Home / Romansa / Nikahi Aku Mas Cleaning Service! / Bab 1 : CEO yang Kesepian

Share

Nikahi Aku Mas Cleaning Service!
Nikahi Aku Mas Cleaning Service!
Author: Minerva

Bab 1 : CEO yang Kesepian

Author: Minerva
last update publish date: 2026-06-29 09:36:06

“Aku tidak peduli apa kata mereka, aku hanya mencintaimu,” ujar aktor di layar ponsel menggema di ruangan kantor yang sunyi, kemudian adegan berciuman mesra di atas ranjang.

Suara desahan memenuhi ruang kantor yang sepi.

Jam dinding di ruang kerja direktur utama Mona Beauty Group sudah menunjuk ke angka sepuluh malam. Suasana kantor begitu sunyi, menyisakan deru samar pendingin ruangan. Di balik meja kerja, Lusty Mona, CEO berusia 30 tahun, yang masih lajang, menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. Kacamata bertengger di hidung mancungnya. Untuk mengusir penat dan rasa sepi yang tiba-tiba menyergap, Lusty menonton film romantis di ponselnya.

Lusty termenung, sedikit terbawa suasana.

Adegan film romantis semakin panas, suara-suara desahan makin nyaring.

KLEK…

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa ketukan yang keras.

"Permisi, Ibu Lusty... Oh, maaf!" Suara yang sangat dikenalnya itu menggema dari sudut ruangan.

Lusty tersentak kaget bukan main. Tangannya refleks bergerak cepat membalikkan layar ponselnya ke atas meja, tepat saat adegan ciuman di atas ranjang itu mengeluarkan suara desahan nyaring. Wajah sang CEO seketika memerah sampai ke telinga. 

Di ambang pintu, berdiri Raman Syah, petugas cleaning service di kantornya. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu mematung dengan memegang alat pengepel lantai.

"R-Raman? Sedang apa kamu di sini?!" tanya Lusty, berusaha mengontrol suaranya agar tetap terdengar berwibawa sebagai atasan, meski jantungnya berdebar karena malu.

"Maaf, Bu Lusty. Saya kira Ibu sudah pulang," ujar Raman gugup, langsung menundukkan kepala dengan sopan. "Saya hanya ingin membersihkan ruangan agar siap untuk rapat besok pagi."

"Sudah saya bilang berapa kali? Jangan panggil saya Ibu! Saya belum kawin... eh belum nikah! Panggil saya Nona Lusty. Eh, lain kali ketuk pintu dulu!" sahut Lusty, membetulkan letak kacamatanya dengan gugup. "Saya tadi sedang menonton video berita malah ada iklan video dewasa, huh!" Lusty berbohong.

"Baik, Non. Sekali lagi saya mohon maaf mengganggu waktu Nona Lusty," kata Raman tulus, melangkah mundur perlahan. "Kalau begitu, saya permisi keluar dulu—" 

Belum sempat Raman menutup pintu, ponsel Lusty di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak yang seketika membuat pundak Lusty kembali menegang: Mama Lusty. 

Lusty menghela napas panjang, menatap layar itu dengan tatapan enggan. Ia melirik Raman yang masih berdiri di dekat pintu. "Tunggu, Raman. Jangan keluar dulu. Kamu... bersihkan saja dulu sudut yang di sebelah sana."

"Baik, Bu, Eh, Non," jawab Raman patuh, lalu berjalan pelan menuju rak lemari pajangan di sudut ruangan, mencoba mengalihkan pandangannya demi privasi sang atasan. 

Lusty menggeser layar ponselnya dan mendekatkannya ke telinga. "Ya, Halo, Ma?"  

"Lusty! Kamu di mana? Jam segini belum pulang juga?!" Suara melengking Ratna Prameswari langsung memberondong dari seberang telepon, membuat Lusty terpaksa menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter. 

"Lusty masih di kantor, Mah. Masih ada beberapa laporan keuangan Mona Beauty yang harus diperiksa," jawab Lusty pelan, mencoba memberi alasan logis. 

"Jam segini kamu masih kerja? Dasar gila kerja! Kerja, kerja, kerja terus yang kamu pikirkan! Mau sampai kapan kamu jadi gila kerja begitu, Lusty? Umur kamu itu sudah tiga puluh tahun!" cecar Ratna tanpa ampun. "Sadar tidak, adikmu, Lula, baru dua puluh enam tahun tapi dia sudah resmi tunangan! Masa kamu sebagai kakak mau dilangkahi begitu saja tanpa kejelasan?" 

