공유

Bab 6

작가: widiabd
last update 게시일: 2025-12-22 20:17:41

Pukul lima pagi, suasana desa masih diselimuti kabut tipis yang merayap di atas permukaan sawah. Udara dingin yang menusuk tulang memaksa Nala mengenakan jaket oversized berwarna lilac favoritnya. Bu Raras sudah siap dengan keranjang anyaman bambu di tangan. Mereka berangkat menggunakan motor, menembus sisa-sisa kegelapan menuju pasar kecamatan yang mulai berdenyut.

​Sesampainya di sana, aroma khas pasar tradisional langsung menyergap indra penciuman Nala, campuran wangi rempah, kesegaran sayuran yang baru dipetik, hingga bau tanah basah yang terinjak ratusan kaki. Nala merapatkan jaketnya, membuntuti Bu Raras layaknya anak kecil yang takut kehilangan induk. Ia menyaksikan kehebatan ibunya dalam menawar harga, sebuah diplomasi tingkat tinggi yang hanya dikuasai oleh ibu-ibu yang berpengalaman.

​Saat sampai di tengah pasar, tepatnya di kios perbumbu-bumbuan, yang tumpukannya setinggi dada manusia, Bu Raras berhenti. "Bentar ya, Dek." ujar Bu Raras tanpa menoleh.

​Nala mengedarkan pandangan. Di ujung lorong sebelah kanan, cahaya lampu neon terang menyinari kios jajanan pasar yang begitu menggoda. Ada tumpukan kue cucur yang kecokelatan, hingga klepon hijau dengan parutan kelapa putih bersih.

​"Ma, aku ke sana dulu ya? Mau beli jajan," izin Nala.

​"Iya, sana. Habis ini Mama mau ke tukang daging di depan pasar ya, kamu langsung nyusul ke sana, jangan ke mana-mana lagi," pesan ibunya.

Setelah mengiyakan, ​Nala melangkah riang. Sesampainya di tempat yang dituju, ia memilih beberapa butir klepon, lima buah lupis, dan beberapa lapis legit yang tampak menggiurkan. Namun, saat kantong plastik itu sudah di tangan dan ia hendak membayar, petaka kecil terjadi. Nala merogoh saku jaketnya, kosong. Ia merogoh saku celananya, juga kosong. Wajahnya seketika memucat saat teringat bahwa ia menitipkan ponsel dan dompetnya di dalam tas belanja Bu Raras sebelum turun dari motor tadi karena takut jatuh atau dicopet.

​"Aduh, Mbah... maaf banget," Nala tergagap menatap nenek penjual kue yang sudah menunggu. "Dompet saya ketinggalan di tas Mama.

​Orang-orang di belakang antrean mulai menggerutu pelan. Nala merasa telinganya panas karena malu. Di tengah kebingungan itu, sebuah suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari sisi kirinya.

"Kenapa?"

Nala tersentak. Ia menoleh dan mendapati sosok tinggi tegap berdiri di sampingnya. Hanggara.

Laki-laki itu berdiri dengan sangat tenang di tengah keriuhan pasar yang mulai menyesakkan. Hanggara mengenakan jaket bomber berwarna gelap yang senada dengan celana kargo hitamnya. Sorot matanya yang tajam menatap Nala dengan dahi sedikit berkerut, seolah sedang membaca kepanikan yang terpahat jelas di wajah gadis itu.

"Itu... dompet saya ketinggalan di tas Mama, Mas," cicit Nala pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh teriakan penjual asongan yang berlalu lalang di belakang mereka. Ia ingin sekali rasanya menghilang dari sana saat itu juga. Kenapa harus Hanggara? Kenapa harus pria ini yang selalu muncul di saat ia sedang dalam kondisi paling tidak berdaya dan memalukan seperti ini?

