Share

Konsekuensi

Author: Amegatari
last update Last Updated: 2023-09-08 20:55:54

“Apa maksud mu hamil? Kita tidak pernah melakukan hal seperti itu, Mina,” ucap Nathan bingung.

“Aku tau… aku hanya ingin minta tolong kamu jelaskan kepada Andrian… ."

“Jangan libatin aku sama kebodohan yang kamu lakukan.”

“Hiks... Hiks… Aku udah coba hubungin Andrian dan ngabarin dia, tapi karena dia tau informasi tentang kejadian di kampus itu, dia ragu kalau ini anak dia… .”

Nathan mengepalkan tangannya. “Dulu kenapa kamu nyangkal waktu ku tanya tentang rumor kamu punya pacar?”

Suara di seberang telfon itu hening. Perempuan bernama Mina itu sebenarnya juga sedang bermain-main dengan Nathan saat merasa kesepian karena kekasihnya bekerja di luar kota. Meski begitu Nathan selalu menolak untuk melakukan hal lebih jauh dengannya.

“Jangan hubungin aku lagi, aku nggak mau berurusan lagi sama kamu!” ucap Nathan dengan ekspresi kesal. Ia segera mematikan telfon tersebut.

Klik…

Nathan langsung mematikan ponselnya. Kepalanya terasa sakit, entah kenapa masalah datang secara bersamaan ketika hidupnya sudah sekacau itu. Ia memang pernah mendengar bahwa Mina memiliki kekasih yang bekerja di kota yang berbeda, tapi saat Nathan bertanya tentang hal itu, Mina membantah hal tersebut.

Jari tangan Nathan menyentuh layar ponselnya lagi, tatapan matanya memandang ke arah kontak Erin. ‘Dengan cara apa aku harus meminta maaf ke Erin?’

Klek…

Nathan menoleh ke arah pintu. Ibunya berdiri dengan ekspresi dinginnya. “Ayah mu sudah menunggu di ruang keluarga.”

Nathan segera bangkit dari ranjangnya tanpa menjawab ucapan ibunya. Ia segera melangkah menuju ruang keluarga tanpa mengatakan apapun.

Hardion, ayah Nathan, telah berada di ruang tengah dengan ekspresi datar. Suasana itu mengingatkannya kejadian beberapa hari lalu saat foto dirinya dengan Mina tersebar di media sosial. Nathan duduk di seberang ayah dan ibunya, ia masih menunduk karena merasakan suasana yang membuatnya tidak nyaman.

“Apa kamu sudah meminta maaf kepada Erin?” tanya Hardion.

“Erin masih belum mau mengangkat telfon, tapi nanti Nathan bermaksud menemui ke rumahnya langsung.”

Hardion mengangguk. “Jika bisa, mintalah kesempatan kepadanya untuk menjalin hubungan lagi. Tunjukkan ketulusan dan kesungguhan mu dan jangan melakukan hal bodoh lagi.”

Nathan menatap ayahnya dengan ekspresi bingung. Namun ia tidak menanyakan apapun meski kepalanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Laki-laki bermata hitam itu hanya mengangguk. Laki-laki bermata hitam itu memang sudah memikirkan semuanya selama beberapa hari belakangan ini dan menyadari kesalahannya. Ia telah sangat egois karena tidak memikirkan posisi Erin dan malah mencari perhatian kepada perempuan lain.

“Jika Erin tidak memaafkan mu, kembalilah lagi setiap hari di jam yang sama sampai dia mau bicara dengan mu. Kalau kamu menunjukkan kesungguhan mu ia pasti akan luluh,” ucap Hardion menyarankan.

“Iya, Nathan mengerti. Kalau begitu Nathan pergi dulu.” Laki-laki bermata hitam itu langsung bangkit dan melangkah pergi meninggalkan rumah itu.

Nathan berkali-kali menghela nafas. Ia sebenarnya hanya ingin meminta maaf tanpa mengharapkan hal lain, tapi hati kecilnya juga berharap bisa memperbaiki semua dan memulai kembali hubungannya dengan Erin.

Mobil hitam itu berhenti di sebuah toko bunga. Nathan membeli buket bunga tulip putih untuk diberikan kepada Erin sebagai permintaan maaf. Laki-laki bermata hitam itu tahu betul satu-satunya bunga yang disukai gadis itu.

Bunga tulip juga melambangkan perjalanan baru dan awal baru dalam hidup. Bagi Erin yang dulu pernah mengalami kehilangan yang amat sangat menyedihkan, bunga tulip putih selalu mengingatkannya bahwa segala sesuatu yang paling menyedihkan sekalipun bisa menjadi awal yang baru dalam hidup.

Nathan tersenyum, di saat seperti ini ia justru baru benar-benar memikirkan tentang Erin padahal sebelumnya yang ia khawatirkan pertama kali justru hal lain. Ia menyadari keegoisannya telah menghancurkan hati seorang gadis yang begitu mempercayainya.

***

Nathan tiba di depan rumah Erin pukul 5 sore. Biasanya Erin akan pulang di sekitar jam tersebut lalu akan kembali pergi pukul 7. Laki-laki bermata hitam itu sudah menghafal setiap kegiatan Erin karena dulu gadis bermata coklat itu selalu mengirim pesan kepadanya setiap akan melakukan rutinitasnya.

Tidak lama kemudian sebuah mobil berwarna biru datang dan langsung masuk ke rumah bercat kombinasi hitam putih itu. Setelah mobil tersebut masuk, penjaga rumah langsung kembali menutup gerbang tanpa mempedulikan Nathan yang berdiri di depan gerbang sejak tadi.

Seorang gadis berpakaian hitam turun dari mobil biru tersebut, tapi ia sama sekali tidak menoleh ke arah gerbang tempat Nathan berada.

“Erin!”

Erin melanjutkan langkahnya dengan ekspresi datar tanpa menoleh atau menjawab panggilan Nathan.

“Erin… .”

Braakk… Pintu berwarna hitam itu ditutup dengan kasar seolah menunjukkan suasana hati sang pemilik rumah.

Nathan terdiam di tempatnya. Ia memandang ke arah jendela di lantai dua yang merupakan ruang kamar Erin. Laki-laki bermata hitam itu berharap Erin melihatnya dari jendela tersebut. Namun tentu saja hal tersebut tidak dilakukan oleh gadis bermata coklat itu.

Langit sudah semakin gelap seiring matahari yang mulai terbenam. Nathan tetap berdiri di depan gerbang hitam itu dengan ekspresi sendu. Tidak lama kemudian sebuah mobil hitam kembali masuk ke dalam rumah itu. Seorang pria paruh baya turun lalu menoleh sebentar ke arah Nathan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.

Beberapa orang yang lewat mulai memperhatikan Nathan yang sejak tadi berdiri dengan buket bunga di tangan. Namun Nathan tampak tidak peduli, ia hanya menggenggam erat buket bunga itu sambil menatap ke arah jendela kamar Erin.

Waktu semakin berlalu, lampu di jalanan komplek tersebut mulai menyala. Nathan tetap di tempatnya tanpa bergeming sedikit pun. Kali ini tatapannya fokus ke buket bunga tulip yang ia genggam erat. Ia tahu Erin tidak mungkin mau menemuinya begitu saja setelah apa yang ia lakukan kepadanya selama ini.

Drrrtttt…

Nathan langsung menerima panggilan telfion dari kontak bernama ‘Erin Sayang’ itu.

“Kamu ngapain sih di depan situ berjam-jam? Pulang sana!” ucap Erin dengan nada tinggi.

“Aku mau minta maaf… .”

“Pulang sekarang! Kamu ganggu pemandangan tau nggak?”

Klik…

Nathan melihat layar ponselnya dengan ekspresi sendu. Ia melihat ke arah rumah tersebut sejenak lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Buket bunga tulip itu dibiarkan begitu saja di kursi sebelahnya.

