LOGINMrs. Key, seorang penyanyi terkenal di Moskow, meninggal dunia di rumahnya sehari sebelum akan diadakan konser terakhirnya. Detektif Bee dan Opposite Briella seketika dimintai tolong oleh Inspektur Renju untuk mengungkap kasus ini sebelum kematian diumumkan ke masyarakat kota Moskow. Dengan waktu singkat, mampukah Detektif Bee mengungkap di antara lima orang yang berhubungan dengan kematian ini?
View More“Let’s go, Mommy! It’s picnic time!” I cry, grasping her large hand with my small one. I tug on her arm, but find my feet sliding backward on the hardwood flooring. My mom chuckles and, grasping my hand, leads me out the front door while calling for my dad. His heavy footsteps follow behind us and I turn to see my dad shutting the door while carrying our basket of food that my mom prepared.
“Ready to go, Princess?” he asks me. I nod vigorously. “I can’t wait! We will have so much fun! We can go swimming and eat the food and play tag and making flower crowns and–” “Whoa, whoa, whoa,” My dad interrupts. “Slow down. How about we just plan on eating and going swimming? If we have time, we can also play tag.” “Okay, Daddy,” I sigh. I rarely get to go somewhere new, so I want to enjoy this opportunity as much as possible. My father’s large, warm hand grabs the hand that my mom isn’t holding and we walk into the woods together. The trees are beautiful and very tall. I marvel at how big they are before noticing the sound that floats around us. I listen closer and find that it sounds like laughter. I glance at each of my parents and confirm that they are the ones laughing. “What’s so funny?” I ask, confused. “Your eyes were so wide,” my mom admits. “They looked so big on your small face that we couldn’t help but laugh. “That’s because I don’t normally see such big trees,” I pout, my cheeks warming. My parents chuckle again. As their laughter dies down, I feel a tug on both of my arms. My body follows the tug and I swing forward into the air. Giggling, I regain my footing. “Again!” My parents swing their arms forward and I follow. “Again!...Again!...Again!” I cry. By the time that my parents tire of swinging me, we have arrived at our destination. Before us lies a grassy field. Bordering the field is a lake. The blue of the lake contrasts beautifully with the white of the wildflowers that ruffle in the breeze. Giggling, I let go of my parents’ hands and run forward through the field. I take my time exploring the field. Crickets and other insects fly around me as I run, the vibration of my footsteps disturbing them. I stop at the shore of the lake, the cool water soothing my feet. Spotting an interesting pebble, I pick it up. The smooth stone is cool to the touch. Taking the pebble with me, I run back to my parents. “Mommy! Daddy! Look what I found!” I cry showing them my pebble. “That’s beautiful, dear. Now why don’t you sit down and eat with us?” my mom suggests. I plop down next to her on the blanket. “What’s for lunch?” I ask. “Sandwiches, cookies, and apples,” my dad tells me as he opens up the basket. “Your mom made you a peanut butter and jelly sandwich, just the way you like it.” “Yummy! Thank you, Mommy!” I take my sandwich from my dad and bite into it. The peanut butter and grape flavors burst into my mouth. My mom smiles at me as she eats her own sandwich. “How about we play tag after lunch. Then we can go swimming to cool off,” she suggests. My father nods, “That is a great idea.” We continue eating in silence, enjoying the scenery. Finishing my sandwich, I ask, “Can I have a cookie, please?” My mom chuckles before reaching into the basket. “You may have a cookie after you eat your apple. You know the rules: no fruits or vegetables, no dessert.” I sigh and take the apple from her. The crisp flesh breaks against my teeth and I bite off a chunk. The juice spreads through my mouth as I chew and swallow. I like apples, but cookies are better. Bite by bite, I slowly eat my apple. My dad notices that I’m finished and takes the apple core from me before holding up two chocolate chip cookies. “Here you are. Don’t eat these too fast,” he warns. I thank him and take the cookies. They are perfectly chewy and melt in my mouth. I take small bites and savor every mouthful. My mom smiles while watching me and my dad chuckles. Licking my hands clean of melted chocolate, I stand up. “I’m done. Let’s go play!” I shout. My parents agree and stand up. We move closer to the middle of the field. “I’ll be ‘it’” my mom offers. “Okay!” I cry. “Come and get me!” I run off giggling. “I’m going to get you, you silly little girl,” my mom playfully threatens me. I giggle again and turn to run in a different direction. Glancing back, I see my mom running away from me to chase after my dad who runs in the opposite direction. Then, she turns back towards me. I run away, but am swept off the ground and into her arms. “Gotcha. Now you're ‘it’,” she says. I giggle. “I’m going to tag Daddy,” I tell her. She grins