Teilen

29 - Sekutu

Autor: Paus
last update Veröffentlichungsdatum: 2026-10-21 20:45:12

Setelah Jovan dan Maura sudah tidak terlihat lagi, senyum di bibir Karin langsung menghilang. Tangannya yang masih mengambang di udara diturunkan.

Dirinya hanya perlu bersikap manis saat ada Jovan di hadapannya. Cukup dengan Jovan mengira bahwa dirinya adalah gadis baik-baik yang penurut, itu urusan lain di belakang pria itu.

Tanpa membuang waktu, Karin langsung merogoh ponselnya di saku celana. Segera memesan beberapa jenis camilan yang akan dijadikan sogokan olehnya nanti.

Ponsel kembali dima
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   41 - Jovan dan Manjanya

    Setelah menunggu cukup lama, pihak kepolisian yang dihubungi oleh sopir taksi akhirnya tiba. Jovan menjelaskan situasinya secara rinci dan meminta interogasi lebih lanjut sampai dua penculik itu mengatakan siapa orang yang sudah menyuruh mereka menculik Maura.Setelah semuanya selesai, Jovan dan Maura pergi dari tempat itu dengan sopir taksi yang tadi mengantar Jovan.“Kita harus ke rumah sakit sebelum pulang ke rumah,” kata Jovan membukakan pintu mobil untuk Maura.“Benar. Tubuhmu luka-luka. Perlu dirawat.” Maura menyetujui hal itu.“Bukan saya, tapi Ibu.” Jovan langsung menutup pintu mobil dan berjalan memutar untuk masuk lewat pintu satunya.Maura mengerutkan dahi kebingungan. Mobil mulai berjalan meninggalkan kawasan terbengkalai itu, Maura menyerongkan tubuhnya untuk menatap Jovan lebih baik.“Jelas-jelas kamu yang luka di sana-sini, kenapa saya?”“Lihat ini.” Jovan mengulurkan satu tangannya untuk menyentuh pipi Maura yang agak memar. Maura sedikit meringis saat Jovan mengusapi

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   40 - Pelukan Paling Erat

    “Sialan. Apa-apaan itu?” Pria Jangkung yang berdiri di hadapan Maura memegangi bagian kepalanya.Sesuatu yang basah menyentuh ujung jemarinya. Saat dia melihatnya, ternyata ada darah yang rembes dari bagian kepalanya.Di dekat kakinya, ada sebuah batu yang baru mendarat di sana.Pria itu menoleh ke belakang, Begitu juga dengan pria satunya. Keduanya terkesiap kaget saat melihat seseorang berdiri di ambang pintu.“Hei, bodoh! Tadi kamu bilang nggak ada yang ngikutin mobil kita.”“Memang nggak ada.” Si pria jangkung meringis sambil terus memegangi kepalanya.“Lalu kenapa tiba-tiba dia muncul di sini?”Jovan yang baru tiba mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Tatapannya lurus menatap Maura yang terlihat berantakan di lantai kumuh itu.Gadis itu menangis sambil menatapnya memohon. Seperti meminta untuk segera dikeluarkan dari sana.“Ibu diam-diam di sana. Jangan bergerak.” Jovan berbicara kepada Maura sambil memberi isyarat lewat tangan agar Maura tetap di tempatnya.Maura hanya mengang

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   39 - Satu Serangan

    “Bapak bilang apa barusan?” Jovan bertanya, mulai melangkah menghampiri sopir taksi yang menanyakan tentang seorang penumpang wanita bernama Maura.Sopir itu nampak bingung melihat Jovan yang terlihat panik, tapi dia langsung menjelaskan situasinya.“Saya dapat orderan dan nama penumpang saya itu Maura. Titik temunya di sini, di depan perusahaan ini.” Wajahnya terus menoleh ke sana ke mari seperti berusaha mencari penumpang yang memesan taksinya itu. Tapi tidak ada siapa pun di sana.“Mungkin saya berhenti di tempat yang salah. Biar saya hubungi penumpangnya.” Sopir taksi itu menyimpulkan.Belum sempat pria itu menutup jendela mobilnya, Jovan sudah lebih dulu menyambar pintu bagian belakang mobil dan langsung masuk begitu saja tanpa permisi.“Eh, Mas. Ada apa?” Sopir itu kebingungan.“Jalan saja, Pak. Nanti saya bayar. Di depan sana ada mobil warna hitam. Ikutin sekarang juga.”“Tapi, Mas. Saya itu datang ke sini karena mau jemput penumpang saya.”“Saya bilang jalan saja sekarang. Bap

