Mag-log in"Apa ada kamar kosong?" Sakti menatap pria setengah tua yang sedang duduk sambil memainkan ponsel.
Pria itu berdiri, menatap Sakti dengan curiga. Apalagi Sakti sambil menggendong wanita. "Ada, tapi mahal. Apa kamu sanggup bayar?" tawar pria itu. Sepertinya sengaja melihat keadaan Sakti yang menggendong Laura. "Ok. Berapa?" Pria itu menyebutkan harga sewa kamar untuk satu malam. Tanpa pertimbangan lagi Sakti setuju. "Aku akan bayar tapi tolong bukakan pintu kamar dulu. Istriku sedang sakit," ucap Sakti. Terpaksa dia harus mengakui Laura sebagai istrinya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk. Dengan tergesa penjaga rumah itu membukakan kamar untuk Sakti. Tempat itu tidak terlalu baik. Hanya kamar dengan satu kasur kumuh. Penerangan apa adanya. Mungkin tempat itu adalah hotel murahan yang bisa disewa wanita penjaja kepuasan. Laura masih pingsan digendong Sakti. Setelah meletakkan tubuh Laura di kasur, segera dia mengambil tas Laura lalu mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan pada pria itu. Mata pria itu membulat seolah tidak percaya melihat uang warna merah yang ada di tangannya. Rejeki nomplok. "Terima kasih, Bos. Kalau ada apa-apa silakan panggil aku di luar. Tenang saja aman. Tidak ada satpol PP yang akan mengecek tempat ini," ujar pria itu sambil melirik ke arah Laura di atas kasur. Mungkin dia mengira Laura adalah wanita nakal melihat pakaiannya terbuka. Untung saja Sakti sudah menutupi dengan kaos yang dipakai. "Awas! Jangan kamu pandangi istriku. Kurang ajar sekali!" bentak Sakti "Oh maaf Bos. Istri Anda sangat semok dan mulus. Selamat menikmati malam yang indah," ucap pria itu sambil menyeringai. "Dasar pria hidung belang. Di otaknya hanya pikiran mesum saja," gerutu Sakti buru-buru menutup pintu. Sakti mendengus keras. Kejadian yang di luar perkiraan. Kenal dengan wanita aneh yang mengubah dirinya menjadi pria lagi. Padahal di bawah jurang, Sakti hampir tidak peduli dengan penampilan. Bagi Sakti kamar ini jauh lebih baik daripada hidup di hutan. Masih ada kipas angin dan jendela. Perlahan dia membuka jendela kamar. Tiupan angin malam langsung menyergap wajahnya. Suasana hening dan sepi. Sepintas dia lirik Laura. Berdua saja dengan wanita misterius yang baru saja ketemu. "Rina, ingat aku akan datang dengan wajah yang berbeda," geram Sakti. Laura perlahan membuka matanya. Dia langsung duduk. "Hei aku ada di mana?" teriak Laura. "Kamu sakit. Aku cari penginapan terdekat. Apa kamu sudah baikan?" Sakti menengok dan duduk di sebelah Laura. "Hmmm, aku sudah mendingan. Tempat apa ini? Aku tidak bisa tidur di tempat ini," ucap Laura dengan mata mengelilingi suasana kamar. "Aku gak tau. Yang penting kamu sadar dulu. Uangmu aku pakai untuk bayar sewa kamar." Laura langsung bangkit mengambil tas dan menarik tangan Sakti. "Aku bisa mati berdiri kalau tidur di tempat ini. Kamu gak tau siapa aku, kan?" Laura sedikit emosi. "Hei tenang. Malam cuma sebentar. Kamu gak akan nemui kayak gini lagi. Ini akan kasih kamu kenangan yang indah. Apalagi satu kamar denganku," balas Sakti menenangkan Laura. Tangan kekar itu justru menarik tubuh Laura dalam rengkuhannya. "Sakti, aku gak bisa tidur di tempat ini," protes Laura. Sakti hanya diam terus menatap mata Laura dalam dekapannya. Dengan memeluk Laura paling tidak bisa menenangkan wanita itu. "Aku pikir malam sudah larut. Kalaupun keluar pasti ada polisi razia. Apa kamu mau ditangkap? Mereka pikir kamu penjaja kepuasan birahi. Lihat pakaianmu?" Kembali Laura terdiam. Justru merebahkan kepalanya di dada bidang Sakti. Sudah sekian lama dia tidak merasakan kehangatan itu. Walau dengan pria yang baru dikenalnya,Laura merasa aman. Harum rambut Laura menyeruak membuat Sakti memejamkan mata. Dia mencoba menahan gelora yang mulai menjalar di