Se connecterHujan baru saja berhenti.Langit di atas sana masih menggantung kelabu. Meski waktu sudah menunjukkan hampir pukul 07.00, cuaca seperti menunjukkan bahwa hari enggan benar-benar cerah.Karin berdiri di dekat pagar besi depan kamarnya, karena suasana lembab dan sumpek di dalam rumah malah membuatnya tidak nyaman.Ia meloloskan dengkusan kasar. “Tidak di dalam, tidak di luar rumah, suasananya sama saja. Bagaimana bisa orang-orang betah tinggal di sini?”Gerutuan itu mengudara. Karin membencinya. Hujan sudah turun sejak dini hari. Baru berhenti belum lama.Karin terbiasa tetap tertidur lelap walaupun hujan turun dengan derasnya. Tapi di kos-kosan itu, tembok seperti jauh lebih tipis dari tembok di rumahnya. Meski masih ada lantai 3 tepat di atas kamarnya, Karin bisa tetap mendengar dengan jelas suara berisik dari hujan. Sampai dirinya kesulitan tidur semalam.Kamarnya jadi terasa lebih lembab dari biasanya. Karin tidak suka. Niatnya dirinya ingin langsung pergi ke kamar Jovan, tapi yang
Makan malam Karin dan Jovan jauh lebih cepat daripada yang Karin bayangkan. Padahal Karin mengharapkan kencan yang istimewa di mana dirinya bisa menghabiskan lebih banyak waktu berduaan hanya dengan Jovan saja. Malang, itu ada di angan-angan Karin saja. Sudah repot-repot dirinya memesan restoran mahal, memesan ruangan private, tapi Jovan ogah berlama-lama di restoran. Bahkan mereka tidak banyak mengobrol. Karin berusaha membujuk setelah mereka keluar dari restoran. “Bagaimana kalau kita menonton film dulu? Sudah lama kita nggak nonton bioskop.” “Aku nggak bisa.” Jovan menolak tanpa memikirkannya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri jalan untuk melihat taksi online yang sudah dipesan olehnya. Taksi itu belum datang dan mereka terpaksa menunggu sebentar di sana. “Kamu ini kenapa sih terus-terusan nolak aku? Kita udah lama nggak ketemu dan seharusnya kita lebih banyak ngabisin waktu berdua sekarang. Kenapa buru-buru banget mau pulang? Tadi pun di dalam restoran kamu kelihatan
Setelahnya Jovan langsung mengambil alih box dari tangan Maura. Hal itu membuat Maura menatapnya kaheranan. Terutama saat Jovan menumpuk box itu dengan satu box lainnya.“Saya bisa sendiri. Lagi pula ini nggak berat.” Maura berusaha menolak bantuan Jovan.“Menurut saya ini lumayan berat. Kalau ringan sudah pasti Ibu langsung membawanya dua sekaligus.”“Hanya berjaga-jaga. Kalau semuanya jatuh, bakal rusak isi di dalamnya.”“Memangnya isinya apa?”“Cuma kebutuhan sehari-hari. Saya pesan online tadi.”Jovan manggut-manggut mengerti dan membawa dua box itu dengan mudah. Cukup berat, tapi masih bisa ditangani.Maura ingin mengambil alih salah satunya, agar beban Jovan tidak terlalu berat, tapi Jovan menjauhkan box itu.“Biar saya saja. Kamar Ibu kan di lantai teratas. Lumayan juga kalau bawa barang ini sampai ke sana.”Jovan bahkan tidak membiarkan Maura untuk menjawab perkataannya. Dia langsung berlalu meninggalkan Maura meski Maura belum menyetujui bantuan itu. Mau tak mau Maura mengik
Sudah sangat sore saat itu, ketika Karin datang ke kamar Jovan dan mengetuk pintunya.Jovan baru saja pulang magang beberapa waktu lalu. Ketika membuka pintu, matanya memutar malas mendapati Karin di depan pintu kamarnya.“Mau apa? Bukannya aku sudah bilang buat nggak bersikap seolah-olah kita dekat?”Karin cemberut mendengar penolakan tidak langsung itu. “Aku mau ajak makan malam. Cuacanya bagus. Kita bisa sekalian cari udara segar.”Jovan geleng-geleng kepala dan menarik gagang pintu dengan cepat. Tidak tertarik dengan hal itu. Tapi sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Karin langsung menahan pintu tersebut dengan kedua tangannya. Segera berdiri di ambang pintu yang tidak sepenuhnya terbuka.“Aku sudah bersikap halus loh sama kamu. Jangan sampai aku teriak-teriak supaya semua orang di kos-kosan sempit ini tahu kalau kamu itu tunanganku. Itu yang kamu mau?”“Berhenti bersikap konyol. Kembali ke kamarmu. Aku nggak mau makan malam sama kamu. Aku sudah pesan makanan.”Jovan ingin menutup p
Maura memandangi nomor-nomor lantai yang menyala bergantian. “Apa soal pekerjaan?” “Bukan.” “Kalau begitu tidak perlu dibicarakan. Kita sedang berada di kantor dan yang boleh dibicarakan di sini hanyalah tentang pekerjaan. Di luar dari hal itu sebaiknya ditahan saja.” “Tapi saya perlu minta maaf buat apa yang terjadi. Saya juga nggak tahu kalau Karin bakal tiba-tiba muncul di kos-kosan.” Maura mengalihkan wajahnya pada Jovan. Entah perasaan Maura saja atau bagaimana, wajah Jovan sempat terlihat cemas tadi, tapi sekarang ada senyum tipis yang mewarnai bibirnya. “Dia cuma kenalan saya. Nggak lebih. Soal apa yang dia ucapkan tentang kami berdua, itu cuma salah paham. Dia bukan tunangan saya.” Maura diam selama beberapa detik. Hening. Seolah ruangan besi yang tengah menjaga mereka itu tiba-tiba menjadi terlalu sempit. Pandangan Maura kembali beralih. Untuk sekarang lampu berkedip yang ada di depannya nampak jauh lebih menarik daripada pria tampan di sampingnya. “Itu bukan urusan
Di dalam kamar Karin, Jovan yang lengannya masih dipeluk oleh Karin langsung melepaskan diri. “Karin,” suara Jovan berubah dingin. Ia menepis tangan Karin dari lengannya, membuat gadis itu terhuyung dua langkah ke belakang. Karin menatapnya dengan raut bingung dan polos. Baginya, perlakuan kasar Jovan sudah biasa. Ia memang suka sekali membuat Jovan marah dengan tingkahnya. “Bersikap berlebihan gimana maksudnya?” tanyanya. “Buat apa tiba-tiba datang dan pindah ke sini? Nggak menghubungi dulu?” “Gimana mau bilang kalau Kakak saja nggak bisa dihubungi?” Kening Jovan berkerut lagi. Tentu saja Karin punya banyak cara untuk mengabarinya. Namun gadis itu keras kepala. Ia hanya suka melakukan hal sesukanya sendiri. Karin mendekat lagi. “Apa salahnya sih kalau aku mau deket sama Kakak? Lagi pula kita nggak melanggar apa pun. Kita ‘kan beda kamar.” “Kamu nggak bisa bersikap seenaknya, Karin.” Jovan mengingatkan dengan suara rendah. “Di rumahmu, mungkin saja kamu megang kendali atas semu







