Masuk
Tit. Tit. Tit.
Suara mesin ATM itu terdengar seperti vonis hakim. Layar biru di hadapan Citra berkedip sekali, lalu memuntahkan angka yang membuat ulu hatinya nyeri.
Saldo: Rp32.500.
Citra tidak berkedip. Otaknya langsung bekerja lebih cepat dari kalkulator pedagang pasar induk. Ongkos angkot pulang pergi ke Petamburan sepuluh ribu. Sisa dua puluh dua ribu lima ratus.
Krukk.
Lambungnya protes. Dia belum makan sejak sore kemarin. Roti sobek di minimarket harganya dua belas ribu. Kalau dia beli roti, sisa uangnya tidak cukup untuk beli token listrik.
Citra menekan tombol Batal.
Kartu ATM keluar. Dia memasukkannya kembali ke dompet yang kulit sintetisnya sudah mengelupas.
"Tahan lapar dulu," gumamnya pada perut sendiri. "Anggap saja diet ala artis Korea."
Dia berbalik badan. Lobi Apartemen Arcadia ini dinginnya tidak sopan. AC sentral disetel di suhu enam belas derajat, seolah mengejek orang-orang di luar sana yang sedang terpanggang matahari Jakarta.
Citra merogoh tas selempangnya. Dia mengeluarkan botol parfum isi ulang aroma melati.
Crut. Crut. Crut.
Lima ratus rupiah melayang ke udara. Ini investasi wajib. Bau apek lemari lembap dan asap knalpot Metro Mini yang menempel di blazernya harus hilang. Orang kaya punya hidung anjing pelacak kalau soal bau kemiskinan.
Dia berjalan menuju lift privat. Seorang satpam paruh baya dengan seragam licin tanpa kusut sudah menunggu.
"Neng Citra?"
"Siap, Pak Asep."
Pak Asep menekan tombol panggil. Panel lift itu bukan plastik, tapi kaca sentuh yang menyala elegan. Satpam itu mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik pelan.
"Saran Bapak, Neng. Nanti di atas napasnya ditahan dikit. Jangan grobogan."
Citra mengernyit. "Kenapa? Oksigen di atas kena pajak pertambahan nilai?"
"Bukan. Tuan Elang... dia bisa dengar suara napas orang kalau lagi panik. Dia nggak suka suara organik. Katanya berisik."
Citra ingin tertawa, tapi wajah Pak Asep datar seperti tembok beton. Pintu lift terbuka. Bagian dalamnya dilapisi cermin dan emas. Citra masuk, merasa seperti kuman yang menyusup ke ruang operasi steril.
Lift melesat naik. Telinganya berdengung.
Ngiiiing.
Lantai 50. Pintu terbuka.
Hal pertama yang menyambutnya bukan kemewahan, tapi suara isak tangis. Seorang pelayan wanita sedang berlutut di lantai. Di depannya, berdiri seorang pria dengan postur tegak kaku seperti tiang listrik mahal.
Elang Soerya.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang tiga lapis, kancing tertutup sempurna sampai leher. Tangan kanannya menjepit sebuah sendok perak kecil menggunakan saputangan sutra putih. Dia menatap sendok itu seolah benda itu baru saja mencaci maki leluhurnya.
"Ada noda," suara Elang rendah, berat, dan tanpa emosi. "Jejak air yang mengering. Membentuk pulau kalsium mikroskopis."
"Itu cuma bercak air sedikit, Tuan..."
"Bercak air adalah bukti kegagalan proses pengeringan. Kegagalan adalah sarang bakteri."
Elang membuka jepitannya.
Trang!
Sendok perak itu jatuh menghantam lantai marmer. Suaranya nyaring dan menyakitkan.
"Bakar taplak mejanya. Buang sendoknya. Kamu boleh pergi. Ambil pesangon di pos satpam. Jangan pernah injak lantai ini lagi."
Mata Citra membelalak. Memecat orang karena bercak air? Kalkulator di kepalanya mendadak error. Itu sendok perak murni. Estimasi berat lima puluh gram. Harga perak dua belas ribu per gram.
Enam ratus ribu rupiah dibuang begitu saja.
Brak!
Pintu samping terbanting terbuka. Seorang pria lain masuk sambil memegang ponsel yang dilengkapi ring light mini.
"Hellow, People of the Internet!"
Suaranya melengking, merusak suasana hening yang mencekam.
"Balik lagi sama gue, Bastian Wijaya! Dan guess what? Kakak gue yang psycho lagi kumat! Look at that drama!"
Bastian mengarahkan kamera ponselnya ke pelayan yang menangis, lalu ke Elang yang mematung, dan akhirnya lensa itu menodong wajah Citra.
"Eh? Ada karakter baru? Siapa nih? Mbak SPG panci?"
Citra tidak peduli pada kamera itu. Fokusnya terkunci pada satu objek di lantai. Sendok perak itu. Enam ratus ribu rupiah. Bisa buat bayar listrik tiga bulan. Bisa beli beras dua puluh lima kilo. Bisa beli obat darah tinggi Ibu yang generik.
Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Rasa takut pada aura membunuh Elang kalah telak oleh rasa sakit hati melihat uang mubazir.
Citra melangkah maju. Dia berjongkok dan memungut sendok itu.
"Jangan disentuh," desis Elang.
Suaranya tajam. Elang mundur selangkah, menutupi hidungnya dengan saputangan sutra seolah Citra adalah wabah penyakit menular.
