LOGINSetelah ditinggal selingkuh kekasihnya, Erin nekat melamar kakak dari mantannya untuk menikah kontrak. Ia ingin membalas dendam atas sakit hati yang dirasakannya setelah dikhianati cinta pertama. Erin tidak peduli meski apa yang dilakukannya itu akan menyakiti dirinya sendiri maupun orang di sekitar yang disayanginya. Ia tidak keberatan membohongi semua orang hanya untuk balas dendam. Kakak dari mantan Erin menerima tawaran menikah kontrak karena suatu alasan khusus. Namun seiring waktu duda tampan itu terpikat oleh pesona Erin dan menjanjikannya untuk mengisi kekosongan hati gadis cantik itu. “Aku akan membuat mu melupakan dia dan mengisi hati mu yang kosong itu.” Apakah Erin akan jatuh cinta dengan suami kontraknya tersebut atau tetap bercerai setelah dendamnya selesai sesuai dengan perjanjian kontrak itu?
View More“Dan… Pemenang aktris terbaik tahun ini jatuh kepada…,” MC menjeda kalimatnya untuk menciptakan suasana tegang di antara semua hadirin, terutama pada empat dari lima nominator yang tampak diam, fokus menyimak apa yang akan MC ucapkan selanjutnya.
Dua dari empat nominator yang hadir di sana tampak terdiam karena tegang, berharap nama merekalah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Sementara dua lainnya terlihat cukup tenang karena mereka —juga hampir semua hadirin— sebenarnya sudah bisa menebak aktris mana yang akan keluar sebagai pemenang penghargaan. Lalu, sesuai dengan apa yang ada dalam benak kedua aktris itu, nama yang sudah selama beberapa tahun belakangan selalu menyabet penghargaan paling prestisius itulah yang dikumandangkan dengan penuh semangat oleh sang MC.
“Jessica Wright…!” seru MC, disambut tepuk tangan meriah seluruh hadirin yang kemudian serempak berdiri, memberikan respek pada sang pemenang.
Ribuan hadirin yang terdiri dari para produser, sutradara, aktor, aktris, selebriti, dan fans dari profesi-profesi yang telah disebutkan, memang berdiri dan bertepuk tangan, namun tidak dengan ekspresi bahagia yang seharusnya tergambar di wajah mereka.
Walau ada di antara mereka yang tersenyum, tapi senyum tersebut bukanlah senyum kebahagiaan yang seharusnya diberikan pada seseorang yang telah memenangi sebuah penghargaan. Senyum mereka lebih terlihat sebagai senyum penuh rasa simpati yang tanpa sadar mereka lakukan setelah teringat akan musibah yang telah menimpa sang pemenang penghargaan.
Sebuah usaha pembunuhan yang terjadi pada Jessica Wright, sang pemenang penghargaan, telah membuat aktris cantik —yang sangat dipuja karena bakat luar biasanya dalam seni peran— itu kini telah terbaring koma setelah hampir meregang nyawa.
❀❀❀❀❀❀❀
Klik…
Remaja berparas manis yang sejak tadi menonton acara penghargaan tahunan melalui ponselnya, mematikan layar ponsel setelah merasa muak mendengar tepuk tangan disertai ekspresi sedih hampir semua orang yang ditampilkan di sana.
Andai masih hidup dalam tubuhnya sendiri, ia tentu akan pergi ke acara tersebut untuk menerima penghargaan yang didapatkannya, dan tentu akan membuat semua orang yang berada di aula itu —yang sebagian besar adalah fansnya— dapat merayakan kemenangannya dengan tawa bahagia bersamanya —tidak seperti yang dilihatnya barusan.
Gadis itu meletakkan ponselnya di meja kecil yang berada dekat ranjang tidurnya, lalu beranjak pergi ke jendela untuk menghirup udara segar setelah merasa mual dengan aroma khas rumah sakit di mana ia sedang dirawat untuk pemulihan diri setelah mengalami sebuah insiden kecelakaan kecil.