Lusty memijat pelipisnya. "Lula dan tunangannya memang sudah siap. Kalau Lusty kan belum—"

"Belum apa lagi?! Mama tidak mau tahu ya, pokoknya kamu harus segera menikah! Mama ini sudah mau punya menantu, mau cepat-cepat gendong cucu dari kamu! Teman-teman sosialita di medsos selalu pamer cucu mereka!”

Suara ibunya begitu nyaring di keheningan malam, hingga Lusty yakin Raman yang sedang mengelap kaca pajangan di sudut ruangan pun bisa mendengar sayup-sayup omelan tersebut. Wajah Lusty terasa kaku, ada rasa sesak sekaligus sedih yang mendalam di dadanya.  

"Ma, menjalin hubungan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan..."

"Makanya Mama sudah punya nama calon suamimu itu adalah Arga Wijaya! Dia itu mapan, tampan, CEO sukses. Kurang apa lagi? Pokoknya minggu ini kamu harus luangkan waktu untuk bertemu dengannya. Jangan membantah lagi, Lusty. Ibu pusing memikirkan kamu!"  

PIP

Sambungan telepon diputus sepihak oleh ibunya.

Lusty perlahan menurunkan ponselnya. Ia menatap meja kerjanya dengan pandangan kosong. Air mata kepenatan hampir saja menetes, namun ia sekuat tenaga menahannya. Sebagai pemimpin ratusan karyawan, ia dituntut selalu kuat, namun di malam hari seperti ini, tuntutan keluarga justru membuatnya merasa menjadi wanita paling kesepian di dunia. 

Suara langkah kaki yang mendekat memecah keheningan.

Lusty mendongak dan mendapati Raman sudah berdiri di depan mejanya. Di tangan pemuda itu, kini ada sebuah cangkir keramik yang mengeluarkan uap hangat.

"Permisi, Non Lusty," kata Raman dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan. "Tadi kebetulan saya membuat teh camomil hangat di pantry untuk saya sendiri, tapi ini masih baru dan belum saya minum. Barangkali... Nona Lusty berkenan meminumnya untuk sedikit meredakan stres?"  

Lusty menatap cangkir teh itu, lalu beralih menatap wajah Raman yang bersih dan tersenyum tulus tanpa pamrih. Di tengah dunia bisnisnya yang penuh kepalsuan dan tuntutan ibunya yang egois, perhatian sederhana dari seorang cleaning service ini terasa begitu menghangatkan. 

Lusty menerima cangkir tersebut. "Terima kasih banyak, Raman. Kamu perhatian sekali," ucap Lusty tulus, tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu.

"Sudah tugas saya membantu kenyamanan orang-orang di kantor ini," balas Raman rendah hati. "Minum selagi hangat. Teh camomil bagus untuk menenangkan pikiran sebelum tidur." 

Lusty menyesap teh itu perlahan. Rasa hangatnya langsung mengalir ke tenggorokan, perlahan meredakan ketegangan di dadanya. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke meja, lalu menatap jam dinding yang kini sudah lewat pukul sepuluh malam.

"Kamu benar, Raman. Sepertinya memaksakan diri bekerja malam ini juga tidak akan efektif," ujar Lusty sambil menghela napas panjang.

"Jika begitu, sebaiknya Nona Lusty segera pulang dan istirahat di rumah," sahut Raman sopan. "Biar saya bantu merapikan berkas-berkas Ibu ke dalam tas."  

"Boleh, tolong ya," kata Lusty, bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.

Raman dengan cekatan dan hati-hati mulai menyusun map-map laporan yang berserakan di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam tas kerja kulit milik Lusty. Gerakannya sangat rapi dan penuh rasa hormat.

Sembari memperhatikan Raman yang sedang membantunya berkemas, Lusty terdiam. Ada rasa aman yang menjalar di hatinya ketika melihat punggung tegap pria berusia dua puluh lima tahun itu. Pria yang statusnya jauh di bawahnya, namun entah mengapa malam ini terasa jauh lebih peka dan peduli padanya dibandingkan keluarganya sendiri. 

"Semua berkasnya sudah rapi di dalam tas," ujar Raman, membuyarkan lamunan Lusty. Ia menyerahkan tas kerja tersebut dengan kedua tangannya. "Dan ini kacamatanya jangan sampai tertinggal di meja."  

Lusty menerima tas dan kacamatanya, jemarinya sempat bersentuhan tidak sengaja dengan ujung jari Raman yang hangat. Sebuah desir halus seolah mendebarkan dadanya seketika. 

"Ah... iya, terima kasih sekali lagi, Raman," ucap Lusty agak gugup, buru-buru memakai kacamatanya kembali. 

"Silakan, saya antar sampai depan lift," tawar Raman dengan senyuman ramah. 

