Share

Bab 112 Sakit.

Author: SanASya
last update publish date: 2026-04-22 12:38:54

Selesai makan malam, tibalah waktunya Bella bersantai. Tatapannya tertuju pada tas yang sebelumnya mengejutkan Chiara. Ia kemudian memotret tas itu, lalu mengambil selfie dengan ekspresi bibir mengerucut, seperti sedang jengkel. Setelah itu, ia mengirimkan foto tersebut kepada Luca.

Di Kota X, Luca sedang membaca di kursi kerja di kamar khusus miliknya. Ia selalu menyediakan kamar tidur atau apartemen kecil untuk dirinya di setiap hotel atau tempat bisnisnya. Meski tidak banyak bergerak, luka d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 129 Mata-mata orang lain.

    Luca sedang berada di kantor perusahaannya. Tangan dan matanya sibuk memeriksa tumpukan pekerjaan didepannya.Vito mengetuk pintu kemudian masuk dan memberitahu, “Bos, orang-orang pemerintahan sepertinya mulai bergerak.”Luca tidak mengangkat wajahnya. Tangannya masih sibuk menulis, lalu ia menjawab dengan tenang, “Semua bukti yang aku minta sudah diserahkan?”Vito mengangguk mantap. “Sudah, Bos.”“Bagus,” jawab Luca singkat. “Selanjutnya kita urus Dante dan kelompoknya di Blackstone.”Vito kembali mengangguk. Matanya dipenuhi semangat dan dendam yang tertahan lama. Akhirnya, mereka bisa membalas kelompok kecil itu yang selama ini hanya berani menyerang dari belakang.Di sebuah ruang makan yang cukup mewah, dengan penerangan redup, tirai jendela besar terbuka lebar menampilkan langit mendung kota Blackstone.Seorang pria dengan potongan rambut cepak duduk di sana. Lengan kemeja hitamnya dilipat hingga siku, memperlihatkan tato panjang di kedua lengannya dengan berbagai bentuk dan warn

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 128 Bisnis yang ditemukan.

    Chiara tahu Bella sangat ingin membantu ayahnya. Sayangnya, Paman Gio tidak pernah mengizinkan Bella ikut campur dalam urusan politik. Chiara tahu alasannya, karena ia sendiri memahami betapa dalam arus politik, yang mana semakin dalam, semakin gelap.Hal itu sama seperti saat Chiara ingin menjadi jaksa. Keputusan itu awalnya ditentang oleh ayahnya. Namun, Chiara berhasil meyakinkan ayahnya, dan berkat dukungan ibunya, ia akhirnya menjadi jaksa. Meski begitu, pekerjaan itu masih mengganjal di hati ayahnya. Bahkan hingga sekarang, setiap kali Chiara menghubunginya, ia selalu diingatkan untuk berhati-hati dan waspada.Chiara tidak tahu bagaimana cara menghibur Bella, tetapi ia tetap mengatakan sesuatu yang memang merupakan fakta.“Aku pikir kamu sudah cukup membantu,” kata Chiara. “Petugas keamanan yang kita bentuk sangat kuat dan ahli. Mereka melakukan pekerjaannya dengan baik karena kesungguhan mereka yang ingin membantumu. Kebaikanmu sudah cukup menarik banyak orang untuk ikut memban

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 127 Keanehan di pelabuhan.

    Keesokan harinya, sepulang kerja, Bella mendapat sebuah pesan dari Luca.Luca: Hari ini aku tidak bisa datang ke rumahmu. Kau ingin makan sesuatu? Biar pengawalku yang belikan.Bella terdiam beberapa saat melihat pesan itu, kemudian membalas.Bella: Belikan aku pasta paling enak di Kota B.Sekitar tiga menit kemudian, Luca baru membalas.Luca: Kau ingin makan siang pasta yang dijual di tempat yang jauh? Apa kau sedang mengerjaiku atau menghukumku?Bella: Siapa yang mengerjaimu? Dan kenapa aku harus menghukummu? Apa kamu melakukan kesalahan padaku tanpa kuketahui? Bukankah yang membeli makanan itu pengawalmu?Luca: Kalau begitu aku salah sangka. Baiklah, aku akan minta tolong untuk membelikan makanan untukmu. Apa ada lagi yang kau inginkan?Bella: Kenapa kamu tidak bisa ke sini? Apa kamu sedang menghadapi masalah?Bella mengira Luca tidak akan menjawab pertanyaannya, atau mungkin akan mengelak. Namun, tidak disangka, ia justru mendapat balasan.Luca: Memang ada sedikit masalah di kelua

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 126 Siapa yang terbaik?

