Mag-log inDi dalam kamar Anya, terlihat wanita itu duduk di depan cermin rias. Malam ini terasa dingin bagi Anya. Melihat pantulannya di cermin membuat Anya mengasihi dirinya sendiri. Banyaknya bekas merah di sekujur tubuh wanita itu menjadi bukti betapa brutalnya kelakuan Felix.
Anya merasa sesak, dengan sikap Felix yang begitu dingin terhadapnya. Anya tahu dirinya tidak secantik wanita yang mengelilingi Felix selama ini tapi setidaknya ia harap Felix bisa menghargainya. Air mata Anya terjatuh dari tadi. Dia tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak jatuh. Cinta sepihak memang menyakitkan dan lebih parahnya lagi, Anya tidak bisa membenci Felix meski Felix melakukan hal diluar batas sekalipun. Apa Anya bisa menghadapi Felix besok? Ia takut kepada Felix sangat takut sehingga membuat Anya berpikir berulang kali. Ia selalu mengasihani dirinya sendiri setiap kali Felix menatpnya dengan tatapan merendahkan. Seolah Anya benar-benar wanita murahan. *** Felix keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Suara telpon masuk kini terdengar membuat Felix melangkah mengambil hpnya. Melihat nama penelpon di layar handphonenya membuat Felix mengerutkan kening. "Apa dia mengadu kepada ayahnya?" ucap Felix langsung menuduh Anya tanpa bukti. Yah, yang menelpon adalah ayah Anya—Dalbert Alexio. Felix muak dengan drama rumah tangga ini. Dia lelah berpura-pura dan ia ingin mengakhiri semuanya. "Halo," ucap Felix dengan nada suara datar. "Nak Felix, Anya sedang apa? Bisakah Nak Felix memberikan telponnya kepada Anya? Ibu ingin bicara," ucap Helena Rosie—Ibu Anya dengan nada panik. Felix terdiam sejenak. Ia tahu, dari nada suara Helena, pasti sesuatu terjadi pada keluarga itu. Apa lagi-lagi Felix harus bersandiwara? Ini sangat menyebalkan. "Anya sedang mandi, Bu," jawab Felix berusaha sopan. "Oh gitu. Nak Felix, Ayah masuk rumah sakit. Tolong sampaikan ini kepada Anya. Keadaan jantungnya mengkhawatirkan." Terdengar isakan tangis Helena. Felix hanya diam. Apa ia harus senang? Tapi kenapa Felix merasa iba. Seharusnya dia senang, yah merendahkan Anya saja sudah membuatnya senang apalagi jika menyerang orang tuanya 'kan? "Aku akan memberitahunya," jawab Felix dengan nada rendah. "Kalau begitu, Ibu akan akhiri telponnya. Beritahu kepada Anya untuk tidak terlalu khawatir. Dia selalu khawatir pada hal kecil, apalagi jika hal seperti ini. Tapi, Ibu sedikit tenang karena ada Nak Felix di sisi Anya." Helena berusaha mengatur nada bicaranya untuk mengimbangi isakan tangisnya. "Baik, Bu." Felix mengakhiri telpon setelah jawaban sesingkat itu. Pria itu sedikit terkekeh, ia menertawai dirinya sendiri karena masih saja bersandiwara padahal jelas-jelas Felix akan mengajukan cerai besok pagi kepada Anya. Lagi-lagi Felix salah paham kepada Anya, mengira wanita itu mengadu kepada orang tuanya tapi ternyata tidak. Felix berpikir terlalu berlebihan. Dia berjalan menuju kamar Anya yang bersebelahan dengan kamarnya. Pria itu masuk tanpa mengetuk, membuat Anya yang terduduk di depan meja rias langsung tersentak kaget. "Kamu masih belum mandi?" tanya Felix kesal saat Anya masih memakai baju tidur transparan itu. Tentu saja Felix akan kesal, ia tidak ingin tergoda lagi pada wanita ular seperti Anya. "Sa-saya ...." Anya gugup sehingga ia tak mampu menyelesaikan perkataannya. "Bersihkan dirimu. Kita akan ke rumah sakit!" ucap Felix menegaskan. "Ke rumah sakit? Siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Anya. "Bersihkan dirimu terlebih dahulu. Aku akan kemberitahumu nanti. Jangan lama, aku memberimu waktu 20 menit untuk bersiap-siap!" Felix pergi setelah penegasannya itu. Anya jadi penasaran. Ia bergegas membersihkan dirinya. 