back at me. “That’s a great idea.” She sets me down on the ground and I take off running towards my dad. He sees me and starts running in the opposite direction. We are all giggling and running around when a harsh noise cuts through our fun. A growl, to be specific. My parents move to stand in front of me and I peek around their legs to see five wolves coming out of the woods on the far side of the field. The wolves move forward in a ‘V’ formation. The leader, a light brown wolf with brown eyes, lets out another growl. He steps forward, followed by two light brown wolves, a dark brown wolf, and a gray wolf. They all have matted fur and their snarls are feral. Their eyes seem to shine with a crazy light.Aku menyampaikan bukan apa yang kuanalisakan. Aku menyampaikan semua kerangka hatiku terhadap PBB. Seperti ucapanku pada Sir Yadin, aku lebih suka menjadi pengamat daripada pendebat.Aku bahkan hanya menyampaikan empat poin dari tujuh poin yang ada di benak pikiranku. Padahal waktu masihlah setia menungguku selesai berargumen. Namun aku memilih menyimpan sisanya untuk sebuah niat yang abstrak.“Jika kita bicara perdamaian, maka kita tidak perlu bicara senjata! Bagiku, perdamaian di dunia ini hanyalah ilusi. Tidak akan pernah ada perdamaian karena manusia tidak akan pernah bisa saling memahami satu sama lain. Sejarah telah mengatakan itu semua,” bukaku menahan kegugupan.“Jika Anda berargumen lima anggota tetap PBB tidak boleh dihapuskan dengan alasan senjata yang kuat, maka pernyataanku tentang perdamaian sebelumnya itu benar. Semua negara hanya memposisikan diri layaknya boneka-boneka manis yang saling memeluk. Sementara di balik itu ada peran
“Bee, kau tak lihat kesusahanku?”“Iya Pak, aku bantu!” responku seraya tersenyum miring. “Kambing ini akan melahirkan daun-daun muda paracendekia juga Pak?”“Ah, kau ini membahas apa? Kau tak tahu kita akan melakukan karantina untuk mahasiswa-mahasiswi terpilih?"“Lomba apa?”“Ini untuk persiapan lomba debat di Bali yang aku ceritakan pada kau waktu itu!”“Oh, iya. Baiklah. Lalu?”“Kau juga harus ikut.”“Tapi Bahasa Inggrisku kurang manjur sebagai alat perdebatan. Akan lebih berfungsi jika digunakan merangkai puisi dan cerita pendek, Pak!”
“Iya, baiklah. Thank you, mr … atas tumpangan berharganya.”“Oh? Maksudnya?”“Hem … tidak. Bukan apa-apa,” balasnya senyum. Ia lalu masuk ke asrama puteri.Dan aku kembali merencanakan sisa impianku yang belum kelar. Picolo akan menjadi tangan kananku untuk bisa meraih langit Melbourne. Aku tak bermaksud mempermainkan kejantanan Picolo. Aku ingin dia menjadi seperti halnya Mus yang dulu. Nama mereka juga sama.Ya, tidak ada pertemuan tanpa maksud. Selalu ada alasan di balik semua wujud perpisahan. Dan gadis berjilbab zebra tadi, akan menjadi loncatan asmara yang menghadirkan relikul pilihan bertubi-tubi dalam hidupku. Aku harus memilih antara bertemu dengan impianku atau menggarisbawahi drama asrama picisan bersamanya.
Kertas bertuliskan Macquarie di atas dinding asrama sudah terlihat lagi lima bulan kemudian. Sebulan kemudian yang kumaksud adalah di bulan Agustus ketika burung-burung camar menyapu udara kotor secara gamblang di langi-langit pagi. Aku menerima kabar perpisahan spektakuler pagi-pagi. Namun hatiku berhijrah ke arah ruang alasan pencabutan kertas putih itu.Pencabutan itu menyisakan kesendirian bagi gambar Melbourne dan deretan impianku bersama Mus. Tak ada lagi orang ketiga. Di antara baris mimpi tertulis itu, hanya impian-impian kecil seperti memiliki laptop, handphone, sahabat, keterampilan pendukung, dan lainnya yang terwujud.Lantas masih banyak target-target kecil dan satu impian besar belum bisa diberi tanda. Dan impian terbesar itu kau tahu sendiri, berjumpa dengannya di Melbourne.Andai aku cekatan dalam menafsirkan maksud, mungkin mudah bagiku menebak esensi Mus berjumpa denganku di Melbourne atau Sidney sementara ia berada di negeri tetangga. Jika kau lebih paham dariku, kau
“Mr melamunkan apa?”“Big Bos?”Picolo dan Zoro tersentuh.“Aku tidak apa-apa. Hanya tiba-tiba tersengat masa lalu.”“Itu filosofi?” tanya Harry Potter yang telah bangun.“Big Bos selalu penuh dengan gramatikal pe
Aku juga pernah mendapat ingatan dari sekuel Room Nakama, tentang kisah seorang yang sudah meninggal. Ia adalah pendiri Room Nakama dan merangkum kisah tawa dan lara. Saat itu, Bee yang dirindukan Natalie memiliki kisah masanya sendiri bersama teman-temannya yang dulu.Dia adalah belahan kisah dari i
Sebelum aku lanjutkan petualangan singkat di negeri orang yang nasib damai itu, aku waktu itu meminta izin lebih dulu pada temanku itu untuk berpindah tempat."Di saat seperti ini kau malah berkisah yang terlalu berat untukku," katanya sedikit mengkritik apa yang sudah aku ceritakan padanya.Dan ingat
"Astaga, kau baru saja jadi master pendidikan, sekarang malah berjuang di jalanan, kya...!""Hum, hubungannya apa coba?""Sekarang coba telepon lagi ke nomor Hajar yang dipegang sama pr
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews