LOGINDi kegelapan lautan, dengan sorot lampu yang terbatas Yudha melihat serpihan kayu yang jumlahnya banyak. Jika diperhatikan lebih seksama, serpihan itu menyerupai badan kapal yang hancur."Apa mungkin itu bekas kapal yang karam?" batin Yudha, ia mencoba turun dari geladak kapal menggunakan tali dan memeriksa serta mengambil sampel papan yang mengapung."Belum bisa dipastikan jika kayu-kayu ini merupakan bekas kapal. Sebaiknya kita terus jalan," ujar Yasmin, ia kembali menyalakan mesin hingga kapal menerobos serpihan kayu di depannya. Semuanya kembali pada posisi masing-masing, ada yang berjaga dan ada yang tidur. Yasmin masih memegang kemudi, sementara Yudha duduk di kamar."Tadi nanggung banget, mana belum mulai permak inti," ujar Julia yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Hmmm, lain kali aja kita lanjutkan. Pikiranku masih tertuju pada serpihan kapal tadi, apa jangan-jangan itu milik juragan Kardi ya? Kalau kapalnya hancur, apakah mereka bisa selamat?" gumam Yudha."Tolooong tolooo
Hari berganti malam, sudah dua malam berlayar di lautan lepas membuat Yudha dan awak kapal merasa bosan. Beberapa pulau asing mereka singgahi, namun bukan tempat itu yang mereka cari."Kamu capek?" tanya Yasmin malam itu, Yudha yang mengantuk sesekali memejamkan mata sambil mengemudikan kapal."Aku ngantuk," jawab Yudha sambil mengucek mata."Kalau begitu biar aku yang gantiin, kamu rehat aja dulu," usul Yasmin, Yudha tersenyum lalu menggeser duduknya. Posisi itu kini ditempati Yasmin, meski memiliki pengetahuan sederhana tentang navigasi perkapalan namun ia tetap menggantikan Yudha."Aku tidur dulu ya," pamit Yudha, ia berjalan menuju koridor kapal lalu turun ke lambung kapal untuk beristirahat. Matanya benar-benar mengantuk, ia langsung ambruk begitu telah berbaring di atas kasur. Ombak lautan yang tenang membuat kapal seperti diayun pelan, Yudha mendengkur seperti bayi yang tertidur."Yudha, bangunlah ... lakukan tugasmu," terdengar suara gaib di dalam pikiran Yudha, ia membuka mat
Setelah kematian Karsono, kehidupan Rodiah yang hamil tua pun tak lekas membaik. Warisan hutang saat Karsono masih hidup membuatnya terlunta-lunta. Siapa yang perduli pada perempuan miskin seperti dirinya, bagi orang lain pernikahan Rodiah dengan Karsono merupakan hal yang sia-sia.Dulu Rodiah merupakan gadis desa yang ceria, pekerja keras dan digandrungi banyak lelaki. Tapi, Rodiah memilih Karsono karena perasaan iba bukan cinta yang berakibat dirinya terseret dalam kehidupan yang sangat menderita.Malam ketika semua orang tertidur, Rodiah merasakan perutnya perih luar biasa. Air ketuban sudah keluar sejak tadi sore, ia yang lemah hanya bisa berbaring tak berdaya terlebih rumahnya yang berada di pinggir desa membuat Rodiah kesulitan mendapatkan bantuan warga."Sa---kiiiit!" suaranya gemetar, tulang rusuknya terasa remuk. Matanya menatap langit-langit ruangan dengan berlinang air mata. "Tuhan, jangan ambil nyawaku sebelum bayi ini lahir." Dia meratap penuh pengharapan. Hujan deras ber
Kardi menarik pisau kecil yang selalu dia bawa, ia hampir masuk ke kamar Karsono untuk meluapkan amarahnya namun tiba-tiba suara langkah kaki dari lorong samping membuatnya mengurungkan niat."Ciiih! Awas kamu, Karsono!" umpat Kardi, ia terpaksa keluar dari persembunyiannya melewati pintu samping. Malam itu Kardi tidak pulang, ia menghabiskan waktu minum seorang diri di kedai tuak dekat pelabuhan."Jika aku menghabisi dia, maka aku kehilangan pekerjaan. Tidak tidak ... aku harus memikirkan cara yang lebih elegan. Aku bukan pembunuh!" Kardi berdebat dengan dirinya sendiri, dalam keadaan mabuk berat ia tertidur di sana sampai pagi.Pariwisata itu merubah segalanya, kini kesetiaan Kardi sebagai seorang tangan kanan telah mencapai titik puncak. Ia harus bangkit, mendendang Karsono dari bisnis yang telah ia rintis. "Karsono hanya punya modal, sementara aku telah menguasai jaringan dagang. Tinggal menunggu waktu!" Kardi mengepalkan tangan.Malam itu di kamar Karsono, ia berbaring merangkul
Perempuan cantik itu berlarian, ia melupakan jika beha miliknya masih tertinggal di rumah Karsono. Di balik pohon Juwita berdiri, jantungnya berdegup kencang saat Kardi memeriksa suara yang muncul akibat langkah kakinya tadi."Heh! Siapa itu?!" Kardi menyorotkan senter menyapu segala penjuru, langkahnya hampir sampai di pohon besar tempat Juwita bersembunyi. "Aduh, kalau dia tahu pasti urusannya Semaki runyam," batin Juwita sambil menahan napas, tak cuma takut ia juga merasa gatal karena nyamuk mulai mengigit bergantian. Juwita mundur untuk menghindar, namun kaki kirinya menginjak dahan kering hingga muncul suara berisi.Sraaak!Kardi lekas mengambil golok, ia siap mengayunkan benda tajam itu ke arah dedaunan yang bergoyang. Namun tiba-tiba seekor ular muncul dari sela daun, Kardi melonjak kaget beberapa langkah mundur ke belakang."Ular!" Kardi buru-buru melangkah pulang, ia mengira suara berisik dari dedaunan tadi itu suara ular yang baru dia lihat barusan.Sementara Juwita aman, ia
Pada saat ini sihir dari Dewi Lanjar bekerja, pusaka milik Karsono menjadi kuat dan tahan lama. Juwita awalnya merasa canggung, namun gesekan yang intens dan bertenaga itu lama kelamaan mampu membuat area intimnya becek. Bukan lagi merasa takut, ia justru menikmati dan coba mengimbangi gerakan Karsono. "Kamu suka kan? Ayo, nikmati momen ini, aku yakin suamiku enggak perkasa seperti aku," bisik Karsono di telinga Juwita, perempuan itu hanya bisa mendesah parau. Nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan Kardi pun hanya bertahan tak kurang dari dua menit.Wanita muda yang segar dan bertubuh sintal itu menggeliat, ia memeluk Karsono sekuat tenaga saat rasa geli itu akhirnya membuatnya sampai pada pelepasan yang super nikmat. "Enaaaak banget uuuuuh!" rancau Juwita. Meski ia sudah selesai, namun ia masih ingin berlama-lama menikmati ketangguhan pusaka Karsono yang berotot."Sekarang giliran kamu di atas, buat aku senang maka aku akan memberikan uang yang banyak," perintah Karso







