Home / Romansa / Nyaman di Dekapan Berondong Muda / 37 - Rencana Licik Karin

Share

37 - Rencana Licik Karin

Author: Paus
last update publish date: 2026-10-27 19:49:11

Beberapa hari kemudian, Maura sudah kembali bekerja seperti biasanya. Tubuhnya sudah pulih sepenuhnya, tidak lagi merasa kesulitan seperti saat dirinya pertama masuk setelah cuti sakit.

Meski begitu, Jovan tetap saja masih menunjukkan kecemasan yang sama.

Pagi itu mereka berangkat bekerja seperti biasa. Keduanya berjalan kaki menuju halte bus.

“Bu, sudah sarapan, ‘kan?” Jovan bertanya ketika mereka baru melewati gerbang kos-kosan.

Maura tertawa mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol itu. “
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   39 - Satu Serangan

    “Bapak bilang apa barusan?” Jovan bertanya, mulai melangkah menghampiri sopir taksi yang menanyakan tentang seorang penumpang wanita bernama Maura.Sopir itu nampak bingung melihat Jovan yang terlihat panik, tapi dia langsung menjelaskan situasinya.“Saya dapat orderan dan nama penumpang saya itu Maura. Titik temunya di sini, di depan perusahaan ini.” Wajahnya terus menoleh ke sana ke mari seperti berusaha mencari penumpang yang memesan taksinya itu. Tapi tidak ada siapa pun di sana.“Mungkin saya berhenti di tempat yang salah. Biar saya hubungi penumpangnya.” Sopir taksi itu menyimpulkan.Belum sempat pria itu menutup jendela mobilnya, Jovan sudah lebih dulu menyambar pintu bagian belakang mobil dan langsung masuk begitu saja tanpa permisi.“Eh, Mas. Ada apa?” Sopir itu kebingungan.“Jalan saja, Pak. Nanti saya bayar. Di depan sana ada mobil warna hitam. Ikutin sekarang juga.”“Tapi, Mas. Saya itu datang ke sini karena mau jemput penumpang saya.”“Saya bilang jalan saja sekarang. Bap

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   38 - Siapa yang Membawa Maura

    Sorenya. Matahari baru pulang ke pangkuan langit di ujung barat sore itu.Jovan menyelesaikan pekerjaannya dan langsung mematikan komputer di hadapannya. Ia merapikan meja kerjanya dan segera berdiri. Menyempatkan diri untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.Setelah menggendong tasnya di salah satu bahu, Jovan keluar dari meja kerjanya dan segera pergi. Biasanya saat melewati meja kerja Maura, Jovan akan melihat Maura sudah mulai merapikan pekerjaannya juga dan bersiap-siap akan pulang.Tapi sore itu Maura masih sibuk dengan komputer di hadapannya. Membuat Jovan mengembuskan napas panjang. Baru saja diperingatkan olehnya untuk tidak memforsir tubuhnya secara berlebihan, tapi sekarang dia masih bekerja padahal jam kerja sudah selesai.Jovan langsung menghampiri Maura. “Bu,” panggilnya.“Ya?” Maura menjawabnya tanpa menatap Jovan.“Saya sudah selesai dengan pekerjaan saya dan akan segera pulang.”Maura tersenyum di kursinya. “Baiklah, hati-hati di jalan, Jovan.” Maura malah ber

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   37 - Rencana Licik Karin

    Beberapa hari kemudian, Maura sudah kembali bekerja seperti biasanya. Tubuhnya sudah pulih sepenuhnya, tidak lagi merasa kesulitan seperti saat dirinya pertama masuk setelah cuti sakit.Meski begitu, Jovan tetap saja masih menunjukkan kecemasan yang sama.Pagi itu mereka berangkat bekerja seperti biasa. Keduanya berjalan kaki menuju halte bus.“Bu, sudah sarapan, ‘kan?” Jovan bertanya ketika mereka baru melewati gerbang kos-kosan.Maura tertawa mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol itu. “Saya bukan anak kecil, tidak perlu diingatkan tentang sarapan seperti ini.”“Oh, benarkah? Tapi saat Ibu sakit hari lalu, saya mendengarnya dari Nayla kalau Ibu ternyata sering melewatkan sarapan. Apa harus diberitahu bahwa sarapan itu sangat penting untuk memulai hari yang berat? Terutama untuk pekerja seperti kita. “Tawa Maura langsung hilang begitu saja. Entah kenapa belakangan Jovan terdengar seperti orang tuanya. Kadang di kantor pun dia sangat mendesaknya untuk meninggalkan pekerjaan saat

