เข้าสู่ระบบSetelah ditinggal selingkuh kekasihnya, Erin nekat melamar kakak dari mantannya untuk menikah kontrak. Ia ingin membalas dendam atas sakit hati yang dirasakannya setelah dikhianati cinta pertama. Erin tidak peduli meski apa yang dilakukannya itu akan menyakiti dirinya sendiri maupun orang di sekitar yang disayanginya. Ia tidak keberatan membohongi semua orang hanya untuk balas dendam. Kakak dari mantan Erin menerima tawaran menikah kontrak karena suatu alasan khusus. Namun seiring waktu duda tampan itu terpikat oleh pesona Erin dan menjanjikannya untuk mengisi kekosongan hati gadis cantik itu. “Aku akan membuat mu melupakan dia dan mengisi hati mu yang kosong itu.” Apakah Erin akan jatuh cinta dengan suami kontraknya tersebut atau tetap bercerai setelah dendamnya selesai sesuai dengan perjanjian kontrak itu?
ดูเพิ่มเติม~ JAMIE
New York wind whipped my hair across my face as I stood on the forty-seventh-floor terrace, watching the black helicopter touch down on the helipad. Simon Hart. CEO of Hart & Co. Billionaire. Confirmed bachelor. And... my boss. The kind of man who made stock prices jump just by walking into a room.
He climbed out of the chopper like he was born with a silver spoon permanently lodged in his mouth—Armani suit immaculate, sunglasses hiding those eyes I knew were a dangerous shade of blue.
"Counselor!" he shouted, that arrogant smirk firmly in place—the one that made half the women in New York go weak in the knees. "You look like a porcelain doll about to blow away."
"I'd rather look like a competent lawyer, Hart." I frowned. "Anyway, we have the meeting with the Chinese delegation in—"
He breezed past me like I was furniture, striding into the corner office.
"Later, later." He tossed his blazer onto the armchair and dropped into the leather chair behind the glass desk. "Sit. Catch me up on the Cavellier contract."
I launched into the exclusivity clauses, but he was distracted—phone in hand, eyes going wide.
"What?" I asked.
He shoved the phone toward me. The screen showed a photo of him on a yacht off the Amalfi Coast. A busty blonde perched on his lap, his hand... well, his hand was doing something that disappeared under her dress.
"These paparazzi are gonna make me go bald, Counselor." He ran a hand through his perfectly disheveled hair.
I zoomed in, arching a brow.
"Wow. You're not shy with those hands, are you, big guy?"
He snatched the phone back in one quick move.
"Don't stress about it." He rested his elbows on the desk. "Keep going."
I finished the presentation in five minutes, tucked the documents into my folder, and stood.
"I'm heading back to my desk."
"Counselor." His voice stopped me at the door. "Grab me a coffee? Megan called in sick."
I rolled my eyes.
"I'm not your secretary, Simon."
"Please?" He pressed his hands together like he was praying, his expression somewhere between childish and... dangerous. "You know I only drink from that place on the corner."
I let out a dramatic sigh.
"Fine. But if the Chinese deal goes south because of you, I'm billing overtime."
I rode the elevator down forty-seven floors, the fresh city air hitting me as I stepped out. In line at the coffee shop, my phone buzzed.
My cousin, Vanessa.
"I'm at your apartment! Dropped off your wedding tiara. Oliver let me in, so I left it on your bed. Seven days, girl! I can't believe you're finally doing this!"
I smiled, typing back.
"Put it right in the center. Thanks, cuz. Love you!"
Seven days. After ten years of dragging his feet, Oliver had finally proposed. The perfect neurosurgeon. The Upper East Side townhouse. The planned-out kids. Everything in place.
Crossing the street felt like the last step toward perfection.
"Pretty lady..."
A wrinkled hand touched my arm. An old Romani woman in a flowing skirt, eyes black as coal.
"Let me read your palm."
"Oh, no. I'm way too busy today, I can't."
"Please, it won't take more than two minutes."
I'd always been skeptical of this stuff, but she looked so harmless. I gave in, holding out my hand.
She took my left palm, studying it with a furrowed brow.
"You will still fall in love," she said. "In six months."
"I think your timing's a little off. I'm getting married next week."
"No." She squeezed my hand tighter. "The man meant for you. He is..." She paused, searching for the words. "Powerful. More than you can imagine. Billions within his reach. But what he truly has goes far beyond money. He'll give you everything... fortune, happiness, pleasure, the..." Her voice dropped. "His soul."
