FAZER LOGIN"Axel ha—"
"Hani!" Aku langsung merebut ponsel itu dari tangan Hani dan mematikan panggilan dari Axel."Sialan lo ya!" bentakku sambil mendorong bahunya dengan panik. "Gue belum benar-benar maaf-maafan sama Axel. Ngapain lo angkat teleponnya?!"Hani mencebikkan bibir sambil membenahi posisi duduknya. "Lama banget sih lo baikannya. Itu pembaca udah enggak sabar nungguin kalian baikan!"Aku tercengang sebentar. Emang iya? Apa kalian ingin aku cepat balikan saHah? Jadi... Kak Rayan sampai berniat pindah ke luar negeri hanya untuk melupakanku?Jika keadaannya sudah seperti ini, mana mungkin aku berani meminta izin pada Axel untuk mengambil beasiswa dan kuliah di luar negeri? Pria itu pasti bakal salah paham dan mengira aku sengaja menyusul Kak Rayan ke sana!Aku kembali menyandarkan punggung ke dinding dingin di belakangku seraya menghela napas panjang. Sepertinya aku memang harus mengubur impian besar itu dalam-dalam. Sudahlah... belajar di dalam negeri saja tidak masalah. Aku tidak harus memaksakan diri mengejar karier di luar negeri hanya demi membuktikan diri sebagai desainer ternama."Lo serius mau kuliah di luar negeri?" suara Axel yang mendadak terdengar ceria kembali bergema di dapur."Emm, tentu saja."Aku kembali memberanikan diri mengintip sedikit dari balik celah tembok. Axel terlihat menghampiri Kak Rayan seraya menepuk bahu sahabatnya itu pelan."Thanks, Bro. Gue sangat berterima kasih kalau lo melakukan semua ini demi gue da
Aku menghela napas panjang, lalu kembali menyibukkan diri membalik-balik irisan daging untuk mengusir keraguan yang berkecamuk di dalam dada. "Apa sekarang hal itu penting buat gue?"Hani membalikkan pundakku dengan sedikit paksa agar menatap matanya. "Kay... bukannya selama ini lo selalu takut dianggap menjadi beban di keluarga Axel? Kalau lo nggak mau terus-menerus dianggap benalu di keluarga besar mereka, bukankah... lo seharusnya punya kualitas dan pencapaian lo sendiri?"Benar juga apa yang dikatakan Hani. Perkataannya tepat menohok dadaku. Selama ini aku memang tidak pernah sudi dianggap menikah dengan Axel hanya demi mengincar harta. Apalagi mengingat bagaimana sengit dan menghinanya makian Bude Salma tempo hari. Namun... kalau harus pergi melangkahkan kaki meninggalkan Axel ke luar negeri, rasanya sungguh tak mungkin sanggup kulakukan."Gue belum memikirkan hal itu, Han," sahutku pelan pada akhirnya. Aku menyerahkan penjepit daging padanya. "Lo tolong lanjutkan membakar daging
"Saya siap menghibur Nyonya Axel..." canda Kak Rayan seraya membungkukkan tubuhnya dengan khidmat bak seorang pelayan kerajaan.Kami semua seketika terkekeh dalam kehangatan. Di malam ini, aku merasa sangat bersyukur dikelilingi oleh orang-orang terkasih dalam hidupku.Di bawah tenda glamping terbuka yang berdiri anggun di tepi tebing, berhiaskan pendar lampu tumblr yang berpendar-pendar manis, aku tidak hanya disuguhi lanskap tebing yang memukau. Tawa lega Axel, raut tulus Kak Rayan, serta aura kegembiraan Hani terasa bagai kado istimewa tak ternilai harganya di malam ulang tahunku ini."Di villa ini juga ada fasilitas arena berkuda dan memanah," terang Axel seraya menatap kami satu per satu. "Jadi... besok kalian bisa menghabiskan waktu sesuai hobi masing-masing."Aku dan Hani saling berpandangan dengan wajah sumringah serba gembira."Wah... berkuda?!" seru Hani histeris kegirangan. Ia menggenggam kedua tanganku, tak mampu lagi membendung luapan kebahagiaannya. "Kayla... akhirnya gu