20 menit tidak cukup bagi Anya tapi dia akan berusaha cepat karena ia tidak ingin jika Felix akan marah jika dia tidak tepat waktu. *** 25 menit kemudian Anya melangkah tergesa-gesa menuju mobil. Felix telah menunggu lama dan Anya terlambat 5 menit. Di kursi kemudi, Felix mengenggam erat setir mobil. Dahi pria itu mengerut bukti bahwa ia sedang kesal. Anya masuk ke mobil dengan napas terengah. "Sa-saya berusaha tepat waktu, tapi—" Belum sempat Anya melanjutkan perkataannya, Felix langsung angkat bicara. "Jika kamu memang berusaha, seharusnya kamu datang tepat waktu!" Anya hanya diam. Dia tahu Felix kesal, Ini pertama kalinya Anya melihat Felix memakai sweater rajut, soalnya yang Anya tahu Felix suka memakai kemeja dan jas. "Kenapa memakai pakaian tertutup seperti itu? Kamu malu memperlihatkan bekas merahnya kepada orang tuamu?" tanya Felix dengan senyum mengejek. "Apa kita akan bertemu mereka? Sebenarnya siapa yang sakit?" tanya Anya dengan nada khawatir. "Ayahmu. Kondisi jantungnya mengkhawatirkan," jawab Felix dingin. Anya terdiam. Dia merasa terpukul. Dia tahu ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung karena itulah Anya tidak ingin membuat sang ayah khawatir dengan masalahnya. Air mata Anya terjatuh. Lagi-lagi ia menangis, entah kenapa hari ini ia lebih sering menangis. Padahal dia tidak ingin jika Felix mengira Anya terlalu cengeng. "Saya ingin minta tolong. Jangan beritahu kepada mereka tentang hubungan kita yang akan hancur," ucap Anya dengan nada rendah. "Padahal aku berniat memberitahukan mereka. Semuanya akan beres dan aku tidak perlu pura-pura di hadapan mereka lagi!" balas Felix menegaskan. Anya menggeleng dengan cepat. "Tolong jangan beritahu mereka. Saya akan menerima permintaan cerai anda tapi jangan beritahu mereka. Saya tidak ingin mereka tahu." Dengan air mata terjatuh, Anya berusaha meyakinkan Felix berharap Felix berbaik hati kepadanya. Anya tidak ingin memperparah keadaan Ayahnya. "Kenapa aku harus menuruti permintaanmu? Apa untungnya buatku? Membuang-buang waktu saja!" ucap Felix tanpa rasa bersalah. Anya terdiam, seharusnya dia tidak berharap kebaikan Felix karena pria itu adalah pria berdarah dingin. Pria yang begitu mementingkan keuntungan. Dia pria yang penuh perhitungan. "Apa susahnya bagi anda? Anda hanya perlu diam. Anda tidak perlu berusaha keras, saya akan mengurus sisanya. Yang perlu anda lakukan diam dan jangan memberitahu hancurnya hubungan kita," jawab Anya dengan emosional. Felix menatap Anya dengan tajam. "Hanya, katamu? Ujung-ujungnya aku akan bersandiwara untuk menutupinya. Siapa kamu sehingga berhak mengaturku? Anya Valerie, tidak usah memaksakan hal yang tidak bisa kamu lakukan sendirian. Terima saja. Biarkan orang tuamu tahu bahwa kita akan bercerai." "Saya akan melakukan apapun, maka dari itu tolong jangan biarkan orang tua saya tahu," ucap Anya dengan nada merendah. Felix terdiam. Dia muak dengan semua ini. Anya membuat semuanya menjadi rumit. dengan percaya dirinya Anya mengatakan akan melakukan apapun. "Apapun?" gumam Felix terkekeh. "Jangan menarik kembali kata-katamu!" tegas Felix tersenyum sinis. Anya jadi takut dengan perkataan Felix. Akan tetapi Anya tidak punya pilihan lain, ia tidak peduli jika kehidupannya hancur asalkan itu tidak melibatkan keluarganya. Felix mulai mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dia ingin manfaatkan situasi ini agar Anya menuruti semua perintahnya. Dia ingin Anya hidup menderita karena telah berani membohongi Felix. Felix paling benci dibohongi. Sungguh! Felix tidak peduli, Anya perawan atau tidak perawan ia tidak peduli dengan hal itu. Hanya saja, ia merasa telah dipermalukan karena Anya berani membohonginya. Anya berlagak suci padahal dia sudah tidak perawan lagi. "A-apa anda tidak merasakan apapun?" Entah dapet keberanian dari mana, Anya malah menanyakan hal seperti itu seolah perasaan wanita itu penting bagi Felix. Bersambung ....Felix menatap Anya, tentu saja pria itu semakin kecewa karena Anya bahkan memohon untuk pria lain. "Sekarang kamu memohon untuknya?" tanya Felix tersenyum sinis. Anya berusaha mengontrol napas terengahnya agar tidak terdengar oleh Felix. Entah apa yang oria itu pikirkan membuat Anya berpikir beras hanya untuk angkat bicara. Anya tidak ingin salah bicara dan membuat mood Felix semakin hancur. "Saya bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi," ucap Anya dengan nada rendah berusaha membujuk Felix agar menerima penjelasannya. "Apa aku terlihat seperti sedang butuh penjelasan, Anya? Aku hanya tidak suka milikku disentuh. Seharusnya kamu tidak bertingkah jika tidak ingin terjadi masalah," jawab Felix menatap Anya dengan tenang. Anya terdiam. "Kalau begitu, tolong jangan libatkan Kak Lohan. Lain kali saya tidak akan mengulanginya. Saya ... saya akan patuh kepada anda." Felix mengangguk dengan paham. Ekspresi tenang itu semakin membuat Anya khawatir. "Setidaknya, jilat kakiku jika sedang
Anya telah menyiapkan sarapan. Wanita itu duduk di kursi meja makan dengan pakaian tidur dan rambut di kedai. Ia masih ingat kata-kata Felix yang senang melihatnya berpakaian seperti itu makanya ia sengaja melakukannya. Wanita itu menatap beberapa menu makanan yang telah ia masak dengan bantuan Poppy. Saat Anya pulang tadi, wanita itu langsung membersihkan diri dan memasak untuk Felix meski ia tidak tahu apakah Felix akan pulang malam ini atau tidak. Hingga tak lama Anya menunggu, akhirnya Felix datang menenteng tas kerjanya seperti biasa. Pria itu menghentikan langkah saat melihat Anya yang mulai berdiri menyambut kedatangannya. "Anda sudah datang?" Anya melangkah maju dengan berbasa-basi. Felix terdiam meneliti gerak gerik Anya yang sedang mengambil tas kerja Felix layaknya seorang istri yang menyambut suaminya setelah lelah dengan pekerjaannya. "Saya memasak makan malam untuk anda. Sebaiknya anda mandi dulu, ayo kita makan malam bersama setelahnya," ucap Anya lirih dan berusah
Mereka kini berada di pantai. Anya duduk di tembok besar yang menjadi penghalang antara pantai dan jalan raya. Lohan sedari tadi menatap Anya yang fokus menatap matahari yang sebentar lagian akan terbenam. "Kak Lohan ingin cerita apa?" tanya Anya penasaran sedari tadi. "Aku selalu bertanya-tanya kapan bisa bertemu denganmu dan berbicara dengan santai dan ternyata tanyaku itu di balas Tuhan dengan kajadian sekarang ini. Betapa senangnya aku bisa bertemu lagi denganmu seperti ini, Anya tanpa rasa canggung karena batasan pekerjaan," ucap Lohan dengan nada lirih. Anya terdiam sejenak. Jujur saja, hari ini Anya cukup senang karena merasa bebas meski hanya sebentar. Perasaan yang menumpuk dan ditanggung Anya sendiri perlahan membuat wanita itu bisa menerima. "Aku beruntung karena memiliki sahabat seperti Kakak." Anya menghela napas. "Anya, jika dia tidak memperlakukanmu dengan baik dan selalu menyakitimu, katakan saja padaku. Aku akan membuatnya membuka mata telah menyakiti siapa. Seor
