MasukJoko berusaha melerai pelukan Sekar dari namun belum sempat ia mendekat, tiba-tiba angin kencang menerjang Joko hingga tersungkur keras ke sisi kapal. Joko terlempar, ia nyaris keluar dari jalur aman, tubuhnya separuh sudah di atas air yang bergejolak sedangkan satu tangannya berpegangan pada besi pagar di sisi kapal."Tolooong!" Pekik Joko, dua kru yang melihat hanya memandang dengan rasa takut, bukan takut jika Joko tercebur ke laut tapi takut jika nasibnya akan sama. Di saat itu, Yudha melepaskan pelukan Sekar, dengan berani dia menarik tangan Joko. "Yudha, tolong aku ... tolong! Jangan lepaskan tanganmu, tarik aku ke atas!" pinta Joko dengan badan yang gemetaran, bukan perintah bagi Yudha tapi nurani yang mendorongnya melakukan tindakan penyelamatan tanpa perlu diminta seperti itu."Jangan banyak bicara, ayo naik!" Yudha menarik tangan itu, meskipun tak mudah karena angin dan ombak membuat kapal berguncang yang semakin kuat pula menarik Joko ke sisi lautan. Jono yang tadinya diam,
Yudha yang dirasuki kekuatan Dewi Lanjar begitu bersemangat, otot di tubuhnya mengencang dan ia menghentak pinggulnya seperti mesin. "Aaaakh ... ini luar biasa! Aaah! Yudha, kamu hebatt!" Sekar terus merancau sampai Yudha harus membekap mulutnya. "Aaaakh, Yudha ... a---aku keluar aaaakh!" ia berteriak sekali lagi, lalu terkulai dalam posisi tertelungkup. ."Aku bahkan belum apa-apa," ujar Yudha, ia mencabut pusaka yang mengkilap, merasa belum cukup, ia mebuka kaki Sekar lebar-lebar dan mulai lagi dari depan. Hentakan demi hentakan, ia bergerak seperti orang push up, Sekar menerima serangan itu dengan mulut yang bertautan dengan bibir Yudha. Sekitar enam menit kemudian, Yudha mengerang kasar. Tangannya mencengkram pindah Sekar yang ada di bawahnya."Aaaah! Ayo keluarkan, jangan di dalam," usap Sekar sambil mengusap punggung Yudha. Benda itu ditarik, diarahkan ke perut Sekar namun perempuan itu justru mengarahkan ke mulutnya yang terbuka lebar. "Yummmy ... asin gurih, aaaakh!" seperti o
Hanya Yudha yang tak perduli desahan itu, sedangkan Jono dan Parjo memilih melambatkan laju kapal demi mengintip adegan panas di dalam kamar. Terdapat celah sempit yang memudahkan mereka melihat adegan tersebut meskipun hanya di dalam kamar bercahaya redup."Wah, tubuhnya indah banget. Masih legit dan pulen," ujar Parjo sambil menelan air liur, sedangkan Jono memandang tanpa berkedip. Adengan di dalam sana membuatnya memikirkan sesuatu yang lain. "Andai dia dalam dekapanku, aku rela menukar kebebasanku selama 90 hari," batin Jono.Di dalam, terlihat Joko menindih Sekar. Pria muda yang tampangnya pas-pasan itu tampak begitu bersemangat, ia menjilati sekujur tubuh istrinya sambil menancapkan pusaka berukuran mini ke liang hangat yang basah. Namun bagi Ratna itu baru pemanasan, Joko mengerang. Tubuhnya kaku dan ia langsung menumpahkan cairan ke dalam rongga lembab tadi sebelum akhirnya terkulai tak berdaya."Su--sudah, Mas?" tanya Sekar, Joko mengangguk dan beralih membelakangi istrinya.
Pengantin pria bernama Joko, kabarnya ia anak orang kaya dari wilayah Lampung, namun tak ada yang paham bagaimana asal usul si Sekar yang dianggap keponakan bagi Kardi. Di kapal itu mereka ditemani oleh tiga orang kru yang mengoperasikan kapal yakni Jono, Parjo yang merupakan anak buah Kardi sedangkan Yudha cuma kru tambahan yang ikut pelayaran di luar rencana yang semestinya."Lihatlah, wajah Sekar lebih mirip Kardi ketimbang Ratna. Jangan-jangan dia anak kandung Kardi dengan perempuan lain yang tinggal di desa ujung barat. Seperti yang kita tahu Kardi hobi kawin. Jangankan pada yang masih lajang, pada istri orang pun dia embat sudah kebelet," bisik Jono. "Betul. Mana mirip banget mulai dari mata, bibir sampai rambutnya yang ikal. Cuma biar enggak malu aja dia nyebutnya keponakan, paling takut diamuk Sumiyati," balas Parjo.Di sisi kapal yang lain Yudha mendengar semua percakapan itu, senyumnya tersungging seperti mengejek. "Kenapa kamu tertawa, Yudha?" tanya Jono lagi. "Enggak apa
Dengan mudah Sari membawa pulang uang itu, dia begitu sumringah sehingga masuk penuh senyum ke kamar Yudha yang kebetulan belum tidur. "Yudha, aku bawa uang buatmu," kata Sari, dia langsung merangkul Yudha serta menunjukkan satu segepok uang yang baru dia dapat dari pekerjaannya sebagai tukang pijat dadakan."Mbak, dari mana kamu dapat ini? Bahkan ini dua kali lebih banyak dari gaji kita selama dua minggu," Yudha langsung bangun, dia melihat uang itu dengan mata melotot. "Perempuan tadi, dia datang menyuruh aku memijat suaminya," kata Sari memberikan penjelasan singkat. "Cuma pijat dapat segitu?" Yudha menaruh curiga."Ehmmm, sebenarnya enggak begitu sih. Mas Anwar, suaminya Mbak Yanti memiliki masalah kebugaran. Itunya nggak bisa berdiri, dia minta ramuan dan pijatan ringan. Aku cuma asal ngerjain, tapi hasilnya benar-benar berfungsi," lanjut Sari, dia tidak berani menceritakan pengalaman itu sepenuhnya karena takut Yudha akan marah merasa khawatir."Huft!" Yudha menarik napas lega,
Melihat suaminya gelisah, Yanti semakin agresif bahkan dia tidak peduli jika di kamar masih ada Sari. "Kalian boleh melakukan apapun di depanku, aku akan menikmati semua permainan kalian" ucap Sari seperti memberi izin pada Anwar dan Yanti.Anwar bangkit, dia membopong Yanti berbaring di ranjang. Lalu Anwar berjongkok siap menghujamkan pusaka miliknya ke milik Yanti. "Jangan buru-buru, dia belum panas. Sebaiknya kamu buat dia nyaman dulu" bisik Sari. "Maksudnya gimana? Aku sudah nggak tahan ini," kata Anwar bingung."Coba untuk mainkan lidahmu di area intimnya, itu bisa membantu kepercayaan diri Mbak Yanti," balas Sari.Yanti membuka kedua pahanya lebar-lebar, ia berbaring setengah bersandar. Anwar membungkuk, mulai menjulurkan lidah dan menyapu area intim istrinya. Sari masih mengawasi, perhatian Sari tertuju pada gerakan lidah Anwar yang kaku dan kurang pengalaman. Sepertinya Anwar tidak terbiasa dengan posisi tersebut, ada rasa jijik yang terlihat diekspresi wajah Anwar."Gunakan u