Beranda / Mafia / Nona Incaran Ketua Mafia / Bab 61 Kamera cctv.

Share

Bab 61 Kamera cctv.

Penulis: SanASya
last update Tanggal publikasi: 2026-02-21 21:33:39

Hari sudah mencapai malam, langit diluar mulai gelap. Senja di sore hari sangat indah, pemandangan matahari terbenam memukau banyak penumpang yang sedang menikmati makan malam atau waktu santai di kapal. Lampu-lampu kapal mulai menyala satu per satu.

Tiba-tiba, suara lembut resepsionis perempuan menggema melalui pengeras suara di setiap sudut kapal.

"Tuan dan nyonya yang terhormat, sebentar lagi akan diadakan pertunjukan spesial kembang api. Untuk pemandangan terbaik, penumpang sekalian dapat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 165 Pelajaran yang tak terlupakan.

    Sebelum situasi kacau dalam kota Whitesand memuncak seperti ini, Chiara sebenarnya masih disibukkan oleh berbagai berkas kasus di kantor kejaksaan. Namun, begitu mendengar kabar bahwa kelompok penyerang yang selama ini tengah mereka buru tiba-tiba melancarkan aksi brutal di pusat kota, ia tidak bisa tinggal diam. Gadis itu langsung turun tangan ke lapangan, ikut memimpin proses evakuasi warga sipil yang terjebak di tengah kekacauan. Bahkan, di tengah kepungan bahaya, Chiara tidak ragu untuk maju dan melawan beberapa penyerang demi melindungi orang-orang yang ketakutan di depan matanya.Tidak lama setelah ketegangan di pusat kota sedikit mereda, Chiara menerima panggilan darurat dari Adrian yang mengabarkan bahwa Wali Kota telah terluka. Tanpa membuang waktu, ia segera memacu kendaraannya menuju kantor pemerintahan. Setibanya di sana, ia mendapati pasukan keamanan telah membersihkan area tersebut dari sekelompok penyerang yang sempat menyerbu masuk.Setelah mendengar keseluruhan cerita

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 164 Balasan yang mematikan.

    Sementara itu, keadaan di kota Whitesand pascapenyerangan siang tadi tampak begitu memprihatinkan. Entah berapa banyak kerugian material yang harus ditanggung oleh pemerintah dan warga setempat, karena jejak-jejak kerusakan parah terlihat jelas membentang di sepanjang jalan utama pusat kota."Hmph! Giovanni DeLuca memang pantas mendapatkan semua ini! Dia terlalu sombong hingga berani mengusik hewan buas yang sedang tertidur nyaman. Sekarang lihat, apa yang bisa dia lakukan untuk mengembalikan kedamaian kota ini? Tunggu saja sampai masyarakat mengamuk dan melengserkannya secara paksa dari jabatan Wali Kota!"Seorang pria paruh baya terus mengomel tanpa henti di sepanjang jalan menuju kediaman pribadinya. Dari balik kaca jendela mobil yang melaju, matanya menatap tajam kondisi pusat kota yang masih porak-poranda. Di beberapa titik, kepulan asap hitam masih terlihat membubung ke langit, sisa-sisa kebakaran yang disengaja oleh kelompok penyerang tersebut.Di sebelahnya, seorang pria paruh

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 163 Kesal padanya.

    Shin menghentikan langkahnya untuk menyapa kedua pria di hadapan mereka. "Kakek, Paman Silvestri."Kakek Ruggero mengangguk singkat, suaranya yang berat bergaung pelan. "Kau sudah pulang."Sementara itu, pria paruh baya yang dipanggil Paman Silvestri menyahut dengan nada suara yang terdengar ramah. "Shin, lama tidak bertemu. Kudengar kau sedang sangat sibuk dengan bisnis-bisnismu belakangan ini."Shin merespons dengan ekspresi wajah yang serius, mempertahankan wibawa profesionalnya seperti biasa. "Begitulah. Bisnis sedang berkembang pesat, jadi aku jarang memiliki waktu untuk pulang ke rumah."Paman Silvestri menghela nafas dan mengeluh, "Matteo juga sama, dia sedang sibuk di laboratorium sampai belum pulang sebulan ini. Entah apa yang sedang dia teliti."Kakek Ruggero membalas, "anak muda memang lebih banyak punya ide dan rencana, itu lebih baik daripada dia menganggur dan tidak melakukan apa-apa."Setelah percakapan singkat itu, keheningan melanda sesaat ketika perhatian Kakek Rugge

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 162 Dua sosok asing.

