Home / Mafia / Nona Incaran Ketua Mafia / Bab 61 Kamera cctv.

Share

Bab 61 Kamera cctv.

Author: SanASya
last update publish date: 2026-02-21 21:33:39

Hari sudah mencapai malam, langit diluar mulai gelap. Senja di sore hari sangat indah, pemandangan matahari terbenam memukau banyak penumpang yang sedang menikmati makan malam atau waktu santai di kapal. Lampu-lampu kapal mulai menyala satu per satu.

Tiba-tiba, suara lembut resepsionis perempuan menggema melalui pengeras suara di setiap sudut kapal.

"Tuan dan nyonya yang terhormat, sebentar lagi akan diadakan pertunjukan spesial kembang api. Untuk pemandangan terbaik, penumpang sekalian dapat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 245

    Bella mengernyitkan dahinya dalam-dalam, merasa heran. "Apakah seorang Bianchi memiliki barisan penjaga pribadi yang sekuat itu?"Kakek Gan menggelengkan kepalanya perlahan. "Awalnya, Kakek juga berpikiran demikian. Namun, setelah mendengar laporan intelijen terbaru dari ayahmu beberapa hari yang lalu, Kakek baru bisa menarik kesimpulan yang sebenarnya. Orang-orang kuat yang dihadapi oleh dua tentara rahasia Kakek saat itu... kemungkinan besar adalah anggota elit dari kelompok mafia Black Serpent, yang sengaja ditugaskan khusus untuk menjaga gudang penyimpanan rahasia milik Bianchi."Bella diam-diam menggerutu di dalam hatinya, Sudah kuduga, pria tua itu memang memelihara ular di rumahnya.Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke depan, mencoba meyakinkan kakeknya dengan sungguh-sungguh. "Kakek... percayalah kepadaku, aku pasti bisa menyelesaikan misi ini dengan aman. Aku berjanji tidak akan pernah mengambil tindakan gegabah yang mampu memicu risiko besar bagi keluarga kita. Namun, aku be

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 244

    Bella pun segera memutar tubuhnya, melangkah cepat mendekat sambil mengulas sebuah senyuman manis untuk menyapa sang nenek. "Nenek... maafkan aku ya, aku datang bertamu terlalu pagi begini dan mengganggu waktu bersantai kalian."Nenek Sara memasang gurat wajah yang berpura-pura marah mendengar kalimat formal itu. Namun, tangan kanannya yang lembut segera bergerak mengelus pucuk kepala cucunya dengan penuh rasa sayang. "Marah apa? Cucu kesayangan sendiri datang berkunjung kenapa harus marah, hm? Kamu itu sudah sangat jarang datang ke sini, jadi tentu saja Nenek dan Kakek merasa sangat senang kau datang sepagi ini."Tangan hangat Nenek Sara kemudian menarik pelan lengan Bella, menuntunnya menuju ke deretan kursi rotan tempat mereka duduk tadi. "Duduklah dulu. Apakah kamu sudah sempat sarapan di rumah?""Sudah, Nenek," jawab Bella langsung, memberikan konfirmasi dengan anggukan kepala yang pasti.Kakek Gan yang sejak tadi memperhatikan dari kursinya mendadak mendengus kecil, menatap cucu

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 243

    Mobil yang membawa Bella perlahan memasuki gerbang besi hitam yang berukuran tinggi. Setelah petugas penjaga mengenali siapa sosok yang datang, ia segera memberikan kode kepada penjaga lainnya agar pintu gerbang raksasa itu dibukakan. Mobil pun melaju masuk dengan sangat mulus, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan jalan setapak berbatu yang mengarah langsung ke halaman utama rumah.Villa ini berdiri megah di tengah hamparan alam yang asri, dengan latar belakang pegunungan hijau yang menjulang tinggi dan diselimuti kabut tipis serta awan mendung, menciptakan suasana yang tenang sekaligus memukau.Villa dua lantai ini berarsitektur modern yang menyatu dengan alam, menggabungkan material batu alam bertekstur kasar, kayu berwarna cokelat hangat, serta kaca bening berukuran besar yang mendominasi dinding dan jendela. Atapnya dirancang berupa atap genteng bergaya tradisional yang memberikan kesan elegan sekaligus kokoh.Halaman villa sangat luas dan tertata rapi dengan rumput hijau. Jal

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 242

    Di saat ketiganya sedang sibuk membicarakan pergerakan licik Marco Bellandi dan Bianchi Vittorio, pintu keluar penjara bawah tanah pusat perlahan terbuka. Bella, Chiara, dan Adrian melangkah keluar dari dalam gedung dengan tergesa-gesa. Ketiganya segera naik ke dalam mobil sedan hitam mereka dan langsung memacu kendaraan meninggalkan lokasi dengan diikuti oleh mobil pengawal dari belakang. Melihat pergerakan itu, Rico segera berpamitan kepada Zero dan Vito untuk kembali menaiki sepeda motornya dan menyusul sekaligus mengawal ketat pergerakan Nona Bella dari kejauhan.Hampir sepanjang malam itu, Bella sama sekali tidak bisa memejamkan matanya dengan nyenyak. Pikirannya terus berkecamuk, memikirkan detail ucapan dingin Shin di dalam ruang interogasi serta konspirasi politik yang sedang mengepung keluarganya. Ia hanya mampu tertidur selama kurang lebih dua jam saja, dan sebelum jarum jam menunjukkan pukul enam pagi, ia sudah terbangun dari tidurnya.Setelah berjalan-jalan sebentar menyus

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 241

    Rico yang sejak awal mengawal pergerakan dari jarak aman, memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan yang cukup gelap, tidak jauh dari kompleks penjara bawah tanah pusat. Ia kemudian berjalan santai ke salah satu mobil hitam yang terparkir di sana. Setelah memastikan situasi sekitar aman, ia membuka pintu di samping kemudi. Di dalam kendaraan, tampak Zero sedang bersandar, sementara adiknya, Vito, duduk tenang di kursi penumpang bagian belakang."Kamu akhirnya datang juga," sapa Zero menyambut kehadiran Rico."Kak Rico, apakah dua mobil yang baru saja masuk ke halaman penjara tadi membawa Nona Bella?" tanya Vito penasaran, menatap ke arah pintu masuk fasilitas tersebut."Ya, itu Nona Bella dan kedua sahabat dekatnya," jawab Rico sembari matanya tetap mengawasi area parkir penjara. Ia cukup familier dengan beberapa kendaraan yang terparkir di sudut lain halaman. Mobil-mobil itu memiliki kode tanda khusus yang samar. "Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan mereka bertiga di dalam sana te

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 240

    Bella menatap pria di hadapannya cukup lama. Di dalam ruang interogasi yang temaram itu, kesunyian mendadak membeku saat keduanya saling melempar pandangan, seolah sedang menilai isi kepala satu sama lain melalui sorot mata masing-masing.Setelah beberapa saat, Bella menarik pandangannya perlahan. "Sayang sekali kamu tidak bisa melakukannya di kota ini. Jadi, kau mungkin akan mendekam sangat lama di sini, dan kemungkinan besar... kau tidak akan pernah bisa bebas lagi."Shin justru menyunggingkan sebuah senyuman yang penuh arti, sama sekali tidak terpengaruh oleh kalimat ancaman itu. "Kau sangat tahu apa maksudku yang sebenarnya, Bella."Bella sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik dengan nada suara yang teramat lirih, "Kau pikir... aku benar-benar akan melakukannya?""Kau pasti akan melakukannya, Bella. Dan setelah itu, kau akan menemukan sesuatu yang sangat menarik," sahut Shin dengan tatapan mata yang memancarkan keyakinannya terhadap kemampuan perempuan didepannya."Kenapa k

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 137 Bukti Asli

    Pagi harinya, Giovanni, Komandan Lombardi, dan pemimpin pengawal berangkat lebih awal ke gedung pemerintahan. Ia sengaja berangkat sebelum banyak karyawan datang karena membawa sesuatu yang rahasia.Tidak lama kemudian, beberapa orang datang ke ruangan walikota. Mereka adalah Chiara yang menjadi ja

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 129 Mata-mata orang lain.

    Luca sedang berada di kantor perusahaannya. Tangan dan matanya sibuk memeriksa tumpukan pekerjaan didepannya.Vito mengetuk pintu kemudian masuk dan memberitahu, “Bos, orang-orang pemerintahan sepertinya mulai bergerak.”Luca tidak mengangkat wajahnya. Tangannya masih sibuk menulis, lalu ia menjawa

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 121 Karena aku ingin...

    Adrian baru saja parkir di halaman dan keluar dari mobil ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia melihat Nenek Sophia berdiri di depan gerbang dan menyuruhnya mendekat.“Adrian, kemari sebentar,” panggil Nenek Sophia. Suaranya cukup pelan, dan matanya sesekali melirik ke rumah Bella.Adrian mer

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 115 Bertemu lagi.

    Bella hendak mendekati Luca, tetapi ia ingat bahwa dirinya sedang bekerja. Ia kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan. Ponsel Luca berdenting dua kali.Bella: Kamu sudah pulang? Bukankah seharusnya kamu pulang lusa? Bella: Apa yang kamu lakukan di sini?Luca meliriknya sekilas, lalu tersenyum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status