Mag-log in“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Kevin Wicaksana!”
Gejolak meriah dari para tamu undangan langsung menyadarkan Vanya dari lamunannya. Dia gegas mengalihkan wajah, memutus pandangannya yang sepersekian detik bertabrakan dengan manik kelabu milik Kevin Wicaksana.
Vanya meletakkan tangan di dadanya. Jantungnya berdebar, kencang. Entah karena efek emosi yang sempat ada akibat cacian Febiola terhadap sang ibu … atau karena kehadiran sosok Kevin Wicaksana.
Menarik napas dalam untuk menenangkan diri, Vanya kembali mengalihkan pandangan ke arah pria tersebut. Tampak sosok Kevin sedang berbincang dengan beberapa kepala keluarga besar yang hadir.
Setiap kepala keluarga itu membawa putri mereka, yang terlihat malu-malu saat diperkenalkan. Mata mereka berbinar kala menatap Kevin, semuanya seolah terhipnotis pada sosok tampan itu.
“Kau berbaurlah dengan putri dari keluarga lain, tunjukkan dirimu layak diperhitungkan! Ingat jangan membuat masalah!” perintah Febiola padanya.
“Tuan Muda Wicaksana ini benar-benar sangat tampan! Persis seperti yang dikatakan orang-orang. Yang jadi istrinya pasti beruntung!”
“Memang tampan, tapi apa gunanya menjadi istrinya kalau tiap malam selalu ada wanita berbeda yang naik ke ranjangnya? Dia itu casanova ulung!”
“Kamu mempermasalahkan dia pemain wanita? Aku lebih mempermasalahkan dia memiliki sifat kejam yang mengerikan!”
Komentar-komentar tersebut membuat Vanya bergidik ngeri. Bukan hanya kejam, tapi juga seorang casanova. Apa tidak ada rumor lebih baik yang bisa mengelilingi pria itu?
Saat Vanya ingin menjauh agar tidak terpengaruh rumor buruk tersebut, tiba-tiba dia mendengar satu komentar menggemparkan.
“Oh ya, dan satu hal lagi, apa kalian tahu kalau sebelumnya dia sudah ada tiga calon pengantin, tapi semuanya berakhir menghilang? Yang terakhir malah kudengar meninggal tragis sesaat sebelum pernikahan berlangsung!”
“APA?!”
Terlihat wajah kengerian terpancar dari beberapa wanita-wanita muda itu.
Mendengar hal itu, Vanya cukup terkejut, jantungnya terasa seperti lepas dari tempatnya.
Jadi, pria itu sudah memiliki tiga calon, tapi ketiganya berakhir menghilang atau meninggal?
Tidak heran ketiga saudari tirinya sangat menolak hadir di acara ini. Ternyata, bukan hanya takut disiksa, mereka takut kehilangan nyawa!
Sedangkan dirinya, sudah terlanjur menerima nasib dipersembahkan sebagai tumbal!
"Sudah! Untuk apa repot-repot peduli soal rumor?" Suara tajam itu memotong udara, menyentak kesadaran Vanya yang sempat mengawang. "Siapa tahu semua rumor itu hanya jebakan agar kita menjauh," ucap seorang wanita lain dengan ekspresi tenang, tampak flamboyan dengan gaun berwarna merahnya.
"Kalau kalian ragu, serahkan saja padaku. Aku tidak takut mengambil kesempatan. Lagi pula, kalau berhasil menikah ke dalam keluarga Wicaksana, keluarga kalian sendiri tidak perlu khawatir tentang uang untuk paling tidak tujuh generasi!" Dia kembali melanjutkan.
“Nona Amira benar sekali, siapa tahu itu hanya lelucon yang sengaja dibuat oleh orang lain agar kita ketakutan.” Salah satu dari mereka berkata dengan senyum penuh makna.
Vanya masih diam di tempatnya, kalau itu adalah Amira, apa dia dari keluarga Darmawangsa? Kalau benar dia adalah Amira yang dimaksud, maka dia musuh bebuyutan salah satu kakaknya, Lira.
Sering kali Vanya mendengar Lira bercerita pada saudarinya yang lain tentang kesombongan Amira dan bagaimana cara Lira akhirnya berhasil menindas Amira dengan tertawa puas.
“Hei kamu!” Amira, wanita berjalan mendekati Vanya sekaligus membuyarkan alam pikirannya.
"Kamu siapa? Rasanya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Nada suara itu terdengar ringan, tapi jelas mengandung nada curiga.
Vanya tersenyum tipis. Tenang. Berusaha tetap sopan. "Saya Vanya," jawabnya singkat. "Vanya Dirgantara."
Sesaat setelah nama itu terucap, tatapannya berubah lalu kembali berkata, “Vanya … Dirgantara? Apa kamu dari keluarga Dirgantara? Saudaranya Lira Dirgantara?”
Vanya mengangguk pelan. “Benar, saya adiknya Kak Lira.”
“Tapi … aku tidak pernah melihatmu … atau jangan-jangan ….” Dia diam sejenak lalu mengawasi Vanya dari atas ke bawah dengan senyuman penuh makna. “Kamu adalah putri haram Keluarga Dirgantara? Kudengar kalau Keluarga kalian itu ada anak haram.” Amira berkata dengan senyum mencibir, bentuk ejekan yang benar-benar sangat jelas.
Ditanya seperti itu, Vanya terdiam.
Sudah dia duga akan mengalami hal seperti ini, tapi dia hanya tidak menyangka kalau tebakannya cukup akurat. Dia bingung bagaimana harus menjawab masalah ini.
Kalau dijawab jujur, sepertinya dia benar-benar akan mencoreng nama baik keluarga. Tapi kalau berbohong, apa gunanya juga?
“Kenapa diam? Apa tebakanku benar?” tanya Amira lagi dengan menatapnya tajam dan penuh ejekan.
Baru saja akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba sebuah dorongan kuat menghantam tubuhnya dari samping. Ia tersandung, menabrak seorang pelayan yang membawa baki berisi minuman.
Gelas-gelas kristal berjatuhan. Minuman tumpah. Riuh kecil pecah di sudut ruangan ini.
“Ups! Ternyata tanganku terlalu licin.” Wanita yang sejak tadi selalu bersama dengan Amira itu berkata dengan senyum mengejek padanya.
Vanya tampak benar-benar berantakan, tersungkur di lantai, sementara gaunnya yang sudah basah terkena minuman menjadikan penampilannya kian mengenaskan.
“Apa yang terjadi di sini?” Suara itu terdengar berat dan mendominasi ruangan.
Semua orang terdiam dan melihat ke sumber suara.
“Tuan Kevin ….”
Mendengar nama itu disebut Vanya menoleh. Benar saja, Kevin sudah berdiri tegak di antara kerumunan itu. Hal ini benar-benar membuat Vanya merasa dunianya benar-benar sudah berakhir. Bagaimana dia akan menjelaskan hal ini pada keluarganya? Bukankah dia sekarang dalam masalah besar?!
Sorot mata Kevin menatap dalam ke arah Vanya, dia berjalan pelan ke arahnya, sementara yang lain langsung dengan cepat memberikan jalan padanya.
Kevin belum mengatakan apa-apa. Dia masih terus berjalan ke arah Vanya dengan langkah tenang. Sementara Vanya, jantungnya benar-benar berdebar kencang, apalagi semakin dekat, tatapan Kevin semakin dalam saja.
Kemudian, langkah Kevin berhenti tepat di depannya.
“Ibu … aku merindukanmu .…”Suaranya nyaris tak terdengar. Bukan ratapan, bukan pula tangisan. Hanya bisikan lirih yang seolah tertinggal di udara, lalu mengendap di ruang penyulingan yang sunyi.Aroma samar seolah menyusup ke dalam napasnya. Bukan aroma nyata, melainkan kenangan. Wangi yang dulu sering mengisi rumah kecilnya. Wangi yang membuatnya merasa aman.Vanya menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyadari kapan napasnya mulai terasa berat. Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh punggungnya.Hangat. Tenang.Kevin tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berdiri di belakang Vanya, satu lengannya melingkar pelan, menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan yang mantap namun lembut. Tidak terlalu erat, tapi cukup untuk memberi tahu bahwa ia ada di sana.Vanya membiarkan dirinya bersandar. Untuk sesaat, semua beban di dadanya seolah menemukan tempat untuk diletakkan.Tidak ada kata-kata. Tidak ada tatapan berlebihan. Hanya momen singkat yang terjadi begitu alami, seolah mereka berdua sudah l
Sementara itu, Hani sedang bersandar di dada Kendrick, menikmati pemandangan kota dari balik kaca mobil yang melaju tenang. Senyumnya mengembang, kali ini tanpa perlu dipaksakan.Kata-kata Kendrick masih terngiang jelas di kepalanya.“Aku akan menyuruh orang untuk membuat keadaan ini berbalik.”Kalimat sederhana itu terdengar seperti jaminan. Bagi Hani, itu berarti satu hal, posisinya belum runtuh. Bahkan, mungkin justru sedang menguat.Ia melirik Kendrick yang masih sibuk dengan ponselnya. Jari pria itu bergerak cepat, suaranya rendah dan singkat saat memberi instruksi. Pemandangan itu membuat dada Hani terasa ringan.“Tuan,” ucapnya pelan, nadanya dibuat rapuh. “Aku hanya melakukan tugasku … tapi semua orang seolah ingin menghancurkanku.”Kendrick menghentikan gerakannya, menoleh sebentar. Tatapannya dingin, namun mantap. “Aku sudah bilang. Kau tidak perlu khawatir.”Hani menunduk, bulu matanya bergetar halus. “Aku hanya ingin keadilan sedikit saja.”Kendrick menghela napas pendek.