Hanggara tidak merespons dengan tawa atau ejekan. Ia hanya melirik kantong plastik berisi jajan pasar di tangan Nala, lalu beralih menatap si nenek penjual. Tanpa sepatah kata pun, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari dompet, dan mengulurkannya pada si penjual.

Setelah itu, Hanggara membawa Nala menjauh dari kios tersebut agar tidak menghalangi pembeli lain.

"Aduh, Mas, makasih banyak, ya. Nanti uangnya saya ganti," ujar Nala setelah mereka berada di area yang lebih longgar. "Atau Mas Hanggara tunggu di sini sebentar, saya ambil dompet dulu di Mama, nanti saya balik lagi."

"Nggak perlu diganti," ujarnya singkat.

"Tapi, Mas, ini banyak lho. Tadi saya beli lupisnya lima, terus klepon, terus-"

"Nggak apa-apa, saya ikhlas. Kamu sama siapa ke sini?"

"Sama Mama," jawab Nala pelan, masih merasa tidak enak hati. "Tadi lagi beli bumbu, tapi kayanya sekarang udah nunggu di tukang daging di depan."

Hanggara mengangguk kecil. Ia tidak langsung pergi begitu saja, melainkan berdiri tegak di samping Nala, seolah-olah sedang memberikan perlindungan dari arus orang pasar yang semakin padat dan saling berdesakan. Nala yang merasa canggung karena pria itu terus berdiri di sana, mencoba memecah keheningan.

​"Mas ngapain di sini?" tanya Nala heran.

​Hanggara tidak langsung menjawab. Ia sedikit memiringkan kepalanya, lalu menunjuk ke arah belakang Nala dengan ibu jarinya. "Toko saya di situ," kata Hanggara. "Tadi saya perhatiin, ekspresi kamu kelihatan panik. Jadi saya samperin,"

Nala spontan menoleh ke belakang. Di sana, hanya berjarak satu kios dari si mbah penjual jajanan pasar, berdiri sebuah toko grosir beras yang cukup besar. Di depannya tampak tumpukan karung-karung putih bersih berjajar rapi. Beberapa kuli panggul sedang sibuk menaruh karung ke atas troli angkut.

Nala mengerjapkan mata, sedikit tidak percaya. "Itu... toko punya Mas Hanggara? Semuanya?"

Hanggara hanya mengangguk samar, sebuah gerakan yang sangat minimalis namun cukup untuk membuat Nala merasa semakin kecil. Ternyata benar kata ayahnya Hanggara bukan hanya sekadar penjual beras, melainkan seorang juragan.

"Jangan dipikirin. Ayo, saya antar ke depan," ajak Hanggara. Ia mulai melangkah mendahului Nala, membuka jalan di tengah lautan manusia yang semakin menyemut.

Nala mengekor di belakang, memperhatikan punggung lebar Hanggara yang dibalut jaket bomber. Ada rasa aman yang aneh merayap di hatinya, perasaan yang seharusnya tidak muncul untuk pria yang baru beberapa kali ia temui.

Sesampainya di dekat kios daging yang dimaksud, sosok Bu Raras terlihat sedang memeriksa potongan daging sapi dengan teliti.

"Mama!" panggil Nala setengah berlari, mendahului Hanggara yang berjalan di depannya.

Bu Raras menoleh, lalu matanya membelalak kaget melihat siapa yang berdiri di belakang putrinya. "Lho, Mas Hanggara?"

"Pagi, Bu," sapa Hanggara sopan, sedikit menundukkan kepala.

Nala segera membisikkan kejadian tadi ke telinga ibunya dengan wajah memerah. Mendengar itu, Bu Raras langsung tertawa renyah sambil menepuk dahinya sendiri. "Ya Allah, Mas, maaf ya ngerepotin. Nala ini memang pelupa kalau udah lihat jajan. Biar saya ganti uangnya, ya, Mas."

Bu Raras sudah bersiap membuka tas belanjanya, namun Hanggara mengangkat tangan pelan, menolak dengan halus. "Nggak usah, Bu, saya ikhlas."