“Sudah dua hari berlalu tapi tidak ada seorangpun dari pihak agensi yang datang mengunjungiku,” desisnya, mengumpatkan rasa kesal sekaligus keprihatinannya pada sosok Anna Briel, aktris muda yang kini telah menjadi wadah dari jiwanya.
“Apa karena mereka menganggap kalau Anna cuma mengalami sebuah kecelakaan kecil?”
Mengingat kembali apa yang telah dirinya dan Anna alami, gadis itu tak habis pikir kenapa kenyataan yang sebenarnya terjadi telah berubah tanpa ia tahu apa penyebabnya.
Ia, Jessica Wright, yang jiwanya kini berada di dalam tubuh gadis remaja berusia 17 tahun, Anna Briel, seharusnya sudah mati setelah diserang tunangannya. Ia merasakan saat-saat terakhirnya sebelum kehilangan kesadaran dan yakin telah meregang nyawa.
Rasa sesak, kehilangan kesadaran setelah berliter darah mengalir dari puluhan lubang tusukan yang tunangannya berikan menggunakan pisau dapur, bagaimana mungkin ia bisa selamat dari insiden itu?
Anehnya, dari berita yang dibacanya melalui surat kabar online, dirinya diberitakan ‘hanya’ mengalami 3 luka tusuk —dari puluhan tusukan yang dirasakannya saat kejadian— di bagian perut yang mengakibatkannya mengalami koma, dan tubuhnya sekarang sedang terbaring di ruangan lain, di rumah sakit yang sama dengan tempat Anna dirawat.
Sedangkan Anna Briel, yang saat itu juga ada di tempat kejadian, malah bisa ia pastikan telah mati terlebih dahulu sebelum dirinya diserang tunangannya. Ia melihat sendiri Anna melompat dari balkon apartemennya yang berada di lantai 33 gedung apartemen.
“Andai selamat pun, tubuh ini seharusnya mengalami kerusakan yang lebih parah dari tubuhku, kan? Kenapa tubuh ini baik-baik saja?” Bertanya-tanya, Jessica memerhatikan kedua tangan Anna, juga pantulan wajah gadis itu melalui kaca jendela. “Wajahnya juga tidak memiliki satupun luka gores. Cuma luka kecil di lututnya saja akibat terjatuh setelah tertabrak pesepeda.”
Kejadian itulah yang para suster dan dokter beritahukan padanya. Anna dibawa ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan kecil ditabrak pesepeda yang menerobos jalur pejalan kaki.
Anna pingsan di dekat trotoar sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit. Pingsannya pun bukan karena kecelakaan yang gadis itu alami, melainkan karena kelelahan berlebih yang didapatnya setelah seharian bekerja di dua tempat berbeda. Hal itu juga yang membuat Anna harus dirawat lebih dari dua hari —akibat kelelahan.
Jessica yang kini berada di dalam tubuh Anna tentu saja tidak bisa membantah apa yang suster dan dokter katakan karena ia sendiri sebenarnya mengingat kejadian itu dengan sangat jelas. Entah bagaimana, ia telah mendapatkan seluruh ingatan Anna sejak gadis itu kecil sampai yang terakhir kali, saat melihat sepeda melaju ke arahnya sebelum akhirnya tertabrak dan jatuh pingsan. Jessica hanya bertanya pada para suster dan dokter untuk memastikan ingatan itu saja.
Anehnya lagi, justru ingatan Anna setelah melompat dari balkon lah yang menghilang.
Mengurutkan dan menggabungkan ingatan Anna, yang didapatkannya, dengan ingatannya sendiri, kejadiannya seperti berikut;
Malam itu Anna pergi ke apartemen Jessica sepulang dari pekerjaan sambilannya di gudang persinggahan. Secara kebetulan Anna bertemu dengan tunangan Jessica yang juga sedang menunggu kepulangan Jessica di apartemen wanita itu.
