Compartir

Teror

Autor: Sedap Malam
last update Fecha de publicación: 2026-10-02 23:33:38

Semuanya masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat bahkan mematikan setiap nyala cahaya di tempat itu, bernafas pun mereka harus hati-hati.

"Kenapa kita harus seperti ini? Aku tidak bisa tenang di dalam kegelapan seperti sekarang, setidaknya nyalakan satu pijar," pinta Sekar, namun Jono enggan menuruti sebab jika ada cahaya di ruangan tersebut sama artinya membiarkan mereka mati dimangsa mahkuk mengerikan penghuni Kota bekas wilayah tambang tersebut.

"Jangan egois, kita semua mau te
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Teror

    Semuanya masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat bahkan mematikan setiap nyala cahaya di tempat itu, bernafas pun mereka harus hati-hati. "Kenapa kita harus seperti ini? Aku tidak bisa tenang di dalam kegelapan seperti sekarang, setidaknya nyalakan satu pijar," pinta Sekar, namun Jono enggan menuruti sebab jika ada cahaya di ruangan tersebut sama artinya membiarkan mereka mati dimangsa mahkuk mengerikan penghuni Kota bekas wilayah tambang tersebut. "Jangan egois, kita semua mau tetap hidup begitu keluar dari sini," ujar Parjo. Terpaksa malam itu dilalui dengan berada di tempat gelap, Yudha dan Jono berjaga di dekat pintu. Adiknya Sari itu sangat lelah, ia bersandar pada dinding sambil membawa parang. Satu persatu mereka mulai tidur, namun sekitar jam tiga dini hari terdengar suara raungan dan langkah kaki setengah diseret."Yudha, aku takut," ratap Sekar, dia mendekati Yudha yang berjaga. "Ssttt! Kita enggak tau itu suara apa, sebaiknya diam dan jangan berbicara," bisi

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Bukit Tengkorak

    Yudha terdiam beberapa saat, dia mungkin bisa mengambil sebongkah emas dan merubah hidupnya yang miskin menjadi kaya tapi belum tentu bisa merubah takdirnya menjadi orang yang hidupnya bahagia. Bahagia tidak selamanya diukur dengan harta, tapi dengan kebersamaan dan kerja keras maka hasilnya akan terasa luar biasa. "Baik, tentunya ada alasan kenapa barang-barang itu ditinggalkan begitu saja di sini. Ayo, sebaiknya kita pergi ke atas bukit hanya untuk memastikan jika niatku pergi ke Kota Tembaga adalah salah. Aku memang menginginkan berada di sini untuk bekerja dan memperbaiki kualitas hidup, tapi yang aku lihat sekarang hanya sisa-sisa belaka yang pernah ada dunia," ujar Yudha mantab. Dia melangkahkan kaki menuju atas bukit, jalannya tidak mudah karena di sepanjang jalan dia sering melihat serpihan tengkorak dan tulang-belulang manusia. Dia tidak bisa membayangkan, seperti apa kehidupan di masa lalu tempat ini sehingga menjadikannya begitu menyeramkan. "Harus ada jawaban yang masuk

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Dunia Tersembunyi

    Gelora Cinta Di RimbaMendengar Sekar berteriak, Jono langsung bersembunyi. Berbeda dengan Yudha, ia melihat ke depan dengan sikap waspada. "Jangan panik, mungkin itu cuma angin," ujarnya. Setelah sekian detik, semak belukar kembali tenang dan mereka pun melanjutkan perjalanan mencari sesuatu yang bisa digunakan. "Desa apa ini? Kenapa semua orang pergi," gumam Yudha, ia sampai di sebuah gapura besar yang tertutup semak belukar, rumah-rumah yang kokoh berbahan bata namun tampak kusam karena lama tak dihuni. "Mungkin penduduknya pergi, tewas karena wabah penyakit atau karena bencana," ucap Jono. "Jika bencana belum tentu, rumah-rumah itu masih utuh. Mungkin karena penyakit juga bisa, dan semuanya pergi untuk mencari kehidupan lain," timpal Yudha. Mereka mendekati sebuah rumah, rumput hampir menutupi akses masuk ke sana."Yudha, kamu mau apa?" Sekar tampak ketakutan ketika Yudha mendorong pintu rumah tersebut. Braaak!Hanya sekali dorong, pintu itu rubuh. Puluhan kecoa dan tikus ber