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   36 - Gendongan Jovan

    Sorenya Maura sudah diperbolehkan untuk pulang. Sambil menunggu Maura mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaian yang dibawa olehnya dari kos-kosan, Jovan pergi keluar untuk meminjam kursi roda dari perawat.Ketika Maura membuka pintu kamar mandi, itu bertepatan dengan Jovan yang memasuki ruangan sambil mendorong kursi roda.Maura tertawa kecil sambil berpegangan pada gagang pintu. “Astaga, untuk apa kamu membawa kursi roda? Saya bisa berjalan.”“Tapi masih lemas, ‘kan? Sebaiknya pakai kursi roda saja. Sudah terlanjur saya bawa juga ke sini. Sayang kalau tidak dipakai.”Maura geleng-geleng kepala ketika melihat Jovan membawa kursi roda itu lebih dekat padanya. Pria itu menaikkan satu alis, mendesaknya lewat tatapan memaksa, sukses membuat Maura hanya bisa menurut dan segera duduk di kursi roda.Jovan menggantungkan tote bag berisi barang-barang Maura di bagian pegangan kursi roda, baru setelahnya Jovan mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan.Tiba di lantai dasar, Jovan membawa

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   35 - Kecemburuan Karin

    Karin bersenandung pelan sambil keluar dari kamar kos-kosannya. Ia berjalan dengan langkah riang menuju kamar Jovan.Karin langsung mengetuk pintu kamar tersebut setelah tiba. Melakukannya beberapa kali karena pintu kamar Jovan tidak kunjung terbuka juga.“Rasa-rasanya ini masih sangat pagi. Biasanya Jovan tidak berangkat magang sepagi ini.” Karin menjauhkan diri dari pintu kamar Jovan. Merasa aneh kalau memang Jovan sudah berangkat magang sepagi itu.Tapi jawabannya segera datang tak lama setelah itu. Karin mendengar namanya dipanggil dari kejauhan.“Karin!” Nayla melambaikan tangannya dari halaman kos-kosan. Sepertinya anak itu baru habis memberi makanan, karena di tangannya terdapat sebuah plastik.“Sedang apa di sana?” Nayla bertanya.“Bukan urusan kamu. Kenapa memanggil aku?” Karin menyahuti malas. Padahal dirinya hanya memanfaatkan Nayla, tapi sebaliknya, Nayla malah terus bersikap sok akrab dengannya.Kalau tidak karena butuh, Karin tidak mau dekat-dekat dengan anak itu.“Aku b

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   34 - Perawat Pribadi Maura

    Pagi harinya saat Maura terbangun, tidak ada siapa pun di ruangan tempatnya dirawat. Maura memandang ke sekeliling dan tidak menemukan Jovan di sana. Padahal Maura ingat melihat pria itu terbaring di sofa ketika dirinya terbangun di tengah malam.“Mungkin dia sudah pergi magang,” kata Maura berusaha bangun dari posisi berbaring.Maura susah payah untuk bergerak duduk. Menyibak selimutnya dengan hati-hati menggunakan tangannya yang tidak dipasang jarum infus.Ada satu pintu lain di dalam ruangan tersebut dan Maura langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pintu kamar mandi. Karena ingin buang air kecil, Maura terus memandangi pintu itu.Pagar pengaman yang ada di sisi ranjang diturunkan oleh Maura. Kedua kakinya perlahan-lahan menapak pada lantai. Maura rupanya belum siap melangkah dan hal itu membuatnya jatuh limbung ke atas ranjang.Setelah mengumpulkan kekuatannya, Maura hati-hati berjalan ke arah pintu kamar mandi sambil menggeret tiang infus bersamanya. Sisa beberapa langkah lagi men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status