LOGINSetelah ditinggal selingkuh kekasihnya, Erin nekat melamar kakak dari mantannya untuk menikah kontrak. Ia ingin membalas dendam atas sakit hati yang dirasakannya setelah dikhianati cinta pertama. Erin tidak peduli meski apa yang dilakukannya itu akan menyakiti dirinya sendiri maupun orang di sekitar yang disayanginya. Ia tidak keberatan membohongi semua orang hanya untuk balas dendam. Kakak dari mantan Erin menerima tawaran menikah kontrak karena suatu alasan khusus. Namun seiring waktu duda tampan itu terpikat oleh pesona Erin dan menjanjikannya untuk mengisi kekosongan hati gadis cantik itu. “Aku akan membuat mu melupakan dia dan mengisi hati mu yang kosong itu.” Apakah Erin akan jatuh cinta dengan suami kontraknya tersebut atau tetap bercerai setelah dendamnya selesai sesuai dengan perjanjian kontrak itu?
View MoreMalam itu, saat hendak beranjak tidur, gawai Mas Danang berdering. Aku yang tengah merapikan bantal dan menata selimut hanya melirik sekilas saja. Mengira, itu hanya sebuah panggilan biasa.
“Apa? Kapan? Dimana?” Pertanyaan beruntun yang diucapkan suamiku membuat tangan ini sejenak menghentikan aktivitas yang sudah biasa kulakukan menjelang tidur.
“Baik, baik, saya akan segera ke sana.” Mas Danang menutup teleponnya.
“Kenapa, Mas?” Tanyaku cemas, sambil melangkah pelan menuju dirinya yang berdiri di tepi ranjang dengan menatap layar gawai. Seperti orang yang tengah panik, ayah dari anak-anakku itu tidak mengindahkan pertanyaan dariku. Kuusap pelan pundaknya, Mas Danang berpaling menatap diri ini dengan tatapan yang tidak baik-baik saja.
“Adrian kecelakaan, Ma ...” Aku kaget mendengar kabar itu. “Aku harus segera ke rumah sakit. Kamu, jaga anak-anak di rumah, ya? Nanti aku kabari setelah sampai di sana.” Lanjutnya lagi, yang kujawab dengan anggukan kepala.
Mas Danang bergegas meraih jaket yang tergantung capstok dan mengambil kunci mobil yang ia letakkan di nakas samping ranjang tidur. Kuantar priaku menuju tempat parkir kendaraan roda empatnya.
Tubuh ini berdiri di teras, perasaanku membatu, entah karena apa. Feeling mengatakan, akan terjadi sesuatu pada keluarga mertua. Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil berwarna putihnya, Mas Danang mencium keningku, lama sekali …
Kulangkahkan kaki kembali masuk ke dalam rumah, setelah deru mobil suamiku terdengar menjauh. Perasaan was-was, membuat kelopak mata yang sedianya ingin menutup rapat, kembali terbuka. Berkali-kali, mengecak benda pipih di atas nakas, padahal, bila ada suatu panggilan ataupun pesan masuk, pastilah berdering.
Untuk mengusir gundah, aku berpindah tempat menuju kamar kedua putriku, si sulung Nadine dan adiknya, Raline.
Di dalam ruangan yang bernuansa dusty pink itu, diriku hanya mondar-mandir saja. Apa yang kucemaskan sebenarnya? Adrian, adik iparku? Atau, Mas Danang suamiku? Entahlah …
Kembali, kaki ini kubawa ke kamar pribadiku, untuk mengambil gawai yang tertinggal di dalam sana. Tepat setelah pintu tertutup , benda pipihku berbunyi. Setengah berlari, padahal jarak antara pintu dengan nakas tentulah dekat, karena kamar ini tidak terlalu luas. Kuambil serta segera menggeser gambar telepon hijau dan menempelkan pada telinga ini.
“Ma … Adrian tidak selamat ….” Tubuh ini lunglai di atas tempat tidur. Telepon dari Mas Danang-pun langsung dimatikan, setelah dirinya selesai memberikan kabar duka itu.