"Jangan gitu, lho, Mas, nggak enak saya," Bu Raras bersikeras, namun Hanggara hanya memberikan senyum tipis yang membuat wajah kaku itu mendadak terlihat jauh lebih bersahabat.

"Simpan aja buat belanja yang lain, Bu. Saya permisi dulu, masih ada bongkar muat di toko," ucap Hanggara kalem.

Sepasang mata tajam itu sempat tertahan sejenak di wajah Nala, memberikan impresi yang sulit dibaca sebelum ia benar-benar memutuskan untuk beranjak. Namun, sebelum langkah kaki Hanggara menjauh, Nala memberanikan diri maju selangkah.

"Mas Hanggara!" panggil Nala, suaranya kini sedikit lebih lantang melawan kebisingan pasar.

Hanggara menghentikan langkah dan menoleh perlahan.

"Sekali lagi makasih banyak ya, Mas. Benar-benar makasih udah bantu saya tadi," ucap Nala tulus, matanya menatap tepat ke arah pria itu tanpa rasa ragu seperti sebelumnya. "Lain kali saya yang traktir Mas Hanggara."

Mendengar itu, sudut bibir Hanggara sedikit terangkat, kali ini lebih jelas dari sekadar senyum tipis. Ada binar jenaka yang samar di matanya.

"Benar?" tanya Hanggara memastikan.

Nala mengangguk mantap. "Iya."

"Oke. Jangan lupa bawa dompetnya," balas Hanggara pendek. Setelah memberikan anggukan kecil kepada Bu Raras sebagai tanda pamit, ia pun berjalan membelah kerumunan, meninggalkan Nala yang berdiri terpaku dengan wajah yang kini lebih panas daripada suhu udara pasar yang mulai menghangat.

Bu Raras menyenggol lengan putrinya pelan, senyum godaannya semakin lebar. "Ciee... ditungguin janjinya lho sama Juragan Beras. Kayaknya sebentar lagi Mama bakal punya mantu laki-laki, nih."

"Apa sih? Mama sama aja kayak Papa," Nala hanya bisa menunduk malu, mendekap plastik berisi jajanan pasar itu erat-erat. Ternyata, pagi ini ia tidak hanya pulang membawa aneka jajanan pasar, tapi juga sebuah janji yang membuat hatinya berdegup jauh lebih kencang daripada biasanya.

***

Tbc.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 20

    Keesokan paginya, Nala terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik, meski kakinya masih terasa sedikit kaku saat menapak ke lantai. Setelah mandi dan bersiap, ia membuka pintu kamarnya, berniat menuju dapur. Namun, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu.Di depannya, Banyu sudah berdiri me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 19

    "AAKKH!" Jeritan melengking Nala seketika memecah keheningan rumah. Nala langsung ambruk terduduk di lantai sambil memegangi kaki kanannya yang tadi sudah lebam, dan kini baru saja terinjak telak oleh kaki Banyu yang besar.Wajah Banyu seketika pucat pasi. "Dek! Dek, Maaf! Mas nggak sengaja!"Detik

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 18

    Tak lama kemudian, mobil SUV itu perlahan berhenti tepat di depan pagar rumah Nala. Jam di dasbor menunjukkan pukul 19.56. Hanggara benar-benar seorang pria yang memegang kata-katanya; ia mengembalikan Nala tepat waktu sebelum jam malam yang ditentukan sang ayah berakhir.Hanggara mematikan mesin m

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 17

    Hanggara pergi cukup lama, membuat Nala sesekali gelisah dan menoleh ke arah kerumunan, takut pria itu kesulitan atau justru terlibat keributan lagi. Namun, saat sosok tegap itu akhirnya muncul membelah lautan manusia, Nala terpana.Hanggara tidak hanya membawa satu kotak dimsum mentai yang tadi ia

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status