로그인Sederet mobil sedan mengilap parkir dengan halus di halaman aula desa. Beberapa warga yang berada di halaman rumah masing-masing menatap penasaran ke arah enam kendaraan itu. Tidak lama kemudian, sosok Chiara turun tergesa-gesa. Jas kerjanya tampak berantakan, begitu juga rambut sebahunya yang sebagian terlepas dari ikatan.Para warga yang sudah mengenalnya tahu alasan gadis itu tampak begitu panik. Tak lama setelahnya, seorang pria paruh baya ikut turun dari mobil dengan penampilan yang jauh dari rapi dan berwibawa seperti biasanya. Para warga pun berbondong-bondong mendatangi aula desa untuk melihat walikota yang datang dikawal Komandan Lombardi dan para pengawal. Mereka tidak berani masuk karena merasa segan pada sosok yang sering mereka lihat di televisi maupun surat kabar itu.Bella yang sedang membantu Adrian segera menoleh ketika mendengar suara deru mobil berhenti di depan aula. Sebelum ia sempat keluar, Chiara sudah lebih dulu masuk sambil menoleh cepat ke kanan dan kiri. Mel
Terdengar helaan napas di seberang sana. “Bella, syukurlah kamu sedang tidak di rumah.”Dahi Bella mengernyit. “Apa yang terjadi di rumahku?”Adrian menjawab cepat, “Aku mendapat panggilan dari kepala desa. Beliau memberi tahu ada sekelompok orang membawa senjata tajam dan senjata besar. Ini pasti kelompok penyerang itu. Kepala desa dan beberapa pemuda di sana berusaha menghalangi mereka masuk, tapi para penyerang ini sangat kejam dan sadis. Kekuatan para pemuda desa juga tidak sebanding dengan mereka yang membawa senjata. Kelompok penyerang itu kemudian menuju rumahmu. Kepala desa bilang... mereka menghancurkan rumahmu.”Napas Bella tercekat. Namun, ia segera berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Menghancurkan? Tidak apa-apa jika mereka menghancurkannya. Tapi orang-orang yang mencoba menghalangi mereka, apakah ada yang terluka parah?”Adrian menjawab dengan napas tergesa-gesa, terdengar suara langkah kaki yang berjalan cepat di sana. “Aku akan pulang dan membawa tenaga kesehatan unt
Bella memperhatikan para karyawan yang berlalu-lalang di lobi perusahaan Nexus Global. Mereka tampak rapi dan elegan, bahkan pakaian yang dikenakan terlihat modis dan penuh percaya diri.Penampilan mereka sangat berbeda dengan Bella yang tampak sederhana, meskipun tetap rapi dan anggun. Tidak ada yang salah dengan penampilannya yang hanya mengenakan gaun polos dengan sedikit hiasan renda bunga di sekitar kerah. Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan terurai, dipadukan dengan riasan natural yang membuat wajahnya terlihat lembut.Meski penampilannya tidak bisa dibilang biasa saja, tetap ada perbedaan gaya berpakaian antara dirinya dan para karyawan perusahaan Luca.Kaki Bella yang dibalut high heels merah muda melangkah tenang mendekati meja resepsionis.Sang resepsionis mengangkat wajahnya lalu tersenyum sopan kepada Bella, yang dibalas dengan senyum manis sebelum akhirnya Bella menyampaikan tujuannya.“Selamat sore, apakah Tuan Luca Vitali ada di kantornya?”Resepsionis itu men
“Aku mendengar soal apa yang terjadi di wilayah timur kota. Kupikir orang-orang yang melakukan penyerangan ini benar-benar gila. Kalian tahu? Mereka juga menyerang mobil yang membawa tenaga medis yang dikirim untuk mengobati orang-orang terluka di sana.”Adrian tampak frustrasi, terlihat jelas dari penampilan dan cara bicaranya.Chiara mengernyitkan dahi semakin dalam.“Kamu bilang mereka menyerang tenaga medis? Bagaimana mereka tahu mobil itu membawa tenaga medis? Dan di mana mereka menyerangnya?”Adrian mendesah panjang.“Mereka sepertinya sudah tahu kalau pusat medis pasti akan mengirim bantuan tenaga kesehatan karena rumah sakit di wilayah timur tidak mampu menangani banyaknya korban. Kemudian mereka mencegat kendaraan itu di tengah perjalanan, menghancurkan kaca mobil, dan melukai beberapa tenaga medis.”“Mereka mencegatnya? Apa mungkin mereka mengikuti kendaraan itu?” gumam Chiara.Mendengar tindakan mereka, Bella langsung menganalisis situasinya.“Aku rasa mereka memang sudah m