I laughed, genuinely amused. "Well, my fiancé definitely doesn't have billions. He's a doctor. He does well. But the only billionaire I know is my boss, and the only thing that bastard loves more than money is swapping out girlfriends."
"Go home," she said suddenly. "Go home right now."
"Excuse me?"
"Before you make the mistake of committing to the wrong man. He doesn't love you. He's cheating on you. Right now. In your house."
The light changed. People surged past me.
"Ma'am, you're crazy. I've been with him for ten years. He loves me..."
"He loves what you give him. The stability. The reputation." She gripped my wrist. "Open your eyes, girl. The truth is in your own bedroom."
I pulled away, shaking my head. "This is ridiculous."
I started crossing the street, determined to leave that crazy encounter behind. But her words echoed in my head. Right now. In your house.
I stopped in the middle of the crosswalk.
Don't be an idiot, Jamie. She's a charlatan. A grifter.
My feet were already turning.
Oliver would never do this. Vanessa would never.
I quickened my pace.
They're my two favorite people. They love me.
Now I was running, covering the three blocks to my building in seconds. I burst through the doors, took the stairs instead of waiting for the elevator, and shoved open the apartment door.
The silence hit me first. Then the trail of clothes. A blazer—familiar, navy—abandoned near the couch. A pair of red panties I'd never seen before under the coffee table.
I followed the path to the bedroom. The door was cracked open.
I pushed.
And my world shattered into a thousand pieces.
Vanessa was on all fours in the middle of the bed. The crystal tiara—my tiara—hung crookedly on her head, the diamonds trembling with every thrust. Her red dress bunched around her waist. And Oliver behind her. Completely naked. Hands digging into her hips, bodies flush, the rhythm I knew so well.
The air left my lungs.
He looked up and saw me. Pulled back so fast he lost his balance, landing on his ass on the bed, his d*ck still hard and glistening.
"JAMIE!" His voice came out thin, almost childish. "WAIT!"
Vanessa scrambled around, yanking up the sheet. The tiara fell. She was pale, eyes red, lipstick smeared.
"It's not... I swear I didn't—"
"Swear what?" My voice came out dry. "That you slipped and fell ass-up?"
"It was one time, Jamie, just one time—" Oliver started.
I ripped off the ring. It hit the floor with a soft plink.
"Here." My voice shook. "You'll need it for the next wedding. This one's over."
That morning, I had a fiancé. A cousin who was my best friend. A whole life mapped out.
Before noon, I had nothing.
And I still had no idea that the worst was yet to come.
“Ada apa sih?” Tanya Erin dengan ekspresi serius.Nathan masih terdiam. Ia bimbang antara memberitahu Erin langsung atau harus meminta izin David lebih dulu.‘Tapi ku rasa Erin juga perlu mengetahui keadaan terkini karena bagaimanapun juga itu melibatkannya,’ pikir Nathan dalam diamnya.“Apa mas David melarang mu memberitahu ku?” Tanya Erin menyelidik.“Bukan begitu.. ,” balas Nathan sambil memijat lehernya yang terasa kaku.Pria itu pun melangkah mendekat, lalu duduk di seberang sofa yang menghadap ke tepi pantai.Erin diam menunggu Nathan mengatakan hal yang ia tanyakan. Ia bisa menebak bahwa mungkin itu juga berkaitan dengannya.Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Nathan menjelaskan tentang kehadiran keluarga besar sang ayah maupun ibu yang menanyakan tentang rumor pernikahan kontrak tersebut.Saat ini keluarga besar sudah datang dan berkumpul di rumah. Hardion sudah mencoba menghubungi David tapi tidak dijawab.Oleh karena itu Nathan dipaksa menanyakan keberadaan David dan me
Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat David terdiam sejenak. Ia pun akhirnya menjelaskan keadaan perusahaan milik keluarga sang ayah.David juga memberitahu Erin tentang penyelidikannya untuk mencari sumber yang menyebarkan berita itu.Saat itu ketika dalam perjalanan pulang seusai makan malam dengan ayahnya. David tiba-tiba mendapatkan pesan misterius dari nomor tidak dikenal yang memintanya untuk segera mengatakan kebenarannya jika tidak ingin keadaan memburuk.“Saat itu aku berhenti sejenak di tepi jalan. Aku bermaskud akan putar arah untuk menemui salah satu kenalan yang ku minta untuk melacak… tapi tiba-tiba ada mobil yang melaju cepat dan menabrak.”Erin terkejut dengan semua yang disampaikan David. Ia sama sekali tidak tau jika selama ini pria itu sudah mencoba mencari tau tentang penyebar informasi itu.Rasa bersalah kembali memenuhi hatinya. Selama ini ia hanya sibuk sembunyi dan merasa takut akan banyak hal.“Kamu nggak perlu terlalu memikirkannya. Biar aku yang mengurus semua
Erin segera memanggil perawat yang bertugas. Ia pun menunggu pemeriksaan dengan harap-harap cemas.Tidak lama kemudian dokter yang memeriksa keluar dari ruangan tersebut. Dokter muda itu menjelaskan bahwa kondisi pasien sudah membaik dan sekarang sudah kembali sadar.Perempuan itu langsung masuk ke ruang perawatan begitu dokter dan perawat yang bertugas pergi.Kelopak matanya tiba-tiba dipenuhi genangan air saat melihat David sudah duduk memandang ke arahnya.Ia tidak bisa menahan air matanya lagi begitu rasa takut yang sejak tadi memenuhi pikirannya akhirnya terlepas.Kaki Erin melangkah mendekat pelan. “Jangan membuat ku khawatir… .”David tersenyum sedih lalu meraih tangan mungil Erin. “Maafkan aku.”“Kamu harus hati-hati, jangan sampai terluka lagi…,” ucap Erin dengan suara parau.“Aku mengerti… .”“Aku– aku takut… aku takut terjadi sesuatu ke mas David. Aku takut mas David tiba-tiba ninggalin aku,” racau Erin dengan air mata yang masih berjatuhan.Pria yang sedang ada di ranjang
David mulai mencari tau sumber dari berita itu. Ia bahkan tidak segan untuk membayar mahal beberapa orang untuk melacak asal mula pemberitaan itu.Pria itu juga memanfaatkan beberapa kenalannya yang bekerja di media untuk mencari berita lain yang lebih heboh untuk menenggelamkan pemberitaan tentang Erin.Ia bahkan jadi sering pulang larut karena juga menangani permasalahan kantor yang bermunculan.“David… .”Pria yang sedang berjalan di lorong kantor menuju lift itu berhenti. “Ayah hari ini ke kantor?”Hardion tersenyum dengan ekspresi lelah. “Ya, ada beberapa urusan. Sebelum pulang, ayo makan bersama ayah dulu.”David ingin sekali menolak ajakan itu. Namun ia tau bahwa sang ayah akan mencari cara lain untuk bicaranya dengannya.“Baiklah.”Keduanya memasuki mobil hitam yang terparkir di tengah basement. Mereka pun langsung menuju restoran yang biasa Hardion kunjungi.Pria tua itu sengaja memesan tempat privat di gazebo paling ujung agar tidak ada yang mendengar percakapan keduanya.“
Kelopak mata Erin bergetar pelan, lalu dengan sangat perlahan ia membuka matanya. Pandangannya berkabut, tidak fokus, seperti kaca yang dipenuhi embun.David tampak lega. “Erin, syukurlah… “Tidak ada kalimat yang bisa mewakili betapa bahagianya perasaan David saa
Erin berdiri mematung di depan toko kue setelah membeli apa yang diinginkannya. Ia menatap ragu ke arah jalan raya yang masih basah oleh gerimis.Ia sebenarnya memang ingin menemui sang ayah sendirian. Erin sengaja tidak mengatakannya ke David karena tidak ingin melibatkan pria itu lebih j
Erin kembali ke kamarnya setelah melihat matahari terbenam sedangkan David berkata ingin berkeliling sendiri selama beberapa waktu. Ia menghela nafas lalu membaringkan dirinya di kasur. Matanya fokus menatap langit-langit ruangan dengan ekspresi sendu. Ruangan dengan kombinasi kayu
“Sejak tadi?” “Sekitar setengah jam yang lalu.” Erin menghela nafas panjang dan mengatur ekspresinya baru kemudian melangkah memasuki ruangannya dengan raut wajah tenang. Tatapan matanya langsung bertemu dengan David yang memandanginya dengan ekspresi menyelidik. “Mas David datang?” “Ya… ayah memint






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น