggelap, berusaha mengusir bayangan senyum tipis Hanggara yang seolah tercetak jelas di benaknya.

Begitu motor berhenti di halaman rumah mereka yang asri, Nala segera turun.

"Besok mau ikut Papa ke warung lagi?" tanya Pak Bakti.

"Mau, biar Papa ada temennya." ujar Nala sambil terkekeh kecil.

"Kalau mau di rumah aja nggak apa-apa loh, Dek. Papa nggak akan maksa kamu buat ikut ke warung terus,"

Nala tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Di rumah juga nggak ngapa-ngapain, Pa. Lagian aku seneng bantu Papa," jawabnya jujur.

Pak Bakti melirik sekilas ke arah Nala, senyum hangat terbit di sudut bibirnya. "Ya udah, asal jangan sampai kecapekan. Nanti Papa yang disalahin sama Mama kalau kamu sakit,"

"Capeknya nggak seberapa, kok," sahut Nala ringan.

Kemudian, mereka masuk ke dalam rumah. Langit di luar mulai berubah keunguan, tanda senja hampir habis. Nala meletakkan tas di sofa, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Namun, lagi-lagi pikirannya kembali melayang pada sosok Hanggara. Cara bicaranya yang tenang, tatapan matanya yang sulit ditebak, dan aroma parfum yang seolah-olah menempel di hidungnya. Ia menggeleng kecil, menertawakan dirinya sendiri.

"Kenapa sih jadi kepikiran?" batinnya.

Nala membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin. Ia meneguknya langsung dari botol, lalu mengembuskan napas pelan. Mungkin itu hanya rasa penasaran sesaat, karena sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan laki-laki seperti Hanggara.

"Loh, udah pulang?" Bu Raras yang baru keluar dari kamar mandi sedikit terkejut saat mendapati bungsu dan suaminya sudah berada di rumah. Ia mengambil segelas air untuk diberikan pada sang suami, lalu menatap Nala dengan raut penasaran. "Gimana tadi hari pertamanya? Bisa nggak?" tanyanya pada sang bungsu.

Nala menganggukan kepalanya, "Bisa, tapi masih banyak tanya-tanya sama Papa," keluhnya lalu duduk di samping sang ayah yang sudah sedari tadi duduk manis di kursi meja makan.

"Nggak apa-apa, kan baru pertama kali. Besok masih mau ikut Papa?" tanya bu Raras.

"Mau, dong."

"Padahal besok Mama mau ajak kamu ke pasar, mau belanja bahan makanan."

Mendengar itu, mata Nala langsung berbinar. Ia duduk lebih tegak, lalu menoleh ke arah ibunya dengan senyum lebar. "Ke pasar? Mau! Aku pengen beli jajanan pasar, udah lama banget nggak makan." katanya tanpa ragu.

Bu Raras terkekeh melihat reaksi putrinya. "Kamu ini, belum apa-apa udah semangat aja."

"Soalnya udah lama nggak ikut Mama ke pasar," sahut Nala cepat. Ia lalu melirik Pak Bakti. "Abis dari pasar, aku nyusul Papa ke warung, ya. Jadi tetep bisa bantu."

Pak Bakti mengangguk, senyum bangga tersungging di wajahnya. "Boleh, tapi jangan dipaksain ya. Kalau capek, agak siangan aja ke warungnya."

"Oke!"

Bu Raras menggeleng pelan sambil tersenyum. "Yo wis. Besok kita berangkat pagi, jangan susah bangun."

Nala mengangguk bersemangat.

***

Tbc.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status