Beranda / Romansa / Nona Hemat di Sarang Konglomerat / 1. Kalkulator Berjalan dan Sendok Perak

Share

Nona Hemat di Sarang Konglomerat
Nona Hemat di Sarang Konglomerat
Penulis: VILNOCTE

1. Kalkulator Berjalan dan Sendok Perak

Penulis: VILNOCTE
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 19:22:06

Tit. Tit. Tit.

Suara mesin ATM itu terdengar seperti vonis hakim. Layar biru di hadapan Citra berkedip sekali, lalu memuntahkan angka yang membuat ulu hatinya nyeri.

Saldo: Rp32.500.

Citra tidak berkedip. Otaknya langsung bekerja lebih cepat dari kalkulator pedagang pasar induk. Ongkos angkot pulang pergi ke Petamburan sepuluh ribu. Sisa dua puluh dua ribu lima ratus.

Krukk.

Lambungnya protes. Dia belum makan sejak sore kemarin. Roti sobek di minimarket harganya dua belas ribu. Kalau dia beli roti, sisa uangnya tidak cukup untuk beli token listrik. Kalau token bunyi nanti malam, ibunya bakal histeris. Trauma wanita tua itu soal gelap dan penagih utang belum sembuh total.

Citra menekan tombol Batal.

Kartu ATM keluar. Dia memasukkannya kembali ke dompet yang kulit sintetisnya sudah mengelupas.

"Tahan lapar dulu," gumamnya pada perut sendiri. "Anggap saja diet ala artis Korea."

Dia berbalik badan. Lobi Apartemen Arcadia ini dinginnya tidak sopan. AC sentral disetel di suhu enam belas derajat, seolah mengejek orang-orang di luar sana yang sedang terpanggang matahari Jakarta. Lantai marmernya begitu mengilap sampai Citra bisa melihat bayangan sepatunya yang solnya sudah tipis.

Citra merogoh tas selempangnya. Dia mengeluarkan botol parfum isi ulang aroma melati.

Crut. Crut. Crut.

Lima ratus rupiah melayang ke udara. Ini investasi wajib. Bau apek lemari lembap dan asap knalpot Metro Mini yang menempel di blazernya harus hilang. Orang kaya punya hidung anjing pelacak kalau soal bau kemiskinan.

Dia berjalan menuju lift privat. Seorang satpam paruh baya dengan seragam licin tanpa kusut sudah menunggu.

"Neng Citra?"

"Siap, Pak Asep."

Pak Asep menekan tombol panggil. Panel lift itu bukan plastik, tapi kaca sentuh yang menyala elegan. Satpam itu mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik pelan.

"Saran Bapak, Neng. Nanti di atas napasnya ditahan dikit. Jangan grobogan."

Citra mengernyit. "Kenapa? Oksigen di atas kena pajak pertambahan nilai?"

"Bukan. Tuan Elang... dia bisa dengar suara napas orang kalau lagi panik. Dia nggak suka suara organik. Katanya berisik."

Citra ingin tertawa, tapi wajah Pak Asep datar seperti tembok beton. Pintu lift terbuka. Bagian dalamnya dilapisi cermin dan emas. Citra masuk, merasa seperti kuman yang menyusup ke ruang operasi steril.

Lift melesat naik. Telinganya berdengung.

Ngiiiing.

Lantai 50. Pintu terbuka.

Hal pertama yang menyambutnya bukan kemewahan, tapi suara isak tangis. Seorang pelayan wanita sedang berlutut di lantai. Di depannya, berdiri seorang pria dengan postur tegak kaku seperti tiang listrik mahal.

Elang Soerya.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang tiga lapis, kancing tertutup sempurna sampai leher. Tangan kanannya menjepit sebuah sendok perak kecil menggunakan saputangan sutra putih. Dia menatap sendok itu seolah benda itu baru saja mencaci maki leluhurnya.

