LOGINSakti dan Laura duduk di ruang tunggu rumah sakit Menanti hasil dari tes DNA keluarga Dewangga. Siapa sebenarnya yang anak angkat. Sony atau Sakti. Apa rahasia dibalik semua ini. "Sayang , apa kamu mau balik ke rumah menemui Anita dan Sherly atau bagaimana? Atau kita mulai hidup baru. Lupakan semua masa lalu." "Udahlah, aku nggak mau kembali ke rumah itu lagi. Sherly mungkin sudah punya jalan sendiri. Mereka sudah bertemu dengan Simon, pamannya. Mereka sudah membuangku. Untuk apa aku kembali?" sahut Laura. "Seandainya aku ini anak angkat, apa kamu mau hidup denganku? Pria sederhana yang mungkin tidak punya apa-apa."Sakti menatap Laura lembut. "Sudahlah, Sayang. Jangan bahas itu lagi. Kamu punya kelebihan lain. Mungkin kita dibuang kini bertemu lagi Hidup baru lagi. Memulai yang baru," ucap Laura menenangkan Sakti. "Makasih ya, Sayang karena mau menemani aku. Zaman sekarang wanita yang dibutuhkan adalah harta tidak peduli apapun."Sakti mencium jemari tangan Laura. Baru kal
"Sayang, kenapa kamu masih merayu orang lain padahal di sini ada aku," ucap Cintia dengan nada tidak suka. Melihat Cintia di dekatnya, Sony mengeenyitkan dahi mendengus angat keras "Ngapain elo di sini? Gue nggak butuh lo!""Ada apa denganmu, Sayang? Aku ini calon istrimu." Sony terkekeh. Bahkan dia lupa kalau kakinya sedang sakit."Apa elu bilang? Wanita brengsek! Elu ngaku calon bini gue. Elu hanya sekretaris. Sekarang ngaku-ngaku elu adalah ibu dari anakk gue. Dasar jelek!" umpat Sony. "Apa elu bisa membuktikan kalau anak yang elu kandung adalah anak gue. Bisa jadi elu main dengan pria lain." "Sayang, bisa-bisanya elu seperti ini. Padahal sejak kamu sakit, aku yang menunggu di sini," ucap Cintia mulai terisak. "Siapa suruh elu nunggu di sini. Gue sudah gak butuh elu lagi!" Melihat kejadian ini Laura hanya tersenyum. Dia berjalan sampai di bibir ranjang. "Kasihan sekali hidupmu, Gadis Muda. Mungkin kamu tidak cocok masuk dalam keluarga ini," hina Laura. "Aku tidak akan dia
Sakti mengikuti polisi menuju ke ruang administrasi. Bahkan dia belum tahu keadaan keuangan Dewangga grup saat ini. Juga harta yang tersisa sejak dia dibuang di bawah jurang. Kondisi keuangan Dewangga Grup sungguh menghawatirkan. Banyak proyek yang dilelang. Dan hutang yang menumpuk. Seorang wanita berjilbab mukanya masih muda dan tersenyum pada Sakti. "Selamat siang, Pak. Apa benar Anda ini ada kakak korban tabrak lari kecelakaan maut di jalan raya itu?""Iya benar, saya adalah Kakak dari Sony.""Coba saya lihat kartu IDnya!"Sakti diam sejenak. Tangannya mengeluarkan dokumen. "Saya hanya punya ini peninggalan orang tua kami. Karena saya baru kecelakaan dan lupa ingatan. Saya baru kembali ke keluarga saya," jawab Sakti tenang. "Okelah kalau begitu," kata perawat itu.Kemudian mengambil berkas yang disodorkan Sakti. Ada akte dan kartu keluarga. Serta foto. Setelah mengecek, perawat itu mengangguk dan menyerahkan kembali. "Baiklah kalau begitu, saya hanya minta konfirmasi saja
Terpaksa Sakti dan Laura ikut mobil polisi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Soni. Tidak ada mobil yang tersisa. Bahkan untuk menelpon Eko juga sudah tidak bisa. Gak ada waktu. Keadaan sangat darurat Yah seperti tawanan saja mereka duduk di mobil polisi. PengalDi komplek itu memang tidak peduli dengan urusan orang lain sehingga ada mobil polisi yang parkir di rumah di Langga nggak ada yang mendekat.Begitu sampai rumah sakit Dijemput oleh polisi yang menjaga Sony di rumah sakit "Selamat siang, Pak. Apa benar Anda ini saudara kandung dari Pak Sony yang mengalami kecelakaan?" "Iya benar.Dimana Pak Sony dirawat?" tanya Sakti dengan suara yang sangat berwibawa."Mari ikut saya!" ajak polisi itu. Sakti dan Laura berjalan menyusuri lorong rumah sakit mengikut polisi yang bertubuh gembul. Sampai di ruang perawan VIP yang bernama ruang mawar, polisi itu berhenti. "Ini ruangan Pak Sakti. Silakan masuk melihat keadaan pasien, setelah itu Anda ikut saya ke ruang administrasi untuk m