tubuhnya. Sakti merasa aneh mengapa ada sesuatu yang mulai bergerak. "Laura," lirih Sakti. "Apa kamu tidak takut denganku?" Laura mendongak dan menatap mata Sakti. Hening. Hanya mata yang berbicara. Laura merasa tidak takut dengan Sakti, walau baru mengenalnya. Wanita itu merasa Sakti orang baik. Bahkan melindunginya. "Aaah," desah Sakti ketika dua benda padat Laura menempel di dadanya. Apalagi Laura tanpa mengenakan pengait. Kejantanan Sakti mulai merangsek maju dan mengeras. Sakti mendongak, tidak ingin melakukan hal itu pada wanita yang baru dikenalnya. Namun.... Sakti tidak bisa menolak. Bahkan mengangkat dagu Laura. Mata Laura terpejam. "Aah, aku mau," lirih Laura tidak bisa menahan hasrat. Apalagi dia tidak pernah dijamah pria. Sakti memajukan bibirnya ingin menggigit bibir seksi Laura. Tangan Laura mulai nakal. .Seminggu berlalu..Sakti masih berada di rumah Dewangga. Dia ingin mengenang masa-masa kecil waktu bersama kedua orang tuanya sebelum kecelakaan. Bahkan sampai sekarang tragedi itu belum juga terpecahkan. Siapa yang menabrak mobil orang tuanya juga belum jelas. Menghilang begitu saja. Polisi tidak menemukan bukti siapa sebenarnya penabrak misterius itu atau yang menyebabkan mobil kedua orang tuanya mengalami rem blong. Kini ditambah kenyataan bahwa dirinya bukan anak kandung dari keluarga Dewangga. Artinya bukan pewaris utama semua kekayaan dan aset milik Tuan Dewangga. Perjuangannya selama ini habis sudah. Kenyataan pahit saat dia kembali lagi, ingin merebut kembali. Sakti duduk di pinggir kolam ikan di belakang rumah mewahnya. Memandangi gerak gerik ikan yang berebut makanan. Sampai sekarang sertifikat rumah itu juga masih atas nama Tuan Dewangga. Dia hanya punya beberapa aset dan mobil. Serta harta di perusahaan. Tapi sejak dia dibuang namanya sudah dibekukan dan diganti ol
Sakti sudah membayar perawat untuk menjaga Soni di rumah sakit. Walau punya dendam tapi pria itu gak tega. Saat Soni sedang sakit. Sakti berusaha kuat setelah tau hasil DNA keluarganya dan menbuktikan siapa dirinya. Selama hampir 30 tahun tidak tau rahasia kehidupannya. Lalu siapa dirinya? Apakah dia dipungut dari Panti Asuhan atau di jalan atau bahkan anak orang lain. Pantas saja Sony sangat membencinya karena merebut tempat di hati kedua orang tuanya. Mungkinnya Soni tahu rahasia itu sebelum dirinya. Di dalam taksi, pria itu hanya diam saja. Tatapannya mengarah pada jalan raya."Apa kita juga punya nasib yang sama, Sayang? Seperti orang ilang. Gak tau siapa sebenarnya orang tuaku. Bahkan setelah aku merasa menjadi pewaris utama. Dasar!" umpat Sakti dengan mengepalkan tangan. Laura paham apa yang bergemuruh di dada suaminya. "Sudahlah daripada memikirkan itu, lebih baik kita fokus masa depan kita saja. Apa kamu jadi mau ke Semarang? Menjalankan amanah dari almarhumah Ratih?" t
Tiga hari kemudian.. Sakti dan Laura duduk di ruang tunggu rumah sakit Menanti hasil dari tes DNA keluarga Dewangga. Siapa sebenarnya yang anak angkat. Sony atau Sakti. Apa rahasia dibalik semua ini. "Sayang , apa kamu mau balik ke rumah menemui Anita dan Sherly atau bagaimana? Atau kita mulai hidup baru. Lupakan semua masa lalu." "Udahlah, aku nggak mau kembali ke rumah itu lagi. Sherly mungkin sudah punya jalan sendiri. Mereka sudah bertemu dengan Simon, pamannya. Mereka sudah membuangku. Untuk apa aku kembali?" sahut Laura. "Seandainya aku ini anak angkat, apa kamu mau hidup denganku? Pria sederhana yang mungkin tidak punya apa-apa." Sakti menatap Laura lembut. "Sudahlah, Sayang. Jangan bahas itu lagi. Kamu punya kelebihan lain. Mungkin kita dibuang kini bertemu lagi Hidup baru lagi. Memulai yang baru," ucap Laura menenangkan Sakti. "Makasih ya, Sayang karena mau menemani aku. Zaman sekarang wanita yang dibutuhkan adalah harta tidak peduli apapun.
"Sayang, kenapa kamu masih merayu orang lain padahal di sini ada aku," ucap Cintia dengan nada tidak suka. Melihat Cintia di dekatnya, Sony mengeenyitkan dahi mendengus angat keras "Ngapain elo di sini? Gue nggak butuh lo!""Ada apa denganmu, Sayang? Aku ini calon istrimu." Sony terkekeh. Bahkan dia lupa kalau kakinya sedang sakit."Apa elu bilang? Wanita brengsek! Elu ngaku calon bini gue. Elu hanya sekretaris. Sekarang ngaku-ngaku elu adalah ibu dari anakk gue. Dasar jelek!" umpat Sony. "Apa elu bisa membuktikan kalau anak yang elu kandung adalah anak gue. Bisa jadi elu main dengan pria lain." "Sayang, bisa-bisanya elu seperti ini. Padahal sejak kamu sakit, aku yang menunggu di sini," ucap Cintia mulai terisak. "Siapa suruh elu nunggu di sini. Gue sudah gak butuh elu lagi!" Melihat kejadian ini Laura hanya tersenyum. Dia berjalan sampai di bibir ranjang. "Kasihan sekali hidupmu, Gadis Muda. Mungkin kamu tidak cocok masuk dalam keluarga ini," hina Laura. "Aku tidak akan dia
Sakti mengikuti polisi menuju ke ruang administrasi. Bahkan dia belum tahu keadaan keuangan Dewangga grup saat ini. Juga harta yang tersisa sejak dia dibuang di bawah jurang. Kondisi keuangan Dewangga Grup sungguh menghawatirkan. Banyak proyek yang dilelang. Dan hutang yang menumpuk. Seorang wanita berjilbab mukanya masih muda dan tersenyum pada Sakti. "Selamat siang, Pak. Apa benar Anda ini ada kakak korban tabrak lari kecelakaan maut di jalan raya itu?""Iya benar, saya adalah Kakak dari Sony.""Coba saya lihat kartu IDnya!"Sakti diam sejenak. Tangannya mengeluarkan dokumen. "Saya hanya punya ini peninggalan orang tua kami. Karena saya baru kecelakaan dan lupa ingatan. Saya baru kembali ke keluarga saya," jawab Sakti tenang. "Okelah kalau begitu," kata perawat itu.Kemudian mengambil berkas yang disodorkan Sakti. Ada akte dan kartu keluarga. Serta foto. Setelah mengecek, perawat itu mengangguk dan menyerahkan kembali. "Baiklah kalau begitu, saya hanya minta konfirmasi saja
Terpaksa Sakti dan Laura ikut mobil polisi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Soni. Tidak ada mobil yang tersisa. Bahkan untuk menelpon Eko juga sudah tidak bisa. Gak ada waktu. Keadaan sangat darurat Yah seperti tawanan saja mereka duduk di mobil polisi. PengalDi komplek itu memang tidak peduli dengan urusan orang lain sehingga ada mobil polisi yang parkir di rumah di Langga nggak ada yang mendekat.Begitu sampai rumah sakit Dijemput oleh polisi yang menjaga Sony di rumah sakit "Selamat siang, Pak. Apa benar Anda ini saudara kandung dari Pak Sony yang mengalami kecelakaan?" "Iya benar.Dimana Pak Sony dirawat?" tanya Sakti dengan suara yang sangat berwibawa."Mari ikut saya!" ajak polisi itu. Sakti dan Laura berjalan menyusuri lorong rumah sakit mengikut polisi yang bertubuh gembul. Sampai di ruang perawan VIP yang bernama ruang mawar, polisi itu berhenti. "Ini ruangan Pak Sakti. Silakan masuk melihat keadaan pasien, setelah itu Anda ikut saya ke ruang administrasi untuk m
Sakti duduk di samping Laura di dalam mobil.Setelah mandi dan berganti pakaian, penampilannya benar-benar berubah. Hanya bekas luka di wajahnya yang masih terlihat.Laura meminta Sakti untuk memakai masker. Sebenarnya, Laura masih heran. Mengapa Sakti bisa berubah sejauh itu? Apakah sebenarnya d
Namun, Sakti tidak langsung menerima tawaran wanita cantik itu.Dia tidak mau salah jalan. Sekali masuk ke dalam perangkap, bisa saja dia tak bisa keluar. Bagaimanapun, Sakti tidak mengenal siapa wanita itu. Banyak sekali sekarang pura-pura baik tapi menusuk dari belakang. Seperti yang dilakukan
Kamu harus pergi ke Daerah Barat," kata Pak Tua suatu malam."Cari seseorang bernama Dirjaya. Dia pemilik perusahaan bus dan pemborong terkenal." Pak Tua menatap Sakti dengan tajam. "Dia memiliki tato kalajengking di lehernya. Dia juga punya geng yang sangat kuat. Aku pesimis kamu bisa mengalahkan
Hiaaaat!"Sebuah teriakan memecah keheningan malam di lereng Lembah Timur.Hampir dua bulan Sakti berlatih ilmu bela diri dengan Pak Tua yang menemukannya.Fisik orang tua itu tampak renta, namun keahliannya dalam bela diri sangat luar biasa. Lompatan dan keseimbangannya sungguh menakjubkan.Sepulu