"Ada noda," suara Elang rendah, berat, dan tanpa emosi. "Jejak air yang mengering. Membentuk pulau kalsium mikroskopis."

"Itu cuma bercak air sedikit, Tuan..."

"Bercak air adalah bukti kegagalan proses pengeringan. Kegagalan adalah sarang bakteri."

Elang membuka jepitannya.

Trang!

Sendok perak itu jatuh menghantam lantai marmer. Suaranya nyaring dan menyakitkan.

"Bakar taplak mejanya. Buang sendoknya. Kamu boleh pergi. Ambil pesangon di pos satpam. Jangan pernah injak lantai ini lagi."

Mata Citra membelalak. Memecat orang karena bercak air? Kalkulator di kepalanya mendadak error. Itu sendok perak murni. Estimasi berat lima puluh gram. Harga perak dua belas ribu per gram.

Enam ratus ribu rupiah dibuang begitu saja.

Brak!

Pintu samping terbanting terbuka. Seorang pria lain masuk sambil memegang ponsel yang dilengkapi ring light mini.

"Hellow, People of the Internet!"

Suaranya melengking, merusak suasana hening yang mencekam.

"Balik lagi sama gue, Bastian Wijaya! Dan guess what? Kakak gue yang psycho lagi kumat! Look at that drama!"

Bastian mengarahkan kamera ponselnya ke pelayan yang menangis, lalu ke Elang yang mematung, dan akhirnya lensa itu menodong wajah Citra.

"Eh? Ada karakter baru? Siapa nih? Mbak SPG panci?"

Citra tidak peduli pada kamera itu. Fokusnya terkunci pada satu objek di lantai. Sendok perak itu. Enam ratus ribu rupiah. Bisa buat bayar listrik tiga bulan. Bisa beli beras dua puluh lima kilo. Bisa beli obat darah tinggi Ibu yang generik.

Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Rasa takut pada aura membunuh Elang kalah telak oleh rasa sakit hati melihat uang mubazir.

Citra melangkah maju. Dia berjongkok dan memungut sendok itu.

"Jangan disentuh," desis Elang.

Suaranya tajam. Elang mundur selangkah, menutupi hidungnya dengan saputangan sutra seolah Citra adalah wabah penyakit menular.

Terlambat. Tangan Citra sudah menggenggam gagang perak itu. Dingin. Logam itu terasa solid. Tanpa pikir panjang, Citra menarik ujung blazernya. Kain poliester murah yang teksturnya kasar seperti amplas halus.

Dia menggosok permukaan sendok itu dengan kuat.

Srek. Srek.

Bunyi gesekan kain kasar melawan logam halus terdengar ngilu di ruangan sunyi itu.

"Noda air itu cuma mineral, Pak. Bukan virus ebola," kata Citra datar.

Dia menggosoknya lagi. Memastikan kilapnya kembali sempurna. Kain kasar blazernya justru lebih efektif mengangkat noda daripada sutra halus milik Elang. Citra meletakkannya kembali ke atas meja konsol marmer di samping Elang.

Tak.

"Sudah bersih. Sayang kalau dibuang. Kalau Bapak jijik, mending diloakin. Lumayan buat beli nasi bungkus satu RT."

Hening.

Bastian menurunkan ponselnya, lupa merekam. Mulutnya sedikit terbuka.

Elang memutar kepalanya perlahan. Gerakannya patah-patah seperti robot yang engselnya karatan. Dia tidak menatap wajah Citra. Matanya terpaku pada ujung blazer Citra yang baru saja menyentuh sendok peraknya.

Ada kilatan aneh di mata pria itu. Bukan marah. Bukan jijik.

Elang menurunkan saputangan dari hidungnya, lalu menarik napas panjang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   11. Hantu Oranye di Balik Lensa Termal

    Kaki bangku kayu itu menghantam lantai marmer dengan kasar. Citra Melati tidak berteriak. Dia bukan tipe wanita di film horor yang menjerit histeris saat tahu ada pembunuh di dalam lemari.Dia adalah wanita Petamburan yang terlatih menghadapi debt collector.Dia naik ke atas bangku. Tangan kanannya mencengkeram jeruji ventilasi AC sentral di langit-langit dapur. Wajahnya didekatkan ke celah-celah besi berdebu itu.Matanya menyipit.Di sana, tersembunyi di antara kegelapan saluran udara, ada benda kecil berbentuk bulat. Lensa. Kecil. Hitam. Dengan satu titik merah redup yang berkedip pelan.*Bip.*"Brengsek," desis Citra.Kalkulator di kepalanya langsung menyala. Pasal 31 UU ITE. Intersepsi ilegal. Denda delapan ratus juta rupiah. Angka yang seksi. Tapi lawannya adalah Damar Langit, orang yang punya tim legal sekelas monster. Menuntut Damar sama saja bunuh diri finansial.Citra turun dari bangku. Dia tidak akan menuntut lewat jalur hukum. Dia akan menuntut lewat jalur premanisme verbal

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   10. Serbuk Kebahagiaan di Dapur Elit

    "Satu juta setengah."Citra Melati menatap nanar seekor Lobster Thermidor yang masih mengepul di atas troli perak. Otaknya bukan melihat makanan mewah, tapi token listrik 900 VA yang bisa menyala nonstop selama enam bulan.Pramusaji hendak menarik kembali piring itu. "Maaf, Mbak. Tuan Bastian menolak makan. Sesuai SOP, makanan lewat 30 menit harus dibuang."*Dibuang?*Insting kemiskinan Citra menjerit. Dia hampir saja minta dibungkus untuk dipanaskan di magic com kosan, tapi suara sirine memekakkan telinga memotong niatnya.*NGIIING... NGIIING...*Bukan alarm kebakaran. Itu suara rekaman Bastian Wijaya yang berteriak "HELP! EMERGENCY!" lewat interkom. Citra memijat pelipis. Dia meninggalkan lobster tragis itu dan berjalan cepat ke ruang tengah.***Bastian tergeletak dramatis di sofa kulit Chesterfield. Satu tangan terkulai ke lantai, wajah dibenamkan ke bantal bulu angsa. Di meja kopi, botol kosong Artisan Cold Brew - Extra Strong menjadi saksi bisu kebodohan manusia."Citra..." rint

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   9. Daki Miliarder

    Pukul 23.45.Aroma lavender mahal dari *diffuser* otomatis di lorong Penthouse malam ini kalah telak. Ia mati kutu, tercekik oleh bau yang jauh lebih agresif, pedas, dan merakyat.Di pantry yang sunyi, Citra Melati sedang melakukan operasi penyelamatan diri sendiri. Dia berdiri di depan pantulan kaca oven *built-in* yang gelap, meringis sambil mengoleskan gel lengket berwarna putih keruh ke leher.Bau methyl salicylate dosis tinggi langsung menguar. Baunya tajam, menusuk hidung, jenis aroma yang biasa tercium di bus malam antar-provinsi atau ruang tunggu tukang urut patah tulang."Gila. Bahu rasanya kayak abis manggul beras raskin lima karung," desis Citra pelan.Ini oleh-oleh dari insiden tiga hari lalu. Damar Langit dan teknik tackle anti-terornya yang berlebihan itu sukses membuat otot trapezius Citra meradang. Citra melirik pot kaca kecil di tangannya. Isinya tinggal setengah.*Tit. Tit. Tit.*Kalkulator di kepalanya berbunyi. Harga balsam dua belas ribu. Kalau dia beli baru sebel

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   8. Anomali Detak Jantung

    Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.Pukul 08.00 pagi.Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.*Ting.*Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

    Pukul 05.45 pagi.*Sret.*Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer."Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   6. Pelukan di Titik Nol

    Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.*BUGH!*Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan."Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!""DIAM!"Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut."TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"Tangan Dama

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status