    Setelah seluruh urusan negosiasi selesai, Bella kembali meminta Shin untuk membukakan kunci pintu ruangannya. Namun, Shin tampaknya masih merasa enggan untuk membiarkannya pergi begitu saja.Pria itu bahkan melayangkan pertanyaan dengan nada menggoda, "apakah kau sama sekali tidak merindukanku? Kau bahkan belum memberikan satu pelukan pun sebagai tanda kerinduan."Bella memutar bola matanya dengan malas. Dengan tanpa beban, ia menjawab, "Aku sama sekali tidak merindukanmu, Shin. Lagipula, bukankah ini adalah perkenalan awal kita?"Mendengar jawaban itu, Shin langsung tahu bahwa Bella masih sangat mempermasalahkan kebohongan yang telah ia lakukan. Pria itu menyadari bahwa perempuan di hadapannya ini agak pendendam. Dibohongi selama hampir setengah tahun tentu saja membuat Bella merasa dirugikan, meskipun pada kenyataannya ia tidak kehilangan apa pun selama ini.Bukannya menjauh, Shin justru segera menghampiri Bella yang masih berdiri di depan meja kerja besar tersebut. Sebelum Bella se

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 161 Oknum-oknum mencurigakan.

    Setelah panggilan dari Paman Sergio berakhir, Bella tidak memiliki waktu lagi untuk ragu. Keputusannya sudah bulat untuk meminta bantuan Shin demi menyelamatkan kota Whitesand.“Karena aku meminta bantuanmu, apa yang kau inginkan sebagai balasannya?” Bella bertanya dengan nada yang sudah kembali tenang, sepasang matanya menatap Shin dengan keseriusan.“Imbalan, ya...,” Shin tersenyum tipis, binar matanya mengunci tatapan Bella. “Kau pasti tahu apa yang kuinginkan.”Bella tidak langsung mengerti pada awalnya. Namun, sedetik kemudian, sebuah pemikiran mengerikan melintas di benaknya, membuat napasnya tertahan.“Kau...,” Bella tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dalam benaknya, ia berharap apa yang tengah ia duga adalah sebuah kekeliruan.Shin mengangkat satu alisnya, menikmati perubahan ekspresi wanita di hadapannya. “Ya, Bella. Aku tahu kau adalah wanita yang cerdas. Selain menjadi penguasa di kota ini, menurutmu... untuk apa aku mulai melebarkan sayap bisnisku ke kota Whitesand?”Tanga

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 160 Menghadapi kelompok penyerang.

    Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bella menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan tersebut. "Halo, Paman Sergio?"Baru saja sapaan itu keluar dari bibirnya, suara panik Paman Sergio di seberang sana langsung memotong dan menyampaikan inti masalah tanpa basa-basi. "Bella, keadaan memburuk! Kelompok penyerang itu kembali berulah. Kali ini, sasaran mereka bukan lagi pinggiran kota, melainkan toko-toko dan pusat bisnis masyarakat di jantung kota Whitesand!"Napas Bella tercekat mendengar penuturan sang Wakil Walikota.Paman Sergio terus berbicara dengan nada tergesa-gesa, menggambarkan situasi mengerikan yang sedang terjadi. Kerusakan di pusat kota sangat parah. Dalam waktu singkat, korban berjatuhan begitu banyak. Para penyerang bertindak brutal tanpa pandang bulu, melukai siapa saja yang mereka temui di jalanan."Untungnya, pasukan keamanan segera bertindak," lanjut Paman Sergio, napasnya terdengar memburu.Kali ini Chiara yang memegang kendali penuh di lapangan. Dia tidak la

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 83 Kunci Kemenangan.

    Di luar kamar penahanan, waktu tanpa terasa sudah lebih dari setengah jam sejak Luca, Matteo, dan Vito masuk ke dalam. Akan tetapi, pintu itu belum juga terbuka.Salah satu pengawal yang berdiri paling dekat dengan pintu mulai gelisah. Ia beberapa kali melirik ke arah daun pintu yang tertutup rapat

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 80 Istirahat Total

    Sesuai perintah Adrian, sebagai dokter pribadinya, Bella tidak diizinkan pergi jalan-jalan dulu. Ia diharuskan beristirahat total selama beberapa hari.Seusai makan siang, Ia duduk di tepi ranjang sambil memandang laut dari jendela dengan wajah sedikit murung. Mengingat mereka sudah membuat banyak

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 79 Interogasi.

    Karena Adrian dan Chiara terus menatapnya tanpa mengalihkan pandangan, Bella akhirnya menyerah. Ia meletakkan garpu dan pisau di atas piring, lalu menarik napas pelan sebelum mulai menceritakan apa yang terjadi.Dengan singkat, Bella menjelaskan kejadian yang dialaminya, mulai dari saat ia jatuh ke

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 77 Nomor Handphone.

    Klinik di kapal pesiar itu cukup luas dan tertata rapi. Beberapa alat medis modern tersusun di sepanjang dinding, lengkap dengan tempat tidur pasien, lemari obat, serta lampu pemeriksaan yang terang menggantung di atas meja medis.Begitu mereka sampai di sana, Adrian dan Matteo langsung mengambil a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status