MasukSebelum situasi kacau dalam kota Whitesand memuncak seperti ini, Chiara sebenarnya masih disibukkan oleh berbagai berkas kasus di kantor kejaksaan. Namun, begitu mendengar kabar bahwa kelompok penyerang yang selama ini tengah mereka buru tiba-tiba melancarkan aksi brutal di pusat kota, ia tidak bisa tinggal diam. Gadis itu langsung turun tangan ke lapangan, ikut memimpin proses evakuasi warga sipil yang terjebak di tengah kekacauan. Bahkan, di tengah kepungan bahaya, Chiara tidak ragu untuk maju dan melawan beberapa penyerang demi melindungi orang-orang yang ketakutan di depan matanya.Tidak lama setelah ketegangan di pusat kota sedikit mereda, Chiara menerima panggilan darurat dari Adrian yang mengabarkan bahwa Wali Kota telah terluka. Tanpa membuang waktu, ia segera memacu kendaraannya menuju kantor pemerintahan. Setibanya di sana, ia mendapati pasukan keamanan telah membersihkan area tersebut dari sekelompok penyerang yang sempat menyerbu masuk.Setelah mendengar keseluruhan cerita
Sementara itu, keadaan di kota Whitesand pascapenyerangan siang tadi tampak begitu memprihatinkan. Entah berapa banyak kerugian material yang harus ditanggung oleh pemerintah dan warga setempat, karena jejak-jejak kerusakan parah terlihat jelas membentang di sepanjang jalan utama pusat kota."Hmph! Giovanni DeLuca memang pantas mendapatkan semua ini! Dia terlalu sombong hingga berani mengusik hewan buas yang sedang tertidur nyaman. Sekarang lihat, apa yang bisa dia lakukan untuk mengembalikan kedamaian kota ini? Tunggu saja sampai masyarakat mengamuk dan melengserkannya secara paksa dari jabatan Wali Kota!"Seorang pria paruh baya terus mengomel tanpa henti di sepanjang jalan menuju kediaman pribadinya. Dari balik kaca jendela mobil yang melaju, matanya menatap tajam kondisi pusat kota yang masih porak-poranda. Di beberapa titik, kepulan asap hitam masih terlihat membubung ke langit, sisa-sisa kebakaran yang disengaja oleh kelompok penyerang tersebut.Di sebelahnya, seorang pria paruh
Shin menghentikan langkahnya untuk menyapa kedua pria di hadapan mereka. "Kakek, Paman Silvestri."Kakek Ruggero mengangguk singkat, suaranya yang berat bergaung pelan. "Kau sudah pulang."Sementara itu, pria paruh baya yang dipanggil Paman Silvestri menyahut dengan nada suara yang terdengar ramah. "Shin, lama tidak bertemu. Kudengar kau sedang sangat sibuk dengan bisnis-bisnismu belakangan ini."Shin merespons dengan ekspresi wajah yang serius, mempertahankan wibawa profesionalnya seperti biasa. "Begitulah. Bisnis sedang berkembang pesat, jadi aku jarang memiliki waktu untuk pulang ke rumah."Paman Silvestri menghela nafas dan mengeluh, "Matteo juga sama, dia sedang sibuk di laboratorium sampai belum pulang sebulan ini. Entah apa yang sedang dia teliti."Kakek Ruggero membalas, "anak muda memang lebih banyak punya ide dan rencana, itu lebih baik daripada dia menganggur dan tidak melakukan apa-apa."Setelah percakapan singkat itu, keheningan melanda sesaat ketika perhatian Kakek Rugge
Setelah seluruh urusan negosiasi selesai, Bella kembali meminta Shin untuk membukakan kunci pintu ruangannya. Namun, Shin tampaknya masih merasa enggan untuk membiarkannya pergi begitu saja.Pria itu bahkan melayangkan pertanyaan dengan nada menggoda, "apakah kau sama sekali tidak merindukanku? Kau bahkan belum memberikan satu pelukan pun sebagai tanda kerinduan."Bella memutar bola matanya dengan malas. Dengan tanpa beban, ia menjawab, "Aku sama sekali tidak merindukanmu, Shin. Lagipula, bukankah ini adalah perkenalan awal kita?"Mendengar jawaban itu, Shin langsung tahu bahwa Bella masih sangat mempermasalahkan kebohongan yang telah ia lakukan. Pria itu menyadari bahwa perempuan di hadapannya ini agak pendendam. Dibohongi selama hampir setengah tahun tentu saja membuat Bella merasa dirugikan, meskipun pada kenyataannya ia tidak kehilangan apa pun selama ini.Bukannya menjauh, Shin justru segera menghampiri Bella yang masih berdiri di depan meja kerja besar tersebut. Sebelum Bella se