Menolak ajakan tunangan Jessica masuk ke dalam apartemen untuk menunggu Jessica bersama, Anna malah disergap dan dipaksa masuk hingga hampir diperkosa sebelum rencana itu digagalkan oleh kepulangan Jessica yang memergoki mereka.
Mengira Anna sengaja menggoda tunangannya, tentu saja Jessica marah dan memakinya sedemikian parah sampai Anna hanya bisa menangis saking takutnya dengan kemarahan Jessica yang statusnya adalah bos Anna di agensi keartisan.
Tunangannya sendiri tentu tak lolos dari kemarahannya. Selain memberikan banyak kata-kata hinaan, Jessica yang memiliki keahlian bela diri juga menyerang pria itu secara fisik, menghajarnya sampai akhirnya terkapar di dekat dapur.
Saat itulah Jessica menyadari Anna menghilang dari sudut ruangan di mana gadis itu sebelumnya meringkuk, menangis setelah mendapatkan murka darinya. Saat berkeliling apartemen untuk mencarinya, ketika itulah ia menemukan Anna sudah memanjat pagar balkon bersiap melompat ke luar gedung.
Terlambat mengingatkan Anna untuk tidak melakukan tindakan bodoh hanya karena kemarahannya, Anna sudah terlanjur melompat ke sisi lain pagar —ke luar gedung.
Ingatan ketika Anna melayang-layang di udara setelah melompat itulah yang telah menghilang, menyimpang ke sebuah ingatan saat Anna tiba-tiba saja muncul di sebuah area pejalan kaki sebelum tertabrak pesepeda yang mengira jalanan itu kosong.
“Ada apa sih?” Tanya Erin dengan ekspresi serius.Nathan masih terdiam. Ia bimbang antara memberitahu Erin langsung atau harus meminta izin David lebih dulu.‘Tapi ku rasa Erin juga perlu mengetahui keadaan terkini karena bagaimanapun juga itu melibatkannya,’ pikir Nathan dalam diamnya.“Apa mas David melarang mu memberitahu ku?” Tanya Erin menyelidik.“Bukan begitu.. ,” balas Nathan sambil memijat lehernya yang terasa kaku.Pria itu pun melangkah mendekat, lalu duduk di seberang sofa yang menghadap ke tepi pantai.Erin diam menunggu Nathan mengatakan hal yang ia tanyakan. Ia bisa menebak bahwa mungkin itu juga berkaitan dengannya.Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Nathan menjelaskan tentang kehadiran keluarga besar sang ayah maupun ibu yang menanyakan tentang rumor pernikahan kontrak tersebut.Saat ini keluarga besar sudah datang dan berkumpul di rumah. Hardion sudah mencoba menghubungi David tapi tidak dijawab.Oleh karena itu Nathan dipaksa menanyakan keberadaan David dan me
Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat David terdiam sejenak. Ia pun akhirnya menjelaskan keadaan perusahaan milik keluarga sang ayah.David juga memberitahu Erin tentang penyelidikannya untuk mencari sumber yang menyebarkan berita itu.Saat itu ketika dalam perjalanan pulang seusai makan malam dengan ayahnya. David tiba-tiba mendapatkan pesan misterius dari nomor tidak dikenal yang memintanya untuk segera mengatakan kebenarannya jika tidak ingin keadaan memburuk.“Saat itu aku berhenti sejenak di tepi jalan. Aku bermaskud akan putar arah untuk menemui salah satu kenalan yang ku minta untuk melacak… tapi tiba-tiba ada mobil yang melaju cepat dan menabrak.”Erin terkejut dengan semua yang disampaikan David. Ia sama sekali tidak tau jika selama ini pria itu sudah mencoba mencari tau tentang penyebar informasi itu.Rasa bersalah kembali memenuhi hatinya. Selama ini ia hanya sibuk sembunyi dan merasa takut akan banyak hal.“Kamu nggak perlu terlalu memikirkannya. Biar aku yang mengurus semua
