Share

Bab 7. Kepergian Bima Sakti.

Author: Riaal
last update publish date: 2026-09-18 21:10:09

"Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata.

"Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya.

"Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.

Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu.

"Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak.

"Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan.

"Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong.

"Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.

Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu tepat ketika Mamanya keluar dari kamarnya.

"Dasar. Mertua nggak ada ahlak." Bima kini berbaring di samping Alika dan Bulan.

Sementara mama Sari berjalan dengan gontai menuju ruang tamu. Ana yang sedang berada di ruang tamu pun menjadi heran saat melihat mamanya berjalan dengan gontai kembali ke ruang tamu.

"Ada apa Ma?" Tanya Ana.

"Kakakmu sudah keluar. Tamatlah kita," gumam mama Sari.

"Maksutnya apa Ma?" Tanya Ana.

"Kakakmu, dia sudah bebas. Sekarang dia ada di kamar. Habislah kita, dia tau kalau kita semena-mena pada si benalu," kata Mama Sari mencoba menjelaskan pada putrinya.

"Kok cepet bebasnya? Padahal sebelumnya dia DPO, kenapa setelah ada bukti malah dia bisa bebas?" Tanya Ana.

"Entahlah, kita mulai besok harus baik-baikin si benalu." Mama Sari mencoba memberi komando.

"Iya, iya. Besok pikir besok. Sekarang aku mau tidur dulu." Ana pun beranjak dari duduknya.

Dia meninggalkan ruang tamu dan memasuki kamarnya. Tak berapa lama, dia pun sudah terlelap.

***

Pagi harinya Mama Sari bangun lebih pagi, dia pun sudah membeli sarapan bubur ayam untuk semua orang, tak terkecuali untuk Alika.

Sedangkan Alika yang baru bangun, langsung beranjak dari pembaringannya dan membuat Bima terkejut.

"Kenapa sayang?" Tanya Bima sembari menahan tangan Alika.

"Mas, aku bangun kesiangan. Aku harus memasak, nanti mama dan Ana akan ngamuk," kata Alika dengan panik.

Bima langsung saja memeluk istrinya. Bulir bening menetes di pipinya. 'Begitu kejamkah kalian memperlakukan Alika? Sampai traumanya terlihat sangat nyata.' batin Bima.

"Cukup sayang. Sekarang kamu mandi, aku akan membawa kamu keluar dari neraka ini," kata Bima.

"Kita mau kemana, Mas? Rumah kita sudah di kuasai Kartika." Alika mencoba mengingatkan suaminya.

"Masih banyak tempat di bumi ini, kamu tenang saja. Memberi tempat tinggal nyaman adalah kewajiban ku," kata Bima.

"Baiklah, aku akan mandi," jawab Alika.

Alika pun masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Bima, sedang menunggui Bulan yang sudah bangun. Tak berapa lama, Alika selesai mandi.

"Giliran aku yang akan mandi. Kamu jangan keluar dulu," pesan Bima.

"Iya Mas," kata Alika.

Bima pun masuk kamar mandi, sedangkan Alika menyiapkan ganti untuk suami dan anaknya. Setelah Bima mandi, dia akan memandikan Bulan.

Tak berapa lama, Bima selesai mandi. Alika pun langsung memandikan Bulan.

"Bulan mau mandi? Iya, bulan sayang," Kata Bima mengajak putrinya ngobrol.

Bahkan Bima tak ingin melewatkan masa pertumbuhan putrinya. Dia pun ikut menyaksikan putrinya mandi sampai Menganti baju.

"Sudah selesai?" Tanya Bima.

"Sudah Mas," jawab Alika.

"Oke." Bima langsung mengambil kopernya yang semalam sudah di siapkan. Dia pun mengeret koper miliknya dan milik Alika.

"Kita mau kemana, Mas?" Tanya Alika bingung.

"Nanti kita pikir lagi," jawab Bima enteng.

"Mas, kita nggak ada uang," kata Alika mengingatkan suaminya.

"Aku ada uang. Tenang saja," kata Bima, "nanti akan aku jelaskan di jalan," sambung Bima saat Alika diam tak bergeming.