Setelah panggilan dari Paman Sergio berakhir, Bella tidak memiliki waktu lagi untuk ragu. Keputusannya sudah bulat untuk meminta bantuan Shin demi menyelamatkan kota Whitesand.“Karena aku meminta bantuanmu, apa yang kau inginkan sebagai balasannya?” Bella bertanya dengan nada yang sudah kembali tenang, sepasang matanya menatap Shin dengan keseriusan.“Imbalan, ya...,” Shin tersenyum tipis, binar matanya mengunci tatapan Bella. “Kau pasti tahu apa yang kuinginkan.”Bella tidak langsung mengerti pada awalnya. Namun, sedetik kemudian, sebuah pemikiran mengerikan melintas di benaknya, membuat napasnya tertahan.“Kau...,” Bella tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dalam benaknya, ia berharap apa yang tengah ia duga adalah sebuah kekeliruan.Shin mengangkat satu alisnya, menikmati perubahan ekspresi wanita di hadapannya. “Ya, Bella. Aku tahu kau adalah wanita yang cerdas. Selain menjadi penguasa di kota ini, menurutmu... untuk apa aku mulai melebarkan sayap bisnisku ke kota Whitesand?”Tanga
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bella menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan tersebut. "Halo, Paman Sergio?"Baru saja sapaan itu keluar dari bibirnya, suara panik Paman Sergio di seberang sana langsung memotong dan menyampaikan inti masalah tanpa basa-basi. "Bella, keadaan memburuk! Kelompok penyerang itu kembali berulah. Kali ini, sasaran mereka bukan lagi pinggiran kota, melainkan toko-toko dan pusat bisnis masyarakat di jantung kota Whitesand!"Napas Bella tercekat mendengar penuturan sang Wakil Walikota.Paman Sergio terus berbicara dengan nada tergesa-gesa, menggambarkan situasi mengerikan yang sedang terjadi. Kerusakan di pusat kota sangat parah. Dalam waktu singkat, korban berjatuhan begitu banyak. Para penyerang bertindak brutal tanpa pandang bulu, melukai siapa saja yang mereka temui di jalanan."Untungnya, pasukan keamanan segera bertindak," lanjut Paman Sergio, napasnya terdengar memburu.Kali ini Chiara yang memegang kendali penuh di lapangan. Dia tidak la
Dua hari sudah Bella tinggal di rumah, kegiatannya itu-itu saja dan hanya sekali dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu. Dengan pengawalan lengkap, meski tidak terlalu mencolok, tetap saja membuat Bella tidak bisa berbaur seperti warga biasa lainnya. Ia pun lebih memilih menghabiskan waktu di ruma
Chiara melempar sepotong kecil camilan ke dalam mulutnya, "kesulitannya bisnis itu didirikan sesuai prosedur tanpa ada kesalahan hukum yang bisa menjeratnya, selain itu tidak hanya satu kelompok yang membuka bisnis disini. Kemungkinan ada banyak bisnis yang tidak diketahui pemiliknya.""Kenapa mere
Tepat jam 10.00, Bella dengan sendirinya bangun. Ia menatap ruangan familiar itu dengan linglung, mencoba mengingat malam sebelumnya. Ia pun ingat kenapa bisa tidur di kamarnya di kediaman DeLuca.Melihat jam dinding di atas meja belajar, ia kembali menghempaskan kepalanya ke bantal. Ia bangun kesi
Rico baru saja sampai di mansion Vitali dan keluar dari mobilnya, seorang rekan pengawal yang berjaga di halaman depan memberitahu."Rico, Bos menyuruh mu langsung menemuinya di ruang kerja.""Baik, berjagalah dengan baik dan tetap waspada." Rico menepuk bahunya dan menyodorkan bungkus kertas makan