Tak!"Aww!" pekikku seraya kembali meraba kening yang baru saja dijitak Axel. "Xel! Kok lo jitak gue terus, sih?!""Lagian... parno banget pikiran lo!" protesnya dengan raut wajah kesal bercampur gemas.Tak lama kemudian, deru mesin motor yang cukup nyaring terdengar mendekat. Sebuah motor sport tiba-tiba datang dan berhenti tepat di depan mobil kami.Itu kan... motor Kak Rayan? batinku heran.Seorang wanita yang berboncengan di jok belakang motor melangkah turun terlebih dahulu. Ia membuka helmnya dan langsung melambaikan kedua tangan ke arah kami."Kayla!!" seru Hani bersemangat. Ia melambaikan tangan seraya berjingkrak kegirangan."Hani?!" Rasa kagetku seketika buyar, berganti dengan raut bahagia yang tak sanggup kusembunyikan.Aku spontan keluar dari mobil dan berlari menghampiri Hani. "Hani!!" teriakku girang, lalu memeluknya erat sambil melompat-lompat kecil."Kok Lo bisa di sini, sih?" tanyaku dengan kening berkerut.Belum sempat Hani menjawab, pria yang mengendarai motor di de
Tidak cukup sampai di situ, Axel meraih sepotong jaket softshell, lalu menempelkannya ke depan dadaku untuk mencocokkan ukuran."Ukuran ini pas, kan?" tanyanya dengan senyum sumringah yang mengembang.Aku tidak langsung menjawab, masih sibuk berkutat dengan kebingunganku sendiri."Xel... lo yakin kita butuh semua pakaian ini?"Axel meletakkan jaket itu ke dalam keranjang belanja. "Tentu saja. Kalau nggak pakai jaket ini, lo bisa kedinginan nanti."Dengan santainya ia kembali memilah-milah deretan jaket, lalu mengambil sepotong softshell senada yang sesuai dengan ukurannya sendiri.Sepertinya fix, kami tidak akan pergi makan malam romantis di restoran mewah. Jangan-jangan Axel sedang menyiapkan kejutan aneh?!Puas memilah baju, Axel bergeser ke arah rak sepatu outdoor. Sepasang sepatu hiking mid-cut berkualitas tinggi langsung menjadi target pilihannya."Ukuran kaki lo nomor 38, kan?" tanyanya seraya menoleh padaku dengan senyum lebar.Aku menggaruk kepala yang tak gatal. "I-iya, sih..
Axel spontan menjauhkan jarak tubuhnya dariku, lalu mengulas senyum canggung pada rekan bisnisnya."Maaf, Pak... Tadi ada sedikit urusan mendadak yang harus saya selesaikan," ucapnya seraya kembali mengambil posisi duduk di samping kolega bisnisnya.Rekan bisnisnya melirikku sesaat dengan pendar jenaka. "Jadi... wanita manis itu yang membuat pikiran Pak Axel tidak tenang sejak tadi?"Merasa menjadi pusat pembicaraan, aku memilih untuk duduk melipir di sofa sudut ruangan dan berpura-pura sibuk membuka laptop."Benar, Pak. Dia adalah istri saya."Pernyataan Axel yang begitu lugas dan tanpa ragu itu seketika membuat kepalaku terangkat kaget. Aku menatapnya dengan tubuh membeku selama beberapa saat.Axel... kenapa dia berani sekali mengumumkan hubungan pernikahan kami pada koleganya? Dia bahkan sama sekali tidak takut jika para penggemarnya bakal kecewa atau membencinya!"Oh... benarkah?" Rekan bisnisnya terlihat kaget. Ia melirikku sebentar dengan binar kagum sebelum kembali menat







