LOGINRina pikir, Sakti sudah menunggu di Hotel Cakra seusai kesepakatan. Rina akan membayar sejuta satu jam untuk bertemu dengannya. Rina tidak peduli walau harus keluar uang. Yang penting bisa kencan dengan Dewa. Pria mana yang gak akan tergoda lihat penampilan Rina saat ini. Seksi dan montok. Atau bisa lanjut ke kamar hotel. Melihat betapa gagah Dewa akan bercinta dengan dirinya. Sampai di hotel Cakra, Rina masih yakin kalau Dewa akan datang sesuai janji. Dia berjalan dengan santai. Belum juga bertemu dengan Dewa, dia menangkap sosok yang gak asing lagi. SONY. Pria itu datang dengan wanita lain. Sungguh memuakkan. Pria yang sudah merasakan lebih dari satu wanita tidak akan berhenti untuk berpetualang. Bahkan pria itu mungkin akan check in ke hotel itu juga. Rina memilih menghindar dari pria itu. Gak peduli lagi. Rina lebih milih pergi. Sony yang dulu membuat dia hampir gila. Kini kencan dengan wanita yang lebih muda dan cantik. Rina menuju cafe yang ada di hotel itu. Memesan wine
Sakti dan Eko masuk ke dalam ruang rawat inap. Ada dua perawat berusaha memberikan pertolongan pada Laura. Sakti sangat cemas. Dia memegang tangan Laura. Berusaha menyalurkan tenaga dalam pada istrinya. Sakti tau, kalau Laura kondisinya lemah. Hingga dua menit berlalu. "Laura, kamu harus sembuh, Sayang," bisik Sakti dengan mengerahkan tenaga dalam.Keajaiban terjadi. Tubuh Laura yang tadinya membiru kini mulai terlihat merah. Ada aliran darah."Wah, dia mulai membaik,Pak!" teriak perawat dengan wajah berseri. Pasien bisa diselamatkan. Monitor yang tadinya bergerak sangat cepat kembali naik normal. "Terima kasih, Suster," ucap Sakti sambil membungkuk. Hampir saja Laura pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Sebelum melihat Sakti. "Bang,aku pamit dulu ya. Mau narik lagi," ucap Eko. "Iya Mas Eko. Makasih sudah banyak membantu. Oh ya suatu saat pasti aku menghubungi Mas Eko," ucap Sakti. Dia berdiri dan memegang pundak Eko. Terkadang orang yang kelihatan sepele dan gak p
Sakti melompat saat mendengar suara teriakan minta tolong. Dia sangat mengenal suara itu. Mirip suara Laura. Dari jauh dia melihat wanita berambut pirang ditarik paksa oleh dua laki-laki yang berperawakan besar dan kulitnya hitam. Wanita itu Laura. "Tolong lepaskan! Aku gak mau jadi tahananmu!" teriak Laura mencoba melepaskan dari tangan pria yang menariknya. Hingga pakaiannya koyak dan tubuhnya berdarah di kaki dan lutut. "Enak aja. Mak Jamilah punya utang yang gede. Kapan mau bayar. Gak nyangka punya anak segede gini. Cantik dan montok pula. Walau gak muda. Ha...haa . Lumayan nanti bisa digilir dengan bos."Salah satu pria terus menarik tubuh Laura akan dimasukkan ke dalam mobil. BRAAAAAK...Tendangan mematikan mengenai punggung pria itu hingga tubuhnya tersungkur mental mengenai mobil yang terparkir di pinggir jalan. Salah satu pria datang menghadang dan mendorong tubuh Laura hingga wanita itu tersungkur. "Elu siapa? Mau ikut campur aja!" teriak salah satu pria dengan mata
Malam ini Sakti akan pergi ke daerah nelayan Tanjung Priuk. Niatnya pasti ingin menemui Laura yang hilang ingatan. Dia punya uang sekarang. Hadiah pertandingan melawan Jack hanya dipakai separuh untuk mengambil alih Kapuk Permai. Tinggal sedikit lagi. Proyek itu akan cair. Sebenarnya Kapuk Permai gak terlalu besar hanya proyek kecil saja. Hanya beberapa rumah elit yang butuh penanganan khusus. Apalagi besok Minggu. Sakti gak kerja. Dia gak pamit sama Ratih. Mending pergi begitu saja. Terkadang Ratih orangnya keppo walau baik. Dia tidak menyalakan ponselnya. Biar Ratih gak bisa dihubungi. Kali ini dia memeriksa tas atau baju yang dia pakai. Siapa tau ada chip. Atau meninggalkan ponsel yang sudah dilacak Ratih. Dia pergi gak akan bawa ponsel. Pengalaman sebelumnya, Ratih bisa menemukan dirinya. Dia gak nyadar. Sakti memasukkan beberapa uang gebok di dalam tas. Gak bawa baju ganti yang banyak. Dia hanya kangen dengan Laura. Wanita itu memberikan semangat saat bertanding dengan Jack.