Anya hanya menyaksikan hal yang terjadi di depannya karena wanita itu tidak berdaya. Menyoal Felix, Anya tidak akan pernah bisa menentang pria itu. Lohan masih mengepalkan tangan sedari tadi. Ia sangat sadar telah memukul seseorang yang sangat berpengaruh, bahkan pria itu beresiko dipecat dari pekerjaannya jika saja Felix mengadu nantinya. "Anda masih menggilnya istri saat anda bahkan tidak menghargainya? Suami macam apa anda? Jangan salahkan jika ada seseorang yang ingin melindungi istri anda karena sikap anda saja tidak seperti seorang suami!" sindir Lohan. Felix terkekeh mendengar Lohan yang berbicara kepadanya dengan sangat berani. Pria itu beralih menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan wanita itu. Hanya saja, Felix sangat kesal dan kecewa kepada Anya. "Akan aku pastikan pria ini kehilangan pekerjaannya!" tegas Felix kepada Anya. Anya langsung menggeleng dan berusaha memohon tapi Felix pergi begitu saja tanpa memedulikan Anya. Rowan yang baru sampai tidak mengerti de
Anya dan Lohan tengah menatap patung kecil yang berbentuk guci yang hancur. Apapun yang terpajang di pameran seni tersebut memiliki makna. "Kupikir kali ini kamu tertarik untuk membelinya," ucap Lohan saat melihat Anya menatap patung kecil itu. Anya menghela napas. Sepertinya bagus diletakkan di atas nakas," jawab Anya tersenyum. Lohan mengangguk. Tawa pria itu memudar saat menyadari betapa cantiknya Anya hari ini. Bagaimana bisa wajah itu terlihat sangat sempurna. Hingga Lohan hampir lupa memberitahu Anya tentang permintaan ayah wanita itu. "Anya, Tuan Dalbert memintamu untuk menjadi model bulan ini untuk produk terbaru yang akan launching," ucap Lohan langsung ke inti. Anya cukup terkejut dengan permintaan itu. Tentu saja ini kali pertama Ayahnya memintanya menjadi model. "Model? Aku? Tidak! Banyak wanita yang lebih menarik," jawab Anya langsung menolak. "Kamu tidak sendiri. Tuan juga memberi undangan untuk suam
Felix yang tengah menandatangani beberapa berkas di atas mejanya mulai berhenti. Pria itu menghela napas karena sedari tadi Anya mengganggu pikirannya. "Apa aku pergi menjemputnya saja? Dia bahkan tidak menelponku. Apakah ajakan semalam batal?" gumam Felix kesal sendiri. "Sial! Kenapa belakangan ini dia tidak mengejarku?" tanya Felix berpikir. Belakangan ini Anya tidak mengejar Felix seperti biasanya. Bahkan wanita itu abai tadi pagi, apa karena ada Casey? Felix berdiri dari duduknya dan berusaha berpikir keras. Antara logika dan hatinya beradu. Felix ingin segara menemui Anya akan tetapi logika pria itu menolak. Pada akhirnya pria itu pergi meninggalkan berkas yang menumpuk demi memastikan apakah Anya masih ingin pergi bersamanya je pameran seni yang dikatakan wanita itu tadi malam. Di perjalanan, Felix singgah saat melihat toko bungan yang cukup ramai. Pria itu melihat-lihat beberapa bunga yang terpajang di sana. "Apa anda ingin?" tanya penjual dengan senyum ramah. Felix han