"Oke," jawab Alika kemudian.

Keduanya pun keluar dari kamar bersamaan. Alika mengendong Bulan dan satu tangannya mengeret koper. Sedangkan Bima mengeret satu koper dan merangkul istrinya.

"Kalian mau kemana?" Tanya Mama Sari saat melihat keduanya mengeret koper.

Wanita renta itu tampak panik melihat mereka akan pergi. Mama Sari pun langsung menghampiri keduanya.

"Kalian mau kemana?" Tanya Mama Sari lagi.

"Tak usah hiraukan kami. Segera aku akan membawa istriku keluar dari neraka ini," kata Bima dengan menatap tajam pada Mamanya.

"Bima. Kamu mau meninggalkan Mama? Mamamu ini sudah renta," kata Mama Sari.

"Sudah renta, tapi masih kuat menyiksa menantunya." Bima kembali menatapnya dengan tajam.

"Setidaknya kalian sarapan dulu, mama sudah membelikan sarapan," kata Mama Sari.

"Kami tak minta. Kalau terlanjur di beli ya makan saja." Bima kembali mengayunkan kaki keluar dari rumah mamanya.

Sesampainya di luar rumah, "Sayang, kamu tunggu sini. Aku ambil mobil dulu." Bima mengambil kedua kopernya dan berlalu.

"Kalau sampai menyentuh istriku, bisa aku penjarakan kamu!" Ancam Bima.

"Bima, istrimu juga menantuku," kata Mama Sari sembari mengeluarkan air mata buayanya.

Namun Bima sudah tak menggubris. Mama Sari langsung mengalihkan pandang pada Alika.

"Kamu apakah anakku?" Tanya mama Sari dengan penuh emosi.

"Nggak aku apa-apakan, kok. Aku bahkan tak tau kalau Mas Bima sudah pulang," kata Alika.

Saat Mama Sari akan melayangkan pukulan kepada Alika, langsung berhenti. Ketika Bima sudah muncul dengan mobilnya.

"Waduh, Bim. Mobil kamu bagus juga, mama pinjam ya," kata Mama Sari sembari mendekati mobil Bima.

"Awas," kata Bima.

Bima langsung mendekati Alika, dia pun mengandeng Alika untuk masuk ke dalam mobil.

"Bima, Mama ikut kamu ya," kata Mama Sari.

"Permisi. Saya sudah tak percaya dengan mulut manis anda," kata Bima.

Bima langsung menutup pintu mobil dan kembali melakukannya menjauh dari kediaman Mama Sari.

"Maafkan aku, sudah membuatmu menderita," kata Bima.

"Masalahnya sekarang kita mau kemana?" Tanya Alika.

"Kita cari sarapan dulu," kata Bima dengan santainya.

Mereka pun lebih dulu mencari sarapan.

"Kamu mau makan apa Dek?" Tanya Bima.

"Mungkin soto Mas," jawab Alika.

"Ok, sekalian nanti minum obat ya," kata Bima.

Alika hanya menganggukkan tak berapa lama, sampailah mereka di warung soto. Mereka pun langsung turun dan memesan untuk keduanya. Setelah selesai sarapan Alika pun langsung minum obat.

Sedangkan Bima, tengah menelpon temannya untuk meminta tolong cari kontrakan. Setelah menunggu beberapa saat, panggilan pun tersambung.

"Halo, Alex. Aku minta tolong, cari kontrakan sekarang juga," kata Bima.

"Ok siap bos. Alhamdulilah bos sudah keluar," kata Alex dari sebrang telpon.

"Iya," jawab Bima.

Tak lama panggilan pun terputus.

"Siapa, mas?" Tanya Alika.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 11.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 10.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 9

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 8. Kepanikan Mama Sari.

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 7. Kepergian Bima Sakti.

    "Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata."Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya."Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu."Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak."Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan."Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong."Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu t

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 6. Kemarahan Bima.

    Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika."Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti."Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu."Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong."Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu."Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya."Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya."Terima k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status