Share

Bab 3

Author: widiabd
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-14 12:17:16

Keesokan harinya, Nala terbangun oleh suara ayam berkokok dan aroma kopi tubruk yang samar-samar menyelinap ke kamarnya. Ia membuka mata perlahan, butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa langit-langit putih di atasnya bukan lagi plafon kosan sempit di Jakarta, melainkan kamar lamanya di rumah.

​Ia melirik jam di meja kecil. Pukul lima kurang sepuluh.

​Refleks, Nala langsung duduk tegak. Di Jakarta, jam segini biasanya ia baru saja terlelap setelah semalaman begadang. Namun di sini, rumah sudah "hidup" bahkan sebelum subuh. Dari balik pintu, terdengar suara Bu Raras berbincang dengan Pak Bakti di dapur, diselingi denting sendok yang beradu dengan gelas.

​Nala menghela napas lega, lalu bangkit dari ranjang. Ia meraih kardigan tipis, menyampirkannya ke bahu, dan melangkah keluar.

​Sesampainya di dapur, Nala melihat Pak Bakti sudah duduk di kursi meja makan sambil menyesap kopi, sementara Bu Raras berdiri di depan kompor, menggoreng tahu isi dan tempe. Begitu melihat Nala, Bu Raras tersenyum lebar.

"Eh, udah bangun, tidurnya nyenyak, Nduk?" Tanya sang ibu.

"Nyenyak banget, Ma. Ini aja rasanya pengen tidur lagi, tapi nggak bisa." Ujar Nala yang diakhiri dengan cengiran lebarnya. Nala berjalan ke meja makan, duduk di samping sang ayah yang sedang menyesap kopi sambil membalikkan lembar demi lembar kertas yang entah apa isinya.

"Apa itu, Pa?" tanya Nala.

"Daftar barang-barang di warung yang harus di restock, udah banyak yang kosong."

"Papa hari ini ke warung jam berapa?" tanya Nala lagi, tangan kanannya terulur untuk mencomot tahu isi buatan Bu Raras yang baru diletakkan di meja, lalu menyantapnya. Masakan Bu Raras itu juara. Apapun yang dimasak, selalu enak. Selama di Jakarta, Nala belum menemukan makanan yang seenak bikinan mamanya.

"Jam tujuh, kenapa? Nala mau ikut?" tanya papanya yang langsung dibalas anggukan oleh Nala.

"Mau! Boleh, kan?"

"Apa nggak capek, Dek? Istirahat aja dulu, besok-besok aja ke warungnya." Ujar Bu Raras.

"Nggak apa-apa kok, Ma. Aku cuma mau lihat-lihat aja," Nala menjawab sambil tersenyum kecil. Ia menyesap teh hangat yang baru saja diletakkan Bu Raras di depannya, membiarkan rasa manisnya menenangkan tenggorokan.

Pak Bakti melirik putrinya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ikut aja, sekalian belajar jadi kasir. Belum pernah kan kamu?"

Nala tertawa kecil. "Belum pernah, Pa. Selama ini setia jadi pembeli aja," ujarnya.

Bu Raras, yang kini sudah duduk di seberang mereka setelah selesai menyiapkan hidangan, menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Dasar kamu ini, jajan terus pasti ya di sana?" Tanyanya yang dibalas cengiran lebar oleh si bungsu. "Tapi bagus kalau mau bantu Papa. Udah lama Papa nggak ada yang nemenin di warung," ucapnya lembut. "Tapi jangan capek-capek, ya." Sambungnya yang dibalas anggukan cepat oleh Nala.

Setelah kenyang makan gorengan, Nala pun bangkit dari duduknya. "Aku mau bangunin Mas Banyu, ah." Ujarnya yang langsung dilarang oleh Mama Raras.

"Masmu baru tidur jam dua, semalam begadang nonton bola sama temen-temennya." Katanya. Nala mendengus sebal, padahal niatnya ia ingin menjahili kakaknya. Namun, mendengar perkataan ibunya, Nala pun mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk keluar rumah untuk mencari udara segar.

"Ma, aku mau jalan-jalan ya ke depan!" Tanpa mendengar sahutan dari ibunya, Nala pun memakai sandal milik Bu Raras yang tergeletak di teras. Setiap malam, sandal-sandal itu memang sering dipindahkan ke atas teras. Jaga-jaga agar tidak hanyut saat hujan.

Nala menuruni teras, merasakan udara pagi yang sejuk dan bersih menyentuh kulitnya. Udara di sini terasa sangat berbeda, jauh dari polusi dan hiruk pikuk Jakarta yang selalu berbau knalpot dan sampah. Ia menghirupnya dalam-dalam, menikmati aroma tanah basah bercampur embun pagi dan sedikit wangi masakan dari rumah tetangga.

