Home / Male Adult / Nelayan Perkasa Pemikat Wanita / Gagal Maning Gagal Maning

Share

Gagal Maning Gagal Maning

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-09-08 23:54:11

Pagi itu sebuah kesimpulan disepakati oleh Ratna, Sari dan Sumiyati tentang upaya pembatalan pernikahan antara Kardi dan Sari, dengan sebuah kompensasi berupa pemberian uang serta perhiasan kepada Sari.

"Untuk sementara aku memberimu ini dulu, nanti kalau benar-benar gagal aku tambahin lagi uangnya!" ucap Sumiyati, dia menyerahkan sebuah gelang yang terbuat dari emas pada Sari.

"Ya aku pun tidak ingin menikah dengannya," kata Sari tersenyum.

Sekitar jam 09.00 pagi, Sari pergi ke pasar yang ada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Bisa Kabur

    Malam kian larut semua orang yang ada di tempat itu tak berani keluar, sedangkan Yudha masih berdiri di kegelapan malam dengan aroma anyir darah ikan di tubuhnya. Dia berjalan seorang diri menuju pantai, rupanya ada kapal lain yang terdampar di sana. Terlalu malam jika ia harus memeriksa ke sana, namun suara orang-orang yang baru datang membuat Yudha penasaran."Lihat ini emas! Apa yang kita temukan di pulau ini harta, kita akan kaya!" "Ya, benar! Tak perlu kerja seumur hidup, kita akan membeli semuanya!"Teriak mereka yang belum menyadari akan bahaya yang mengintai, Yudha masih bersembunyi di antara semak belukar. Ketika orang-orang itu hendak masuk ke hutan, tiba-tiba mahluk mengerikan itu datang dari segala penjuru, menyerang dan mencabik-cabik seolah-olah mereka tak pernah makan. "Biadab! Mahluk apa ini?!" gumam Yudha, orang-orang yang datang dalam keadaan tersesat itu ketakutan, ketika mundur mereka terhalang oleh hutan namun ketika maju makhluk-makhluk menyeramkan datang denga

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Teror

    Semuanya masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat bahkan mematikan setiap nyala cahaya di tempat itu, bernafas pun mereka harus hati-hati. "Kenapa kita harus seperti ini? Aku tidak bisa tenang di dalam kegelapan seperti sekarang, setidaknya nyalakan satu pijar," pinta Sekar, namun Jono enggan menuruti sebab jika ada cahaya di ruangan tersebut sama artinya membiarkan mereka mati dimangsa mahkuk mengerikan penghuni Kota bekas wilayah tambang tersebut. "Jangan egois, kita semua mau tetap hidup begitu keluar dari sini," ujar Parjo. Terpaksa malam itu dilalui dengan berada di tempat gelap, Yudha dan Jono berjaga di dekat pintu. Adiknya Sari itu sangat lelah, ia bersandar pada dinding sambil membawa parang. Satu persatu mereka mulai tidur, namun sekitar jam tiga dini hari terdengar suara raungan dan langkah kaki setengah diseret."Yudha, aku takut," ratap Sekar, dia mendekati Yudha yang berjaga. "Ssttt! Kita enggak tau itu suara apa, sebaiknya diam dan jangan berbicara," bisi

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Bukit Tengkorak

    Yudha terdiam beberapa saat, dia mungkin bisa mengambil sebongkah emas dan merubah hidupnya yang miskin menjadi kaya tapi belum tentu bisa merubah takdirnya menjadi orang yang hidupnya bahagia. Bahagia tidak selamanya diukur dengan harta, tapi dengan kebersamaan dan kerja keras maka hasilnya akan terasa luar biasa. "Baik, tentunya ada alasan kenapa barang-barang itu ditinggalkan begitu saja di sini. Ayo, sebaiknya kita pergi ke atas bukit hanya untuk memastikan jika niatku pergi ke Kota Tembaga adalah salah. Aku memang menginginkan berada di sini untuk bekerja dan memperbaiki kualitas hidup, tapi yang aku lihat sekarang hanya sisa-sisa belaka yang pernah ada dunia," ujar Yudha mantab. Dia melangkahkan kaki menuju atas bukit, jalannya tidak mudah karena di sepanjang jalan dia sering melihat serpihan tengkorak dan tulang-belulang manusia. Dia tidak bisa membayangkan, seperti apa kehidupan di masa lalu tempat ini sehingga menjadikannya begitu menyeramkan. "Harus ada jawaban yang masuk