    Bella sempat bergidik mendengar suara rendah Luca dan napas hangatnya yang menyapu kulit lehernya. Ia segera melepaskan pelukan Luca, lalu berbalik dengan kedua tangan di pinggang dan berkata dengan nada mengancam.“Ingat ya, jangan menggunakan cara kotor. Kalau kau sampai melakukannya, aku tidak akan mau menjadi temanmu lagi.”Luca tersenyum tertahan. “Apa yang kamu pikirkan, sayang? Aku memang ingin sesuatu yang berbeda malam ini.”Bella memutar bola matanya malas mendengar panggilan sayang dari Luca. Meski hatinya sempat tergelitik senang, ia segera menepisnya. Dalam hati ia berkata, bagaimana bisa aku tergoda hanya dengan satu panggilan itu.“Siapa yang kau panggil sayang? Aku tanya, mau teh atau kopi?” tanya Bella dengan galak.Luca meletakkan kedua tangannya di sisi Bella, memerangkap tubuh mungil gadis itu di antara meja dapur dan tubuh tegapnya.Dengan senyum menggoda di wajahnya, ia berkata dengan yakin. “Sudah kubilang kalau aku ingin sesuatu yang berbeda.”Bella meletakkan

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 125 Provokasi.

    Giovanni dengan jelas mendengar suara batuk seorang pria. Suaranya langsung berubah berat saat bertanya pada putrinya, tatapannya tajam seolah mencari celah.“Bella, suara siapa itu?”Mendengar nada penuh selidik dari ayahnya, Bella berusaha tetap tenang.“Itu... suara tetangga. Dia barusan lewat. Ayah tahu sendiri bagaimana lingkungan di sini.”Giovanni tampak tidak percaya. “Pintu rumahmu jaraknya cukup jauh dari jalan umum, dan kau sedang berada di dekat dapur. Tidak mungkin suaranya sejelas itu, yang menandakan kalau orang itu ada di dekatmu.”Bella tetap mengelak. “Tidak ada, Ayah. Di sini memang lagi sepi, jadi suara sekecil apa pun pasti terdengar jelas.”Giovanni memperhatikan wajah Bella yang tersenyum polos. Meski masih ragu, ia tidak melanjutkan pertanyaan itu dan kembali membahas Steve.“Jadi bagaimana menurutmu Tuan Steve itu? Barna bercerita kalau putranya sangat baik dan sukses, tapi dia sudah punya anak. Bukan berarti Ayah melarang karena dia punya anak, tapi Ayah ingi

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 124 Lamaran pernikahan.

    Giovanni dengan tenang bertanya, “Pasti perempuan itu sangat hebat sampai bisa memikat hati putra Anda yang selama empat tahun ini setia pada almarhum istrinya.”Tuan Barna tertawa kecil, lalu dengan senyum canggung ia menatap Giovanni dan berkata jujur, “Tuan Wali Kota, saya ingin bertanya... apakah Anda memiliki seorang putri bernama Bella DeLuca?”Giovanni hanya tersenyum tipis dan bertanya santai, “Mengapa Tuan Barna tiba-tiba bertanya? Bisa langsung sampaikan apa yang ingin Anda katakan.”“Begini, Tuan Wali Kota, saya pun tidak menyangka. Tapi namanya anak muda, menyukai seseorang... apalagi keduanya sama-sama lajang, mungkin bisa kita coba mendekatkan mereka,” kata Barna.Giovanni masih berpura-pura tidak mengerti maksudnya dan kembali mengulang pertanyaannya, “Apa maksud Anda, Tuan Barna? Silakan katakan langsung.”Barna merasa sudah cukup berbasa-basi. Ia pun berkata terus terang, “Jadi begini, putra saya menyukai seorang guru bernama Bella DeLuca. Awalnya saya mengira dia per

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 39 Langsung jatuh hati.

    Keesokan harinya, pagi itu udara masih terasa dingin, langit belum sepenuhnya terang. Sinar matahari memantulkan cahaya lembut, memberi kehangatan pada halaman yang dingin setelah gelapnya malam.ketiga anak muda yang akan melakukan liburan sudah bangun dari pagi buta dan bersiap-siap. Tepat di jam

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 38 Persiapan sudah lengkap.

    Giovanni menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua tangannya bertaut di depan dada. Tatapannya yang tenang dan penuh selidik bergantian menyapu wajah Bella, Chiara, lalu Adrian. "Liburan?" ulangnya pelan. "Ke mana?" tanyanya penuh selidik. Adrian menoleh ke samping, melirik Chiara singkat. Alisny

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 37 Mengajak Liburan.

    Bella masih berdiri di dekat sofa ketika pria itu melangkah ke hadapannya. Pria itu tersenyum lebih dulu, senyum yang hangat dan sopan.“Selamat sore, Nona Muda,” sapanya. “Masih ingat saya?”Bella menatapnya lebih saksama, lalu mengangguk. “Tentu saja, kamu Rico, kan?Aku tidak menyangka akan berte

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 36 Wajah familiar diantara mereka.

    Sepulang dari berbelanja, Bella merasa kelelahan. Ia duduk lemas di kursi belakang mobil, kepalanya sedikit miring ke jendela. Matanya terpejam dengan napas teratur, mengumpulkan tenaga yang habis tersedot setelah kakinya bolak-balik toko pakaian dan ruang ganti.Berbeda dengan Bella, Liana duduk d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status