Zero menarik kembali pandangannya dengan tenang, lalu mendekati Bella dan memberikan pesanan dari bosnya. Ia menyimpan baik-baik wajah pria dan anak kecil yang datang ke sana agar bisa dilaporkan pada bosnya.“Nona Bella, Tuan Luca meminta saya memberikan ini untuk Anda.”Bella melirik sekilas, lalu mengangkat satu alisnya. “Saya tidak memesan apa pun pada Tuan Luca. Kenapa dia mengirimkan ini?”Mendapat tatapan curiga dari Bella, Zero menjawab dengan tenang, “Saya tidak tahu. Saya hanya diperintahkan untuk membeli dan mengirimkannya. Sebaiknya Anda bertanya langsung pada Tuan Luca.”Bella membuang muka dan menjawab acuh tak acuh, “Kalau begitu saya tidak akan menerimanya. Sebaiknya kamu bawa kembali.”Setelah itu, Bella melangkah masuk.Zero tidak suka jika ada yang menolak pemberian bosnya. Ia tidak menyangka perempuan ini ternyata cukup sombong. Namun, ia tidak bisa bersikap kasar padanya. Bella adalah putri walikota, dan Vito juga sudah berkali-kali memperingatkannya untuk tidak b
Steve melihat jam di dashboard dan langsung panik. Sudah jam empat sore, dan ia belum menjemput Alan.Pikiran Steve sedang bercabang ke mana-mana saat ini, memikirkan ayahnya yang berada di penjara, ibunya yang pingsan di rumah, dan putranya yang belum ia jemput di sekolah.Saat melihat gerbang sekolah sudah tertutup rapat, Steve kembali khawatir akan keberadaan putranya. Hingga kemudian penjaga sekolah menghampirinya dan memberi tahu kalau Alan sedang berada di rumah Miss Bella.Steve merasa lega sekaligus malu karena harus menemui Bella di kediamannya. Ia yakin perempuan itu pasti sudah tahu ada sesuatu yang salah dengan ayahnya. Namun, Steve juga tidak bisa menghindar. Maka, ia membuang rasa malunya dan berjalan menuju rumah Bella.Kini ia sudah berdiri di depan gerbang rumah Bella.Ia menekan bel dan menunggu beberapa saat sebelum Bella keluar dari rumahnya. Perempuan itu tersenyum sopan padanya, dan Steve membalas senyuman itu dengan formal.Dengan nada pelan, ia berkata, “Miss B
Bella menatap Luca, lalu pada kemeja yang diulurkan kepadanya. Ekspresinya ragu-ragu. Ia ingin menolak, tetapi tiba-tiba angin malam berhembus lebih kencang. Gaunnya yang setengah basah menempel di kulit, membuat tubuhnya kembali menggigil dan kepalanya semakin pusing.Tangannya akhirnya terulur, m
Dua jam telah berlalu sejak Bella dan Luca jatuh ke laut.Tim pencari sudah menyisir area di sekitar kapal pesiar. Radius pencarian terus diperluas. Beberapa orang bahkan nekat menyelam ke dalam laut yang gelap, melawan ombak yang masih bergulung ganas.Namun hingga saat itu, tidak ada tanda-tanda
Kembang api raksasa meletus, memecah langit malam menjadi serpihan cahaya berwarna. Emas, merah, biru, ungu, semuanya berjatuhan seperti hujan bintang. Dek utama dipenuhi sorak kagum para penonton yang larut dalam kemegahan pertunjukan yang berlangsung hampir satu jam itu."Luar biasa!""Seperti fe
Sisa asap mesiu masih tersebar di udara. Langkah kaki yang teratur diikuti bayangan Shin tampak di dinding baja, perlahan sosoknya yang rupawan terlihat jelas."Kesepakatan apa yang bisa kau tawarkan dalam situasi saat ini?" tanya Shin, suaranya berat dan tenang.Maggio menyeringai tipis, menyembun







