FAZER LOGINBYUR!
Hujan tumpah dari langit Jakarta seolah keran raksasa baru saja di buka penuh. Citra Melati merapatkan topi baseball hitam milik Damar yang menutupi separuh wajahnya. Ia melangkah cepat menembus lobi kantor agensi Bastian yang sudah sesak oleh lautan manusia.
Aroma keringat, parfum manis remaja, dan uap hujan yang menguap dari aspal menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Di tengah kerumunan itu, Bastian Wijaya berdiri di atas panggung k
Empat tahun berlalu seperti embusan angin sore di Lebak Bulus; tenang, sejuk, dan tidak lagi membawa aroma kepanikan.Matahari pukul 16.30 WIB menggantung rendah di cakrawala, menyebarkan rona emas yang hangat di atas rumput Jepang yang terpangkas rapi.Di sudut halaman belakang rumah bergaya minimalis modern itu, terdapat sebuah pemandangan yang kontras. Di antara arsitektur beton dan kaca yang mahal, membentang kawat jemuran sederhana yang disangga tiang besi—sebuah replika kecil dari akar Petamburan yang menolak untuk dicabut.Citra Melati berdiri di depan jemuran itu. Tangannya yang kini lebih halus, namun tetap memiliki kekuatan yang sama, sedang memindahkan handuk-handuk kecil berwarna pastel ke dalam keranjang rotan.Ia tidak lagi mengenakan daster batik kusam. Citra memakai gaun rumah berbahan linen berwarna sage green yang elegan namun sangat nyaman.Rambutnya diikat asal, memperlihatkan cincin perak polos di jari manisnya yang berkilau terkena cahaya senja.Suara tawa renyah
Uap tipis mengepul malas dari cangkir porselen putih yang bertengger di atas meja marmer balkon.Aroma pahit kopi hitam yang pekat menyusup ke indra penciuman, memberikan ketenangan instan bagi saraf-saraf Citra yang masih sedikit tegang.Citra Melati menyesap kopinya perlahan. Rasa pahit yang membakar lidah itu terasa begitu jujur, jauh lebih masuk akal daripada kemewahan yang mengepungnya saat ini.Ia menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya yang mulai segar.Di hadapannya, Elang Soerya duduk dengan gaya santai yang jarang diperlihatkan. Kemeja putih mahalnya dibiarkan terbuka di bagian kerah, memperlihatkan garis leher yang kokoh.Pria itu meletakkan ponselnya ke meja dengan bunyi tak yang pelan."Orang-orang kita sudah kembali ke posisinya masing-masing lebih dulu," ucap Elang.Elang tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya diam, mengamati Citra tanpa suara. Tatapannya tidak lepas dari wajah istrinya, seolah sedang menghafal setiap lekuk dan bayangan yan
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu dari celah tirai otomatis yang terbuka hanya satu inci.Garis emas itu jatuh tepat di atas lantai karpet sutra, membiaskan debu halus yang menari tenang di udara kamar Presidential Suite yang sunyi.Citra Melati membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah berat yang nyaman melintang di atas pinggangnya.Lengan kekar yang dipenuhi otot padat itu mengunci tubuhnya dalam dekapan posesif, seolah takut Citra akan menguap jika pegangannya melonggar sedikit saja.Ia menoleh sedikit, menatap wajah Elang Soerya dari jarak yang sangat dekat.Helai rambut hitam Elang yang biasanya klimis kini jatuh berantakan di dahi. Napas pria itu teratur, menerpa lembut puncak kepala Citra.Dalam tidurnya, wajah aristokrat yang biasanya kaku itu tampak jauh lebih manusiawi, bahkan sedikit damai.Memori semalam menyerbu tanpa ampun. Suara derit tempat tidur, desahan yang pecah, dan penyatuan yang merobek seluruh logika krisisnya. Wajah Citra merona mer