Laki-laki bermata hitam itu mencoba mengirim pesan kepada Erin. Ia memberitahu gadis itu bahwa besok ia akan datang lagi sampai Erin mau berbicara dan menemuinya. Pesan yang dikirimkan oleh Nathan itu sepertinya sudah dibaca, namun tidak ada balasan dari Erin. Nathan hanya bisa menghela nafas panjang, penyesalannya sekarang sudah tidak ada gunanya lagi.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Darkprince
cowok kok pea..., nyari selingkuhan malah dia yang jadi selingkuhan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nikah Kontrak Dengan Kakaknya Mantan Untuk Balas Dendam   Separuh Kebenaran

    “Ada apa sih?” Tanya Erin dengan ekspresi serius.Nathan masih terdiam. Ia bimbang antara memberitahu Erin langsung atau harus meminta izin David lebih dulu.‘Tapi ku rasa Erin juga perlu mengetahui keadaan terkini karena bagaimanapun juga itu melibatkannya,’ pikir Nathan dalam diamnya.“Apa mas David melarang mu memberitahu ku?” Tanya Erin menyelidik.“Bukan begitu.. ,” balas Nathan sambil memijat lehernya yang terasa kaku.Pria itu pun melangkah mendekat, lalu duduk di seberang sofa yang menghadap ke tepi pantai.Erin diam menunggu Nathan mengatakan hal yang ia tanyakan. Ia bisa menebak bahwa mungkin itu juga berkaitan dengannya.Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Nathan menjelaskan tentang kehadiran keluarga besar sang ayah maupun ibu yang menanyakan tentang rumor pernikahan kontrak tersebut.Saat ini keluarga besar sudah datang dan berkumpul di rumah. Hardion sudah mencoba menghubungi David tapi tidak dijawab.Oleh karena itu Nathan dipaksa menanyakan keberadaan David dan me

  • Nikah Kontrak Dengan Kakaknya Mantan Untuk Balas Dendam   Meredakan Badai

    Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat David terdiam sejenak. Ia pun akhirnya menjelaskan keadaan perusahaan milik keluarga sang ayah.David juga memberitahu Erin tentang penyelidikannya untuk mencari sumber yang menyebarkan berita itu.Saat itu ketika dalam perjalanan pulang seusai makan malam dengan ayahnya. David tiba-tiba mendapatkan pesan misterius dari nomor tidak dikenal yang memintanya untuk segera mengatakan kebenarannya jika tidak ingin keadaan memburuk.“Saat itu aku berhenti sejenak di tepi jalan. Aku bermaskud akan putar arah untuk menemui salah satu kenalan yang ku minta untuk melacak… tapi tiba-tiba ada mobil yang melaju cepat dan menabrak.”Erin terkejut dengan semua yang disampaikan David. Ia sama sekali tidak tau jika selama ini pria itu sudah mencoba mencari tau tentang penyebar informasi itu.Rasa bersalah kembali memenuhi hatinya. Selama ini ia hanya sibuk sembunyi dan merasa takut akan banyak hal.“Kamu nggak perlu terlalu memikirkannya. Biar aku yang mengurus semua

  • Nikah Kontrak Dengan Kakaknya Mantan Untuk Balas Dendam   Pengakuan

    Erin segera memanggil perawat yang bertugas. Ia pun menunggu pemeriksaan dengan harap-harap cemas.Tidak lama kemudian dokter yang memeriksa keluar dari ruangan tersebut. Dokter muda itu menjelaskan bahwa kondisi pasien sudah membaik dan sekarang sudah kembali sadar.Perempuan itu langsung masuk ke ruang perawatan begitu dokter dan perawat yang bertugas pergi.Kelopak matanya tiba-tiba dipenuhi genangan air saat melihat David sudah duduk memandang ke arahnya.Ia tidak bisa menahan air matanya lagi begitu rasa takut yang sejak tadi memenuhi pikirannya akhirnya terlepas.Kaki Erin melangkah mendekat pelan. “Jangan membuat ku khawatir… .”David tersenyum sedih lalu meraih tangan mungil Erin. “Maafkan aku.”“Kamu harus hati-hati, jangan sampai terluka lagi…,” ucap Erin dengan suara parau.“Aku mengerti… .”“Aku– aku takut… aku takut terjadi sesuatu ke mas David. Aku takut mas David tiba-tiba ninggalin aku,” racau Erin dengan air mata yang masih berjatuhan.Pria yang sedang ada di ranjang