Sejak panggilan itu berakhir, Kevin masih, menatap layar ponsel yang sudah gelap dengan wajah yang tidak bisa ditebak. Rahangnya terlihat sedikit mengeras, sorot matanya datar seperti biasa, tapi Vanya yang sejak tadi memperhatikannya tahu, pria itu sedang menahan sesuatu.Alih-alih merasa canggung, Vanya justru tersenyum spontan.Kevin menangkapnya dari sudut mata. Ia menoleh, menatap Vanya dengan kening sedikit berkerut. “Kau senyum-senyum begitu kenapa?”Vanya mengangkat bahu ringan, senyumnya tidak juga memudar. “Terima kasih. Aku sangat menyukainya.”Kevin semakin mengerutkan kening. “Apanya yang kau suka?”Jawaban itu meluncur begitu saja, cepat, tanpa sempat dipikirkan panjang. “Cemburumu itu.”Untuk pertama kalinya pagi itu, ekspresi Kevin benar-benar berubah.Matanya membelalak sesaat sebelum ia segera menarik kembali kendali wajahnya. “Kau jangan asal bicara,” ucapnya cepat. “Siapa bilang aku cemburu? Sama Erwin lagi.”Nada suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu yang tid
Vanya memindahkan kursinya hingga dia akhirnya duduk di samping Kevin, bukan lagi berhadapan seperti sebelumnya. Keputusan yang diambilnya tanpa banyak berpikir itu ternyata membawa perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Jarak mereka kini jauh lebih dekat, bahu hampir bersentuhan, dan setiap gerakan kecil Kevin terasa lebih nyata.“Kau sudah mulai berani ternyata,” gumam Kevin pelan sambil menyunggingkan bibirnya singkat. “Sama suami sendiri tidak masalah, kan?” Vanya menjawab santai.Kemudian, Vanya mengambil secangkir minuman hangatnya, menyeruput pelan sambil menikmati suasana. Kevin terlihat santai, mengunyah makanannya dengan gerakan tenang, seolah pagi romantis ini adalah hal yang biasa baginya. Padahal bagi Vanya, setiap detik terasa istimewa.Belum sempat ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, ponsel Kevin yang tergeletak di atas meja bergetar.Kevin melirik sekilas ke layar, alisnya sedikit terangkat. “Nenek.”Vanya menahan senyum. Entah kenapa, hanya mendengar satu kata it
Hani menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena tidak percaya. Kalimat yang baru saja ia dengar barusan terlalu tidak masuk akal untuk diterima begitu saja.“Tidak mungkin,” ucapnya tegas. “Kau pasti salah orang.”Di seberang sana, suara itu terdengar lelah, tapi sama sekali tidak ragu. “Tidak ada kesalahan, Hani. Aku melihat namamu tercantum jelas dan resmi, langsung dikeluarkan oleh Direktur Human Capital.”Hani mendengus kecil. Ini lelucon yang buruk. Sangat buruk. Ia baru saja mengambil cuti, liburan singkat yang seharusnya menyenangkan. Mana mungkin perusahaan memecatnya tanpa pemberitahuan resmi, tanpa pemanggilan, tanpa klarifikasi.“Apa alasannya?” tanyanya cepat. “Aku tidak pernah mendapat surat peringatan. Rekam jejakku bersih.”Hening beberapa detik sebelum suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan. “Kau melakukan hal yang seharusnya tidak kau lakukan, Hani.”Napas Hani tertahan.“Apa maksudmu?”“Kau
Darat terasa lebih stabil ketika kaki Vanya akhirnya menyentuh tanah. Angin pagi masih berembus lembut, membawa aroma laut dan bunga yang bercampur, membuat dadanya terasa ringan, seolah sebagian dirinya masih tertinggal di udara tadi. Kevin melepaskan helmnya lebih dulu, lalu membantu Vanya membuka perlengkapannya. Gerakannya tenang, terlatih, sama sekali tidak tergesa. Setelah semuanya selesai, ia melirik jam tangannya sekilas. “Dua puluh dua menit,” ucapnya datar. “Lumayan, setelah lama tidak melakukannya.” Vanya menoleh cepat. Matanya masih berbinar, pipinya sedikit memerah karena udara dingin dan sisa adrenalin. “Dua puluh dua menit,” ulangnya pelan, lalu tersenyum lebar. “Itu dua puluh dua menit yang membuatku sangat bahagia.” Kevin terdiam. Vanya melanjutkan, seolah belum sadar efek ucapannya. “Aku sangat menyukai dua puluh dua menitmu ini. Ini bagian terindah selama ini. Lamaran di udara, aku menyukainya, walau badanku sedikit gemetar.” Ia terkekeh kecil, mencoba mencairk







