LOGINPagi yang cerah. Sakti bangun duluan. Dia menatap Laura yang masih tidur dengan lelap. Wajahnya begitu polos seolah tanpa beban. Bebas dari urusan bisnis. Mungkin ini kehidupan yang diinginkan Laura waktu itu. Apa mungkin dia akan mengajak Laura balek ke rumahnya atau pergi mengembara ke Jawa Tengah. Tepatnya ke Alas Roban. Dia akan menjalankan tugas dari gurunya dan roh yang menempati cincin miliknya. "Oh ya, aku belum mengabari Ratih udah hampir lima hari."Sakti duduk di kursi kerja dan membuka laptopnya. Juga mengirim pesan pada Ratih. Dia merasa sangat bersalah karena sudah beberapa hari gak ngasih kabar.(Selamat pagi, Ratih. Maafkan aku ya karena gak masuk kerja. Ada urusan yang lebih penting.) Sakti mulai mengirimkan pesan.Tidak menunggu lama, Ratih membalas pesan Sakti. (Iya Pak Sakti. Aku gak apa-apa kok. Pak Sakti boleh masuk kalau urusan sudah selesai. Terima kasih sudah memberikan modal untuk melelang Kapuk Permai) Balas Ratih. (Oh ya Pak Sakti. Apa sudah dengar kab
"Kalau aku cerita apa kamu percaya?""Atau menganggap aku ini hanya halu dan ngarang aja," ucap Sakti. "Lagian kamu baru saja sembuh, aku gak mau bikin kamu sakit lagi.""Aku gak apa-apa. Aku akan pergi kalau kamu ngomong gantung kayak gini."Sakti bangkit. Menaruh bantal besar di punggung Laura. Membuat wanita itu nyaman tiduran. Selimut tebal ditarik untuk menutupi tubuh Laura. Wanita itu sudah gak tegang lagi. Sakti berbaring di sebelah Laura. Memeluk dan menciumi wanita itu. Walau wajah Laura gak semulus dan secantik dulu. Tetap saja, Sakti gak bisa berpaling. Setelah dihianati Rina. Hanya Laura saja dalam hidupnya. Laura kadang meringis sakit. Kepalanya masih diperban. Mungkin butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan dan memulihkan bekas jahitan di bagian belakang kepalanya. "Sayang,aku gak bisa tidur kalau kamu gak lanjut ceritanya,"bisik Laura. Padahal Sakti mau cerita besok saja. Saat ini dia udah capek dan ngantuk berat. Tangannya memeluk tubuh Laura. Besok juga dia aka
"Bagaimana ciri-ciri orang itu?" Ratih mulai mengorek informasi dari pria berkulit hitam itu. Namun apa yang terjadi? Pria itu malah melihat Ratih dengan pandangan mesum. Buru-buru Ratih mengambil uang seratus ribuan lalu diberikan pada pria itu. "Mas, makasih ya sudah ngasih info," ucap Ratih sedikit dengan wajah pucat. Dia sendirian. Kalau di tempat ini dia apa-apain pasti gak ada yang nolong. Apalagi dengan rok yang sangat pendek. Kulit putih dan penampilan kayak artis. Ratih baru menyadarinya. "Rupanya Sakti sudah bertemu dengan wanita itu. Atau itu Laura. Istri yang hilang dan dicari Sakti? Hmm, kayaknya semakin susah dapatin Pak Sakti. Padahal aku udah baik merawat dia di rumah sakit. Tapi tetap saja."Ratih kesal. Tidak jadi mencari Sakti. Langsung menuju ke kantornya. Untuk saat ini dia lebih fokus pada bisnisnya......Selang tiga hari, Laura dinyatakan sembuh. Dia minta pada Sakti untuk diantar pulang. Tapi Sakti gak setuju. Dia mengendus sesuatu yang busuk di rumah
Baru saja Sakti akan menyanyikan lagu balonku ada lima. Mendadak perutnya terasa sakit. "Sayang, maaf ya. Aku gak jadi nyanyi. Aku mau ke kamar mandi," ucap Sakti sambil meringis. Dia meninggalkan Laura dengan tawanya yang lepas. Baru kali ini dia bisa berbuat seperti ini. Laura menatap punggung Sakti. Dia tidak mengerti kalau memang kemaren dia masuk rumah sakit. Kenapa rambut Sakti udah gondrong. Padahal waktu bersamanya rambutnya pendek dan rapi. Kulit Sakti juga sedikit gelap dengan otot lengan kayak pegulat. "Kayak bukan Sakti tapi dia Sakti. Sebenarnya ada apa?" Laura terus bertanya dalam hati. Setengah jam kemudian.Sakti keluar masih memegangi perut. Rupanya tadi dia makan bakso dengan Eko dengan sambel yang banyak. Hingga perutnya sakit. "Kenapa belum tidur. Ini sudah mau dini hari. Tidurlah. Aku akan di sampingmu," ucap Sakti kembali duduk di samping ranjang rumah sakit. "Yang, ini kamu kan? Sakti yang aku temukan dan aku paksa nikah?" tanya Laura gak mau berpaling