Erin segera memanggil perawat yang bertugas. Ia pun menunggu pemeriksaan dengan harap-harap cemas.Tidak lama kemudian dokter yang memeriksa keluar dari ruangan tersebut. Dokter muda itu menjelaskan bahwa kondisi pasien sudah membaik dan sekarang sudah kembali sadar.Perempuan itu langsung masuk ke ruang perawatan begitu dokter dan perawat yang bertugas pergi.Kelopak matanya tiba-tiba dipenuhi genangan air saat melihat David sudah duduk memandang ke arahnya.Ia tidak bisa menahan air matanya lagi begitu rasa takut yang sejak tadi memenuhi pikirannya akhirnya terlepas.Kaki Erin melangkah mendekat pelan. “Jangan membuat ku khawatir… .”David tersenyum sedih lalu meraih tangan mungil Erin. “Maafkan aku.”“Kamu harus hati-hati, jangan sampai terluka lagi…,” ucap Erin dengan suara parau.“Aku mengerti… .”“Aku– aku takut… aku takut terjadi sesuatu ke mas David. Aku takut mas David tiba-tiba ninggalin aku,” racau Erin dengan air mata yang masih berjatuhan.Pria yang sedang ada di ranjang
David mulai mencari tau sumber dari berita itu. Ia bahkan tidak segan untuk membayar mahal beberapa orang untuk melacak asal mula pemberitaan itu.Pria itu juga memanfaatkan beberapa kenalannya yang bekerja di media untuk mencari berita lain yang lebih heboh untuk menenggelamkan pemberitaan tentang Erin.Ia bahkan jadi sering pulang larut karena juga menangani permasalahan kantor yang bermunculan.“David… .”Pria yang sedang berjalan di lorong kantor menuju lift itu berhenti. “Ayah hari ini ke kantor?”Hardion tersenyum dengan ekspresi lelah. “Ya, ada beberapa urusan. Sebelum pulang, ayo makan bersama ayah dulu.”David ingin sekali menolak ajakan itu. Namun ia tau bahwa sang ayah akan mencari cara lain untuk bicaranya dengannya.“Baiklah.”Keduanya memasuki mobil hitam yang terparkir di tengah basement. Mereka pun langsung menuju restoran yang biasa Hardion kunjungi.Pria tua itu sengaja memesan tempat privat di gazebo paling ujung agar tidak ada yang mendengar percakapan keduanya.“
Kelopak mata Erin bergetar pelan, lalu dengan sangat perlahan ia membuka matanya. Pandangannya berkabut, tidak fokus, seperti kaca yang dipenuhi embun.David tampak lega. “Erin, syukurlah… “Tidak ada kalimat yang bisa mewakili betapa bahagianya perasaan David saa
Erin berdiri mematung di depan toko kue setelah membeli apa yang diinginkannya. Ia menatap ragu ke arah jalan raya yang masih basah oleh gerimis.Ia sebenarnya memang ingin menemui sang ayah sendirian. Erin sengaja tidak mengatakannya ke David karena tidak ingin melibatkan pria itu lebih j
Erin kembali ke kamarnya setelah melihat matahari terbenam sedangkan David berkata ingin berkeliling sendiri selama beberapa waktu. Ia menghela nafas lalu membaringkan dirinya di kasur. Matanya fokus menatap langit-langit ruangan dengan ekspresi sendu. Ruangan dengan kombinasi kayu
“Sejak tadi?” “Sekitar setengah jam yang lalu.” Erin menghela nafas panjang dan mengatur ekspresinya baru kemudian melangkah memasuki ruangannya dengan raut wajah tenang. Tatapan matanya langsung bertemu dengan David yang memandanginya dengan ekspresi menyelidik. “Mas David datang?” “Ya… ayah memint


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews