LOGINLusty buru-buru keluar dari ruangan cleaning service dengan langkah kaki yang sengaja dipercepat agar tidak memancing perhatian staf lain. Setelah berada di depan ruangan kantornya yang bernuansa modern, ia dikejutkan oleh getaran ponsel di tangannya yang menandakan sebuah panggilan video masuk dari sang ibu. Dengan helaan napas berat sebelum menggeser layar, ia langsung berucap, “Mah, aku sibuk sekali hari ini! Tadi ada tamu penting dari distributor luar negeri yang harus segera kutemui.”
Wajah ibunya yang muncul di layar tampak mengerutkan kening dengan tatapan penuh curiga, seolah tidak percaya begitu saja dengan alasan putrinya. Sembari membenarkan posisi duduknya, sang ibu menyahut dengan nada memerintah, “Ya, lain kali kalau Arga datang berkunjung, kamu harus bersama dalam satu mobil dengannya agar kalian bisa mengobrol lebih banyak dan lebih kenal satu sama lain.”
Lusty memutar bola matanya malas, merasa jengah dengan perjodohan sepihak yang terus-menerus ditegaskan oleh ibunya tersebut. Sambil melirik ke arah lorong kantornya yang mulai dilewati beberapa staf, ia memotong pembicaraan, “Mah, aku tutup dulu ya teleponnya, ini kebetulan ada tamu lain yang sudah datang dan menungguku di ruang rapat.”
Setelah berhasil mematikan panggilan video call tersebut secara sepihak, Lusty segera bersandar ke tembok dingin di lorong kantor sembari menghela napas panjang untuk melepaskan penat yang menggelayuti dadanya. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri, lalu bergumam pelan pada diri sendiri, "Mengapa Ibu selalu saja memaksa untuk mendekatkanku dengan pria arogan seperti Arga!!"
***
Keesokan harinya, suasana kota terasa begitu menyengat seiring dengan sinar matahari yang memancarkan hawa panas terik membakar aspal hitam di seluruh area parkir luas milik Mona Beauty Group. Dari balik jendela ruang kerjanya yang ber-AC, Lusty memandangi deretan kendaraan yang terparkir rapi di bawah sana sebelum akhirnya mengambil ponselnya. Melalui sambungan telepon, Lusty menyuruh Raman untuk segera memeriksa kelayakan mobil sedan mewah yang biasa digunakan untuk operasional antar jemput dirinya.
“Raman, sudah kamu cek semua kondisi mobilnya dengan teliti pagi ini?” tanya Lusty dengan nada tegas namun tetap terdengar anggun dari seberang sambungan ponsel.
“Sudah Non, saya baru saja selesai melakukan test drive mengelilingi area sekitar,” jawab Raman Syah yang saat itu sudah duduk tenang di balik kemudi mobil sedan mewah milik Lusty Mona dengan perasaan yang sebenarnya campur aduk.
Sejak semalam, tepatnya setelah sang CEO memberikan tugas tambahan yang cukup mendadak sebagai sopir pribadi agar pemuda itu tidak berada jauh-jauh dari jangkauan pengawasannya, Raman merasa beban tanggung jawab di pundaknya menjadi berlipat ganda. Ia terus memikirkan alasan di balik sikap protektif bos cantiknya itu, seraya berbisik lirih, "Mengapa Nona Lusty mendadak memintaku menjadi sopir pribadinya, apakah kinerjaku sebagai cleaning service dianggap kurang baik?"
Raman sama sekali tidak tahu bahwa keputusan mendadak yang diambil oleh Lusty tersebut murni demi melindunginya dari ancaman fisik dan intimidasi berbahaya dari Arga Wijaya. Di seberang telepon, Lusty kembali bersuara untuk memberikan instruksi lanjutan, “Jemput saya nanti siang ya, setelah ini saya masih harus menghadiri rapat direksi yang cukup panjang. Nanti kalau sudah selesai, saya akan telepon kamu lagi. See you.”
Sambungan ponsel itu langsung terputus, meninggalkan Raman yang kini menatap layar handphone-nya yang menggelap. Untuk mengisi waktu luang, Raman mulai membersihkan bagian interior mobil Lusty yang sebenarnya sudah cukup bersih. Merasa bosan jika hanya berdiam diri di parkiran, Raman berinisiatif membawa mobil mewah tersebut keluar dari area kantor untuk dibawa ke tempat pencucian mobil terdekat agar tampilannya makin prima. Sembari menyalakan mesin, ia berkata, "Lebih baik kubawa ke car wash saja sekarang, mumpung Nona Lusty sedang memimpin rapat direksi yang diperkirakan memakan waktu hingga siang hari nanti."
Raman memutar kemudi dengan perlahan, mengarahkan moncong mobil mewah itu menuju gerbang keluar gedung kantor. Sepanjang jalan, ia ingin memastikan saat Lusty menggunakannya nanti sore untuk menghadiri agenda luar, kendaraan itu sudah berada dalam kondisi bersih total dan mengilap sempurna. "Mobil Nona Lusty sudah agak berdebu di bagian samping karena hujan kemarin, jadi harus benar-benar dibersihkan," gumam Raman pada dirinya sendiri sembari mengelap sekilas bagian dasbor mobil yang sebenarnya sudah bersih rapi.
Namun, tanpa pernah disadari sedikit pun oleh Raman yang fokus berkendara, sebuah sepeda motor matic hitam yang ditumpangi oleh dua orang pria berbadan tegap sejak tadi sudah bersiap mengintai di luar gerbang kantor. Mereka berdua bukan orang sembarangan, melainkan anak buah bayaran Arga Wijaya yang sengaja ditugaskan khusus untuk mengawasi serta memberikan pelajaran kepada Raman. Salah satu dari mereka yang duduk di boncengan berbisik kasar di balik helmnya, "Ingat, Bos Arga ingin kita memastikan bocah ini tahu diri dan menjauh dari Lusty."
Begitu melihat sedan mewah milik Lusty bergerak membelah jalan raya yang cukup padat, kedua pria yang memakai helm cakil hitam itu segera menghidupkan mesin motor mereka yang bersuara bising. Mereka mulai membuntuti mobil Lusty yang disopiri Raman dari jarak aman agar tidak menimbulkan kecurigaan. Pria yang mengemudikan motor menyeringai di balik kacanya, lalu berseru kepada temannya, “Nah, itu dia si Raman! Cepat ikuti dia, jangan sampai kita kehilangan jejak di persimpangan depan!”
Raman yang masih santai menikmati perjalanan kemudian membelokkan mobil ke sebuah tempat pencucian mobil hidrolik yang cukup ramai pengunjung di pinggir jalan protokol. Ia menurunkan kaca jendela pintu kemudi, menyapa ramah petugas kasir di depan gerbang, lalu perlahan mengarahkan mobil ke area antrean kosong paling ujung yang agak jauh dari keramaian pelanggan lain agar pengerjaannya bisa lebih leluasa. Kepada petugas kasir, Raman berkata, "Pak, tolong paket cuci hidrolik dan pembersihan interiornya ya."
“Woy, berhenti kamu! Jangan bergerak!” Suara teriakan kasar dan lantang tiba-tiba terdengar memecah keheningan, mendekati mobil yang dikendarai Raman dengan sangat cepat.
Baru saja Raman mematikan mesin mobil dan hendak melangkah keluar untuk menyerahkan kunci kepada petugas cuci, tiba-tiba sebuah sepeda motor hitam memotong jalurnya secara agresif hingga menimbulkan suara decitan ban yang memekakkan telinga. Raman tersentak kaget di kursinya, mencengkeram setir erat-erat seraya berteriak dari dalam, "Astaga, apa-apaan orang-orang ini?!"
Dua orang pria berjaket kulit gelap dengan gurat wajah sangar dan tatapan mata penuh amarah langsung turun dari motor matic mereka tanpa mematikan mesin. Tanpa basa-basi atau penjelasan apa pun, mereka langsung menghadang jalurnya, menghalangi pintu kemudi dengan tubuh tegap mereka sehingga Raman terpaksa mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Salah satu pria bermuka bopeng maju selangkah, lalu membentak, "Turun kamu sekarang juga! Jangan jadi pengecut yang bersembunyi di dalam mobil mewah milik bosmu!"
Bentakan itu dilayangkan oleh salah seorang anak buah Arga yang berambut cepak, sambil menggedor kaca jendela mobil berulang kali dengan telapak tangannya yang besar dengan sangat keras. Seolah belum puas membuat kegaduhan, ia kembali berteriak menyuruh Raman menyerah, “Woy, ayo cepat turun kamu, atau kami yang akan memaksamu keluar dengan cara kasar!”
Salah satu pria bermotor yang berbadan lebih besar tiba-tiba mengacungkan sebuah linggis besi berkarat ke udara dengan tatapan mengancam. “Heh Raman! Sini kau pengecut!”
Suasana di sekitar tempat pencucian mobil mendadak mencekam, membuat beberapa karyawan dan pelanggan berdatangan demi melihat apa yang terjadi.
Bunyi gedoran di kaca mobil makin nyaring dan bertubi-tubi, membuat Raman kebingungan sekaligus dilingkupi rasa takut yang luar biasa di dalam ruang kemudi mobil itu. Dengan tangan yang mulai gemetar, Raman merogoh saku celananya untuk mencari ponselnya dan berbisik panik, "Darimana mereka tahu namaku? Siapa orang-orang ini?”
Beberapa minggu berlalu dengan perlahan dan tenang, tanpa ada gangguan berarti yang datang mengusik kedamaian di kediaman Lusty dan Raman. Namun ketenangan yang tampak begitu damai di permukaan itu justru semakin memperkuat keyakinan di dalam hati Lusty—bahwa segala rahasia kelam yang selama ini tersembunyi dengan rapi di balik senyum dan sikap ramah, pada akhirnya pasti akan perlahan muncul ke permukaan dengan sendirinya. Kebohongan tidak akan pernah bisa berdiri tegak dan kokoh selamanya. Seiring berjalannya waktu, ia pasti akan perlahan miring, goyah, dan akhirnya jatuh menampakkan kepada semua orang siapa sosok yang sebenarnya berdiri di balik bayang-bayang kegelapan itu.Pagi itu, matahari baru saja naik tinggi menyinari halaman rumah yang hijau dan segar. Angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan bunga yang harum semerbak. Di saat suasana rumah tampak begitu tenang dan damai, seorang pria paruh baya tiba-tiba berdiri ragu-ragu di depan gerbang rumah. Pakaiannya rapi n
Hari-hari berlalu dengan perlahan namun penuh ketenangan di kediaman Lusty dan Raman. Tidak ada lagi pesan ancaman yang datang di tengah malam, tidak ada lagi telepon misterius yang tiba-tiba terputus, dan tidak ada lagi kedatangan orang asing yang berulang kali lewat di depan gerbang seakan sedang memantau keadaan rumah. Keheningan yang menyelimuti itu justru menjadi tanda yang jelas bagi Lusty dan Raman—bahwa pihak yang selama ini dengan segala cara berusaha menjatuhkan mereka, perlahan namun pasti mulai kehilangan akal sekaligus kehilangan celah untuk terus melancarkan serangan. Setiap jalan yang dulu mereka paksakan untuk melangkah kini tampak tertutup rapat oleh kebersamaan, kepercayaan, dan keteguhan hati yang tak mampu mereka tembus sedikit pun.Suatu sore, saat matahari mulai terbenam menyisakan cahaya keemasan yang lembut menyinari halaman rumah, Lusty dan Raman duduk berdampingan di beranda sambil menikmati udara segar yang berhembus pelan. Wajah mereka tampak tenang, namun
Tiga hari berlalu dengan cepat, dan hari kepulangan Lusty pun tiba. Raman menjemputnya sendiri hingga ke terminal kedatangan. Begitu melihat sosok istrinya melangkah keluar, Raman langsung menyambutnya dengan senyum tulus dan pelukan hangat tanpa menanyakan satu hal pun terlebih dahulu. Tidak ada pertanyaan tentang foto, tidak ada pertanyaan tentang pesan yang dikirimkan. Hanya kehangatan dan ketenangan yang menyelimuti mereka berdua seolah tak pernah ada jarak yang memisahkan.“Selamat datang kembali, Lusty,” ujar Raman lembut sambil membukakan pintu mobil. “Rumah terasa sepi tanpamu.”Lusty menatap suaminya lekat-lekat, matanya berbinar penuh kelegaan sekaligus kekaguman. “Mas… kau tidak bertanya apa pun kepadaku?”Raman tersenyum sambil menyalakan mesin mobil. “Apa yang harus aku tanyakan? Selama hatimu tetap bersamaku, perkataan orang lain dan bukti rekayasa mereka tidak ada artinya sama sekali. Aku mengenalmu lebih dari siapa pun. Aku tahu siapa wanita yang aku pilih menjadi pend
Pagi itu, Lusty berangkat menuju kota tujuan sendirian seperti yang tertulis dalam surat penugasan. Raman mengantarnya hingga ke pintu gerbang rumah, menggenggam tangan istrinya erat sebelum melangkah masuk ke dalam mobil.“Jaga dirimu baik-baik di sana, Lusty. Jangan menerima apa pun dari orang yang tidak dikenal, dan jangan percaya pada apa pun yang belum kau pastikan sendiri,” pesan Raman dengan suara lembut namun penuh kecemasan yang tak bisa disembunyikan.“Kau pun begitu, Mas. Jaga rumah dan jaga hati kalian. Apa pun yang terjadi, ingatlah bahwa kepercayaan adalah jembatan yang tak boleh diputus oleh siapa pun,” jawab Lusty sambil menatap lekat mata suaminya. “Tiga hari itu akan berlalu cepat. Jangan biarkan keraguan menyelinap masuk walau sekejap mata.”Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah. Raman berdiri terpaku sejenak hingga bayangan kendaraan itu hilang di tikungan jalan, lalu perlahan berbalik masuk kembali dengan hati yang tetap tenang namun waspada.Sesampainya
Beberapa hari berlalu dengan suasana yang tampak tenang di permukaan. Tidak ada pesan ancaman, tidak ada kedatangan orang asing yang mencurigakan, dan tidak ada kabar buruk dari kampung halaman Dedi dan Sari. Namun keheningan itu justru membuat hati Lusty semakin yakin bahwa Ratna dan Fenina tidak akan berhenti begitu saja. Keheningan mereka bukan tanda menyerah, melainkan tanda bahwa rencana baru sedang disusun dengan lebih teliti dan lebih berbahaya.Pagi itu Lusty dipanggil ke ruangan Ratna. Sesampainya di sana, Ratna menyambutnya dengan senyum yang tampak hangat dan sikap yang seakan tidak pernah terjadi apa-apa.“Masuklah, Lusty. Silakan duduk,” ujar Ratna ramah sambil menunjuk kursi di hadapan mejanya. “Bagaimana keadaan rumah dan keluargamu akhir-akhir ini?”“Baik-baik saja, Bu Ratna. Terima kasih Ibu sudah menanyakan,” jawab Lusty tenang namun tetap waspada. “Kami hidup sederhana namun damai.”Ratna tersenyum tipis, jemarinya perlahan mengetuk meja. “Saya mendengar ada beberap
Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah jendela ruang kerja Lusty. Ia sedang menyusun berkas-berkas saat terdengar ketukan pelan di pintu. Sari muncul dengan wajah yang tampak cemas namun berusaha tetap tenang.“Kak Lusty… boleh saya bicara sebentar?” tanyanya sopan.“Tentu saja, Sari. Masuklah. Ada apa yang membuatmu tampak gelisah begitu?” Lusty meletakkan pena di atas meja, lalu menatap gadis itu dengan senyum yang menenangkan.Sari melangkah mendekat, lalu berhenti di hadapan meja kerja. “Tadi pagi saat saya berbelanja di pasar desa, saya berpapasan dengan salah satu tetangga lama kampung halaman kami. Beliau menyampaikan pesan yang membuat hati saya tidak tenang.”Lusty menyilangkan kedua tangannya di atas meja. “Pesan apa itu? Katakan saja dengan tenang.”“Beliau bilang, ada seseorang yang datang berkunjung ke rumah orang tua kami dua hari lalu. Orang itu membawa banyak barang dan uang tunai, lalu berpesan kepada orang tua kami agar menyuruh kami berdu