Pukul 01.00 dini hari di rumah sakit.Hanya terdengar bunyi detak jantung Sakti dan Laura. JugaSuara jam yang ada di kamar VIP Aroma menyengat dan bau karbol menyeruak di hidung Sakti.Pria gagah dan gondrong itu tertidur di ranjang rumah sakit. Baru kali ini sakit merasakan tidur di rumah sakit menunggu istri. Sebelumnya mana pernah dia seperti ini. Semua dia serahkan kepada asisten dan karyawan. Kini hidupnya menjadi lain, penuh arti. Dia merasakan menunggu seseorang yang dia cintai, siuman mengharapkan dia kembali. Laura membuka mata, nafasnya sudah teratur tapi kepalanya masih terasa sangat berat. Hanya bau karbol dan obat yang menyeruak di hidungnya. Laura berusaha menggerakkan tangan yang digenggam oleh Sakti. "Sakti, Sayang," lirih Laura hampir tidak terdengar. Tangan Laura bergerak hingga membuat Sakti terbangun. "Laura!" pekik langsung berdiri. Mereka saling tatap penuh kasih. Akhirnya bertemu juga. Terakhir Laura masih ingat di rumah Simon kini dia berada di r
Rina pikir, Sakti sudah menunggu di Hotel Cakra seusai kesepakatan. Rina akan membayar sejuta satu jam untuk bertemu dengannya. Rina tidak peduli walau harus keluar uang. Yang penting bisa kencan dengan Dewa. Pria mana yang gak akan tergoda lihat penampilan Rina saat ini. Seksi dan montok. Atau bisa lanjut ke kamar hotel. Melihat betapa gagah Dewa akan bercinta dengan dirinya. Sampai di hotel Cakra, Rina masih yakin kalau Dewa akan datang sesuai janji. Dia berjalan dengan santai. Belum juga bertemu dengan Dewa, dia menangkap sosok yang gak asing lagi. SONY. Pria itu datang dengan wanita lain. Sungguh memuakkan. Pria yang sudah merasakan lebih dari satu wanita tidak akan berhenti untuk berpetualang. Bahkan pria itu mungkin akan check in ke hotel itu juga. Rina memilih menghindar dari pria itu. Gak peduli lagi. Rina lebih milih pergi. Sony yang dulu membuat dia hampir gila. Kini kencan dengan wanita yang lebih muda dan cantik. Rina menuju cafe yang ada di hotel itu. Memesan wine
Sakti mengantar Rina. Atas permintaan Sakti sendiri. Sambil ingin mengorek keterangan kapan mereka menikah. Atau gak bikin balas dendam dengan caranya sendiri. Bikin Rina tertarik dan jatuh cinta. "Terima kasih sudah mau mengantar sampai rumah. Aku gak bisa balas," ucap Rina dengan senyum manisny
"Enyah dari pandanganku!" bentak Sakti. Dia mendorong dua pria bertubuh kekar itu hanya dengan sekali hentakan saja. Hingga mereka terjungkal dekat meja saji di sebelah. Wanita itu berdiri di belakang Sakti dengan wajah pias. Ada titik bening ngalir dari kedua matanya. Napasnya naik turun. Terde
Sampai pulang kantor, Ratih tidak menemuinya. Wanita itu berubah dalam sekejap. Yang tadinya ramah mendadak dingin. Sakti juga sibuk dengan kerjaan barunya. Dia kembali harus berurusan dengan data-data. Dia merasa bosan. Lebih suka hidup berpetualang di alam bebas, daripada harus berkutat di bela
Di dalam mobil, Ratih dan Sakti tidak banyak bicara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sakti justru memikirkan untuk segera menjemput Laura di kampung nelayan. Sementara Ratih melirik Sakti. Dia semakin terpesona dengan pria yang duduk di sebelahnya. "Siapa pacarmu, Ratih?" tanya Sakti me