Lusty mengangguk pelan, melangkah di depan Raman keluar dari ruang kerjanya yang luas namun sepi.

Dari pantulan kaca Lusty dapat melihat tatapan Raman di belakangnya lurus ke depan. Berbeda jauh dari para tamu bisnisnya yang biasanya menatap ke arah rok pendeknya. Karena itulah, Lusty selalu merasa aman dan nyaman jika ada Raman di dekatnya.

Sesampai di area parkir, Lusty masuk ke dalam mobil. Ia buru-buru menurunkan kaca jendela mobil dan memanggil Raman. "Tunggu Raman! Tadi kamu dengar sendiri kan omelan Mama di telepon soal perjodohan itu?" tanya Lusty.

Raman hanya mengangguk pelan. Ia tampak kaget bosnya tiba-tiba menanyakan masalah pribadi.

"Apa kamu mau berpura-pura jadi calon suamiku di depan orang tuaku?" tanya Lusty penuh harap.

Raman tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya. Suaranya terbata-bata, “Ca—calon suami? Saya?”

“Gak perlu dijawab sekarang. Saya juga gak maksa kok, tapi saya butuh bantuan kamu.” Mesin mobil berderum pelan. Lusty melambaikan tangan lalu menyetir mobil keluar dari area parkir.

Raman masih berdiri di area parkir menyaksikan mobil bosnya menghilang di balik gedung.

Kemudian tangannya menepuk-nepuk pipinya sendiri. “Bukan mimpi kan ini?” gumam Raman kepada dirinya sendiri. Berbagai pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. “Waduh, aku harus menjawab apa ya? Kalau aku mengiyakan gimana nanti? Kalau aku menolak duh bakal dimusuhi Nona Lusty!”

Minerva

Facebook: Minerva Author. Terima kasih sudah membaca. Silakan subscribe dan beri ulasan ya. Mohon dukungannya terima kasih.

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Fadilah Rahman
sangat bagus bikin penasaran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 135 : Rencana Senyap

    Potongan kawat tembaga kecil tersimpan rapi di dalam kotak kaca kecil, diletakkan di lemari tertutup ruang kerja Lusty—bukan sebagai bukti yang bisa langsung dipamerkan dan memenangkan pertikaian, melainkan sebagai penanda diam yang tak bisa dibantah, pengingat bahwa ada kejahatan yang berusaha dikubur paksa namun belum bisa musnah sepenuhnya. Rumah kembali tenang secara lahiriah, namun setiap orang yang tinggal di dalamnya kini melangkah dengan kewaspadaan yang lebih tajam, hati yang lebih bersatu, dan tekad yang terjalin erat tanpa perlu banyak bicara.***Pagi itu udara terasa segar, namun ada ketegangan samar yang menyelimuti. Lusty mengumpulkan Raman, Dedi, dan Sari di meja makan, tempat yang dulu menjadi pusat kehangatan yang kini teruji oleh pengkhianatan dan ancaman. Cangkir teh hangat tersaji di hadapan mereka, namun tak ada yang segera menyentuhnya. Dedi menundukkan pandangan, tangan saling menggenggam erat di pangkuan, sementara Sari sesekali mengusap sudut mata yang basah—

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 134 : Jejak yang Tersisa

    Mobil petugas PLN yang membawa serta segala alat bukti itu baru saja menghilang di tikungan jalan, namun pandangan Lusty masih terpaku lama pada gerbang yang kini tertutup kembali seolah tak ada apa-apa yang baru saja terjadi. Angin sore yang berhembus pelan tak mampu meredakan rasa sesak yang menyelinap di dadanya. Di sampingnya, Raman berdiri diam memegang selembar surat pemeriksaan resmi yang terasa begitu ringan di jari-jarinya, namun menyimpan beban makna yang jauh lebih berat daripada sekadar lembaran kertas bertanda tangan dan cap basah itu.“Mereka datang terlalu cepat, Mas,” ujar Lusty pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara desiran angin, memecah keheningan yang mencekam. “Seolah-olah mereka sudah tahu persis apa yang harus dicari, di mana letaknya, dan bahkan tahu kapan waktu yang paling tepat untuk datang—tepat setelah Dedi dan Sari mengaku jujur pada kita.”Raman mengangguk perlahan, tangannya meremas kertas itu erat hingga pinggirannya sedikit berkerut. “Bukan han

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 133 : Membersihkan Barang Bukti