Pukul 22.15 WIB.Pintu jati ganda Presidential Suite itu tertutup dengan desis vakum yang kedap, mengunci rapat kebisingan sisa pesta dan denting selo di bawah sana.Seketika, dunia luar yang riuh mendadak mati, menyisakan keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jantung Citra Melati terdengar seperti tabuhan genderang di telinganya sendiri.Citra merasakan tubuhnya melayang.Elang Soerya mengangkatnya dalam posisi bridal style dengan kemudahan yang mengintimidasi.Lengan kokoh Elang menyangga punggung dan lipatan lututnya, membuat Citra merasa sangat kecil dan ringkih di dalam dekapan sang raja.Elang melangkah mantap di atas karpet sutra tebal yang meredam suara langkah kakinya. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah ranjang King Size yang luas, seolah itu adalah satu-satunya tujuan hidupnya malam ini."Pak... gaun ini berat. Saya bisa jalan sendiri," cicit Citra, tangannya meremas bahu jas Elang untuk mencari keseimbangan.Elang tidak berhenti. Ia justru mempererat dekapann
Pintu ganda Ballroom Hotel Mulia terbuka lebar dengan desis halus, menyemburkan hawa dingin AC sentral yang seketika membelai kulit.Wangi ribuan mawar putih yang didatangkan langsung dari Belanda menguar pekat, memenuhi udara dan menenggelamkan aroma kota yang berdebu.Citra Melati berdiri tegak di atas pelaminan yang disulap menjadi taman gantung tropis.Berat gaun pengantin putihnya terasa nyata di pundak, apalagi ekor gaun bertahtakan mutiara sepanjang lima meter itu menjuntai angkuh di belakangnya.Kalkulator di kepalanya sempat berdenyut. Harga mutiara itu kalau dikonversi, mungkin bisa untuk membiayai kuliah seluruh anak di RT 05 sampai lulus sarjana.Elang Soerya berdiri di sampingnya, menggandeng tangan Citra. Ia membungkuk sedikit, membisikkan suara baritonnya tepat di telinga Citra."Tegak, Citra. Kamu pusat gravitasinya malam ini. Jangan biarkan lampu kristal itu mengalahkan sinarmu."Citra menarik napas panjang, menatap ke arah lautan manusia di depannya. Pemandangan itu
Sisa tawa dari meja gaple semalam telah menguap, digantikan oleh ketegangan sakral yang menggantung pekat di udara pagi Petamburan.Pukul 09.00 WIB. Udara lembap terperangkap rapat di bawah tenda terpal biru yang membentang menutupi sepanjang gang. Kipas angin blower yang diletakkan di sudut-sudut strategis menyemburkan uap air tanpa henti, menciptakan hawa gerah yang menabrak kulit dan membuat siapa pun yang berada di bawahnya merasa seperti sedang direbus perlahan dalam panci raksasa.Namun, keluarga besar Soerya yang duduk berjajar di atas kursi lipat besi seolah kebal terhadap cuaca ekstrem tersebut.Mereka mengenakan seragam batik sutra tulis premium yang membalut tubuh dengan elegan. Postur mereka tegak khidmat, menatap lurus ke depan.Tidak ada satu pun dari para konglomerat itu yang menunjukkan gestur menutup hidung, mengipasi diri secara berlebihan, atau risih dengan lingkungan padat yang mengelilingi mereka.Di baris terdepan, Rano Soerya—ayah kandung Elang—duduk dengan kete
Malam merayap di langit Cikini, namun bagi Raka Pradana, waktu hanyalah deretan angka yang harus dioptimasi. Setelah satu jam penuh ketegangan biometrik di bawah kubah bintang, ia memutuskan bahwa sistem pencernaan mereka membutuhkan asupan nutrisi yang memiliki presisi setara dengan algoritma se
Pukul 07.30 WIB.Atmosfer di ruang tengah "Posko Cinta" lebih panas daripada minyak jelantah di wajan penggorengan. Sisa nasi goreng di piring sudah tandas, tapi rasa cemburu masih mengendap tebal di udara, menciptakan ketegangan statis yang bisa menyengat kulit. 
Pukul 07.00 WIB.Suara sendok stainless steel yang jatuh menghantam lantai keramik terdengar nyaring, memecah keheningan pagi di dapur minimalis "Posko Cinta".Klontang!Citra Melati tersentak kaget. Tangannya yang biasanya cekatan membalik martabak atau menghitung uang kembalian, pagi ini terasa l
Jarak itu kini tinggal selembar kertas tipis.Di luar, guntur menggelegar panjang, menggetarkan dinding kaca "Posko Cinta" yang basah oleh hujan. Namun di sudut sempit yang dibatasi sekat rotan itu, dunia Citra Melati menyusut hingga hanya tersisa sepasang mata abu-abu Elang Soerya.Napas Elang ter