Ia berjalan pelan di atas jalanan kampung yang masih sepi. Beberapa rumah terlihat masih tertutup rapat, namun beberapa lainnya sudah menyambut pagi dengan jendela terbuka dan suara aktivitas dapur yang samar-samar. Matahari sudah mulai naik, sinarnya yang masih keemasan memantul lembut di dedaunan hijau.

Langkah Nala terhenti saat ia tiba di tikungan. Matanya menangkap pemandangan yang sudah lama sekali tidak ia lihat, lapangan desa yang luas, kini dipenuhi kabut tipis yang bergerak perlahan seperti selendang putih.

Di ujung lapangan, tampak siluet beberapa orang dewasa yang sedang berolahraga ringan, dan anak-anak kecil sedang berlarian mengejar satu sama lain. Bahkan anak-anak sudah beraktivitas di waktu sepagi ini.

Nala kembali melanjutkan langkahnya. Ia menyapa beberapa orang yang ia temui. Ada beberapa dari mereka yang langsung mengenalinya, ada juga yang tidak mengenalinya sama sekali. Langkah kecil Nala membawanya ke hamparan sawah yang sangat luas. Saat kecil, ia sering diajak ke sini oleh kedua kakaknya untuk bermain layangan. Mereka bahkan tidak akan pulang sebelum dijemput Bu Raras. Mengingat momen itu, Nala tersenyum tipis. Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa momen itu sudah berlalu lebih dari sepuluh tahun.

Nala akhirnya memutuskan untuk melangkah menyusuri pematang sawah di depannya. Embun pagi masih menempel di ujung-ujung padi yang mulai merunduk, membuat permukaan tanah yang ia pijak terasa sedikit licin. Ia merapatkan kardigannya, menikmati sensasi dingin yang menyentuh kulit, hingga perhatiannya teralihkan oleh seekor burung bangau putih yang terbang rendah di sisi kirinya, tanpa menyadari di mana kakinya berpijak.

​"Eh—"

​Sandal jepit milik Bu Raras yang ukurannya sedikit kebesaran itu tak mampu mencengkeram tanah dengan sempurna. Kaki kanan Nala tergelincir di tepian pematang yang basah. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan dalam hitungan detik, ia terhuyung ke samping.

​Bruk!

​Nala mendarat dengan tidak estetik di atas tanah berlumpur di pinggir pematang. Beruntung ia tidak masuk ke dalam kubangan air sawah yang dalam, namun, tetap saja, kardigan krem dan celananya kini sudah sukses dihiasi noda cokelat pekat.

​"Aduh..." ringis Nala. Ia mencoba duduk, menatap telapak tangannya yang kini penuh lumpur. Baru saja ingin merutuki kecerobohannya, sebuah bayangan besar tiba-tiba menaungi tubuhnya.

​Nala mendongak. Di atas pematang, berdiri seorang pria yang seolah muncul begitu saja dari balik kabut tipis. Pria itu mengenakan kaus polos hitam yang pas di tubuh tegapnya, dengan handuk kecil tergantung di leher. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, menandakan ia baru saja selesai berolahraga.

​Wajahnya sangat tegas, alis tebal, hidung mancung, dan rahang yang seolah dipahat dengan presisi. Namun, tatapan matanya yang tajam dan ekspresinya yang datar menciptakan aura dingin yang kuat.

​Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh tepat di depan wajah Nala. Ia tidak menertawakan, tidak juga berkomentar. Ia hanya diam, menunggu dengan sikap tenang yang justru membuat Nala merasa sedikit terintimidasi.

​Nala yang merasa canggung akhirnya menyambut tangan itu. Begitu jemarinya bersentuhan dengan telapak tangan yang kasar dan hangat tersebut, ia merasakan tarikan yang mantap dan kuat. Hanya dalam satu gerakan, Nala sudah kembali berdiri tegak di atas pematang.

​"Terima kasih, ya, Mas...?" tanya Nala sambil sibuk membersihkan sisa lumpur di tangannya dengan canggung. Ia merasa sangat kecil berdiri di depan pria ini.

​"Hanggara," ujar si pria. Suaranya rendah dan bariton, jenis suara yang terdengar berwibawa meski hanya mengucapkan dua kata.

​Nala mengerjapkan mata, mencoba menguasai diri. "Ah, iya. Saya Nala. Mas bukan orang sini ya? Saya baru lihat soalnya."

Pria itu mengangguk pelan, gerakannya sangat minimalis. "Saya dari desa sebelah,"

"Oh, gitu. Sekali lagi, terima kasih ya, Mas."

​Hanggara hanya mengangguk sekali lagi. Ia tidak berniat berbicara lebih banyak lagi. Setelah memastikan Nala bisa berdiri dengan stabil, ia memberikan isyarat singkat dengan kepalanya ke arah jalan pulang, seolah menyarankan Nala untuk segera membersihkan diri sebelum lumpurnya mengering.