  • Nikah Kontrak Dengan Kakaknya Mantan Untuk Balas Dendam   Pilihan

    David mulai mencari tau sumber dari berita itu. Ia bahkan tidak segan untuk membayar mahal beberapa orang untuk melacak asal mula pemberitaan itu.Pria itu juga memanfaatkan beberapa kenalannya yang bekerja di media untuk mencari berita lain yang lebih heboh untuk menenggelamkan pemberitaan tentang Erin.Ia bahkan jadi sering pulang larut karena juga menangani permasalahan kantor yang bermunculan.“David… .”Pria yang sedang berjalan di lorong kantor menuju lift itu berhenti. “Ayah hari ini ke kantor?”Hardion tersenyum dengan ekspresi lelah. “Ya, ada beberapa urusan. Sebelum pulang, ayo makan bersama ayah dulu.”David ingin sekali menolak ajakan itu. Namun ia tau bahwa sang ayah akan mencari cara lain untuk bicaranya dengannya.“Baiklah.”Keduanya memasuki mobil hitam yang terparkir di tengah basement. Mereka pun langsung menuju restoran yang biasa Hardion kunjungi.Pria tua itu sengaja memesan tempat privat di gazebo paling ujung agar tidak ada yang mendengar percakapan keduanya.“

  • Nikah Kontrak Dengan Kakaknya Mantan Untuk Balas Dendam   Menimbang

    Erin terdiam sejenak, ia mencoba menemukan alasan yang tepat. Namun sebenarnya pertanyaannya itu hanya berdasarkan rasa penasaran saja.‘Tapi aku nggak bisa bilang begitu kan? Pasti mas David akan bertanya lagi kenapa aku penasaran.’Namun belum sempat menjawab pertanyaan tersebut, Harsano datang dengan wajah pucat. Terlihat jelas bahwa pria tu itu sangat cemas.“Ada apa pa?”Harsano menatap ragu kearah putrinya juga sang menantu. Ia mencoba menarik nafas panjang lalu duduk sambil memegangi dadanya.“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap David yang seketika itu langsung bangkit.“Nggak, dengarkan papa dulu…”Erin terlihat bingung tapi ia lebih cemas pada kesehatan sang ayah. “Kita pastikan keadaan papa dulu baik-baik aja ya?”“Erin, David… saat ini di berbagai media muncul pemberitaan tentang dugaan pernikahan kontrak kalian,” ucap Harsano yang masih sambil memegangi dadanya.Baik Erin maupun David saling berpandangan. “Maksud papa apa?”Pria tua itu menyerahkan ponselnya. Beberapa medi

  • Nikah Kontrak Dengan Kakaknya Mantan Untuk Balas Dendam   Mencari Kepingan

    Erin terdiam ragu. Ia lagi-lagi merasa tidak suka dengan respon Niki yang seolah tau segalanya.“Kamu juga berekspresi seperti itu saat bertanya padaku dulu,” ucap Niki yang kemudian tersenyum senang.“Saya pernah bertanya ke anda?”“Ya, padahal kita sempat jadi lebih dekat, tapi kamu melupakan semua itu lagi ya? Kamu bahkan memanggilku kak Niki.”“Apa yang saya tanyakan ke anda waktu itu?” Tanya Erin penasaran.Namun belum sempat menjawab, sebuah panggilan telepon di ponsel Niki membuat perempuan itu tidak bisa menjawab pertanyaan Erin.Dari apa yang dikatakan wanita cantik itu melalui ponselnya, Erin tau bahwa Niki harus segera pergi ke suatu tempat.“Ah, maaf, honey. Sebenarnya aku ingin mengobrol dengan mu lebih lama, tapi aku harus pergi,” ucap Niki setelah selesai menerima panggilan telepon.“Apa anda ada waktu luang besok?”Niki terse

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status