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pulau Asmara

    Dua orang yang putus harapan itu berkeluh-kesah sepanjang malam, mereka mengobrol sambil menikmati angin pantai ditemani kopi dingin tanpa gula. Wajah Sari tampak sendu, sesekali ia melihat lautan berharap adiknya pulang. "Sudah larut malam, aku pulang dulu," pamit Wati. Sari duduk sendiri, tangannya menggenggam erat sesuatu yang kosong yaitu harapan. Ia lelah dan letih, semangat telah pupus tapi setidaknya di sini dia memiliki tempat tinggal meski hanya gubuk kecil yang dingin.Hari masih pagi, Sari masih terpejam namun suara berisik di luar membuatnya terjaga. Pintu gubuk digedor dengan keras, ia bangun. "Mana adikmu?! Dia ikut pelayaran mengantar keponakanku berbulan madu! Harusnya sudah kembali ke sini!" kata Kardi yang dibelakangnya ada beberapa pria berwajah sangar. "Adikku?" Sari mengucek mata, memperbaiki bajunya dan merapikan rambut."Ya, siapa lagi. Aku curiga jangan-jangan dia merampok Joko dan Sekar!" lanjut Kardi. "Aku tak paham apa yang kalian bicarakan, adikku perg

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Jebakan

    Wati ini orang baik, dulu sewaktu waktu mereka masih kecil, saat ibunya Yudha masih hidup Wati sering main ke sini main bareng Sari. Keluarga Wati juga tak sungkan-sungkan membantu mereka. "Udah siap kamu, Sari?" tanya Wati yang datang menuntun sepeda onthel ke depan gubuk buatan Sari. "Ayo, keburu malam," Sari duduk di bagian boncengan, keduanya menuju rumah Suseno dengan harapan pulang membawa uang. Sesampainya di halaman rumah Suseno, mereka tak langsung masuk tapi menunggu tamu lainnya yang lebih dulu datang agar pulang. Tanpa sengaja seorang pemuda tampan melintas di depan mereka, pemuda itu memandang Sari, tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik. "Dia Irawan, ingat? Dulu dia suka main di pelabuhan saat kecil," bisik Wati. "Irawan yang suka nangis itu?" tanya Sari mempertegas. "Ya benar. Dia masih lajang, sama kaya kamu," imbuh Wati. "Uhmm, Mbak-mbak ini ada perlu apa?" Irawan mendekati mereka. "Anu, mau bertemu bapakmu," potong Wati. "Ayo masuk, enggak enak kalau diliat

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Nelangsa

    Sebenarnya kakek tua itu tahu tentang siapa Sari beserta latar belakang keluarganya, namun pada saat ini dia tak ingin mengungkapkan apapun selama itu belum jelas dan bisa saja dia salah menilai. "Aku melihatmu sangat lelah, beristirahat di kamar, biar aku tidur di sini," perintah kakek tua misterius itu, Sari hanya mengangguk. Dia yang sudah letih berjalan dan mengalami banyak hal buruk segera masuk ke dalam kamar, dengan pulas kakak tirinya Yudha itu tidur. Namun meski matanya terpejam, rasa takut bergemuruh di pikirannya tentang hutang, cemoohan orang-orang dan musibah yang tak pernah berhenti. Bahkan Sari hanya bisa tidur tak lebih dari dua jam."Buuuu!' teriak Sari sekuat tenaga, ia bangun dalam kondisi badan berkeringat. "Nak, kamu kenapa?" Kakek misterius mendorong pintu kamar hingga terbuka, Sari menatap pria tua yang wajahnya berkeriput itu, ada keteduhan di sana. Ada rasa aman serta welas asih yang terpancar. "Kek, aku mimpi buruk," kata Sari. "Tak apa, itu cuma mimpi. S

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status