Sakti dan Laura memasuki kamar pribadi kedua orang tuanya. Dia menyalakan lampu sehingga terlihat ruangan itu. Masih rapi tapi ada hawa lain. Merinding bulu Roma Sakti. Pengap dan berdebu "Wah, ini ruangan ini kamar kedua orang tuamu?""Iya, Sayang. Dulu aku masih tinggal di sini minta Mbok Karti untuk membersihkan.Karena Papa berpesan nggak semua orang bisa masuk ke kamar ini. Setelah aku dibuang ke jurang oleh Soni dan Rina ruangan ini tidak ada yang masuk. Kotor banget." "Wah kotor sekali," ucap Laura. Jemari Laura menyentuh meja yang debunya mungkin bertumpuk. Sakti tidak sabar langsung menuju ke sebuah brankas di pojok ruangan. Di sana ada harta milik kedua orang tuanya tapi dia tetap tidak tertarik. Dia lebih tertarik dengan dokumen tentang DNA keluarga Dewangga. Dia juga mengambil beberapa kepok uang untuk hal penting. Tes DNA itu yang diperlukan untuk mengetahui identitas Sony. Dirinya,kedua orang tua dan Soni. Foto keluarganya terpampang besar di dinding kamar ut
"Tuan... Tuan... "Apakah benar ini Tuan Sakti? Atau hanya orang yang mengaku sebagai Tuan Sakti?" Bibir Sakti bergetar hebat. Rasa kangen yang menumpuk dengan wanita yang telah mengasuhnya sejak kecil. Melebihi kedua orang tuanya yang sangat sibuk. Orang tuanya jarang bertemu bahkan saat malam mereka juga belum pulang. Yang ada hanya asisten rumah tangga Yang menemani dua puluh empat jam. Seperti dalam adegan film saja mereka saling pandang."Tuan, apakah Tuan masih ingat panggilan kesayanganku kepadamu? Kalau kamu benar-benar majikanku?" tanya Mbok Karti dengan suara sedikit bergetar.Sakti hampir tidak bisa berkata-kata. Teringat waktu kecil Mbok Karti yang menggendongnya sambil menembangkan lagu gundul-gundul pacul."Simbok selalu memanggilku dengan sebutan 'Kacung dan menyanyikan lagu Jawa yang aku nggak ngerti artinya."Tidak usah menunggu Sakti selesai bicara, Wanita tua itu langsung memeluk Sakti. "Tuan, kamu benar-benar majikanku nggak menyangka kalau bertemu lagi.S
Hiaaaat!"Sebuah teriakan memecah keheningan malam di lereng Lembah Timur.Hampir dua bulan Sakti berlatih ilmu bela diri dengan Pak Tua yang menemukannya.Fisik orang tua itu tampak renta, namun keahliannya dalam bela diri sangat luar biasa. Lompatan dan keseimbangannya sungguh menakjubkan.Sepulu
Sakti duduk di samping Laura di dalam mobil.Setelah mandi dan berganti pakaian, penampilannya benar-benar berubah. Hanya bekas luka di wajahnya yang masih terlihat.Laura meminta Sakti untuk memakai masker. Sebenarnya, Laura masih heran. Mengapa Sakti bisa berubah sejauh itu? Apakah sebenarnya d
Namun, Sakti tidak langsung menerima tawaran wanita cantik itu.Dia tidak mau salah jalan. Sekali masuk ke dalam perangkap, bisa saja dia tak bisa keluar. Bagaimanapun, Sakti tidak mengenal siapa wanita itu. Banyak sekali sekarang pura-pura baik tapi menusuk dari belakang. Seperti yang dilakukan
Kamu harus pergi ke Daerah Barat," kata Pak Tua suatu malam."Cari seseorang bernama Dirjaya. Dia pemilik perusahaan bus dan pemborong terkenal." Pak Tua menatap Sakti dengan tajam. "Dia memiliki tato kalajengking di lehernya. Dia juga punya geng yang sangat kuat. Aku pesimis kamu bisa mengalahkan







