Share

Bab 6. Kemarahan Bima.

Author: Riaal
last update publish date: 2026-09-18 21:09:17

Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika.

"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti.

"Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu.

"Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong.

"Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu.

"Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.

Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya.

"Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.

Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya.

"Terima kasih sus, biar saya dorong kedepan," kata Bima.

"Baik, Pak. Ini resep obat yang harus di ambil di apotik," kata Perawat itu sembari menyerahkan secarik kertas kepada Bima.

"Baik, terima kasih," kata Bima.

Bima pun memberikan Bulan kepada Alika, dia pun memangkunya sembari mengamati wajah malaikat kecil yang Alika gendong. Sedangkan Bima sakti, mendorong kursi roda.

Tak berapa lama, mereka pun sampai di apotik yang ada di rumah sakit. Mereka pun mengantri obat.

"Kamu sudah makan, Sayang?" Tanya Bima.

"Alhamdulilah belum, Mas," kata Alika.

"Baiklah, setelah ini kita cari makan. Apa mama dan Ana tak memperlakukanmu, dengan baik?" Tanya Bima.

"Sepertinya kamu sudah tau tentang hal Itu, Mas," kata Alika.

"Baiklah." Bima memilih tak melanjutkan pembahasannya.

Dia sudah tau, seperti apa tabiat mama dan adiknya itu. Tak berapa lama, nama Alika pun di panggil. Adam maju ke loket untuk mengambil obat. Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju parkiran.

Sesampainya di sana, Alika pun beranjak dari kursi roda dan berjalan dengan perlahan untuk pindah ke dalam mobil. Bima pun dengan sabar dan telaten menuntun istrinya.

Setelah itu barulah Bima berpindah ke sebelah mobil dan duduk di balik kemudi.

"Kita makan dulu ya, nanti sampai rumah biar nggak usah makan malam," kata Bima.

"Iya, Mas," jawab Alika.

"Kamu mau makan apa?" Tanya Bima.

"Bagaimana kalau nasi Padang?" Tanya Alika.

"Boleh, kita akan cari nasi Padang," kata Bima.

"Mas, boleh nggak aku bertanya sesuatu?" Tanya Alika.

"Kamu mau tanya apa?" Tanya Bima.

"Kok Mas udah bebas? Ini lagi, mobil siapa?" Tanya Alika.

"Oh ini, ini mobil Bayu. Dia sedang keluar kota. Jadi mobilnya nganggur, makanya dia minta Mas untuk pakai. Kalau masalah bebas, kepolisian sekarang pintar-pintar. Mas terbukti nggak bersalah. Jadi Mas bebas. Semua itu hanya jebakan," kata Bima.

"Benar, Mas udah nggak kayak dulu lagi?" Tanya Alika.

"Mas sudah pernah berjanji kepada Alika bukan? Kalau Mas nggak akan balik lagi seperti dulu." Bima mencoba meyakinkan istrinya.

Alika pun menganggukkan kepala.

Tak lama, mereka sudah sampai di sebuah rumah makan padang. Bima pun membantu Alika untuk turun dengan perlahan, dia pun sangat sabar dan telaten.

Keduanya langsung memesan menu untuk makan malam, sedangkan Bulan, mereka letakkan di dalam box bayi yang sudah di sediakan. Sedangkan suami istri itu tampak sedang menikmati menu makan malam yang mereka pilih.

Setelah selesai makan malam, keduanya pun meninggalkan rumah makan Padang itu setelah membayar sejumlah tahmgihan. Sesampainya di rumah, suasana masih sangat sepi. Sama seperti ketika mereka tinggalkan.

"Kamu masuk kamar saja dulu, aku akan memarkirkan mobil," kata Bima.

"Iya, Mas," jawab Alika.

Dia pun berjalan dengan perlahan sembari mengendong Bulan. Tangan sebelah, dia gunakan untuk berpegangan pada dinding sampai dia di kamar.

"Aku harus tau apa yang sudah mereka lakukan pada istriku," gumam Bima dengan penuh kemarahan.

Bima kembali menyalakan mesin mobilnya. Dia memilih untuk menitipkan mobilnya di salah satu temannya, yang jarak rumah mereka tak begitu jauh. Setelah itu, dia pun kembali pulang dengan berjalan kaki.

Setelah memastikan semua pintu terkunci, dia pun langsung masuk ke dalam kamar, Bima melihat Alika setengah duduk dengan menyandarkan tubuh di sandaran ranjang.

"Aku akan mandi sebentar, kamu sudah minum obat? Bagaimana? Masih sakit?" Tanya Bima.

"Iya, Mas. Mandilah dulu. Aku belum minum obat," kata Alika.

"Oke, aku mandi dulu, setelah itu kamu minum obat dan tidur," kata Bima.

Bima pun berjalan menuju kamar mandi. Dia langsung membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi, dia pun menyiapkan obat untuk istrinya.

"Minumlah," kata Bima sembari memberikan obat dan air putih dalam gelas.

Alika pun langsung meminum obat itu dengan segera.

"Kamu tidurlah," kata Bima.

Alika kini membaringkan tubuhnya di ranjang. Dalam sekejap dia langsung terlelap. Bima tampak memandangi wajah cantik istrinya yang kini tampak kurus dan kusam.

"Seluruh itukah perlakuan keluargaku? Sampai membuat pancaran sinarmu hilang?" Batin Bima.

Bima pun melihat kening Alika, ada bekas luka mengering di sana. Sungguh Bima tak bisa diam saja tmdan menerima semuanya begitu saja.

"Kalian boleh jebak aku, siksa aku. Tetapi kalau kalian menyentuh Alikaku. Maka balasannya akan sangat kejam." Kemarahan Bima semakin memuncak.

Bima beranjak dari duduknya, dia keluar kamar dan berjalan dengan cepat menuju kamar mama Sari. Dia mencari harta yang paling berharga. Yaitu surat rumah dan surat mobil.

Bima mengeledah semua laci lemari, di bawah ranjang dan juga laci meja rias. Terahir dia menemukan kedua surat berharga itu ada di laci paling bawah di lemari pakaiannya. Bima pun tersenyum licik.

"Kali ini aku akan memberi mereka pelajaran." Bima kembali meninggalkan kamar mamanya setelah mendapatkan apa yang dia cari.

Setelah kembali ke kamarnya, Bima pun langsung mengamankan kedua benda tersebut ke dalam koper miliknya. Tak selang lama, terdengar deru mobil berhenti di depan rumah.

"Itu dia. Biang kerok pulang. Kita lihat saja," kata Bima.

Dia pun bersiap dan sembunyi di balik pintu. Bima ingin melihat bagaimana mama dan adiknya memperlakukan Alika.

Sedangkan Satu dan ana saat masuk rumah langsung berteriak memanggil nama Alika.

"Benalu. Kemari kau, buatkan aku kopi, masak air juga, aku mau mandi," teriak Ana.

Karena tak ada sahutan, Sari pun langsung menuju kamar Alika dan membuka pintu dengan kasar.

"Dasar benalu. Tidur terus kerjanya. Bangun! Masak air, kami mau mandi." Sari berteriak sembari ingin melayangkan pukulan pada kepala Alika.

Dengan sigap Bima memegang tangan mamanya. Sontak Sari langsung memalingkan pandang ke belakang.

"Kamu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 11.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 10.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 9

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 8. Kepanikan Mama Sari.

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 7. Kepergian Bima Sakti.

    "Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata."Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya."Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu."Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak."Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan."Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong."Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu t

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 6. Kemarahan Bima.

    Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika."Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti."Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu."Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong."Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu."Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya."Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya."Terima k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status