Share

32. Jerat Sepuluh Miliar

Penulis: VILNOCTE
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 09:09:38

Empat helai sutra di lengan kiri Citra terasa lebih berat dari biasanya pagi ini.

Pukul tujuh tepat, foyer Penthouse Arcadia sudah dipenuhi aroma maskulin yang saling bertabrakan.

Citra berdiri kaku, memegang dasi-dasi itu seperti memegang surat utang yang siap ditagih. Ingatan tentang gendongan Damar dan usapan tangan Elang di kakinya semalam masih berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

"Antrean satu. Pak Elang. Maju," suara

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   86. Kabut, Bara, dan Mata yang Terpejam

    Suara besi beradu dengan kayu terdengar kasar di tengah keheningan villa.Krak. Klik.Damar Langit menggeser gerendel besi ketiga di pintu utama. Belum cukup. Ia menyeret sebuah kursi kayu jati yang berat, lalu mengganjal sandarannya tepat di bawah gagang pintu. Barikade primitif, namun efektif.Citra Melati duduk memeluk lutut di depan perapian, memperhatikan punggung lebar Damar yang tegang. Di luar, kabut putih menempel di kaca jendela seperti hantu yang ingin masuk, menghapus dunia dari pandangan."Pak," panggil Citra pelan, suaranya bergetar karena dingin. "Kenapa harus diganjal kursi? Kita cuma berdua di tengah hutan."Damar berbalik. Wajahnya separuh diterangi nyala api, separuh lagi tenggelam dalam bayangan. Tatapannya tajam, memindai ruangan seolah mencari musuh yang tidak kasat mata."Justru karena kita sendirian," jawab Damar berat. "Kita

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   85. Benteng di Ujung Kabut

    Pagi di Petamburan berjalan lambat, seolah memberi jeda bagi Citra Melati untuk bernapas setelah maraton emosi bersama Raka kemarin. Tidak ada dering telepon, tidak ada notifikasi saham, hanya suara sutil beradu dengan wajan di dapur sempit.Citra duduk di lantai, melipat tumpukan baju yang baru diangkat dari jemuran. Di sampingnya, Ibu Ayu sedang menyisir rambut yang mulai memutih, senyum jahil tersungging di bibirnya."Jadi, nanti malam giliran siapa, Nduk? Jadwalmu kok kayak dokter spesialis, padat merayap."Citra mendengus, melempar kaos oblong ke tumpukan. "Giliran Pak Damar, Bu. Si tukang pukul."Mata Ibu Ayu berbinar. "Oalah, yang badannya tegap itu? Yang kalau jalan tanahnya ikut getar? Gagah ya, Nduk. Kayak Gatotkaca.""Ish, Ibu jangan genit. Dia itu serem, Bu. Isinya curigaan mulu.""Lho, curiga itu tandanya sayang. Tandanya takut kehilangan. Daripa

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   84. Labirin Rasa yang Tidak Efisien

    Malam merayap di langit Cikini, namun bagi Raka Pradana, waktu hanyalah deretan angka yang harus dioptimasi. Setelah satu jam penuh ketegangan biometrik di bawah kubah bintang, ia memutuskan bahwa sistem pencernaan mereka membutuhkan asupan nutrisi yang memiliki presisi setara dengan algoritma servernya.Restoran "The Lab" berdiri angkuh di kawasan Menteng. Ruangannya putih bersih, tanpa sudut tajam, dan diterangi oleh lampu LED spektrum penuh yang membuat segalanya tampak steril.Tidak ada aroma makanan yang menggoda selera; yang ada hanyalah bau ozon dan udara yang difiltrasi hingga ke partikel terkecil.Chef Marco melangkah mendekat dengan jas putih kaku tanpa noda. Di tangannya, sebuah piring kaca datar membawa sesuatu yang lebih mirip eksperimen kimia daripada makan malam."Deconstructed Opor Ayam," ucap Chef Marco dengan nada khidmat, seolah sedang membacakan teks proklamasi.

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   83. Orbit Tanpa Filter

    Udara di dalam kubah Planetarium Cikini mendadak terasa lebih tipis, seolah sistem ventilasi baru saja menyedot seluruh oksigen dan menyisakan ruang hampa yang dingin.Tangan kanan Citra masih tertahan di dada kiri Raka. Di bawah lapisan kemeja linen yang halus dan mahal, ia bisa merasakan sebuah mesin biologis yang sedang bekerja melampaui batas amannya.Deg-deg. Deg-deg.Iramanya liar, cepat, dan sangat bertenaga. Rasanya seperti memegang kap mesin mobil sport yang sedang dipacu di lintasan balap. Citra bisa merasakan getaran itu hingga ke ujung jemarinya yang kasar dan kapalan."Satu... seratus empat puluh bpm," bisik Citra parau. Kalkulator di kepalanya mencoba melakukan sinkronisasi, namun angka-angka itu mendadak buyar."Pak, ini bukan malfungsi lagi. Ini namanya mau meledak. Bapak perlu ke UGD sekarang."Raka tidak bergerak. Punggungnya tetap

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   82. Orbit yang Bergeser

    Siulan Bastian Wijaya pagi ini terdengar lebih nyaring daripada bunyi klakson ojek pangkalan di depan gang. Ia berdiri di depan wastafel dapur "Posko Cinta", memutar-mutar kunci Vespa kuningnya dengan telunjuk sambil menunggu kopi instan buatannya sendiri larut.Wajahnya cerah, matanya berbinar, dan ada aura kemenangan yang memancar dari setiap gerak-geriknya."Cit, inget nggak badut yang semalam?" Bastian menoleh ke arah Citra Melati yang sedang mengelap meja makan. "Yang hidungnya bunyi tet-tet tiap kali lo kasih duit seribuan?"Citra tertawa kecil, tawanya lepas dan tidak tertahan. "Iya, Pak. Mana dia baper lagi pas Bapak bilang hidungnya mirip tombol bel rumah. Kasihan, Pak, dia kan cuma cari nafkah.""Tapi seru, kan? Nggak ada skrip, nggak ada sutradara. Murni chaos," Bastian menyeringai, lalu menyesap kopinya dengan gaya yang sangat santai.Elang Soerya yang duduk di sofa b

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   81. Bianglala & Janji Tawa

    Lengket.Gula kapas berwarna merah muda itu menempel di ujung hidung Bastian Wijaya, membuatnya tampak seperti badut kelas atas yang tersesat di pasar malam. Citra Melati tertawa kecil, menyobek gumpalan arum manis miliknya sendiri yang teksturnya seperti awan sintetis."Hapus tuh, Pak. Malu-maluin CEO Media kalau ada yang motret," ujar Citra sambil menyodorkan selembar tisu kasar dari saku jaketnya.Bastian tidak mengambil tisu itu. Ia justru memajukan wajahnya, membiarkan Citra yang menyeka hidungnya."Biarin aja. Lagian nggak bakal ada yang motret," gumam Bastian. Suaranya terdengar lebih tenang, tanpa nada tinggi yang biasanya ia gunakan untuk menarik perhatian.Citra mengernyit. "Tumben. Biasanya Bapak paling panik kalau angle foto nggak estetik."Bastian merogoh saku jaket denimnya, memperlihatkan ponselnya yang masih dalam kondisi mati total.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status