​Tanpa menunggu balasan Nala, Hanggara berbalik dan melanjutkan langkahnya menyusuri pematang dengan langkah yang mantap dan tenang.

​Nala terpaku di tempatnya, menatap punggung tegap itu menjauh hingga hilang di balik kabut. "Hanggara..." batinnya mengulang nama itu. Ada sesuatu dari pria itu yang membuat pertemuan singkat di pematang sawah yang becek ini terasa sangat membekas.

​Nala segera berbalik arah dan berjalan cepat menuju rumah. Rasa malunya karena jatuh di sawah kini bercampur dengan rasa penasaran yang aneh. Aneh karena Nala belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.

---

Langkah Nala yang terburu-buru membuat sandal kebesaran milik ibunya sesekali mengeluarkan bunyi plok-plok yang mengiringi rasa malunya. Begitu memasuki halaman rumah, Nala berusaha mengendap-endap, berharap bisa masuk lewat pintu belakang tanpa ketahuan. Namun, harapannya pupus saat ia melihat Pak Bakti sudah berdiri di teras sembari memanaskan mesin motor matic-nya.

"Lho, Nala? Itu celana sama baju kamu kenapa bisa penuh lumpur begitu?" tanya Pak Bakti dengan kening berkerut, tangannya masih memegang lap kain.

Nala tersentak, ia menyengir kuda sembari berusaha menutupi bagian celananya yang paling kotor. "Eh, Papa... Itu, tadi keasyikan lihat burung bangau di sawah terus kepeleset."

Bu Raras yang mendengar suara suaminya segera muncul dari balik pintu. Begitu melihat kondisi putri bungsunya yang berantakan, ia langsung menepuk dahi. "Ya ampun, Nala! Baru juga satu hari di sini udah mandi lumpur aja. Tapi nggak ada yang luka, kan?"

"Enggak, Ma. Tadi untungnya langsung ditolongin orang," jawab Nala pelan, ingatannya mendadak kembali pada genggaman tangan Hanggara yang kokoh.

"Ditolong siapa?" tanya Bu Raras penasaran.

"Katanya namanya Hanggara, dari desa sebelah," jawab Nala singkat.

Pak Bakti dan Bu Raras sempat saling lirik sekilas, namun Pak Bakti langsung melihat jam tangannya. "Udah-udah, urusan Hanggara nanti lagi. Sekarang kamu cepat mandi, Nala. Papa udah siap berangkat ini."

"Iya, Nduk, cepat mandi. Air hangatnya udah Mama siapin di kamar mandi di kamarmu. Jangan lama-lama, kasihan Papa udah rapi begitu nanti malah keringetan lagi nungguin kamu. Lewat pintu belakang, cuci kaki dulu." tambah Bu Raras sembari mendorong bahu Nala pelan menuju arah pintu belakang.

"Siap, Bos! Sepuluh menit cukup!" seru Nala sembari berlari kecil.

Sambil mengguyur tubuhnya dengan air hangat, pikiran Nala masih saja tertinggal di pematang sawah tadi. Wajah tegas Hanggara dan suaranya yang singkat seolah terpatri di kepalanya. Nala menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir rasa penasaran yang tidak pada tempatnya itu. Ia harus fokus, misi hari ini adalah membantu ayahnya di warung, bukan memikirkan pria asing yang bahkan baru ia temui hari ini.

***

Tbc.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 20

    Keesokan paginya, Nala terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik, meski kakinya masih terasa sedikit kaku saat menapak ke lantai. Setelah mandi dan bersiap, ia membuka pintu kamarnya, berniat menuju dapur. Namun, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu.Di depannya, Banyu sudah berdiri me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 19

    "AAKKH!" Jeritan melengking Nala seketika memecah keheningan rumah. Nala langsung ambruk terduduk di lantai sambil memegangi kaki kanannya yang tadi sudah lebam, dan kini baru saja terinjak telak oleh kaki Banyu yang besar.Wajah Banyu seketika pucat pasi. "Dek! Dek, Maaf! Mas nggak sengaja!"Detik

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 18

    Tak lama kemudian, mobil SUV itu perlahan berhenti tepat di depan pagar rumah Nala. Jam di dasbor menunjukkan pukul 19.56. Hanggara benar-benar seorang pria yang memegang kata-katanya; ia mengembalikan Nala tepat waktu sebelum jam malam yang ditentukan sang ayah berakhir.Hanggara mematikan mesin m

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 17

    Hanggara pergi cukup lama, membuat Nala sesekali gelisah dan menoleh ke arah kerumunan, takut pria itu kesulitan atau justru terlibat keributan lagi. Namun, saat sosok tegap itu akhirnya muncul membelah lautan manusia, Nala terpana.Hanggara tidak hanya membawa satu kotak dimsum mentai yang tadi ia

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status