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Dunia Tersembunyi

    Gelora Cinta Di RimbaMendengar Sekar berteriak, Jono langsung bersembunyi. Berbeda dengan Yudha, ia melihat ke depan dengan sikap waspada. "Jangan panik, mungkin itu cuma angin," ujarnya. Setelah sekian detik, semak belukar kembali tenang dan mereka pun melanjutkan perjalanan mencari sesuatu yang bisa digunakan. "Desa apa ini? Kenapa semua orang pergi," gumam Yudha, ia sampai di sebuah gapura besar yang tertutup semak belukar, rumah-rumah yang kokoh berbahan bata namun tampak kusam karena lama tak dihuni. "Mungkin penduduknya pergi, tewas karena wabah penyakit atau karena bencana," ucap Jono. "Jika bencana belum tentu, rumah-rumah itu masih utuh. Mungkin karena penyakit juga bisa, dan semuanya pergi untuk mencari kehidupan lain," timpal Yudha. Mereka mendekati sebuah rumah, rumput hampir menutupi akses masuk ke sana."Yudha, kamu mau apa?" Sekar tampak ketakutan ketika Yudha mendorong pintu rumah tersebut. Braaak!Hanya sekali dorong, pintu itu rubuh. Puluhan kecoa dan tikus ber

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pulau Asmara

    Dua orang yang putus harapan itu berkeluh-kesah sepanjang malam, mereka mengobrol sambil menikmati angin pantai ditemani kopi dingin tanpa gula. Wajah Sari tampak sendu, sesekali ia melihat lautan berharap adiknya pulang. "Sudah larut malam, aku pulang dulu," pamit Wati. Sari duduk sendiri, tangannya menggenggam erat sesuatu yang kosong yaitu harapan. Ia lelah dan letih, semangat telah pupus tapi setidaknya di sini dia memiliki tempat tinggal meski hanya gubuk kecil yang dingin.Hari masih pagi, Sari masih terpejam namun suara berisik di luar membuatnya terjaga. Pintu gubuk digedor dengan keras, ia bangun. "Mana adikmu?! Dia ikut pelayaran mengantar keponakanku berbulan madu! Harusnya sudah kembali ke sini!" kata Kardi yang dibelakangnya ada beberapa pria berwajah sangar. "Adikku?" Sari mengucek mata, memperbaiki bajunya dan merapikan rambut."Ya, siapa lagi. Aku curiga jangan-jangan dia merampok Joko dan Sekar!" lanjut Kardi. "Aku tak paham apa yang kalian bicarakan, adikku perg

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Jebakan

    Wati ini orang baik, dulu sewaktu waktu mereka masih kecil, saat ibunya Yudha masih hidup Wati sering main ke sini main bareng Sari. Keluarga Wati juga tak sungkan-sungkan membantu mereka. "Udah siap kamu, Sari?" tanya Wati yang datang menuntun sepeda onthel ke depan gubuk buatan Sari. "Ayo, keburu malam," Sari duduk di bagian boncengan, keduanya menuju rumah Suseno dengan harapan pulang membawa uang. Sesampainya di halaman rumah Suseno, mereka tak langsung masuk tapi menunggu tamu lainnya yang lebih dulu datang agar pulang. Tanpa sengaja seorang pemuda tampan melintas di depan mereka, pemuda itu memandang Sari, tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik. "Dia Irawan, ingat? Dulu dia suka main di pelabuhan saat kecil," bisik Wati. "Irawan yang suka nangis itu?" tanya Sari mempertegas. "Ya benar. Dia masih lajang, sama kaya kamu," imbuh Wati. "Uhmm, Mbak-mbak ini ada perlu apa?" Irawan mendekati mereka. "Anu, mau bertemu bapakmu," potong Wati. "Ayo masuk, enggak enak kalau diliat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status