Se connecterSetelah hari itu kabar Aini tak terdengar lagi, sementara Karsono menikmati kehidupan barunya sebagai seorang pedagang ikan dan kain sutera yang kaya raya dengan rumah impian yang mewah. Waktu itu Kardi menjadi orang kepercayaan Karsono, ia mengatur jual beli dan mempelajari sistem dagang yang Karsono.Hidup Karsono hanya tentang bagaimana mendatangkan uang. Dia lupa jika setelah menceraikan Aini ada kebutuhan lain yang tak dia dapatkan dari seorang perempuan, yaitu kehangatan sebuah percintaan."Gan, aku minta ijin libur," ujar Kardi sore itu, Karsono mengernyit. "Libur?" tanya Karsono seperti ingin mempertegas maksud Kardi."Heem, aku mau nikah. Kebetulan aku dan pacarku sudah menjalin hubungan selama setahun, ia ingin aku segera menikahinya," imbuh Kardi malu-malu. Karsono tersenyum, ia mulai paham arah pembicaraan Kardi."Wah, bagus itu. Aku ikut senang mendengarnya, jadi mau libur berapa hari? Jangan lama-lama, nanti usahaku enggak ada yang menjalankan," tanya Karsono lagi."Ya s
Perasaan Aini hancur lebur, pria yang ia cintai dan ia perjuangkan kini telah membuangnya. Memang benar, dengan uang sikap asli seseorang akan terlihat. Dipeluknya Sari yang masih mungil erat-erat, selama ini ia menjaga hati dan perasaan untuk orang yang salah. Di sisi lain sebenarnya Karsono tau jika bayi itu kemungkinan besar merupakan anak kandungnya, namun ia malu mengakui.Selama beberapa hari Karsono merasa tidak tenang, ada rasa bersalah dan juga rasa takut yang aneh menyelimuti hatinya. Selama ia dan Aini masih tinggal di desa yang sama, maka ia merasa tak nyaman. Karsono termenung, matanya menatap kosong ke depan saat proses pembangunan rumahnya masih setengah jadi. Kardi melihat Karsono yang termenung pun kemudian menghampiri."Gan, kenapa murung?""Enggak apa-apa, pikiranku terganggu dengan keberadaan Aini di desa ini. Ahh, andai aku punya cara membuatnya pergi dari sini," kata Karsono yang wajahnya tampak lelah. "Memangnya kenapa ia harus pergi?" tanya Kardi lagi. "Sejujur
Senyum di wajah Karsono memudar, ia mendekati perempuan tersebut sambil menatap tak percaya atas apa yang dia lihat."Mas," perempuan itu berlari kecil, ia memeluk Karsono haru, namun tangan Karsono mendorong perempuan itu agar melepaskan pelukannya. "Lihat, Mas. Anak kamu sudah lahir, tadinya aku berpikir jika anak ini tak akan pernah bertemu bapaknya," imbuh perempuan tadi.Namanya Aini, dia menikah dengan Karsono setahun silam. Perjalanan pernikahan itu cukup singkat sebab hanya berselang beberapa hari setelah pernikahan Karsono ikut melaut bersama majikannya."A--anak siapa?" tanya Karsono dengan suara gemetar. "Ini Sari, anak kamu, Mas!" jawab Aini dengan suara sedikit menyeru."Bohong! Waktu kita menikah hanya beberapa hari aku di rumah, kamu pasti berselingkuh!" tuding Karsono."Maaas! Apa maksud kamu? Coba ingat, kita sempat tidur bareng tiga hari. Pada hari keempat setelah pernikahan kamu udah pamit melaut, tega sekali kamu berkata begitu sama anakmu sendiri!" pekik Aini, ia
Di bibir pantai, Karsono dan Mbah Legi menunggu. Namun beberapa jam temannya itu tak kunjung datang. "Apa yang terjadi dengannya," gumam Mbah Wardi, ia berjalan mondar-mandir memandang hamparan hutan."Mungkin dia tersesat," jawab Karsono asal.Tepat sekitar enam jam kemudian Mbah Legi keluar dari gua tersebut, ia segera menemui Wardi dan Karsono. Ia lupa jika wujudnya yang sekarang bukan lagi seorang pria tua melainkan pemuda, meski pakaian yang kenakan sama namun Karsono dan Mbah Wardi tak mengenalinya."Karsono, Wardi ...!" teriak Legi, kedua orang yang dipanggil itu pun menoleh, namun mereka sama tak mengenalinya lagi."Kamu siapa?!""A--aku ... aku," Legi baru sadar saat pertanyaan itu muncul dari Wardi."Kenapa kamu pakai baju itu?! Pakaian ini sepertinya tak asing," gumam Karsono."Aku Legi, Nyai Dewi Lanjar memberikan wajah dan badan ini kembali muda. Dengan raga seperti ini aku bisa berumur panjang," jelas Legi, namun Mbah Wardi justru menyipitkan matanya. "Jangan mendekat! K
"Celaka, kamu telah membuat murka ratu lautan!" Mbah Wardi terbelalak kaget."Aku pun tak tahu, Mbah. Kejadian begitu cepat," sesal Karsono."Sudah sudah, semua telah terjadi. Yang jadi pertanyaan kini, apakah Karsono bisa kembali hidup normal? Jika dibiarkan maka sisik akan terus tumbuh dan membuatnya seperti ikan sungguhan," sela Mbah legi. "Jika dia ke sini membawa kutukan, maka seluruh warga desa akan terkena dampaknya. Sudah ratusan desa tenggelam karena ulah serakah dan arogan para penduduknya!" kata Mbah Wardi, dia yang semula kasihan dengan Karsono kini ketakutan."Aku mati pun tak apa, asal tak membawa orang lain dalam musibah atas keteledoran aku," lanjut Karsono. Sejenak semua diam kecuali Karsono yang menangis sesenggukan."Kita antar dia ke Pulau Kabut, biarkan dia meminta maaf pada sang Ratu," usul Mbah Legi. "Ah, konyol. Malah yang ada kita akan karam sebelum menemukan pulau itu," Mbah Wardi tampak ragu. "Kita hanya perlu mencoba, jangan pikirkan yang belum terjadi. Yan
Sesampainya di rumah, Mbah Wardi langsung menyiapkan selembar kain sarung bersih dan sepotong sabun batangan. Rumah tua itu lebih nyaman dari emperan toko yang ada di pasar, air jernih yang mengalir di tubuhnya mungkin memberikan rasa aman yang sudah lama tak dirasakan Karsono."Di belakang ada kamar mandi. Ada gentong air segar dari sumur. Mandilah dulu, bersihkan badanmu, lalu kita makan nasi goreng ikan asin," ujar Mbah Wardi ramah sambil tersenyum dari balik kumis putihnya.Karsono mengangguk pasrah. Ia berjalan menuju kamar mandi kecil di bagian belakang rumah. Di dalam ruangan berdinding papan kayu yang remang-remang itu, terdapat sebuah gentong tanah liat besar berisi air sumur yang dingin dan sebuah cermin kaca retak yang tergantung di dinding.Rasa gatal di punggungnya kini makin tak tertahankan, terasa bagaikan kulitnya sedang ditarik dan dirobek dari dalam. Dengan tergesa-gesa, Karsono melepas pakaian tenun kasarnya yang basah oleh keringat dan air hujan. Begitu bajunya ter







