Teilen

Bab 8. Kepanikan Mama Sari.

last update Veröffentlichungsdatum: 18.09.2026 21:10:53

Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana.

"Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik.

"Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata Ana

Ana pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.

Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai put
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 11.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 10.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 9

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 8. Kepanikan Mama Sari.

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 7. Kepergian Bima Sakti.

    "Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata."Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya."Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu."Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak."Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan."Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong."Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu t

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 6. Kemarahan Bima.

    Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika."Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti."Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu."Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong."Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu."Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya."Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya."Terima k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status