Sakti turun dari mobil pink milik Ratih. Dia menyibakkan rambut gondrongnya. Mengusap cincin yang dipakai. Tatapannya dingin, seperti kutub Utara yang gak akan bisa cair. Ratih turun belakangan. Tangannya gemetar. Selama berurusan dengan dunia property baru kali ini menghadapi preman. Wajah garang penuh tato, juga memakai senjata tajam. Ratih pilih mundur. Ternyata ngurus Kapuk Permai, hasil lelang dari Dewangga Grup butuh effort yang luar biasa. Ratih memilih memindahkan mobil kesayangannya jauh dari preman itu. Gak ingin terjadi sesuatu. "Kalian siapa?" bentak Sakti dengan mata merah. Langkahnya tegap. Tidak gentar sedikitpun. Pria bertato dengan tubuh kekar maju. Dia mendelik mengacungkan parang pada Sakti. "Gak perlu tau siapa kami. Elu enyah dari proyek ini. Gue gak mau ganti pengurus!" bentak preman itu. "Kalau gak mau pergi, jangan harap elu bisa balik. Pulang nama aja!" tambah preman itu. Sakti mengusap hidung dengan tangan kanan. Berdiri tepat di hadapan para preman
Sakti memilih diam dan santai. Dia melempar senyum dingin pada Sony. Pria ganteng itu seolah gak peduli dengan Sakti. Dia duduk di dekat Ratih. "Tumben bos besar mau makan di tempat kayak gini," batin Sakti. "Enak kan Pak....?" tanya Ratih menggantung saat melihat Sakti memberikan kode pada Ratih agar tidak memanggil namanya. Ada Sony. "Iya, ingat waktu aku kecil dulu. Makan dengan adik dan kedua orang tuaku," sahut Sakti sengaja mengeraskan suaranya. "Kayak nostalgia kan?""Makasih ya sudah mengajakku ke sini," balas Sakti. Mereka makan tanpa banyak bicara. Ratih kadang melirik ke arah Sakti dan tersenyum malu-malu. Hingga...Sony datang mendekat. "Halo Bu Ratih. Gak nyangka ya kita ketemu lagi," ujar Sony. Penampilan Sony kali ini sungguh jauh berbeda. Kayak orang habis mabuk teler semaleman. "Iya Pak Sony. Gimana kabar Anda? Apakah perusahaan Anda masih baik- baik saja. Aku dengar Dewangga Grup sudah melelang sahamnya besar-besaran. Ratih Property juga ikut memborong saham
Sakti sengaja menggenggam tangan Sony agak lama. Dia ingin menarik tangan itu dan mematahkannya. Tapi..Tidak.Pria itu tidak mau mengotori tangannya dengan melenyapkan Sony, adiknya.Biar saja Sony hancur dengan tangannya sendiri. Keluar keringat dingin dari tangan dan dahi Sony. "Apa Anda kenal
"Pak, tahan napas. Kita sudah sampai di Dewangga Grup. Akan bertemu dengan Sony," bisik Ratih. Dia mematikan mesin mobilnya. Kemudian dia mengambil tas kecil. Memperbaiki rias wajah. Menyisir rambut. Juga rok dan blus yang dipakai. Cantik. Mempesona. "Ratih, kamu harus dandan cantik gitu ya saa
Sony mengedor pintu mobil. Tidak sabar ingin keluar. Dia tidak pergi ke kantor tapi pulang ke rumah. Rumah Sakti dan kedua orang tuanya. Dia memukul benda yang ditemuinya. Seorang asisten cantik datang menyambutnya. Kena sasaran juga. Sony mendorong tubuh wanita itu hingga tersungkur. "KEPARAT.
Sony pulang dari kantor langsung menuju sebuah club untuk menenangkan pikirannya. Semua tender milik Dewangga Grup hampir berantakan. Pegawai keuangan yang direkrut justru mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bahkan mengambil dana perusahaan. Dia juga sudah menjual aset milik Sakti secara ilega