Terlambat. Tangan Citra sudah menggenggam gagang perak itu. Dingin. Logam itu terasa solid. Tanpa pikir panjang, Citra menarik ujung blazernya. Kain poliester murah yang teksturnya kasar seperti amplas halus.
Dia menggosok permukaan sendok itu dengan kuat.
Srek. Srek.
Bunyi gesekan kain kasar melawan logam halus terdengar ngilu di ruangan sunyi itu.
"Noda air itu cuma mineral, Pak. Bukan virus ebola," kata Citra datar.
Dia menggosoknya lagi. Memastikan kilapnya kembali sempurna. Kain kasar blazernya justru lebih efektif mengangkat noda daripada sutra halus milik Elang. Citra meletakkannya kembali ke atas meja konsol marmer di samping Elang.
Tak.
"Sudah bersih. Sayang kalau dibuang. Kalau Bapak jijik, mending diloakin. Lumayan buat beli nasi bungkus satu RT."
Hening.
Bastian menurunkan ponselnya, lupa merekam. Mulutnya sedikit terbuka.
Elang memutar kepalanya perlahan. Gerakannya patah-patah seperti robot yang engselnya karatan. Dia tidak menatap wajah Citra. Matanya terpaku pada ujung blazer Citra yang baru saja menyentuh sendok peraknya.
Ada kilatan aneh di mata pria itu. Bukan marah. Bukan jijik.
Elang menurunkan saputangan dari hidungnya, lalu menarik napas panjang.
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Deru mesin-mesin bertenaga kuda besar itu terdengar seperti geraman hewan buas yang dipaksa mundur. Satu per satu, roda-roda lebar dari Rolls Royce, Mercedes-Benz, dan Range Rover menggilas aspal retak Petamburan untuk terakhir kalinya.Jeep Rubicon hitam doff milik Damar Langit menjadi penutup barisan, bergerak lambat seolah enggan meninggalkan medan pertempuran.Warga yang biasanya riuh rendah kini membisu. Pak RT yang sedang memegang sapu lidi berhenti bergerak di pinggir jalan. Ibu-ibu yang biasa bergosip di warung sayur hanya menatap kosong dari kejauhan.Ada beban kasat mata yang menggantung di udara pagi yang mulai terik. Atmosfer perpisahan itu terasa sangat berat, menekan dada siapa pun yang melihatnya.Citra Melati berdiri mematung di teras rumahnya. Tangannya mencengkeram tiang kayu keropos seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak ikut terseret pergi. Matanya mengunci lam
Pukul 08.00 WIB. Udara di dalam "Posko Cinta" terasa hampa.Biasanya, jam segini aroma bawang putih yang ditumis atau wangi kopi tubruk sudah menginvasi ruangan kaca itu, bertarung dengan dinginnya AC sentral. Pagi ini, tidak ada denting spatula yang beradu dengan wajan. Tidak ada desis air mendidih.Elang, Raka, Bastian, dan Damar duduk mengelilingi meja makan lipat yang kosong melompong. Mereka saling lirik dalam diam. Rutinitas pagi yang biasanya dikendalikan oleh satu perempuan, kini mati suri. Ada ketegangan yang menyesakkan yang membuat napas terasa berat.Sreeet.Pintu kaca bergeser. Citra Melati melangkah masuk.Dia tidak mengenakan sisa kemewahan semalam. Tidak ada gaun sutra merah atau riasan elegan. Citra sengaja membungkus dirinya dengan daster batik paling kusam yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu pucat. Wajahnya berminyak, tanpa bedak. Matanya bengkak parah, m
Kain sutra merah itu meluncur jatuh, membentur lantai yang dingin dengan suara desir yang nyaris tak terdengar.Citra Melati berdiri mematung di depan cermin lemari plastik yang retak membelah dua pantulan wajahnya. Di bawah kakinya, gaun seharga puluhan juta itu teronggok seperti genangan darah yang membeku, menciptakan kontras yang begitu mencolok dengan dinding kamarnya yang mengelupas.Tangannya yang gemetar meraih daster batik lusuh dari gantungan kawat. Ia memakainya cepat-cepat, mencari perlindungan dari kain katun pudar yang selama bertahun-tahun menjadi zirah kemiskinannya.Tapi rasanya salah.Daster itu tidak lagi terasa seperti pelukan rumah. Kainnya terasa ganjil di kulitnya, seolah ia baru saja mengenakan kostum badut yang ukurannya mulai menyempit. Ia telah berubah, dan daster ini tidak lagi muat untuk menampung versi dirinya yang sekarang.Citra mengangkat ba
Kain sutra merah itu jatuh memeluk tubuh Citra Melati seperti aliran lava yang membeku; panas, berbahaya, dan menuntut perhatian mutlak. Di depan cermin lemari plastik yang retak di sudut, Citra menatap pantulan dirinya.Ia nyaris tidak mengenali sosok itu.Rambutnya digelung longgar, menyisakan anak rambut yang jatuh membingkai leher jenjangnya. Gaun itu mengekspos punggungnya dengan berani, sementara belahan roknya yang tinggi seolah menantang siapa pun untuk tidak menahan napas."Gila," bisik Citra. "Ini bukan baju kencan. Ini baju perang."Tok. Tok.Ketukan di pintu depan terdengar sopan namun tegas. Citra menarik napas panjang, mengenakan sepatu Manolo Blahnik yang haknya setajam silet, lalu melangkah keluar.Di teras rumah yang diterangi lampu bohlam kuning lima watt, Elang Soerya berdiri membelakangi pintu. Ia menatap langit malam Jakarta yang keruh. P







