تسجيل الدخول"Celaka, kamu telah membuat murka ratu lautan!" Mbah Wardi terbelalak kaget."Aku pun tak tahu, Mbah. Kejadian begitu cepat," sesal Karsono."Sudah sudah, semua telah terjadi. Yang jadi pertanyaan kini, apakah Karsono bisa kembali hidup normal? Jika dibiarkan maka sisik akan terus tumbuh dan membuatnya seperti ikan sungguhan," sela Mbah legi. "Jika dia ke sini membawa kutukan, maka seluruh warga desa akan terkena dampaknya. Sudah ratusan desa tenggelam karena ulah serakah dan arogan para penduduknya!" kata Mbah Wardi, dia yang semula kasihan dengan Karsono kini ketakutan."Aku mati pun tak apa, asal tak membawa orang lain dalam musibah atas keteledoran aku," lanjut Karsono. Sejenak semua diam kecuali Karsono yang menangis sesenggukan."Kita antar dia ke Pulau Kabut, biarkan dia meminta maaf pada sang Ratu," usul Mbah Legi. "Ah, konyol. Malah yang ada kita akan karam sebelum menemukan pulau itu," Mbah Wardi tampak ragu. "Kita hanya perlu mencoba, jangan pikirkan yang belum terjadi. Yan
Sesampainya di rumah, Mbah Wardi langsung menyiapkan selembar kain sarung bersih dan sepotong sabun batangan. Rumah tua itu lebih nyaman dari emperan toko yang ada di pasar, air jernih yang mengalir di tubuhnya mungkin memberikan rasa aman yang sudah lama tak dirasakan Karsono."Di belakang ada kamar mandi. Ada gentong air segar dari sumur. Mandilah dulu, bersihkan badanmu, lalu kita makan nasi goreng ikan asin," ujar Mbah Wardi ramah sambil tersenyum dari balik kumis putihnya.Karsono mengangguk pasrah. Ia berjalan menuju kamar mandi kecil di bagian belakang rumah. Di dalam ruangan berdinding papan kayu yang remang-remang itu, terdapat sebuah gentong tanah liat besar berisi air sumur yang dingin dan sebuah cermin kaca retak yang tergantung di dinding.Rasa gatal di punggungnya kini makin tak tertahankan, terasa bagaikan kulitnya sedang ditarik dan dirobek dari dalam. Dengan tergesa-gesa, Karsono melepas pakaian tenun kasarnya yang basah oleh keringat dan air hujan. Begitu bajunya ter
"Coba periksa lagi, jangan akali aku!" bentak Karsono."Apanya yang mau diperiksa? Dilihat dari mata telanjang aja udah jelas," balas pelayan toko."Apa jangan-jangan kamu mau nipu?" pelayan itu memicingkan mata, menatap ragu pada Karsono yang awalnya ia layani sepenuh hati sebagai seorang pelanggan. Pandangan pelayan toko perhiasan seketika berubah."Jangan asal bicara! Mentang-mentang penampilan aku kaya gini!" Karsono tampak murka, mereka saling menjaga jarak satu sama lain. Canggung dan hening di dalam toko yang sejuk oleh hembusan kipas angin gantung, seorang pelayan pria berkaus pendek dan berkalung kain lap kaget setengah mati. Ia langsung menutup hidungnya begitu bau tengik menyengat masuk bersama Karsono."Maaf, Tuan, kalau mau minta-minta di luar saja!" seru pelayan itu dengan nada galak sambil mengibas-ngibaskan tangannya dari balik etalase kaca yang penuh perhiasan emas berkilau."Pengemis? Ngaco sekali kamu, aku ini bukan pengemis!" suara Karsono parau, tenggorokannya ba
Keadaan kini terbalik, mereka yang tadinya datang kini justru tersudut di ambang pantai menghadap lautan luas. Ratusan perempuan berlari dengan kecepatan tinggi, puluhan tombak dilempar ke udara menciptakan suara gemuruh seperti hujan.Jleeeb!Seorang pria terkena empat tombak sekaligus pada bagian kaki dan paha, dia tak bisa berlari. Tiba-tiba pasukan perempuan misterius itu berhenti dan mengepung."Lelaki dengan wajah sangar seperti ini hanya berani pada perempuan? Hahaha! Di sini, perempuan memiliki daya tarung lebih baik dari kalian!" Seorang perempuan langsung menghampiri dengan pedang terhunus."A--ampuuun! Tolong jangan sakiti saya!" ujar pria tersebut sambil memohon dan mencoba melepaskan tombak yang menancap di kakinya.Craaash!Satu tebasan memutus tangan pria tersebut, darah segar mengucur deras. Lalu di lengan yang terputus itu menjadi rebutan para prajurit wanita dari pulau kabut, hanya dalam hitungan menit tangan itu berubah menjadi tulang belulang. Pria tadi gemetar, ia
Di tempat itu Karsono hidup mewah, penuh kesenangan dan kebahagiaan. Dia bahkan melupakan kehidupan di luar pulau misterius yang dia tempati sekarang. Di tempat yang disebut sebagai Pulau Kabut, para perempuan bekerja. Mereka mencari ikan, membuat bangunan serta bertani. Suatu hari terbesit sebuah pemikiran di benak Karsono tentang ke mana perginya kaum lelaki di desa ini?Sangat aneh jika sebuah wilayah yang memiliki kaum pria, orang-orang tua ataupun anak-anak. Yang ada di tempat itu sebenarnya para perempuan berusia sekitar 18 hingga 25 tahun. Sangat mudah dan cantik, mereka bekerja dari pagi hingga sore lalu saat malam tiba mereka berkumpul membicarakan banyak hal.Rumah-rumah sederhana terbuat dari kayu, dengan atap dari rumbai jerami. Setiap satu orang memiliki satu rumah berukuran kecil yang difungsikan hanya sebagai tempat tidur, sementara untuk mandi dan keperluan lainnya mereka menuju ke tengah hutan yang terdapat sebuah sungai jernih, telaga dan air terjun. Makanan tidak di
Flash back kisah ayah Yudha.Karsono pingsan, ia berhari-hari terombang-ambing di lautan tanpa arah tujuan. Haus dan lapar, bahkan ia melihat fatamorgana berulang seolah ada daratan yang ada sekitar papan apung miliknya."Kalau aku lepaskan papan ini, tentu nasibku akan berakhir di sini. Tapi di tempat ini pun aku enggak menemukan kehidupan," ratap Karsono, dalam keputusan asaan itu ia melihat kepulan asap tebal seperti badai namun tenang, sekeliling tempat ia berdiri terlihat gelap dan pekat. Lalu setelah melewati awan atau asap gelap itu sebuah pulau yang tiba-tiba muncul di depan dengan jarak sekitar satu kilometer, anehnya papan apung yang tempati tersedot ke arah pulau tersebut."A---apa ini?!" Karsono ketakutan ia mendayung dengan tangan dan kaki agar menjauhi pulau berbentuk tengkorak itu. Namun usahanya sia-sia, papan apung itu melaju dengan kecepatan tinggi meski tanpa ada dorongan angin dan ombak.Braaak!Papan itu hancur, tubuh Karsono terpental ke tanah berbatu. Bukan tana