    Tak sampai satu jam berlalu setelah percakapan itu berakhir, sebuah mobil dinas resmi yang bertuliskan logo besar Perusahaan Listrik Negara berhenti tepat di depan gerbang rumah baru Lusty dan Raman. Dua orang pria berpakaian seragam lengkap dengan perlengkapan kerja turun dengan wajah serius dan terlatih. Raman yang kebetulan sedang merapikan tanaman di halaman depan segera menyambut mereka dengan sopan.“Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu aktivitas Bapak sekeluarga,” ucap salah satu petugas yang tampak lebih senior dengan nada bicara yang resmi dan terukur. “Kami dari kantor pelayanan PLN wilayah setempat. Tadi pagi sistem pemantauan jaringan kami mendeteksi adanya gangguan arus listrik yang tidak wajar dan mencurigakan yang berasal dari alamat rumah ini. Kami diperintahkan untuk datang memeriksa instalasi kabel serta membersihkan perangkat apa pun yang mungkin terpasang secara tidak sah dan mengganggu jalannya aliran listrik utama.”Lusty yang mendengar percakapan itu dari dalam r

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 132 : Langkah Ratna

    Begitu pintu ruang kerjanya tertutup rapat dan terkunci, senyum kepura-puraan Fenina yang tadi ia pertahankan sekuat tenaga seketika luruh berganti kekhawatiran yang nyata dan mencekam. Kakinya terasa lemas seketika, membuatnya terpaksa duduk di tepi meja kerja sambil meremas kedua tangannya yang dingin dan berkeringat dingin. Ia tahu betul bahwa meski tadi ia berhasil membela diri dengan lihai di hadapan Lusty, namun ancaman sebenarnya belum hilang—bahkan justru semakin mendekat. Jika Lusty atau Raman memeriksa setiap sudut rumah itu dan menemukan alat penyadap yang terpasang, tak ada lagi alasan yang bisa ia gunakan untuk menutupi segalanya. Jejak itu akan langsung menunjuk padanya, dan yang lebih mengerikan, akan menyeret nama Ibu Ratna yang merupakan dalang sesungguhnya di balik semua rencana ini.Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia segera mengambil ponselnya dan menekan nomor yang selama ini ia hubungi dengan penuh rasa hormat sekaligus ketakutan yang mendalam. Hening sejenak te

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 131 : Fenina Berkilah

    Langkah kaki Lusty terdengar tenang namun mantap menyusuri lorong kantor pemasaran Mona Beauty Group yang sibuk pagi itu. Di tangannya tak ada niat kasar, hanya keteguhan hati yang dibawa setelah mendengar seluruh pengakuan jujur dari Dedi dan Sari semalam. Ia tidak datang untuk memaki atau meledakkan amarah, melainkan untuk meluruskan segala hal yang selama ini tersembunyi di balik senyum manis Fenina.Saat pintu ruang kerja Fenina terbuka, wanita itu tampak terkejut sejenak namun segera mengubah raut wajahnya menjadi senyum ramah yang biasa ia perlihatkan. “Kak Lusty? Ada apa Kakak datang ke sini tanpa kabar dulu? Silakan duduk.”Lusty duduk dengan tenang, menatap lekat wajah gadis itu. “Aku ingin bicara secara pribadi dan serius, Fenina. Tentang Dedi dan Sari.”Senyum Fenina perlahan memudar, digantikan oleh raut bingung yang dibuat-buat. “Mereka? Ada apa dengan mereka? Apakah mereka berbuat kesalahan yang besar?”“Mereka baru saja menceritakan segalanya padaku,” ujar Lusty tegas n

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 130 : Suara Hati

    “Dedi… aku khawatir.” Sari duduk di tepi tempat tidur kamar kecil mereka, tangannya meremas ujung kain sarung dengan gelisah yang tak kunjung mereda. Malam itu suasana di dalam rumah begitu sunyi senyap, hanya terdengar suara jangkrik dari pekarangan luar dan napas teratur Dedi yang tampak sedang bergumul hebat dengan pikirannya sendiri. Beberapa hari terakhir, perasaan tidak tenang itu semakin menjadi-jadi, seolah ada batu besar yang terus menekan ulu hati. Setiap kali Lusty atau Raman memuji pekerjaan yang mereka kerjakan dengan rapi, setiap kali mereka berbagi makanan atau sekadar bertanya kabar orang tua dan adik-adik di kampung, rasa bersalah itu semakin berat menghimpit dada.“Aku juga merasakannya, Sar. Bukan takut pada Kak Lusty atau Mas Raman… tapi takut pada kebohongan yang terus kita sembunyikan di antara kita,” jawab Dedi pelan, matanya menatap lurus ke arah dinding kamar yang temaram. “Mereka begitu tulus dan terbuka menerima kita apa adanya. Mereka memberi kita tempat ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status