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   38 - Siapa yang Membawa Maura

    Sorenya. Matahari baru pulang ke pangkuan langit di ujung barat sore itu.Jovan menyelesaikan pekerjaannya dan langsung mematikan komputer di hadapannya. Ia merapikan meja kerjanya dan segera berdiri. Menyempatkan diri untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.Setelah menggendong tasnya di salah satu bahu, Jovan keluar dari meja kerjanya dan segera pergi. Biasanya saat melewati meja kerja Maura, Jovan akan melihat Maura sudah mulai merapikan pekerjaannya juga dan bersiap-siap akan pulang.Tapi sore itu Maura masih sibuk dengan komputer di hadapannya. Membuat Jovan mengembuskan napas panjang. Baru saja diperingatkan olehnya untuk tidak memforsir tubuhnya secara berlebihan, tapi sekarang dia masih bekerja padahal jam kerja sudah selesai.Jovan langsung menghampiri Maura. “Bu,” panggilnya.“Ya?” Maura menjawabnya tanpa menatap Jovan.“Saya sudah selesai dengan pekerjaan saya dan akan segera pulang.”Maura tersenyum di kursinya. “Baiklah, hati-hati di jalan, Jovan.” Maura malah ber

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   37 - Rencana Licik Karin

    Beberapa hari kemudian, Maura sudah kembali bekerja seperti biasanya. Tubuhnya sudah pulih sepenuhnya, tidak lagi merasa kesulitan seperti saat dirinya pertama masuk setelah cuti sakit.Meski begitu, Jovan tetap saja masih menunjukkan kecemasan yang sama.Pagi itu mereka berangkat bekerja seperti biasa. Keduanya berjalan kaki menuju halte bus.“Bu, sudah sarapan, ‘kan?” Jovan bertanya ketika mereka baru melewati gerbang kos-kosan.Maura tertawa mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol itu. “Saya bukan anak kecil, tidak perlu diingatkan tentang sarapan seperti ini.”“Oh, benarkah? Tapi saat Ibu sakit hari lalu, saya mendengarnya dari Nayla kalau Ibu ternyata sering melewatkan sarapan. Apa harus diberitahu bahwa sarapan itu sangat penting untuk memulai hari yang berat? Terutama untuk pekerja seperti kita. “Tawa Maura langsung hilang begitu saja. Entah kenapa belakangan Jovan terdengar seperti orang tuanya. Kadang di kantor pun dia sangat mendesaknya untuk meninggalkan pekerjaan saat

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   36 - Gendongan Jovan

    Sorenya Maura sudah diperbolehkan untuk pulang. Sambil menunggu Maura mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaian yang dibawa olehnya dari kos-kosan, Jovan pergi keluar untuk meminjam kursi roda dari perawat.Ketika Maura membuka pintu kamar mandi, itu bertepatan dengan Jovan yang memasuki ruangan sambil mendorong kursi roda.Maura tertawa kecil sambil berpegangan pada gagang pintu. “Astaga, untuk apa kamu membawa kursi roda? Saya bisa berjalan.”“Tapi masih lemas, ‘kan? Sebaiknya pakai kursi roda saja. Sudah terlanjur saya bawa juga ke sini. Sayang kalau tidak dipakai.”Maura geleng-geleng kepala ketika melihat Jovan membawa kursi roda itu lebih dekat padanya. Pria itu menaikkan satu alis, mendesaknya lewat tatapan memaksa, sukses membuat Maura hanya bisa menurut dan segera duduk di kursi roda.Jovan menggantungkan tote bag berisi barang-barang Maura di bagian pegangan kursi roda, baru setelahnya Jovan mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan.Tiba di lantai dasar, Jovan membawa

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status