“Ada apa sih?” Tanya Erin dengan ekspresi serius.Nathan masih terdiam. Ia bimbang antara memberitahu Erin langsung atau harus meminta izin David lebih dulu.‘Tapi ku rasa Erin juga perlu mengetahui keadaan terkini karena bagaimanapun juga itu melibatkannya,’ pikir Nathan dalam diamnya.“Apa mas David melarang mu memberitahu ku?” Tanya Erin menyelidik.“Bukan begitu.. ,” balas Nathan sambil memijat lehernya yang terasa kaku.Pria itu pun melangkah mendekat, lalu duduk di seberang sofa yang menghadap ke tepi pantai.Erin diam menunggu Nathan mengatakan hal yang ia tanyakan. Ia bisa menebak bahwa mungkin itu juga berkaitan dengannya.Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Nathan menjelaskan tentang kehadiran keluarga besar sang ayah maupun ibu yang menanyakan tentang rumor pernikahan kontrak tersebut.Saat ini keluarga besar sudah datang dan berkumpul di rumah. Hardion sudah mencoba menghubungi David tapi tidak dijawab.Oleh karena itu Nathan dipaksa menanyakan keberadaan David dan me
Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat David terdiam sejenak. Ia pun akhirnya menjelaskan keadaan perusahaan milik keluarga sang ayah.David juga memberitahu Erin tentang penyelidikannya untuk mencari sumber yang menyebarkan berita itu.Saat itu ketika dalam perjalanan pulang seusai makan malam dengan ayahnya. David tiba-tiba mendapatkan pesan misterius dari nomor tidak dikenal yang memintanya untuk segera mengatakan kebenarannya jika tidak ingin keadaan memburuk.“Saat itu aku berhenti sejenak di tepi jalan. Aku bermaskud akan putar arah untuk menemui salah satu kenalan yang ku minta untuk melacak… tapi tiba-tiba ada mobil yang melaju cepat dan menabrak.”Erin terkejut dengan semua yang disampaikan David. Ia sama sekali tidak tau jika selama ini pria itu sudah mencoba mencari tau tentang penyebar informasi itu.Rasa bersalah kembali memenuhi hatinya. Selama ini ia hanya sibuk sembunyi dan merasa takut akan banyak hal.“Kamu nggak perlu terlalu memikirkannya. Biar aku yang mengurus semua
Erin segera memanggil perawat yang bertugas. Ia pun menunggu pemeriksaan dengan harap-harap cemas.Tidak lama kemudian dokter yang memeriksa keluar dari ruangan tersebut. Dokter muda itu menjelaskan bahwa kondisi pasien sudah membaik dan sekarang sudah kembali sadar.Perempuan itu langsung masuk ke ruang perawatan begitu dokter dan perawat yang bertugas pergi.Kelopak matanya tiba-tiba dipenuhi genangan air saat melihat David sudah duduk memandang ke arahnya.Ia tidak bisa menahan air matanya lagi begitu rasa takut yang sejak tadi memenuhi pikirannya akhirnya terlepas.Kaki Erin melangkah mendekat pelan. “Jangan membuat ku khawatir… .”David tersenyum sedih lalu meraih tangan mungil Erin. “Maafkan aku.”“Kamu harus hati-hati, jangan sampai terluka lagi…,” ucap Erin dengan suara parau.“Aku mengerti… .”“Aku– aku takut… aku takut terjadi sesuatu ke mas David. Aku takut mas David tiba-tiba ninggalin aku,” racau Erin dengan air mata yang masih berjatuhan.Pria yang sedang ada di ranjang
David mulai mencari tau sumber dari berita itu. Ia bahkan tidak segan untuk membayar mahal beberapa orang untuk melacak asal mula pemberitaan itu.Pria itu juga memanfaatkan beberapa kenalannya yang bekerja di media untuk mencari berita lain yang lebih heboh untuk menenggelamkan pemberitaan tentang Erin.Ia bahkan jadi sering pulang larut karena juga menangani permasalahan kantor yang bermunculan.“David… .”Pria yang sedang berjalan di lorong kantor menuju lift itu berhenti. “Ayah hari ini ke kantor?”Hardion tersenyum dengan ekspresi lelah. “Ya, ada beberapa urusan. Sebelum pulang, ayo makan bersama ayah dulu.”David ingin sekali menolak ajakan itu. Namun ia tau bahwa sang ayah akan mencari cara lain untuk bicaranya dengannya.“Baiklah.”Keduanya memasuki mobil hitam yang terparkir di tengah basement. Mereka pun langsung menuju restoran yang biasa Hardion kunjungi.Pria tua itu sengaja memesan tempat privat di gazebo paling ujung agar tidak ada yang mendengar percakapan keduanya.“
“Sejak tadi?” “Sekitar setengah jam yang lalu.” Erin menghela nafas panjang dan mengatur ekspresinya baru kemudian melangkah memasuki ruangannya dengan raut wajah tenang. Tatapan matanya langsung bertemu dengan David yang memandanginya dengan ekspresi menyelidik. “Mas David datang?” “Ya… ayah memint
Erin mengernyitkan keningnya setelah melihat ekspresi David yang tampak sedang mengkhawatirkan sesuatu. Suara David yang bergetar saat bertanya itu membuat perempuan itu menjadi berpikir macam-macam. ‘Apa lagi sekarang?’ “Ya, tentu.” “Kamu memberitahu Nathan tentang pernikaha
Sore itu David mampir ke rumah orang tuanya setelah selesai bekerja. Ia memang sudah lama tidak pulang karena banyak yang harus dilakukan saat kakek dan nenek Erin datang. Pria itu ingin memastikan sesuatu karena merasa penasaran dengan perubahan sikap Nathan yang terlihat kembali emosional saat ber
Beberapa hari kemudian keadaan Harsano semakin membaik sehingga pria tua itu sudah diperbolehkan pulang. Kakek dan nenek Erin tetap tinggal sampai memastikan keadaaan Harsano benar-benar pulih. Meski bingung terhadap sikap orang tua ibunya yang sekarang baik terhadap Harsano, Erin tidak menanyakan a






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews